The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Misi Selesai


__ADS_3

Kedua patung itu menjaga pintu masuk menuju akademi. Dikatakan setiap jalur daratan maupun jalur sungai akan ada dua buah patung yang menjaga tiap satu jalurnya. Total ada delapan patung untuk jalur sungai dan empat patung untuk jalur daratan.


Dari patung tersebut, terpancar energi yang sangat kuat. Saling terhubung dengan patung lainnya hingga membentuk seperti kubah energi transparan. Tak ada yang bisa masuk ataupun melihat ke dalam kubah tersebut. Dari sudut pandang orang luar, apa yang ada di balik kubah itu hanyalah hutan, sungai dan bebatuan saja.


"Ini memang perjalanan yang pendek, tapi sudah saatnya." Nous memegang pundak Ashnard.


"Terima kasih sudah menemaniku dan mengajariku," balas Ashnard. Matanya penuh akan air mata yang akan tumpah. "Aku sangat menikmati perjalanan ini."


"Kau sudah melakukannya dengan bagus."


"Aku juga. Perjalanan yang menyenangkan," sahut Finn di belakang Nous.


"Aku masih ingin melakukan perjalanan lagi bersama kalian," rengek Ashnard.


Nous tersenyum. Ia lalu meletakkan tangannya pada kepala Ashnard dan mengusapnya dengan lembut. "Setelah kau lulus dari akademi. Kita bisa melakukannya lagi."


"Apa aku bisa bertemu denganmu lagi dalam waktu dekat?" tanya Ashnard pada Nous.


"Tidak dalam waktu dekat. Setelah ini, aku akan pergi mengembara lagi seperti dulu. Winfor sudah menjadi masa laluku dan aku harus mencari masa depanku sendiri. Tapi, aku bisa memastikan kita akan tetap bertemu lagi. Benar, kan?" Nous melirik ke Finn.


"Tentu saja, nak. Kita akan bertemu lagi kelak."


"Ozark bilang kalau aku harus bertindak sebagai pelajar biasa di akademi. Menjalani kehidupan biasa, belajar, berlatih, dan tak membuat perhatian. Ia juga bilang akan sesekali mengabariku."


"Kau tahu apa yang harus kau lakukan Ashnard."


"Baiklah. Aku akan belajar dengan keras. Aku akan berlatih menjadi kuat. Aku harus menjadi orang yang berbeda saat bertemu dengan Ibu lagi," ucap Ashnard penuh tekad.


"Itu baru semangat. Sekarang pergilah."


Ashnard berbalik menuju patung raksasa itu. Langkahnya semakin melambat dan terhenti. Ashnard menundukkan kepalanya sambil meremas tali tasnya.


Finn menyenggol Nous, memberikan tanda untuk melakukan sesuatu pada Ashnard.


"Ashnard," panggil Nous yang memahami maksud Finn. Ia merentangkan tangannya saat Ashnard berbalik.


Dengan cepat, Ashnard berlari ke arah Nous dan memeluknya sangat erat. Kehangatan dari dekapan Nous, membuat anak itu tenang dan bahagia.


Setelahnya ia pun kembali ke hadapan sang patung, tapi kali ini dengan sangat siap.


"Apa urusan anak lelaki sepertimu di sini?" tanya patung yang berada di depan Ashnard tersebut. Kepalanya bergerak menghadap ke bawah.


"Aku datang untuk akademi," teriak Ashnard.


"Akademi? Tunjukkan identitasmu, anak muda," sahut patung yang ada di seberang.


"A-Ashnard ... namaku," jawab anak itu ragu. Ia lalu menoleh ke Nous. Nous membuat gestur yang memberi tahu Ashnard untuk menunjukan surat rekomendasinya. Ashnard kemudian mengangkat surat rekomendasi tersebut setinggi mungkin.


Patung itu terdiam sejenak, tiba-tiba tongkat yang saling bersilangan ditarik ke sisi patung. Menandakan Ashnard diperbolehkan untuk masuk.

