The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Kekacauan di Kamar


__ADS_3

Sementara Ashnard dan Gerlon masih sibuk belajar buku tentang sihir.


"Ini tidak akan berguna kalau kita tidak mempraktekannya secara langsung," ujar Gerlon.


"Kau benar."


Ashnard menyusuri lorong perpustakaan mencari media yang bisa dipakai untuk mempraktekkan sihirnya.


Ia lalu bertemu dengan seorang gadis berambut hitam pendek yang sedang membaca buku sendirian. Di mejanya, tampak banyak sekali tumpukan buku. Gadis itu tampak sangat fokus membaca. Saking fokusnya ia tidak mendengar Ashnard sedang berbicara padanya.


"Permisi ...." Gadis itu tak menjawab. Dari posisinya, Ashnard melihat sebuah lukisan kerangka manusia di buku yang gadis itu baca.


Hingga Ashnard semakin mendekat, gadis itu menoleh. Terlihat kalau mata kanannya memakai penutup mata hitam. Sementara sorot mata kirinya pucat seperti orang mati yang berusaha untuk hidup. Ia juga memakai riasan hitam di matanya dan bibirnya.


Ashnard merasakan aura disekitar gadis itu sangat aneh. Ia terdiam, begitu pula gadis itu. Hanya menoleh dan menatap Ashnard tanpa mengucapkan atau menggerakkan apapun.


"Maaf, apa kau membawa pena?"


Gadis itu mengangguk lemah. Ia memberikan sebuah pena hitam yang tabungnya berbentuk seperti tulang kepada Ashnard.


"Aku pinjam sebentar. Nanti akan kukembalikan lagi." Ashnard mengambil pena secara perlahan dari tangan gadis itu. Terlihat juga jari kukunya di cat hitam.


"Gadis itu tampak menyukai warna hitam, ya," celetuk Roc.


Ashnard berbalik dan sekujur bulu kuduknya menegak saat menyadari dan merasakan bahwa gadis itu masih melihat ke arahnya.


"Maaf, apa ada yang bisa kubantu?" tanya Ashnard ke gadis itu. Ia merasa tak enak jika dilihatin terus menerus, lebih baik ia menanyakan langsung padanya.


"Tidak ada ...." Suara gadis itu terdengar lemah seperti ia baru saja bangun tidur. "Hanya saja ... jiwamu terasa ... sangat aneh."


"Jiwa?"


"Ash, sepertinya dia mengetahui rahasia kita," ungkap Roc. "Lebih baik kau pergi saja darinya," saran Roc.


Ashnard lalu kembali ke Gerlon yang menunggunya di meja. Gerlon mengerutkan keningnya saat melihat Ashnard gemetaran dan berkeringatan.


"Apa yang terjadi?" tanyanya.


"Tidak ada."


"Dari mana kau mendapatkan pena ini?" tanya Gerlon mengamati pena berbentuk aneh itu.


"Bukan siapa-siapa," jawab Ashnard. "Lupakan itu. Kita langsung coba saja bikin lingkaran sihirnya."


Dalam petunjuk di buku itu, lingkaran sihir bekerja sebagai medan energi aktif yang digunakan untuk memanggil, mengonstruksi, atau mengubah suatu struktur sihir yang ingin dipanggil.


Lingkaran sihir seperti pondasi dalam bangunan. Jika tidak ada lingkaran sihir, maka sihir tidak akan bekerja. Namun, beberapa sihir--terutama sihir ditingkat lebih tinggi dan lebih kuno, tidak memerlukan lingkaran sihir. Lingkaran sihir ditujukan untuk penggunaan sihir yang lebih aman bagi manusia. Lingkaran sihir bukan aturan pasti dalam melakukan sihir, tapi syarat yang direkomendasikan.


Dan setelah lingkaran sihir, di dalamnya adalah kombinasi huruf dan simbol yang bertujuan untuk menentukan sihir apa yang ingin digunakan. Ada banyak kombinasi antara huruf-huruf dan simbol yang bisa digunakan. Karena itu sihir adalah tentang kreativitas. Tidak ada batasan dalam ruang pemakaiannya, kecuali pengguna sihir itu sendiri.


