
"Dan apa itu?" raja bertanya. Semua bangsawan berdenyut.
"Kegelapan di Jurang Kegelapan telah hilang. Dengan kata lain, kehancuran pedang tidak akan membahayakan siapa pun. Nous, yang mengenali tempat itu, membenarkannya."
Kehebohan semakin menjadi-jadi seperti gemuruh petir yang tak ada hentinya. Raja bersusah payah untuk menenangkan kehebohan tersebut.
"Ashnard merupakan kebalikan dari kalian. Kalian itu penakut, tapi Ashnard tidak. Dia lebih berani daripada kalian. Karena itu, aku memberikannya sebuah tugas yang tak ada dari kalian yang sanggup melaksanakannya. Raja hingga petarung hebat dari keluarga Asberion sekalipun tak akan sanggup. Akulah yang memberinya tugas untuk turun ke jurang dan mencari pedang di antara kegelapan," Sefenfor semakin menjelaskan.
"Kau yang lebih kuat dari kami meminta bantuan ke anak-anak. Kenapa?" tanya sang raja.
"Kau salah, rajaku. Ashnard lebih kuat dan berani dari kami atau kalian. Kita semua tak sebanding dengannya. Dia melakukannya atas dasar keinginannya sendiri dan untuk melindungi tempat tinggalnya. Kuharap penjelasan ini sudah cukup jelas.
"Dan yang terakhir, jangan jadikan kami sebagai dewa kalian lagi. Kami sejatinya adalah sama seperti kalian, manusia yang rapuh dan penuh ketakutan. Tak ada yang bisa kami lakukan selayaknya dewa pada kalian dan warga. Kami hanya ingin melakukan apa yang ingin kami lakukan. Bukan disembah dalam bentuk patung," lanjut Sefenfor. "Kami sudah memikirkannya. Kurasa ini sudah waktunya. Kalian bisa menganggapnya bahwa kami sudah pensiun menjadi dewa kalian. Sekian."
Karena empat penjaga, raja tak bisa banyak melakukan apa-apa. Kemunduran para Penjaga Angin sebagai dewa mereka, memberikan kejutan yang tak terbayangkan pada mereka. Itu berarti manusia sepenuhnya akan bertanggung jawab sendiri. Perubahan ini tidak akan terlaksana dengan cepat. Raja akan sangat sibuk mulai sekarang.
Lalu, ancaman yang sebenarnya telah lenyap dan Winfor akan menuju ke era kedamaian yang panjang. Melihat para penjaga tersebut yang melindungi Ashnard, Raja Heistiar juga tentu tak bisa memaksakan keputusan sebelumnya seenak hatinya.
Para bangsawan lainnya pun juga setuju, meskipun ada beberapa yang masih menaruh kebencian tapi mereka tak bisa melakukannya. Pada akhirnya, masalah ini selesai, dan para bangsawan membubarkan diri dari ruangan.
"Kau baik-baik saja, nak?" tanya Nous menghampiri Ashnard.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja. Omong-omong, kenapa kalian tahu aku disini?" Ashnard berbalik tanya.
"Angin yang mengabari kami, nak. Dan juga terima kasih telah menyelamatkanku."
Ashnard menunduk menyesal. "Tidak, aku tidak menyelamatkanmu. Aku merusaknya."
"Ya, tidak sepenuhnya. Nanti datanglah ke Hutan Hitam. Aku menunggumu."
Dengan kebahagiaan yang tak bisa tergambarkan, Edda mendekati Sefenfor dan lainnya, lalu membungkuk. "Terima kasih telah membantu kami, oh para Dewa Angin, saya tak tahu harus berterima kasih dengan cara apa."
"Tidak apa-apa, Nyonya Raegulus. Ashnard adalah teman kami dan kami senang bisa membantunya," Sefenfor berkata dengan lembut. "Baiklah, kami pergi dulu sebelum tempat ini menjadi ramai. Sampai nanti."
Para Penjaga Angin pun pergi. Sebelum para warga melihatnya, angin membawa mereka dengan cepat. Ashnard melambaikan tangannha pada kepulan kabut yang melayang di langit.
Yang berikutnya adalah Gerardus dari keluarga Gwainson. Ini baru pertama kali Ashnard melihatnya, tapi pria berambut putih itu mencoba berbicara padanya.
"Masalah yang menarik, ya?" sapa orang itu. Melihat reaksi bingung Ashnard, ia memperkenalkan dirinya. "Namaku Gerardus Gwainson. Senang bertemu denganmu, Ashnard Raegulus."
Ashnard membungkuk, memberikan salam. "Senang bertemu dengan anda juga, tuan."
Pria itu dilengkapi dengan senyuman menawan, mengenakan pakaian serba putih, dengan rambut yang sama putih, membuat Ashnard melihatnya dengan tatapan yang aneh.
__ADS_1
"Bagaimana anak sepertimu bisa melakukan hal sehebat ini?"
"Aku juga tidak menduganya. Ini mungkin berkat kekuatanku sendiri," jawab Ashnard.
Pria itu selalu tersenyum, meskipun tak ada kebahagiaan terpancar di matanya. "Begitu ya. Omong-omong, aku hanya ingin memberikanmu ini." Ia mengambil sebuah kertas dari balik jas putihnya. "Surat rekomendasi dari Akademi Evernia."
Edda langsung merebut surat itu dan matanya terbelalak. "Ini sungguhan?"
"Tentu saja, sungguhan, nyonya. Melihat kehebatan putra anda dalam menjalin hubungan dengan para Penjaga Angin dan juga telah berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan, kurasa surat itu sudah sangat pantas menggambarkannya."
"Bagaimana caramu mempersiapkan ini? Aku tak pernah mengatakan hubunganku dengan para Penjaga Angin kepada siapapun selama ini," heran Ashnard.
"Bisa dikatakan, aku bisa melihat potensi terdalam seseorang. Aku selalu membawa surat-surat ini kemanapun aku pergi." Ia membuka jasnya dan memperlihatkannya kumpulan lipatan surat di balik kantung jasnya. "Jaga-jaga jika aku menemukan orang hebat di jalan."
"Jadi, kau ini bertugas untuk memberikan surat rekomendasi saja atau bagaimana? Aku tak mengerti?"
"Bisa dibilang, aku ini orang yang cukup penting di akademi."
"Terima kasih, Tuan Gwainson. Kami sangat menghargainya." Edda membungkuk dan memaksa Ashnard juga membungkuk.
"Sama-sama. Baiklah, hanya itu saja yang ingin aku sampaikan. Pertimbangkan surat itu ... dan sampai bertemu kembali 'jika' memang bertemu nantinya."
__ADS_1
Ashnard bertanya-tanya pada orang aneh tersebut yang semakin menjauh darinya. Hari ini sudah berakhir, walapun pada awalnya sesuatu yang buruk telah terjadi, tapi ditutup oleh sesuatu yang baik. Kabar baik untuk ibu dan anak Raegulus tersebut.