
Tak ada yang bisa mereka temukan atau lakukan lagi untuk mendapatkan jawaban yang mereka inginkan. Kelelahan menguasai mereka lebih dari apapun. Kelelahan fisik juga batin.
"Sekarang apa?"
Ashnard menghela nafas sangat berat seperti tak ingin mengatakannya. "Aku rasa tidak ada lagi. Mungkin kita kembali ke asrama dulu dan istirahat."
"Kau benar." Eris dan Liliya muncul tak lama kemudian. "Liliya sepertinya tidak enak badan, dia harus istirahat dulu," kata Eris.
"Kau baik-baik saja?" Sontak Ashnard dan Reinhard mendekati Liliya dengan panik secara bersamaan, bertanya sama, lalu saling menatap.
"Wow, aku iri padamu, Liliya. Kau tampak seperti tokoh utama perempuan di buku yang kubaca," gumam Eris dengan wajah datarnya.
"Maksudnya?" Liliya bertanya.
"Tidak ada. Aku hanya mengoceh. Ayo, kuantar kau kembali ke asrama."
Setelah itu, para gadis pergi meninggalkan para lelaki, tepatnya dua lelaki yang masih saling menatap satu sama lain. Seperti pasangan, hanya dengan tatapan ingin membunuh.
"Katakan saja, jika kau butuh aku," ucap Eris sebelum pintu tertutup memisahkan mereka berdua.
Sesaat setelah pintu tertutup, Liliya menyandarkan tubuh dan kepalanya di pintu. Menarik dan mengembuskan nafas kuat-kuat, tapi tubuhnya tetap terasa aneh. Apalagi semenjak melihat botol kaca berisi cairan merah di ruangan Kepala Akademi.
"Liliya? Dari mana saja kau?" Seorang gadis gadis berambut pendek muncul dari kamar mandi, membangunkan gadis lainnya yang tertidur.
Liliya tersenyum bingung. Tidak tahu harus menjelaskan apa pada teman-temannya.
Dengan wajah segar dan rambut basah yang di balut handuk, gadis itu tersenyum nakal. "Sepertinya aku tahu. Kau pasti 'bermain' dengan anak laki-laki itu, ya?" ucapnya sambil melakukan gestur tanda petik di udara.
"Hah? Liliya melakukan 'itu'? Aku sungguh tidak mempercayainya. Dia lebih dewasa daripada kita, Lena," ucap Meryl dengan ekspresi terkejut yang di lebih-lebihkan.
"Hei, jangan berpikiran yang aneh-aneh!" bentak Liliya kesal.
Gadis berbalut handuk bernama Lena, mendekat Liliya yang masih berada di pintu. Wajahnya mendekat dan senyuman nakalnya terpampang jelas, lebih jelas daripada niatnya mendorong tubuh Liliya.
Aroma bunga menguar dari tubuh Lena yang bening dan lembut. Beberapa kulitnya terlihat jelas karena pakaian mandinya, membuat aromanya semakin kuat dan langsung menusuk hidung Liliya seperti lilin aroma.
"Kau terlalu dekat, Lena."
"Apa kau melakukannya dengan laki-laki bernama Ashnard? Bagaimana rasanya melakukan itu? Kulihat kau juga sering bertemu Reinhard. Mungkinkah kalian melakukannya bertiga?"
__ADS_1
"Tidak!" Liliya sekuat tenaga mendorong Lena. Melepaskan handuk rambut Lena, lalu menyumpalkannya ke mulut gadis yang terjatuh itu. "Aku tidak berbuat apapun, mengerti?"
Lena dengan mulut tersumpal mengangguk.
"Hehe, Liliya memarahimu," ejek Meryl yang masih di tempat tidurnya.
"Kau juga, Meryl! Kenapa tidak membantuku tadi?" semprot Liliya ke Meryl.
"Aku terlalu lelah untuk bergerak."
