The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Seperti Seorang Ksatria Tanpa Pedang


__ADS_3

Ashnard mengakui belajar sihir lebih sulit daripada belajar kekuatan elementalnya. Memang itu kenyataan yang dirasakan setiap Elemagnia. Sebaliknya, penyihir yang bukan Elemagnia tidak akan mampu menciptakan kekuatan elemental sekuat para Elemagnia.


Untuk ahli dalam sihir, setidaknya dibutuhkan keterampilan dalam mengatur serta pengetahuan tentang sihir. Berbeda dengan kekuatan elemental yang sudah menjadi seperti bagian dari tubuh saat pertama kali mengetahuinya. Seperti bernafas atau berjalan.


"Kau harus fokus!" Ucapan itu terus Ein lontarkan pada Ashnard yang merasa dirinya sudah cukup fokus menatap gulungan di depan matanya.


Entah karena Ein yang terus mendesaknya atau karena penjagal yang bisa menyerang sewaktu-waktu, tekanan ini membuat kepala Ashnard serasa ingin pecah.


"Awas. Dia datang," bisik Ein memberitahu Ashnard penjagal yang datang menyerang dia.


Setidaknya ada pedang yang bisa dia gunakan, maka Ashnard tidak perlu menghindar dan lari-lari lagi dengan susah seperti ini. Pertarungan kali ini sangat tidak menguntungkannya.


Ein sendiri tahu bahwa Ashnard sedang kesulitan sekarang. Dia tidak akan menyuruh Ashnard jika dia masih memiliki sisa tenaga. Berlatih sihir sekaligus menggendongnya memang sulit. Tapi, ini adalah pertarungan. Ein mengingatkan Ashnard bahwa dalam pertarungan tidak selalu menguntungkannya, kadang juga merugikannya. Ashnard tak boleh mengeluh hanya karena dia tidak memiliki senjata yang dia kuasai. Dia harus menyesuaikan kemampuannya dengan segala yang ada di sekelilingnya untuk digunakan sebagai kesempatannya.


Ein mengibaratkannya seperti saat sedang memaksa sesuatu dari dalam tubuh untuk keluar. Bukan secara sengaja dan sesuai keinginan, tapi secara paksaan mengeluarkan sesuatu tersebut. Seperti tidak ingin muntah tapi harus muntah.


"Oh, maksudmu seperti buang air besar yang keras?" Wajah Ashnard langsung bersinar saat pikirannya tersambung dengan maksud Ein.


Ein merespon ucapan Ashnard dengan memukul kepala Ashnard dengan pinggir tangannya. "Analogimu menjijikan, tapi kau tidak salah."


"Sepertinya agak sulit."


"Nafas. Di manapun, nafas adalah kontrol yang paling utama. Dengan bernafas, kau hampir bisa melakukan segala cara."


Sampai saat ini Ein menjelaskan, Ashnard mengikutinya. Ashnard mempraktekannya dalam waktu sesempat mungkin sebelum penjagal menyerang lagi.

__ADS_1


Di gulungan yang dia pegang dengan kuat-kuat di depannya, ada lingkaran sihir beserta simbol-simbolnya yang menyala dengan terang saat Ashnard memejamkan matanya dan perlahan memfokuskan nafasnya. Walaupun terasa singkat, tapi Ashnard merasa sangat lama saat menyalurkan tenaganya secara spiritual ke dalam lingkaran sihir itu. Ashnard bisa merasakan aliran energinya yang perlahan teresap dan menjadi bagian dari lingkaran sihir.


Saat dia membuka matanya kembali, penjagal hanya berjarak 2 meter di depannya dan pedang besarnya terlihat jelas mengarah ke mata Ashnard. Namun, dia juga melihat cahaya biru terang yang bersinar dari lingkaran sihir di gulung. Cahaya itu semakin terang hingga seperti akan meledak. Kenyataannya, cahaya lain muncul dalam momen yang sangat cepat di tanah yang penjagal pijak. Lingkaran sihir yang sama muncul di bawah kakinya dan sejumlah rantai berselimut cahaya keluar untuk mengikat kaki, tangan dan tubuh penjagal.


