
Walaupun kehidupan di akademi mereka masih terus berjalan seperti biasanya, masih tetap ada beberapa yang tidak bisa lepas dari kejadian di danau. Salah satunya ialah Ulfang yang kini berlatih lebih keras.
Saat Ulfang melihat masa depannya, Ulfang menggunakan hal itu sebagai motivasinya. Dia kini lebih jarang menempel pada Reinhard dengan begitu Reinhard bisa menjadi lebih dekat dengan Liliya. Ulfang selalu mengambil waktu istirahatnya untuk berlatih.
Dia ingin mencapai titik dirinya yang di masa depan. Itu adalah tanda bahwa dia akan mampu menjadi lebih kuat untuk membawa nama Ruishorn. Jika dia menjadi lebih kuat, dia tidak perlu bergantung dan berlindung pada Reinhard lagi.
Sementara Ulfang menggunakan penglihatan masa depannya sebagai motivasi, Nina beranggapan apa yang terjadi di luar masa depannya adalah hal yang negatif. Hal yang ingin dia lupakan, tapi tak semudah itu.
Setiap kali dia melihat Ashnard dari jauh perasaannya campur aduk. Saat berpapasan dan Ashnard yang masih menyapanya dengan ramah semakin membuat perasaan Nina tidak terarah.
Eris sudah sering memberitahunya kalau sebaiknya dia menghentikan kekesalannya dan segera berbaikan dengan Ashnard. Nina selalu menjawab, "Aku ingin tapi tidak bisa semudah itu, Eris. Aku selalu merasakan sakit di hatiku tiap kali aku memikirkan Ashnard."
"Siapa Ashnard bagimu? Seseorang yang kau cintai, orang yang kau percayai atau orang yang kau ingin lindungi?"
Nina yang saat itu membereskan buku setelah kelas selesai menjawab dengan nada datar, "Orang yang aku benci."
Eris bergegas merapikan bukunya, lalu menyusul Nina di luar kelas. "Tidak ada pilihan itu."
"Aku yang membuat pilihanku sendiri."
Eris menghela. "Jadi, kau benar-benar membencinya, ya? Tapi, kenapa kau selalu diam-diam melirik ke Ashnard?"
Nina yang tersentak, berhenti lalu menatap Eris dengan wajah merahnya. "A-aku tidak-"
"Lihat! Kau sendiri tidak bisa menyembunyikannya dengan baik. Ekspresimu terlalu jelas, Nina. Saat kau diam-diam melirik Ashnard, aku diam-diam melirikmu, tahu."
"Ka-kapan?"
"Tentu saja setiap kali ada Ashnard di tempat yang sama."
Merasa rahasianya telah terbongkar, Nina memutuskan untuk meinggalkan Eris tanpa mengatakan sepatah kata pun sambil menyembunyikan wajah malunya. Dia meningkatkan kecepatan berjalannya hingga kaki-kaki kecil Eris tidak sanggup mengejarnya.
"Mau kabur kemana?" goda Eris menirukan suara seperti hantu yang ingin menggentayangi Nina.
"Dasar keras kepala!" geram Nina, berkeliling-keliling di sekitar akademi untuk menghafal jalan yang pas agar bisa menghindari Eris.
"Akui saja, Nina. Kau masih memikirkan Ashnard, kan?"
"Tidak!"
__ADS_1
Kemanapun Nina pergi, Eris selalu dapat mengejarnya. Semua orang tahu itu, dan Nina baru menyadari bahwa itu sangat mengganggunya. Dia menjadi tak bisa sendiri, meskipun itu bertentangan dengan ungkapan sebelumnya.
Nina sembunyi di semak-semak, belakang pohon atau ruang gudang tapi Eris selalu menemukan cara untuk berhasil menyusulnya. Sekalipun dia bersembunyi di antara kerumunan murid-murid, Eris tetap dapat menemukannya dengan sangat jelas karena rambut merahnya yang mencolok.
"Sudah terlambat, Nina. Kau tidak bisa bersembunyi lagi," ucap sang gadis yang meletakkan kedua tangannya di pinggangnya, menunjukkan kepercayaan diri akan kemampuannya untuk menemukan Nina dimanapun dia bersembunyi.
