
Tes kelayakan untuk Reinhard pun dimulai. Fleus sebagai wasit berdiri di antara Reinhard dan Arlon, dan berteriak mulai--menandakan siapapun yang menyerang terlebih dulu, bisa dipastikan akan memimpin lajur pertarungan.
Akan tetapi, sampai Fleus beranjak ke posisi yang cukup jauh dari jarak pertarungan, Reinhard dan Arlon hanya saling menatap dalam diam.
Apa yang ada dalam sudut pandang Reinhard, hanyalah sesosok yang telah ia kalahkan. Sementara bagi Arlon, ia melihat Reinhard sebagai orang yang harus dikalahkan apapun caranya.
Reinhard menganggap hal ini enteng, sementara Arlon tidak. Ia menggenggam pedangnya dengan erat bukan tanpa alasan. Ia marah hanya dengan melihat keberadaan Reinhard saja. Dan ia sebagai pangeran, ingin mengalahkan Reinhard dengan kedua tangannya sendiri.
Reinhard yang dulu pernah mengalahkannya itu tak pernah lepas dari objek balas dendam Arlon. Ia berpikir sekaranglah saatnya untuk membuktikan kemampuannya.
"Bagaimana kabarmu, Arlon?" tanya Reinhard basa-basi sebelum ia mengangkat pedangnya.
"Tidak pernah lebih baik," jawab Arlon.
Reinhard menenangkan dirinya dengan menghembuskan nafasnya. "Kau ingin membalaskan kekalahanmu waktu itu?"
"Kau sudah paham. Kalau begitu, aku tidak perlu menjelaskannya lagi." Arlon menegakkan tubuhnya dan menyodorkan pedangnya ke arah Reinhard. "Lihatlah momen ini, Reinhard! Aku yang akan berdiri di puncak."
Di ruang persiapan, Ashnard bertanya-tanya dengan apa yang terjadi pada Reinhard dan Arlon.
Dari belakang, Terenna muncul dan berdiri di samping kiri Ashnard. "Yah, hanya masalah sederhana saja. Setahun yang lalu, Ashnard menang melawan Arlon dalam duel. Dan sekarang Arlon masih tak terima akan kekalahannya itu."
"Jadi, mereka sudah saling kenal," gumam Ashnard.
"Kau harus rajin-rajin mencari informasi, nak. Waktu itu beritanya sudah tersebar sangat cepat ke berbagai tempat. Keluarga Asberion sedang berkunjung mewakili Winfor ke Magnolia dengan tujuan mempererat hubungan. Ketenaran Asberion memang tak bisa dipungkiri lagi di antara masyarakat, karena itu sang pangeran Magnolia merasa iri dan ingin membuktikan kalau dirinya tidak takut terhadap Asberion. Lalu, seperti yang telah terjadi, ia menantang Reinhard dan ia kalah."
Dan perasaan yang awalnya iri tumbuh menjadi kebencian dan berkembang menjadi obsesif. Perasaan itulah yang Arlon bawa hingga saat ini. Perasaan yang terus mengikis kewarasannya itu membuat Arlon tumbuh menjadi orang yang berbeda saat Reinhard terakhir kali bertemu dengannya.
Ayunan pedang Arlon memberatkan Reinhard, dan semakin berat, membuatnya berlutut dalam kesakitan.
Reinhard yang terlalu menganggap enteng ini, tak bisa berkutik saat dalam sekejap mata pedang Arlon datang ke arahnya.
Benturan yang mengakibatkan dorongan setara makhluk buas itu telah memaksa Reinhard berlutut. Hanya tersisa beberapa inci lagi sebelum pedang Arlon yang tertahan mengenai bahunya.
Reinhard memusatkan seluruh kekuatan angin pada tumitnya. Menciptakan dorongan pada tubuh Reinhard hingga berhasil membalas dorong ke Arlon. Reinhard pun melesat di udara dan mendarat di belakang Arlon.
Semua penonton bersorak yang semakin membuat Arlon semakin marah. "Penggemarmu itu tak akan membuatmu kuat," geramnya.