Dalam detik-detik setelahnya, Ashnard terdiam karena memroses apa yang ada di depannya. Detik kemudian, walaupun dia bingung, dia merasa senang karena berhasil menghentikan penjagal dengan sihir hasil usahanya sendiri. Sorakannya sangat gembira. Lebih gembira daripada yang Ein pernah lihat.


"Itu sihir penyegalan Ibuku. Kau berhasil melakukannya, Ash." Ein turut bangga dengan kesuksesan Ashnard, meskipun tidak menunjukkannya melalui wajahnya.


Namun, tak selamanya sorakannya bertahan, kemudian bingung karena tak tahu harus melakukan apa sekarang selain menatap penjagal yang tertahan oleh rantai di seluruh tubuhnya.


"Kurasa ... kita sudah menang, kan?"


"Bodoh!" Ein sekali lagi memukul kepala Ashnard dengan pinggiran tangannya. Laki-laki itu seharusnya bisa melihat sendiri dengan matanya apakah sekarang dia sudah menang atau tidak. "Jangan cepat menyimpulkan! Disegel bukan berarti semua ini sudah berakhir."


"Bagaimana aku tahu? Ini pertama kali aku melawan makhluk hidup yang tak hidup," balas Ashnard memberi alasan.


Setelah Ein berhasil mengajarkan Ashnard menggunakan sihir, Ashnard tidak akan ragu dengan ucapannya lagi. Dia mengambil gulungan coklat itu dan membukanya. Tepat saat Ashnard sudah menatap lingkaran sihir yang terlukis di gulungan, hempasan angin mengejutkannya.


Tampaknya, penjagal itu masih cukup kuat untuk melepaskan diri dari segel rantai. Dia menghancurkan segel rantainya yang sekaligus menciptakan hempasan angin. Pecahan rantai dan angin membuat Ashnard terjatuh ke belakang. Gulungannya terlepas dari tangannya dan tertiup angin hingga tersangkut di dahan pohon berbatang putih.


Penjagal menghampiri Ashnard dan Ein yang tergeletak di tanah tanpa kartu as mereka.


Ashnard saat itu meninggalkan Ein yang tak berdaya bersandar di batu. Sementara dia sendiri menjauhkan penjagal dari Ein dengan menjadikan dirinya sendiri umpan. Biarkan dia yang dihampiri penjagal. Selain itu, dia tidak memiliki rencana lain kecuali bertahan.


Ein yang berada dalam posisi cukup aman sekarang, melihat penjagal yang mengejar Ashnard. Dia seperti sedang melihat temannya sendiri dikejar oleh macan yang kelaparan, sementara dia asyik menonton seolah itu pertunjukan saja. Gadis itu yakin Ashnard meninggalkannya karena menganggapnya beban dalam pertarungan. Sebagai orang yang dengan cepat menghabiskan tenaganya sendiri, dia juga merasa ketidakbergunaannya sekarang.

__ADS_1


Jika Ashnard gagal, Ein yang paling merasakan kesedihannya. Saat pikiran gadis itu soal apa yang bisa dia lakukan untuk membantu Ashnard buntu, dia melihat sisa kilauan cahaya sihir yang masih tersimpan di gulungan yang tersangkut di pohon. Ein melihat itu sebagai peran yang bisa dia lakukan sekarang.


"Kemarilah, dasar makhluk merepotkan!"


Ashnard langsung menunduk saat batu besar mengarah ke arahnya. Hasilnya tidak akan menghancurkan pohon jika Ashnard tidak menghindar saat itu.


Tersisa 2 gulungan lagi yang ada di tangan Ashnard. Akan tetapi, dia tidak paham bahasa yang tertulis. Dia tidak tahu apa fungsi atau sihir yang akan muncul dari kedua gulungan itu jika diaktifkan.


