
Ashnard membenturkan pedangnya, walaupun dia tahu itu sia-sia saja. Tidak berefek sama sekali selain hanya memberikan suara dentingan yang keras.
Kekuatan dan teknik bertarung Pria Luka bukan sembarangan. Berbeda jauh dengan saat Ashnard melawan Erik.
Saat melawan Erik, Ashnard masih bisa membaca gerakannya dan langsung segera mengantisipasinya. Namun, ketika ia melawan Pria Luka, ia selalu kerepotan karena gerakan pria itu lebih cepat darinya dan lebih kuat.
Saat Ashnard ingin melancarkan serangan, Pria Luka dapat menangkisnya atau menghindarinya. Tapi, saat Pria Luka memberikan serangan, meskipun Ashnard sudah menangkisnya, ia tetap terkena efek hempasannya.
Ashnard melepaskan bilahnya agar terbang menuju Pria Luka. Pria Luka berhasil menghindarinya, tapi bukan itu niat Ashnard. Ashnard membuat tali air yang mengikat bilah Hoku yang tertancap di tanah, jauh di belakang Pria Luka.
Dengan tali tersebut, Ashnard menarik dirinya agar melaju kencang ke Pria Luka. Tinju Ashnard mengenai pipi kanan Pria Luka. Sebelum pria tersebut membalas, Ashnard melompat mundur sambil menarik pedangnya kembali. Dengan begitu, Ashnard bisa sekaligus menyerang dan bertahan.
Sampai saat ini, Ashnard masih unggul. Tapi, tidak lama setelahnya, Pria Luka sudah hafal gerakan Ashnard dan dapat mengantisipasinya dengan mudah. Begitulah pertarungan yang sesungguhnya, setiap saat alurnya akan berubah.
"Kau bilang niatmu hanya memberikan kekuatan ke orang lain, tapi bagaimana dengan orang yang telah kau berikan kekuatannya. Kulihat Erik justru ingin menghancurkan manusia itu sendiri," sela Ashnard di tengah-tengah pertarungan, sambil memberikan nafas untuk mereka berdua.
Pria Luka melirik ke belakang. "Apakah itu benar, Erik?"
"A-aku sedang mengerjakannya," jawab Erik gelagapan.
"Ada banyak orang-orang yang kuberikan kekuatan, tapi aku tak bisa mendisiplinkan mereka semuanya sekaligus. Mereka berhak hidup sesuai dengan keinginan mereka masing-masing," jelas Pria Luka ke Ashnard.
"Memberikan kekuatan berbahaya ke orang lain dan membiarkan mereka menggunakannya dengan bebas, itu adalah hal yang salah!" balas Ashnard tegas.
Ashnard yang kesal, langsung mengambil langkah ke depan dan mengayunkan pedangnya. Pria Luka menggunakan pedang hitamnya untuk menahan.
"Ini bukan soal salah atau benar, ini soal umat manusia. Umat manusia harus dapat bertahan hidup dengan kaki dan tangan mereka sendiri. Namun, kekuatan manusia saat ini belum cukup kuat untuk bertahan dari ancaman yang sesungguhnya. Karena itu, kami membutuhkanmu, Ashnard. Kau lah satu-satunya manusia yang dapat melanggar peraturan dewa. Kami membutuhkan kekuatanmu," ajak Pria Luka.
"Tidak akan pernah! Selama Ibuku tidak kembali, aku tidak akan menganggapmu sebagai orang yang baik!"
Tiba-tiba, sejumlah energi hitam muncul dari tanah di kedua sisi Ashnard, memanjang dan mengikat kedua tangan Ashnard ke samping. Tangan kanan Ashnard diremas sangat kuat oleh tali energi berwarna hitam, membuat Ashnard harus melepaskan pedangnya.
Pria Luka menendang pedang Ashnard ke tepi sungai. Lalu, dengan satu pukulan kuat di perut, Ashnard terduduk kesakitan.