Ashnard mengabaikan dan membalas serangan. Segala ayunan berhasil di tangkis satu sama lain.
Lalu, Arlon menghentakkan kaki kanannya dengan kuat. Menciptakan getaran, retakan dan sebuah bongkahan lantai arena yang melayang di udara. Arlon menendang bongkahan batu itu hingga menabrak pinggang kiri Reinhard. Reinhard terpental.
Dari pintu masuk penonton, Liliya dan kawan-kawannya muncul. Pemandangan pertama yang ia saksikan adalah Reinhard yang terjatuh dengab sangat keras. Gumpalan darah bermuncratan dari mulutnya.
__ADS_1
"Rein!" teriak Liliya dari atas, berpegangan pada pagar pembatas. Kekhawatiran memuncak pada diri Liliya.
"Jangan bilang Reinhard Asberion kalah," ucap salah satu teman Liliya.
Tak ingin hal itu terjadi, Liliya melipat tangannya kuat-kuat, berdoa pada keselamatan Reinhard.
Karena teriakan Liliya barusan, semua mata para penonton tertuju padanya. Ada tatapan tak suka dari para murid-murid dan juga ada yang sangat senang dengan kedatangan Liliya. Tidak lain adalah Ashnard yang merasa paling senang bisa melihat kembali Liliya.
Gerlon paham saat melihat kegembiraan terpancar di wajah Ashnard. "Jadi, dia yang namanya Liliya."
"Astaga, kenapa kau mendoakannya?" gumam Ashnard menggeleng kepalanya melihat Liliya. "Yah, dia masih saja gadis yang baik."
Reinhard bangkit sebelum hitungan wasit selesai. Ia menopang tubuhnya dengan pedangnya.
"Kau lihat? Aku lebih kuat dari sebelumnya. Aku terus berlatih dan berlatih hingga seperti sekarang ini. Levelmu sekarang jauh berada di bawahku, Asberion," ucap Arlon.
Reinhard mengangkat bibirnya. "Aku hanya sengaja melakukannya, dasar kepala batu."
"Sengaja katamu? Jangan sombong! Terima ini dan baru kau bilang sengaja." Arlon menciptakan sejumlah peluru batu di udara, dan melemparkannya pada Reinhard.
Batu-batu itu mengenai empat titik pada tubuh Reinhard. Bahu kiri, lengan kanan, perut, dan pahanya. Semakin membuat Reinhard tak berdaya.
"Sekarang aku yang menang. Menyerah sajalah."
Dengan darah dan debu di tubuhnya, Reinhard masih bangkit dan bertumpu dengan pedangnya. "Aku Asberion! Dan Asberion tidak akan menyerah selama angin masih berembus!"
Dalam kedipan mata, Reinhard berpindah sangat cepat di belakang Arlon. Ia meningkatkan kekuatan anginnya untuk mempercepat langkahnya hingga secepat kilat.
Tapi, Arlon masih bisa bereaksi dan melancarkan serangan bersamaan dengan serangan Reinhard. Dari tanah yang diinjak Arlon, batuan runcing terbentuk dan menusuk bagian perut kiri Reinhard. Kemudian angin yang terpusat menjadi tebasan juga mengenai Arlon dan membuatnya terpental.
Semua orang tak henti-hentinya melongo dengan pertempuran Reinhard dan Arlon. Meskipun terluka, mereka masih tetap saling melempar serangan.
Berbagai reaksi dan komentar ditunjukkan oleh mereka yang menyaksikan.
Wilia selalu tersenyum, karena ia sudah tahu siapa pemenangnya sejak awal. Wilia dan sejumlah teman-temannya di sisinya tahu harus berpegang siapa untuk menjadi pemenang jika bertaruh.
"Dia boleh juga," seru Nina yang duduk beberapa deret di belakang Wilia. Tersenyum lebar serta menatap Reinhard penuh semangat.
"Berhentilah menatapnya, gadis api," celetuk Wilia.
Nina mendengar itu dan terkekeh. "Memangnya kenapa? Aku tak percaya kau mencampuri urusanku."