"Kalau begitu, aku hanya harus berlari terus-menerus hingga kau lelah."
Nina bangkit dengan penuh tekad. Dia berbalik dan langsung mengarah ke pertigaan di lorong akademi. Kiri dan kanan harus dipilihnya dengan cepat dan teliti. Dua-duanya akan menghasilkan arah yang sama karena dua lorong itu mengarah ke taman. Karena posisi dia berlari lebih condong ke sisi kiri lorong, Nina memutuskan untuk mengambil belokan di kiri karena akan lebih cepat. Serta kaki kanannya lebih kuat dalam memberikan dorongan saat berbelok sehingga dapat menambah jarak antara dia dan Eris daripada menggunakan kaki kiri si belokan kanan. Nina tersenyum dengan rencananya.
Sesuai dengan apa yang sudah dipikirkannya matang-matang, Nina langsung berbelok. Pandangannya tiba-tiba menghitam tepat di belokan. Nina bisa merasakan sesuatu yang keras menabraknya, membuatnya terjatuh. Saat dia perlahan membuka matanya, ada laki-laki yang masih menempel dipikirannya, berdiri dengan khawatir saat melihat Nina terjatuh.
"A-A-As-Ash!" Suaranya yang terbata-bata disertai dengan wajahnya yang memerah.
"Ah, takdir yang tak diduga. Beruntung sekali bertemu denganmu, Ashnard," sapa Eris yang terengah-engah sehabis berlarian penuh mengelilingi akademi.
Setelah dipikirkan kembali, rasanya konyol mengejar Nina hingga menghabiskan hampir seluruh staminanya. Eris tertawa dalam nafasnya yang berat, berpikir bahwa dia dan Nina sangat kekanak-kanakan sendiri.
Eris tidak menyesalinya, justru dia tersenyum saat bersandar dan merosot di dinding. Bermain-main setelah kejadian yang berat yang harus dicerna sangatlah dibutuhkan untuk dirinya dan Nina.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Ashnard, berlutu di depan Nina dengan khawatir karena tidak sengaja membuatnya terjatuh.
"Ti-tidak!" sergah Nina. Suaranya sangat keras hingga membuat orang-orang di lorong otomatis menoleh ke arahnya. "Aku tidak ... mencarimu."
"Tipikal Nina. Dia selalu menggigit bibir bawahnya saat sedang gelisah, gugup atau panik. Dia sebenarnya mencarimu untuk meminta maaf telah mengabaikanmu selama ini. Tidak hanya itu, dia juga rindu dan ingin mengobrol berdua bersamamu," Eris menjelaskan dengan penuh kelicikan dan kebohongan demi kebaikan.
"Hei, jangan berbicara seenaknya! Aku tidak menggigit bibirku! Dan, dan aku juga tidak seperti katamu," sanggah Nina.
Ashnard seperti tidak mendengarkan percakapan kedua gadis itu, tiba-tiba meletakkan satu tangannya di bawah lutut Nina dan satu lagi di belakang punggungnya, lalu mengangkatnya di udara.
"Aku juga sebenarnya ingin bicara padamu, Nina."
Nina panik, tak bisa berkata-kata ketika digendong di depan oleh Ashnard selayaknya tokoh perempuan dalam buku romansa. Digendong seperti ini juga adalah salah satu impian Nina, tapi karena situasi atau momen yang tidak pas membuat perasaannya campur aduk.
"Kau membuatku iri, Nina." Eris bisa tersenyum antara berniat jahil dan senang. "Hei, Ashnard. Bisakah kau menggendongku juga di belakang? Kaki sudah tidak kuat untuk menopang tubuhku lagi."
Ashnard tanpa berkata-kata, berjongkok di depan Eris sambil menggendong Nina.
Eris menjatuhkan tubuhnya di punggung Ashnard, lalu melingkarkan tangannya cukup erat di lehernya tapi tetap memberi ruang agar tidak membuat Ashnard tercekik. Setelah Ashnard berdiri, kaki Eris tergantung di udara.
__ADS_1
Ashnard lalu membawa mereka berdua di sepanjang lorong. Bahkan dengan dua gadis yang menambah beban tubuhnya, langkah Ashnard tetap seringan seperti berjalan di atas awan. Ashnard tidak peduli dengan bertambahnya beban, dan dia juga tidak peduli dengan orang-orang yang melihatnya.