Liliya mengeluh karena tingkah dua temannya. Gaun tidurnya basah karena Lena menyentuhnya, jadi Liliya tidak ada pilihan lain untuk menuju ke kamar mandi.
Selagi berendam dalam bak mandi, pikiran Liliya ikut terendam. Tercampur di antara air segar dan aroma sabun yang harum. Ia menenggelamkan sedikit bagian wajahnya dan sambil memeluk lututnya, menyebabkan air bak tumpah ruah.
Gadis itu menatap ke bayangan tubuhnya sendiri di bawah air. Setiap gelombang dan tetesan yang menciptakan riakkan. Namun, pikirannya sendiri berada di tengah-tengah dan tidak terganggu riak.
Selagi melihat tubuhnya sendiri, ia memikirkan soal apa yang ada di dalam tubuhnya. Yang mengalir di dalam seperti aliran sungai yang tidak pernah putus. Jika sebuah sumber sungai terputus, maka daerah lain yang selalu menerima aliran dari sumber akan berdampak parah. Liliya menyamakan dirinya seperti itu. Jika dia sendiri terluka atau mengalami hal yang buruk seperti saat di ruang Kepala Akademi, ia takut tidak bisa membantu Ashnard dan yang lainnya.
Hanya pikiran sesaat, tapi itu membuat Liliya pusing dan memutuskan untuk berhenti. Ia lalu membenamkan seluruh wajahnya ke dalam air untuk menghapus semua pikiran buruknya.
Sementara itu untuk masalah lainnya, ia berharap semua akan baik-baik saja. Ia tak ingin kehidupan akademinya menjadi seperti mimpi buruk.
Semua murid mengeliling tempat perkara, berbisik dan bergumam. Sementara Reinhard hanya menatap tajam ke Arlon yang menunjuknya dengan berang.
"Terimalah tantanganku, Reinhard Asberion!"
Inilah saat-saat yang ditakuti Ashnard terjadi. Tanpa dia duga, ternyata Arlon sudah bertindak sangat jauh hingga membawa saksi berupa Fleus, seorang guru pembimbing.
Di akademi, pertarungan tak resmi hanyalah di anggap sekadar latihan yang sedikit serius. Untuk itu, dibutuhkan sebuah tempat untuk bertarung. Tentu saja hanyalah arena yang cocok. Namun, untuk memakai arena dibutuhkan izin dari Fleus.
Budaya pertarungan resmi dan tidak resmi sebenarnya berasal dari kebudayaan ordo ksatria. Di mana para ksatria yang hobi bertarung bosan karena pertarungan hanya diizinkan saat acara penting seperti perayaan atau turnamen yang di adakan sangat jarang. Lalu, dibentuklah pertarungan tak resmi yang bisa diadakan kapanpun dengan syarat tertentu.
Pertarungan tak resmi sendiri dapat diadakan kapanpun dan oleh siapapun tanpa terikat aturan dan kehormatan. Tidak perlu izin para raja untuk mengadakan pertarungan. Hanya membutuhkan kesediaan dua petarung saja.
Meskipun terdengar bebas dan boleh melakukan apa saja, tapi petarung pada waktu itu tetap bersikap selayaknya seorang ksatria. Karena mereka dulu menganggap pertarungan tak resmi hanyalah wadah atau jalur untuk melatih kemampuan bertarung mereka dalam situasi dan kondisi selayaknya pertarungan sungguhan. Berbeda dengan pertarungan resmi yang hanya mencari yang terkuat, pemenang dan kehormatan.
Seiring berjalannya waktu, pertarungan yang dianggap sebagai kegiatan suci berubah menjadi ajang kesenangan. Jumlah pertarungan tidak resmi semakin bertambah seiring tahun. Sekarang, daripada melatih kemampuan, mereka memanfaatkan pertarungan tidak resmi untuk menjauhi aturan yang mengikat dan untuk menyombongkan diri.
Dari sanalah semua berubah. Meskipun begitu, bukan berarti pertarungan tidak resmi ditiadakan. Tetap ada dan bahkan akan selalu ada hingga akhir zaman, karena pertarungan tidak resmi sudah melekat erat dengan kehidupan ordo ksatria.