__ADS_1
Ashnard berusaha memberontak, tapi semakin ia memberontak semakin erat tali hitam yang mengikat lengannya. Ashnard bisa merasakan lengannya serasa akan tersobek dari bahunya.
Pria Luka menjambak rambut Ashnard dan mengangkatkan kepalanya. "Aku sudah menahan diri untuk tak membunuhmu, tapi kau menganggapku bukan orang yang baik? Hah!"
"Di ... mana ... Ibuku?" tanya Ashnard melirih kesakitan.
"Tenang saja, Ibumu baik-baik saja. Kami merawatnya dengan baik. Dia adalah harga yang pantas untuk membelimu. Saat aku mengunjunginya, dia selalu menanyakan kabarmu. Benar-benar orang tua yang baik. Kadang dia juga memberontak dan membuat kami sedikit kerepotan. Jadi, kami harus memberikannya suntikan untuk membuatnya tenang."
Darah Ashnard mendidih ketika melihat Pria Luka di depannya. Hatinya serasa terbakar oleh api amarah. Ketika, pria itu menjelaskan tentang ibunya, Ashnard tak bisa menahan semua emosinya.
"Jika ... kau menyakiti Ibuku sedikit saja. Aku akan membunuhmu!" ancam Ashnard.
Pria itu tidak sedikitpun takut terhadap ancaman Ashnard. Ia juga terlihat tidak peduli. Dia masih bisa santai dan tertawa selagi Ashnard menggeram seperti macan.
"Membunuhku? Bagaimana caranya? Kau tidak bisa apa-apa saat ini. Tidak ada seseorang pun yang akan melindungimu sekarang."
Ashnard tak menjawab, ia hanya menatap tajam ke Pria Luka. Seolah dengan menatap tajam, ia dapat membunuh pria yang telah menculik Ibunya.
"Kekuatanmu sangat penting bagi eksperimen kami, Ashnard. Ikutlah denganku dan kau akan dianggap sebagai penyelamat dunia. Pikirkan ini, demi umat manusia."
"Itu tidak akan terjadi," tolak Ashnard.
Pria Luka mendesah, lalu meletakkan pedangnya di sebelah leher Ashnard. "Kami sangat berharap padamu, Ashnard. Tapi, aku tidak ada pilihan lain untuk membawamu. Kau penasaran bagaimana caraku memberikan kekuatan ke Erik, kan? Akan kutunjukkan salah satunya."
Sambil menahan kepala Ashnard dengan menjambak rambutnya, Pria Luka menempelkan pedangnya ke leher Ashnard. Ashnard dapat merasakan sensasi dingin yang menyentuh lehernya, kemudian satu gerakan
Secara perlahan, Pria Luka mengiriskan pedangnya di leher Ashnard. Darah segar mengalir, Ashnard berontak kesakitan. Lalu, warna hitam di pedang itu tiba-tiba bergejolak seperti cairan. Bergerak menggeliat saat pedang hitam mengiris leher Ashnard, dan perlahan menyusup masuk ke luka lehernya.
Ketika Pria Luka melepaskannya, Ashnard bergeliat kesakitan di tanah seperti ikan yang kehabisan nafasnya. Tangannya berusaha menutup darah yang terus ke luar serta cairan hitam yang masuk di lehernya.
Ashnard berusaha mengeluarkan cairan hitam itu dengan susah payah. Ia bahkan mencakar-cakar, menarik, dan mencekik lehernya sendiri.
Ashnard tak bisa menahan rasa sakitnya lagi. Ia berguling-guling, menendang pasir dan menggeliat tak bisa diam. Udara yang ia hirup serasa tertahan di tenggorokannya, dan jantungnya tak mampu untuk memompa udara ke seluruh tubuh. Kulit lehernya serasa terkabar. Dan aliran saraf di lehernya terasa digerogoti oleh sesuatu di dalam.
__ADS_1
"Maafkan aku atas siksaannya, tapi kau harus dapat menahannya."
Sementara Ashnard mengerang-erang seperti seekor sapi yang akan disembelih, Pria Luka dan Erik hanya bisa melihat saja.