__ADS_1


"Baiklah. Jalanmu ada di depan, anak muda," pungkas patung tersebut.


Sebelum melanjutkan langkahnya, Ashnard menoleh sekali lagi ke Nous yang tersenyum padanya. Ashnard tahu kalau dirinya tak boleh untuk berbalik arah dari sini. Walaupun sulit, ia membalas senyuman dengan lebar dan melambaikan tangannya di udara.


"Berusahalah dengan keras," gumam Nous.


"Sampai jumpa," teriak Finn sambil melambaikan tangannya juga.


Ashnard meneruskan langkahnya hingga sekarang dia berada di bawah patung tersebut. Dari bawah, patung itu terlihat lebih besar lagi dan lebih menyeramkan. Semakin ia melangkah ke depan, ia bisa melihat samar-samar sebuah lapisan energi yang melindungi akademi tersebut. Sambil memejamkan matanya, ia menuju lapisan tersebut.


Cahaya menyusup sedikit demi sedikit melewati kelopak matanya. Saat ia membukanya, tampak sebuah bangunan besar dan megah yang berdiri di atas sebuah bukit di tengah persimpangan dari empat sungai.


Air terjun mengalir dari keempat sungai itu, lalu menyatu di tengah. Tebing jurang mengelilingi bangunan besar di tengah tersebut. Dindingnya putih dan memiliki puncak-puncak yang tinggi. Di puncaknya, terdapat sebuah ornamen bintang bersudut empat yang berkilau keperakan. Ashnard terkagum dengan desain bangunan tersebut yang indah karena warna peraknya yang seolah menunjukkan keagungan sebuah bintang.


Dari bangunan tengah itu, terdapat sejumlah jembatan yang terhubung pada bangunan-bangunan lain yang menempel di dinding jurang. Kemudan, di bagian bawahnya yang merupakan tempat berkumpulnya para sungai, terdapat sebuah gubuk rumah kecil di pinggir sungainya. Bentuknya sangat kontras dibandingkan dengan bangunan di tengah dan yang di dinding.


Patung penjaga menyilangkan kembali tongkatnya dan seketika memisahkan Ashnard yang ada di dalam dengan Nous yang ada di luar. "Selamat datang di akademi ilmu sihir dan elemental, Lanagovord atau orang awam menyebutnya-"


"Rivendell," sela Roc.


"Apa? Bukan? Itu Evernia," bantah Ashnard.


"Maaf, itu mengingatkanku pada hal lain."


Langkah Ashnard terhenti pada ujung sungai yang merupakan air terjun. Di sisi kirinya, ia melihat sebuah jalan kecil. Jalan itu dibangun di dinding jurang. Ashnard menggunakannya untuk turun ke bawah.


"Ini adalah tempat yang paling indah daripada tempat manapun yang pernah kukunjungi," ucap Roc. "Aku sangat bersyukur bisa hidup kembali di tempat seperti. Walaupun dalam wujud ini, sih."


"Lihat, Ash! Ada perahu!"


"Jangan memanggilku Ash," bentak Ashnard.


"Tapi, Liliya boleh memanggilmu Ash."


"Jangan ikut-ikut Liliya."


Sembari menuruni jalan tersebut, Ashnard melamun. Ucapan Roc membuatnya memikirkan Liliya. Gadis itu berkata kalau dia juga akan belajar di akademi. Karena itu, Ashnard berharap bisa bertemu dengannya lagi.


"Ash!" teriak Roc lagi saat Ashnard sudah mencapai bawah.


"Astaga ... apa?" jawab Ashnard yang mulai kesal. "Aku tahu itu perahu. Apa kau belum pernah melihat perahu sebelumnya?"


"Bukan, bodoh. Ada seseorang datang."


Seorang pria tua menghampiri Ashnard. Badannya membungkuk dan ditopang oleh satu tongkat. Mata yang memelototi Ashnard itu tampak seperti akan lepas.