__ADS_1
Sementara di akademi, pertarungan tidak resmi adalah pertarungan umum antar murid yang digunakan untuk melatih kemampuan bertarung atas seizin dan pengawasan guru yang bersangkutan. Guru di sini yang di maksudkan adalah Fleus.
Dan Arlon berhasil membujuk dan meyakini Fleus untuk memberikannya izin. Reinhard tidak tahu bagaimana cara Arlon melakukannya, tapi sekarang itu sudah terjadi. Fleus terlihat berdiri di sisi Arlon, tanpa khawatir dan tanpa ragu. Dia seakan tidak peduli atau tidak tahu dengan niat Arlon yang sesungguhnya.
"Bagaimana, Reinhard? Apa kau takut?"
Dalam hati Reinhard, ia tidak terima dikatain penakut tapi juga tidak ingin mengikuti permainan Arlon. Hati dan pikirannya itu ditambah dengan mata dan mulut dari para khayalak yang tertuju padanya.
Atas dasar ketidakterimaan dan tak ingin harga dirinya hancur, ia lalu menjabat tangan Arlon. "Aku menerima tantanganmu."
Setelah Arlon merasa puas dengan rencananya dan semua murid pergi menantikan pertarungan kedua mereka, Ashnard mendekati Reinhard dengan wajah yang tidak puas.
"Apa yang kau lakukan, dasar bodoh? Itu rencananya untuk mengalahkanmu!"
"Aku tak bisa menolaknya," kata Reinhard.
Ashnard muak dan mengacak-acak rambutnya dengan penuh kekesalan. "Argh, itu pasti karena harga diri konyolmu itu! Kau bisa saja menolaknya, tahu! Sudah pasti itu sebuah perangkap."
Lalu, Reinhard menunjukkan keseriusannya di balik tatapan matanya. "Meskipun begitu, aku akan tetap menerimanya. Ini bisa jadi kesempatan untuk mendapatkan jawabannya. Saat aku mengalahkannya nanti, aku akan memaksanya untuk menjawab semua pertanyaanku," ungkap Reinhard.
Ashnard tidak ada pilihan selain menyerahkan semuanya pada Reinhard. Ia tidak berbohong kalau berpikir itu adalah rencana yang bagus. Ashnard yang tidak bisa meyakinkan Reinhard memutuskan untuk pergi. Tapi, tidak dengan Liliya.
Di lorong yang kini sesepi bangunan tua, gadis itu mendekati Reinhard.
Dengan kepala yanh tertunduk, dia berkata, "Aku tahu aku tak bisa mengubah pikiranmu. Hanya saja, aku tak ingin terjadi apa-apa padamu, sama seperti saat di hutan."
Saat Liliya menyinggu kembali kejadian sebelumnya, Reinhard memegang lehernya seperti masih bisa merasakan lukanya.
"Haha, maafkan aku telah merepotkanmu saat itu. Tapi, kali ini, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku sudah mengalahkan Arlon dua kali, dan aku akan mengalahkannya untuk yang ketiga kali. Yah, jika situasi berubah dan aku terluka, aku bisa mengandalkanmu," ungkap Reinhard dengan enteng dan senyuman riangnya.
"Bodoh, kau malah memanfaatkanku juga."
Reinhard meletakkan tangannya di kepala Liliya dan mengelusnya. "Mohon bantuannya, Liliya."
"Kenapa kau tersenyum seperti itu?"
"Sebelum pertarungan di mulai, kita harus bersenang-senang dulu, kan?"
"Siapa yang memberitahumu hal konyol seperti itu?"
__ADS_1
Di balik percakapan manis dan hangat itu, ada sepasang mata dan telinga yang bersembunyi dari kejauhan. Seorang putri yang hatinya serasa di bakar dalam api neraka, mendapati dirinya tidak terima saat melihat Reinhard dan Liliya.