
Nous berhenti di belakang rumah, saat salah satu Noir berjalan memeriksa sekitar. Ia tak menduga jika mereka akan terang-terangan melakukannya.
"Siapa mereka?"
"Apa mereka manusia?"
"Apa yang mereka lakukan di sini?"
Warga saling berbisik penuh ketakutan dan kebingungan.
Mengetahui jika ada masalah yang tak boleh diusik, para warga memutuskan untuk bersembunyi di dalam rumah mereka. Sementara, beberapa hanya melihat di depan rumah atau tetap melanjutkan aktivitas dengan waspada.
Salah satu Noir tersebut berjalan ke arahnya. Nous mengamati ke sekitar mencari tempat untuk kabur atau bersembunyi. Ia melihat papan kayu di atas yang sedikit menjorok ke luar. Nous melompat dan meraih papan tersebut sebelum Noir itu datang.
Nous melanjutkan dengan mengambil sisi rumah yang bisa dijadikan pijakan. Berjalan perlahan sampai menyeberang ke rumah sebelah. Debu dan kerikil dari kakinya bertaburan mengenai Noir yang ada di bawah. Noir itu langsung mendongak ke atas, tapi tak ada siapa-siapa.
"Nyaris saja," gumam Nous.
Tujuannya ada di depan mata. Penginapan tersebut terletak dua rumah dari tempat Nous berada. Ia pun mengendap-endap dari atap ke atap. Berjalan perlahan dengan sangat hati-hati agar tak ketahuan para Noir atau agar dirinya tak jatuh.
Sampailah dia di atap penginapan. Nous berjalan perlahan ke tepi atap, menjulurkan kepalanya untuk mencari jendela kamar agar dirinya bisa masuk. Ia menemukannya, tapi ia juga melihat seorang manusia biasa dengan wajah penuh luka dan pakaian hitam bersama dua Noir mendobrak pintu penginapan.
Nous sadar kalau mereka menemukan sesuatu di penginapan ini. Dengan keahliannya dan kelincahan, ia memegang atap rumah, lalu berputar ke bawah dan meluncur masuk ke jendela secara mulus.
Kaca jendela yang pecah pasti terdengar oleh mereka. Nous pun segera mengambil tas Ashnard di atas kasurnya. Sesaat sebelum pergi, ia menyadari ada bayangan dari dalam lemari. Saat dibuka, itu adalah Finn yang sedang bersembunyi.
"Kau?"
"Kumohon, tolong aku," ucap Finn gemetaran.
Nous sebenarnya tak ingin membawanya, karena itu akan sulit. Tapi, Ashnard pasti tak akan setuju dan memarahinya. Nous segera menarik Finn dan berlari ke arah jendela.
"Berhenti!" teriak seseorang yang muncul dari pintu. Itu pria yang dilihat Nous. "Kau tak kan bisa lari dari kami. Kau tahu anak itu bisa saja berbahaya. Berikan saja anak itu dan kami akan melepaskanmu."
Nous tak menoleh. Ia terdiam begitu juga pria penuh luka dan para Noir-nya, seperti sedang menebak pikiran masing-masing. Nous lalu melompat ke luar. Di udara, ia mengarahkan telapaknya ke bawah, memanggil sebuah angin yang mendorongnya ke atas.
Nous berputar di udara sambil membawa tas selempang dan Finn. Kemudian, masuk ke hutan dan dengan cepat menghilang di kegelapan.
"Apa kita harus mengejar mereka?" Salah satu Noir berbicara pada pria itu.
"Masih ada yang harus dilakukan," ucap pria itu. Matanya melirik ke arah luar jendela. "Terlalu banyak saksi mata. Habisi mereka semua!"
Kedua Noir membungkuk, mematuhi perintah atasannya. Mereka tanpa segan melakukan tugas tersebut dengan mudah. Meninggalkan sebuah tragedi yang penuh kengerian bagaikan meninggalkan sebuah tanda pada siapapun agar tidak berurusan dengan mereka, walaupun hanya sekedar melihat atau mendengar saja.
__ADS_1
***
"Apa kau percaya kehidupan kedua dan dunia lain?"
Walaupun sosok itu tak memiliki wajah, tapi Ashnard yakin kalau sosok itu sedang tersenyum. Roc tersenyum lebar seperti orang dewasa yang akan mengambil permen milik anak kecil.
Ia tahu kalau anak kecil tersebut tak akan bisa mengambil permen dari tangannya, karena itu ia tampak menikmatinya.
Ashnard yang sebagai anak kecil dalam ungkapan tersebut, terpukul oleh sesuatu yang berat di seluruh tubuhnya saat Roc memberikan penjelasan yang ia tak mengerti. Setiap kata, setiap kalimat berakhir seperti angin dingin yang menusuk tiap tulang.
Ini bukan yang dia inginkan. Kini, Ashnard berharap bisa melupakan semua ini dan terbangun di kasur empuknya yang hangat.
"Dunia lebih besar daripada yang kau pikirkan. Dan kata besar disini, maksudku benar-benar besar. Kekuatan elemental dan sihir, hanyalah hal kecilnya saja.
"Aku awalnya tak percaya, sama sepertimu. Tapi, dunia itu, lorong yang kulalui, dan kondisiku sekarang ini membuat pikiranku berubah. Maka kau juga harus.
"Ini lebih dari sekedar pikiran kecilmu atau mimpimu yang kau anggap besar itu. Garis takdir itu nyata. Kau bahkan bisa melihatnya dengan kedua matamu seperti benang kuning yang kusut. Saat kau menyadarinya, itu menyatu denganmu.