"Bukannya biasanya kau yang suka mencampuri urusan orang?" Wilia bersikap tenang dalam membalasnya. Ia bahkan tak perlu menoleh ke belakang sedikit pun.
__ADS_1
Nina menyeringai jahil. "Kau memerhatikanku ya?"
"Aku akan melupakannya mulai sekarang," jawab Wilia.
"Aku bercanda, tuan putri," ucap Nina tertawa sambil memberikan nada tekanan pada kata tuan putri.
Sementara di sisi lain penonton, ada lah penggemar berat Reinhard. Yang secara terang-terangan dan dengan lantangnya memberikan semangat pada Reinhard. Di antarnya adalah Ulfang, Liliya bersama teman-temannya.
Mereka lah yang dari awal membuat iri Arlon dan membuat para guru juga merasa jengkel. Tapi, semua penyemangat itulah yang membuat Reinhard terus bangkit meskipun seluruh tubuh penuh luka.
Luka yang dialaminya lebih parah dari Arlon. Tapi, ia tetap tampil dengan lincah seperti orang normal. Gerakannya cepat, menghindari batu-batu runcing milik Arlon.
Saat nafas kedua lelaki itu mencapai batas, Reinhard mengembuskan sisa udara dari paru-parunya ke pedangnya. Membentuk sebuah lapisan angin yang berputar sangat kencang.
Bongkahan batu terbentuk untuk menutupi langkah Reinhard. Reinhard memotongnya menjadi serpihan kecil. Bongkahan lainnya muncul dan Reinhard berhasil menghindari semuanya.
Ia bahkan memanfaatkan beberapa bongkahan sebagai pijakan untuk semakin mempercepat langkahnya. Semakin ia bergerak cepat, aliran angin semakin kuat. Serpihan batu tersedot angin tersebut hingga menjadi debu.
Reinhard datang seperti badai putih yang menggelora. Bunyi yang berisik nan mendebarkan datang darinya. Mengamuk seperti ****** beliung yang memporak-porandakan apapun. Semua benda-benda tertiup ke arah arena. Rambut dan pakaian para penonton berkibaran.
Badai itu pun datang. Meskipun Arlon sudah membuat perisai batu yang berlapis 3, Pedang Reinhard yang mengumpulkan seluruh angin dari ruangan berhasil menembusnya dan menciptakan ledakan angin hebat yang menghempaskan Arlon.
Hempasan itu berlanjut melebar ke seluruh ruangan. Tekanannya bahkan terasa bagi para penonton di kursi mereka atau masuk ke dalam ruang tunggu. Beberapa murid terdorong ke belakang, dan murid gadis lainnya harus menahan rok mereka agar tak tertiup angin.
Semua orang tak berdaya dengan tekanan angin yang sangat kuat tersebut, bahkan Terenna sekalipun. Saat Ashnard bangkit kembali dan melihat hasil pertarungan, terlihat Fleus yang berdiri tegak berteriak, "Selesai!"
Arlon sudah tak berdaya dengan kekuatan Reinhard. Ia kehilangan kesadarannya dan terluka cukup parah.
Tangan terangkat dan sorakan semakin menjadi-jadi. Bergema di antara ruangan setelah badai reda. Kemudian, tepukan terdengar.
"Aku sudah menduganya. Dia memang hebat," ucap Wilia yang masih tersenyum lembut walau ikatan rambutnya sedikit kacau.
"Mungkin aku bisa mencoba menantangnya sekali saja," kata Nina setelah merapikan seragamnya.
Senyuman Liliya merekah seperti bunga pagi. Ia bersorak bersama teman-temannya atas kemenangan Reinhard.
Sementara Ashnard hanya terbujur kaku tak percaya. Tubuhnya gemetaran melihat pertarungan barusan. "Dia kuat sekali."
"Kau benar," balas Roc.
"Tapi, waktu itu aku bisa mengalahkannya dengan mudah."
Roc bersiul. "Asberion memang tak perlu diragukan lagi."
__ADS_1
Mata Ashnard melebar saat telah menyadari sesuatu. "Jangan-jangan saat melawanku ... dia sebenarnya tidak mengeluarkan seluruh kekuatannya saat itu."