"Sebelum matahari terbit, berlututlah di depan cahayaku!" Terdengar suara yang bergema di seluruh penjuru hutan, lalu diikuti dengan cahaya putih yang sangat terang. Bahkan membuat langit malam terlihat seperti siang hari.
Datang dari atas, seorang pria membuka telapak tangannya yang bercahaya lalu ia arahkan ke Pria Luka. Energi cahaya itu membesar dan mendorong Pria Luka dengan tenaga yang besar.
"Kepala Akademi," geram Pria Luka yang berusaha bangkit dibantu Erik.
"Kita harus kabur, tuan," ucap Erik gemetaran.
Sang pria berparas tampan yang memegang jabatan penting di akademi itu menghunuskan pedang beremblem bintang empat sudut. Lalu, tangan kirinya yang bercahaya menggenggam bilah tersebut dan memoleskan sebuah cahaya hingga ke ujung bilah.
"Siapapun yang menyakiti murid-muridku, tidak akan pernah kulepaskan!" teriaknya. Ia melompat sambil mengangkat pedang cahayanya ke Pria Luka.
Meskipun Ashnard tak bisa memikirkan apapun selain rasa sakit yang membuatnya tak waras, ia masih bisa melihat cahaya terang berpendar dari tangan seorang pria melawan kegelapan. Cahaya itu menjadikan sebuah harapan di mata Ashnard. Bahkan, saat beradu dengan pedang hitam, kilauan cahaya itu tidak padam.
Tiba-tiba, seorang pria lain berambut putih panjang muncul di depan Ashnard. Pria itu adalah Gerardus.
"Tenanglah, Ashnard, aku ada di sini." Suaranya yang lembut masuk ke telinga Ashnard seperti menenangkannya dari segala rasa sakit. "Aku akan mengeluarkan rasa sakit dari tubuhmu."
Gerardus menepuk tangannya, sontak kedua tangannya bercahaya seperti tangan Kepala Akademi. Tangan dan jarinya berputar-putar seperti gerakan mengikat sesuatu. Kemudian dari jarinya keluar sebuah energi yang ia masukan melalui luka Ashnard saat menekan lehernya.
"Bertahanlah, Ashnard, ini akan sangat menyakitkan," ucapnya membuat Ashnard ingin berteriak berhenti tapi tak bisa.
Tangan kiri Gerardus menahan kepala Ashnard sedangkan tangan kanannya mencengkeram sebuah tali bercahaya putih yang keluar dari leher Ashnard. Dan tanpa aba-aba, ia langsung menarik talinya sekuat tenaga. Rintihan kesakitan keluar secara otomatis dari mulut Ashnard, dan matanya menetes air mata derita.
Dalam sekian detik penuh jeritan, tali cahaya itu berhasil keluar dari leher Ashnard dengan mengikat suatu bentuk cair berwarna hitam yang menggeliat.
Ashnard merasa lebih lega dari sebelumnya. Nafasnya kembali teratur, dan sejenak ia seperti merasakan kedamaian. Sambil memegang lehernya yang mengalirkan darah, Ashnard bangun dan menatap ke benda yang sebelumnya ada di dalam lehernya.
"Apa itu?" tanyanya lirih, masih belum pulih sepenuhnya dan masih terbayang rasa sakitnya.
__ADS_1
"Ini adalah parasit kegelapan. Zat elemental yang kelihatannya hidup namun sebenarnya tidak. Saat parasit ini masuk ke tubuhmu, segara ia menggerogoti seluruh sarafmu, lalu menggantikannya. Kau tidak akan mati, tapi hidup sebagai inang," jelas Gerardus. "Jika aku terlambat sedikit saja untuk mengeluarkannya, kau mungkin sudah bukan menjadi dirimu lagi."
Ashnard tak bisa berkata apa-apa, ia hanya terdiam sementara rasa takutnya mengalir di seluruh tubuhnya. Ditambah pertarungan sengit antara sang Kepala Akademi dan Pria Luka membuat sekujur tubuhnya merinding.