Dengan mengikuti semua aturan itu, Gerlon mulai menggambar lingkaran sihir di kertas. Namun, tepat sang penjaga perpustakaan datang sebelum Gerlon berhasil menyelesaikan lingkarannya.


"Tempat ini perpustakaan, bukan bengkel sihir. Kalian tidak boleh mencoba mempraktekan sihir yang belum pernah kalian gunakan," tegur penjaga itu.

__ADS_1


"Tapi, ini hanya sihir bola cahaya biasa. Tidak akan melukai siapapun," bela Ashnard.


"Tetap, kalian masih pemula. Bagaimana jika ada kesalahan dari lingkaran sihir kalian dan menyebabkan buku-buku ini hancur?"


Ashnard dan Gerlon saling melempar pandangan, tak bisa menjawab.


"Kalian keluar atau aku yang akan mengeluarkan kalian sendiri!" ancamnya dengan tatapan tajam seperti pisau. "Jika kalian mau membaca buku lagi, kalian boleh kembali lagi besok!"


"Kenapa?"


"Ini hukuman dariku."


"Apa kami boleh meminjam buku ini?" tanya Ashnard sambil menunjuk buku yang di meja.


"Kalian boleh meminjam buku saat nilai kalian sudah mencapai Mesis, mengerti?"


"B-baik."


Akhirnya, Gerlon dan Ashnard kembali dengan tangan kosong. Ini menambah kesialan Ashnard pada hari ini. Bermula dia tidak boleh mengikuti kelas sihir dan sekarang dia tidak boleh meminjam buku untuk belajar sihir.


Karena tak ada yang bisa dilakukan lagi, Ashnard memutuskan untuk kembali ke asrama sedangkan Gerlon pergi ke tempat lain. Ashnard berpikir jika Gerlon pergi ke tempat bersantainya seperti biasa.


Di tempat tidur nyamannya yang terpampang langsung langit cerah, Ashnard mendesah panjang karena bosan. Berbaring dengan bersandar pada lengannya, ia hanya bisa menatap langit-langit kamarnya.


"Memiliki nilai Nol ternyata tidak enak juga ya. Aku tak bisa ke sana, aku dilarang itu, aku tidak bisa melakukan ini," gumam Ashnard. "Aku ingin berlatih sihir disini tapi aku lupa mantranya seperti apa. Andai saja aku boleh meminjamnya."


"Aku masih ingat, kok," ungkap Roc membawa angin harapan bagi Ashnard.


"Sungguh?"


"Wah, hebat juga kau. Kalau begitu mari kita lakukan."


Ashnard mengambil sebuah kertas dan pena. Lalu, sesuai dengan instruksi Roc, ia mulai menggambar lingkaran sihir itu dengan teliti.


"Tinggal satu lagi ... dan ... sudah!"


Lingkaran itu bercahaya dan mengeluarkan bunyi desisan. Sebuah bola cahaya perlahan timbul dari tengah lingkaran itu seperti ingin keluar. Lalu, berhenti.


"Eh, sudah?"


Seketika, bola cahaya itu terlepas dan terpental dengan kecepatan yang tinggi ke dinding. Lalu, terpental ke mana-mana. Menghantam kasur, lemari, lantai dan koper, hingga terpental ke luar kamar melalui pintu yang terbuka. Bola itu memantul ke mana saja dengan cepat dan kemudian hilang.


Ashnard yang berlindung di bawah kasur, ketika ke luar, kamarnya menjadi berantakan. "Apa yang baru saja terjadi?"


"Ouch, kau telah mengacau, nak."


Tak lama kemudian, guru penjaga asrama laki-laki, Fleus datang ke kamar Ashnard dengan penuh amarah.


"Tuan Raegulus, tindakanmu sudah berlebihan," geramnya.


"Ada apa, pak?" tanya Ashnard yang tidak tahu apa yang telah terjadi.


"Bola cahaya itu ... apa itu sihirmu?"

__ADS_1


"Ya, pak."


"Sihirmu telah melukai kaki prefek Dester cukup parah. Aku akan memberikan hukuman yang pantas untukmu! Tapi, sekarang, aku ingin kau memanggil Dokter Nora!" suruh Fleus.