Jika Ashnard mengaktifkan salah satunya, ada kemungkinan hasil yang didapatkan akam sesuai. Ada juga kemungkinan mendapatkan hasil yang merugikan. Sihir yang dia kira dapat membantunya membalikkan situasi, ternyata malah semakin membuat Ashnard terpojok karena kesalahannya sendiri.


Ashnard menyadari bahwa ternyata tidak bijak juga meninggalkan Ein karena beralasan agar dia tidak terluka. Ein lah yang bisa membantunya mengidentifikasi sihir. Dia yang bisa membaca bahasa sihir sangat berperan penting agar Ashnard tidak salah pilih. Sebelumnya dia juga telah menunjukkan sihir yang tepat.


Nasi sudah menjadi bubur. Sudah tidak ada waktu untuk kembali. Tidak perlu menyesali apa yang sudah dilakukan. Lagipula, dia merasa tindakannya menurunkan Ein agar tidak terluka adalah hal yang tepat. Sekarang yang dia perlu lakukan adalah mengalahkan penjagal dengan dua gulungan sihir yang tidak dia ketahui. Atau kalah dan melupakan semua harapan dan tujuannya.


Ashnard menatap kembali kedua gulungan di dua tangannya. Dan dia selalu akan merasa kebingungan. Di ambang kebingungan tersebut, jika Ashnard mengeluarkan sihir penting di saat yang tidak tepat, sihir itu akan menjadi tak berguna.


Penjagal menyadari saat itu Ashnard sedang ragu. Nafas, mata, dan gerakannya terlihat jelas setengah-setengah. Tapi, dia bukan ksatria atau petarung terhormat. Dia adalah penjagal yang akan menebas musuhnya hingga benar-benar mati bahkan sampai alam manapun tak bisa menerima jiwa tersebut.


Dia tidak berhenti saat Ashnard gelisah. Penjagal maju saat Ashnard berhenti di satu sudut matanya. Pedangnya yang besar tidak memperlambat gerakannya. Dia meletakkan pinggulnya dengan tepat agar menopang pedang dengan kuat, dapat terdengar jelas suara kertakan seperti tulang yang saling bergesekan.


Semakin banyak langkah yang monster itu ambil semakin cepat dan semakin dekat dia ke Ashnard yang hanya terdiam seperti menunggu kedatangannya. Mata merah yang tersembunyi dibalik tengkoraknya yang terbelah tidak peduli pada tingkah Ashnard yang aneh. Bahkan dia tidak berpikir sedikitpun. Sudah terpatri dalam dirinya bahwa hanya ada menghancurkan dan menghancurkan semua yang tidak sesuai dengan kebebasan yang dia pahami.


Kaki depannya langsung memperkuat pijakannya pada tanah saat tepat sangat dekat dengan Ashnard. Kemudian pedang besar dia ayunkan dari belakang setinggi dadanya ke depan. Arah ayunannya yang setinggi dadanya juga setinggi kepala Ashnard. Dia berniat memenggal kepala Ashnard dalam sekali tebasan.


Sayangnya, pikirannya yang terlalu kaku, polos dan bisa dibilang keras kepala menjadi bumerang baginya. Pikirannya tersebut Ashnard manfaatkan.

__ADS_1


Ashnard berbalik ke arah pohon di belakangnya, lalu menggunakan batang pohon tersebut sebagai dorongannya agar dapat berputar salto di udara sekaligus menghindari ayunan pedang yang tepat melewati bawahnya saat Ashnard berada di udara. Sambil bersalto ke belakang, Ashnard yang berada di udara cukup tinggi menendang bagian belakang kepala penjagal.


Setelah mendarat, dia membuka salah satu gulungannya. Dengan sekuat tenaga, penuh tekad, dan serius dia berteriak sambil membuka gulungan yang secara perlahan mengeluarkan cahaya seterang langit siang di dunia nyata yang dia arahkan pada punggung penjagal.


__ADS_2