"Kau itu kecil daripada apa yang harus dipercaya. Tapi, sekecil tindakanmu akan berpengaruh besar pada takdir alam semestamu. Itu semua terhubung."
Keheningan berdiri di antara mereka. Seperti memisahkan pikiran dan apa yang harus dipikirkan.
"Aku tak percaya, ternyata kau yang memilihkan elemen untukku." Ashnard menatap tajam pada Roc. "Kenapa kau memilih air? Dasar bodoh!"
"Jadi, pada dasarnya elemen air adalah milikku dan elemen astral ada milikmu. Tapi, karena kita satu tubuh, karena itu aku bisa menggunakan dua elemen?"
"Yap. Kau paham sekarang." Roc mengangguk-angguk.
Ashnard pun memahami penjelasan sebenarnya tentang apa yang terjadi pada dirinya dan kekuatannya.
Seperti yang Roc jelaskan, dia adalah jiwa yang seharusnya dipindahkan ke tubuh baru. Tapi, karena suatu alasan, dia tergantikan oleh jiwa Ashnard yang mendahuluinya. Meskipun Ashnard telah mengambil tubuhnya terlebih dahulu, takdir Roc tetap terikat pada tubuh itu. Dengan kata lain, satu tubuh yang memiliki dua jiwa.
Satu elemen untuk satu jiwa. Maka dua jiwa berarti dua elemen. Pernyataan tersebut menjelaskan alasan Ashnard mempunyai dua elemen.
Roc berasumsi jika hal ini terjadi saat di lorong ajaib yang dibuat oleh Dewi Ilna. Di sana Roc mengalami dua getaran yang seharusnya satu, sesuai dengan elemen yang dimiliki. Karena getaran tersebut, ia justru mendapatkan elemen baru secara otomatis. Tapi, yang tidak ia mengerti kenapa ada jiwa lain masuk ke tubuh yang ditakdirkan untuknya? Itu yang membuat Roc penasaran sampai saat ini.
Semua hal yang Roc jelaskan, membuat otak Ashnard seakan ingin meledak. Ashnard sebenarnya tak ingin mempercayai penjelasan tak masuk akal itu. Karena jika tak mempercayainya, berarti ia menyangkal tentang eksistensinya sendiri.
Ashnard menahan nafasnya selama penjelasan tersebut, dan kini ia harus menghirup banyak-banyak udara di ruangan yang kosong.
"Sudah kubilang, aku tak tega menjelaskan semua ini pada anak kecil sepertimu." Roc membelai punggung Ashnard dengan lembut, mencoba menenangkannya.
"Aku ... sudah bukan anak kecil."
__ADS_1
"Ya, ya, aku mengerti."
"Jadi, bagaimana sekarang? Aku harus menganggapmu apa sekarang? Diriku sendiri, bagian dari diriku, atau orang lain?" tanya Ashnard.
"Aku sendiri tak mengerti. Tapi, secara teori sih, aku orang yang berbeda, meskipun tubuhmu diciptakan untukku. Jadi, anggap saja aku orang lain."
"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Aku?" Roc tertawa terbahak-bahak sambil menahan perutnya. "Tidak tahu," jawabnya mendadak setelah berhenti tertawa.
Ashnard membuka matanya. Ia terbangun dengan seekor kumbang yang merayap melewati tangannya. Debu dan daun-daun menempel di pakaiannya sebelum ia bersihkan.
Lalu, Ashnard memposisikan duduknya di atas batu sambil memegangi kepalanya yang menunduk.
"Ini sulit. Ini sangat sulit. Aku tak bisa menerima semua ini," gumam Ashnard.
Suara gemerisik terdengar dari depannya. Itu Nous kembali dari desa membawa tasnya dan Finn.
"Mereka akan kesini. Kita harus pergi," suruh Nous.
Dengan dipimpin oleh Nous, mereka berlari mendekat ke jurang. Dari atas tampak sangat dalam, membuat Ashnard sedikit ketakutan. Begitu pula Finn, yang terlibat dengan apa yang tidak ia ketahui sekarang. Yang pemancing itu pikirkan hanyalah ikut saja perkataan Nous.
Di belakang mereka, sejumlah prajurit serba hitam mengejar. Salah satunya mencengkeram sebilah pisau tajam dan menyerang ke depan.
Nous berbalik untuk menangkisnya. Kedua pisau mereka beradu sangat cepat. Nous mengumpulkan angin dari tinjunya, membuat Noir itu terlempar ke pohon. Noir yang lain berdatangan.
"Aku akan membantu!" Ashnard menghunuskan pedangnya di sebelah Nous.
"Jangan! Pergilah! Kau harus pergi sekarang!" bentak Nous.
"Tidak akan. Aku tidak akan meninggalkanmu."
Noir berjumlah tiga maju bersamaan. Ashnard melapisi air pada bilahnya, lalu menebas secara horizontal ke depan, menciptakan tebasan air. Tapi, itu tak berefek pada mereka.
Noir yang paling kiri, mengeluarkan sebuah asap hitam yang dibentuk sangat tajam seperti pedang. Bilah asap itu mengincar Ashnard. Nous dengan cepat menangkisnya.
"Cepatlah pergi! Aku tak bisa menahannya lebih lama lagi!" desak Nous.
"Aku bilang tidak! Aku tidak ingin kehilanganmu, seperti Ibuku. Aku akan bertarung bersamamu."
Nous berdecak kesal.
Dari belakang para Noir itu, berjalan dengan santai dan tenang di bawah bayang-bayang pepohonan. Wajahnya penuh luka mengerikan. Pria berambut putih itu tersenyum sembari menarik sebuah pedang hitam.
__ADS_1