Tanpa kata-kata lagi, Ashnard menuruti perintah Fleus dan pergi ke klinik. Ia menjelaskan semuanya apa yang terjadi Dokter Nora. Dan Dokter Nora setuju untuk meninggalkan klinik dan menuju ke asrama laki-laki. Karena kecerobohan Ashnard lah yang menyebabkan klinik kosong saat Reinhard dan Liliya datang.


Dari apa yang dijelaskan Dester, prefek asrama laki-laki, ia seperti biasa sedang mengecek satu per satu kamar sebelum akhirnya sebuah bola cahaya melesat ke arahnya dengan kecepatan yang tidak bisa ia hindari. Bola itu menabrak kakinya sangat keras hingga terluka.


Ashnard sudah berusaha meminta maaf pasa Dester, tapi tetap meskipun Dester memaafkannya kakinya tidak akan pulih.


Meskipun Nora sudah banyak membantu dengan sihir penyembuhannya, masih ada jaringan di kakinya yang masih harus pulih secara alami. Ia harus meminum obat-obatan yang diberi dan tidak boleh bergerak berlebihan terlebih dulu.


"Kalau kau ingin aku memaafkanmu, gantikanlah aku sebagai prefek hingga aku pulih. Bagaimana?" tawarnya.


Karena rasa bersalah yang sangat amat kuat, Ashnard menerimanya dengan sungguh-sungguh. Ia akan melakukan segala cara agar diampuni kesalahannya.


"Tapi, itu hukuman darinya. Hukuman dariku masih ada. Aku akan meninjau pelanggaranmu dengan Dewan Kesiswaan dan Kepala Akademi. Setelah itu, hukumanmu akan tiba," ucap Fleus. Seketika membuat hati Ashnard ciut melihat aura petarung dan otot guru itu yang menegang.


Ashnard kembali ke kamarnya setelah semua selesai. Langsung telungkup dan mengerang kesal atas semua yang telah terjadi. Ashnard heran kenapa ia sial dan terus sial setiap saat. Ia juga mengutuk pada dirinya sendiri yang bodoh.


"Yah, sebaiknya kau tidak perlu memikirkannya, Ash," Roc menasihati.


"Ini juga gara-gara kau! Jika saja kau tidak ingat mantranya!" sembur Ashnard menyalahkan apa yang tidak jauh dari dirinya sendiri.


"Hei, jangan salahkan aku! Aku hanya penonton dan kau lakonnya. Aku kan tidak bisa melakukan apapun."


"Padahal aku berniat untuk tidak menarik perhatian orang-orang, tapi semakin aku melakukannya justru semakin aku menjauh dari tujuanku," rengek Ashnard.


"Mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi."


Ashnard lalu duduk memeluk kakinya di atas kasur. "Itu tidak membantu, bodoh!" rengutnya kesal.


"Kau mau saran dariku?" tanya Roc.


"Tidak. Aku tidak akan mempercayaimu lagi."


"Dulu, aku juga pernah membuat kesalahan seperti ini saat di sekolah. Yang kulakukan hanyalah mengikuti apa yang telah terjadi. Jika guru mengatakan itu, kau kerjakan itu. Jika guru menyuruhmu itu, kau kerjakan saja perintahnya."


"Kalau itu, aku tahu, bodoh!"


"Ya sudah, kalau kau mengerti, berhentilah merengek dan bersikaplah profesional!"


Ashnard terdiam.


"Tidak ada gunanya kau terus merengek tak penting seperti itu. Tiap orang melakukan kesalahannya masing-masing. Bukan jenis kesalahan atau berapa banyak kesalahan yang diperbuat, tapi bagaimana cara kita menyikapi kesalahanlah yang membuat kita menjadi orang yang terbaik. Kau paham maksudku, kan?"


"Iya," gumam Ashnard.


"Nah, sekarang bersihkan kamarmu. Kita tidak tahu apakah besok kesialanmu sudah hilang atau masih ada, tapi jangan gara-gara kau selalu sial atau selalu bersikap malang, kau menyalahi dirimu sendiri atau bahkan orang lain. Itu tidak akan berguna. Kesialan maupun keburuntungan itu sudah menjadi bagian dari hidup. Tinggal kita menikmatinya atau berjuang."


Ashnard mendengus. "Kau terdengar seperti ayahku."


"Kau kan tidak punya ayah," timpal Roc.

__ADS_1


"Diam kau!"


__ADS_2