"Hei, kau! Apa yang kau lakukan disini?" teriak orang itu. Suara rentanya terdengar mengerikan seperti suara pintu yang sudah reyot.


Ashnard lalu menyerahkan surat rekomendasinya dengan bangga.

__ADS_1


Tiba-tiba, pria itu memukul Ashnard dengan tongkatnya. "Apa kau menyuruhku membaca? Berani sekali kau menghinaku karena mataku sudah tak bisa digunakan untuk membaca lagi, dasar anak nakal!"


"Aw, bukan, itu ... surat rekomendasi," jelas Ashnard sembari berusaha melindungi kepalanya dengan lengannya.


Pria tua itu lalu menyabet suratnya dengan cepat. Ia membuka matanya lebar-lebar untuk bisa membaca. Lagi-lagi, ia memukul Ashnard tapi kali ini di kakinya.


"Aku tak tahu tulisan ini. Kau bisa saja bohong," ucapnya. Ashnard semakin kesal dengan senyum pria itu yang terbalik. Di bawah topi hitam bulat, rambut putihnya yang kasar semakin memperkuat kepribadian jahat pria itu.


"Bunuh saja pria itu, Ash," bujuk Roc yang terdengar seperti bisikan setan.


"Apa? Mana mungkin aku melakukan itu."


"Bicara apa kau?" Pria tua itu semakin memukuli Ashnard. "Aku belum bicara padamu. Kau bicara pada siapa? Kau orang gila, ya? Bagaimana caramu masuk ke sini?"


"Maafkan aku, tuan. Aku hanya ingin mendaftar di akademi saja."


"Kalau kau ingin mendaftar, mana surat-suratmu?"


"I-itu yang ada di tanganmu."


Masih memukuli Ashnard, pria itu semakin marah. "Sudah kubilang aku sudah tak bisa baca lagi! Anak zaman sekarang sukanya menghina orang tua! Bagaimana caraku tahu kalau kau tidak berbohong?"


Meskipun pria itu tampak tua, rapuh dan lemah tapi tenaga yang dikeluarkan cukup untuk membuat Ashnard teriak kesakitan. "Aduh, sakit. Tapi, namaku tertulis di sana." Ashnard masih bersikeras.


"Pergi! Kembalilah ke tempatmu, anak nakal. Hush," usirnya.


Ashnard lalu teringat. "Oke, oke, berhenti! Surat itu, Tuan Gerardus yang memberikannya padaku," teriak Ashnard.


Seketika pria itu berhenti. Alisnya terangkat satu. "Gerardus Gwainson. Dasar, orang itu masih saja memberikan surat-surat bodoh itu pada anak-anak tak berguna," gerutunya.


"Jadi, bagaimana?" tanya Ashnard memastikan.


"Apanya?" sergah pria pemarah itu sambil menatap tajam.


"Akademinya, tuan. Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Pria itu berdengus, mengamati Ashnard dari bawah hingga ke atas, lalu menyipitkan matanya. "Kau benar-benar ingin mendaftar di akademi?"


"Iya, tentu saja. Untuk itu aku berada disini, kan?"


"Asal kau tahu, surat ini bukan untuk membuatmu diterima di akademi, tapi hanya untuk memasuki akademi saja," jelasnya.


"Apa? Tapi, di surat itu tertulis anda telah-"


"Peraturannya sudah berubah sejak lama, nak. Bahkan, aku pun heran kenapa dia masih memakai surat ini."


Bahu Ashnard melemas mendengar ucapan pria itu. "La-lalu, bagaimana caraku agar diterima di akademi?" tanya Ashnard memelas.


Pria itu menyeringai. Memperlihatkan gigi-giginya yang ompong. "Aku akan menunjukannya padamu."

__ADS_1


"Sepertinya perasaanku tidak enak, Ash," ucap Roc.


__ADS_2