"Jadi, begini rasanya digendong laki-laki. Lumayan juga." Eris menghela nafas lega.
"Ke-kenapa kau membawa Eris juga?" tanya Nina ke Ashnard.
"Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja," jawab Ashnard. Suaranya tidak seperti biasanya. Seperti suara orang yang bersedih. Jika diibaratkan, seperti awan mendung, tapi tidak mengeluarkan hujan.
"Jangan bilang kau cemburu?" goda Eris dengan senyuman jahilnya. "Hei, Nina. Lihat ini." Eris yang bersandar di bahu Ashnard, menempelkan hidungnya seperti sedang menghirup aroma tubuh Ashnard.
"Eris! Beraninya kau!" geram Nina yang kemudian dia bergeliat di gendongan Ashnard. "Ash, kenapa kau diam saja? Apa kau tidak melihat apa yang Eris lakukan?"
"Aku hanya bercanda, dasar tukang cemburu. Kau sendiri bilang kalau kau membenci Ashnard dan berusaha melupakannya. Itu berarti aku boleh mengambil Ashnard, kan? Kebetulan aku juga ingin punya sosok pangeran sepertinya."
"Eris! Apa kau ingin mengkhianatiku?"
"Tenanglah, Nina. Eris hanya bercanda saja," potong Ashnard yang tampak tenang. Tidak menunjukkan ceria atau perasaan apapun. Walaupun Nina bisa merasakan kehangatan dari suhu tubuh Ashnard, tapi suaranya sangat dingin.
Ashnard berjalan cukup panjang dengan membawa Eris dan Nina hingga sampai di lembah akademi. Di pinggir sungai dekat hutan.Tempat dimana Ashnard dan Gerlon selalu menghabiskan waktu bersama.
Eris turun dari punggung Ashnard, sementara Nina terdiam. Dia yang tenang, bersandar pada dada Ashnard tuk mendengarkan degup jantung Ashnard yang pelan, merasa ikut bersedih mendengarnya.
"Kau tak mau turun?" tanya Ashnard.
"Dia ingin dimanja olehmu," jawab Eris yang langsung duduk di rerumputan sambil memeluk lututnya.
Eris yang selalu menjawab dengan sembarangan semakin membuat Nina kesal. Namun, kali ini dia tidak ingin menegurnya karena ucapannya tidak sepenuhnya salah. Nina yang bersandar di dada Ashnard, kemudian membentangkan tangannya ke belakang Ashnard dan memeluknya.
"Aku masih membencimu, kau tahu itu? Kau telah membohongiku dan semuanya. Memberikanku harapan palsu. Jika ada yang bertanya luka apa yang paling menyakitkan dalam hidupku, aku tidak akan menjawab luka bakar di punggungku. Aku akan menjawab saat kau membohongiku adalah luka yang paling menyakitkan."
"Maafkan aku." Hanya dua kata saja yang bisa Ashnard ucapkan karena dia sudah kehabisan cara agar Nina bisa memaafkannya. Ashnard tertunduk, menyesali perbuatannya.
"Aku akan jujur padamu sekarang, karena itu kau juga harus jujur padaku. Aku membencimu memang benar, tapi aku juga tidak berhenti memikirkanmu dalam tidurku. Walaupun kenangan kita di villa hanya sebentar, tapi aku rindu padamu seperti sudah sangat lama."
"Kau tahu, Ashnard. Tidak hanya kau yang bersedih, Nina juga sama sepertimu," sahut Eris.
"Begitu ya. Aku mengerti. Jadi, sekarang kau ingin aku jujur? Kejujuranku masih sama seperti waktu di villa. Itu bukan kebohongan. Aku benar-benar menyukaimu. Dan asalkan kau tahu, Nina, aku selalu memberikan tempat untuk dirimu ada dipikiranku."
Nina mendongak ke atas untuk melihat wajah Ashnard saat ini. Dan yang dia lihat adalah campuran dari semuanya. Kesedihan, kejujuran, kesungguhan, dan kepedulian. Senyuman di wajahnya yang sayu juga menggambarkan satu titik cerah di awan mendung yang menyinari hanya untuk Nina seorang.
__ADS_1