The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Beban Eris


__ADS_3

Seperti kata pepatah, habis gelap terbitlah terang. Dan habis terang terbitlah gelap. Begitu pula apa yang Ashnard rasakan. Ashnard mendapatkan kabar yang mengejutkan setelah menghabiskan waktu dengan bersenang-senang selama sepanjang malam untuk merayakan ulang tahun Liliya.


Pada pagi harinya, seekor burung muncul tanpa Ashnard ketahui. Burung itu diam di atas lampu lacinya seolah sudah menunggunya bangun. Di kakinya ada sebuah gulungan surat dan Ashnard langsung tahu darimana surat ini berasal.


Dunia seolah memberikan Ashnard sebuah harapan baru lalu seketika menghancurkannya lagi. Mengoyaknya berkeping-keping seperti kertas surat yang Ashnard pegang.


Ashnard merasa bahwa upayanya untuk bersabar menunggu hanyalah sia-sia saja. Tidak berarti penting baginya, terutama ibunya.


Akan tetapi, tidak hanya Ashnard yang mengalami hari yang buruk, namun Eris juga mengalaminya. Mungkin, pengalaman yang paling buruk dan yang paling dia benci seumur hidup.


Eris adalah seorang penegak disiplin di lingkungan akademi. Keinginan untuk menegakkan kedisiplinan ini berasal dari masa lalunya. Ayahnya merupakan seorang ahli hukum di Agnarr. Dia tidak hanya memberi teguran dan peringatan kepada para pelanggar, tapi juga memberikan pelajaran tentang tata tertib ke putrinya. Karena hal itu, kehidupan Eris sejak kecil penuh tata tertib dan keteraturan.


Eris lalu membawa semangat ayahnya ke akademi, hingga dia menjadi Komite Kedisiplinan.


Menjadi bagian dari tujuan ayahnya dan sebagian orang untuk membentuk lingkungan yang tenteram adalah mimpi Eris. Dia begitu bersemangat dan tidak pernah lepas terhadap tujuan yang dia pegang di tangannya.


Sayangnya, tidak semua hal berjalan baik. Eris tahu bahwa tidak semua orang bisa dengan mudah diperingatkan untuk tidak melanggar. Terkadang peraturan tertulis dan hukuman yang sepadan tidak cukup untuk membuat mereka mematuhi peraturan. Bahkan, beberapa pelanggar masih ada yang tidak kapok, terus melanggar seperti kehidupan mereka hampa jika mereka tidak melakukannya.


Itulah hal yang sulit jika menjadi penegak hukum. Lawannya adalah manusia. Makhluk tidak sempurna yang paling kompleks dan misterius di muka bumi. Tidak bisa diprediksi dan selalu menimbulkan kekacauan. Tidak pernah puas serta selalu memikirkan keinginannya sendiri.


Eris tahu akan hal itu, tapi dia hanya bisa melihatnya saja waktu itu. Dia selalu melihat ayahnya pulang dari pekerjaan dengan lemas dan tidak bersemangat menemui putrinya. Namun, saat dia sudah terjun langsung ke lapangan, dia akan tahu betapa berat dan menyakitkan perjuangan ayahnya. Apalagi jika tidak ada orang lain yang berada disisinya, sendirian seolah hanya dia manusia yang ada di muka bumi.


Eris dibenci karena selalu bersikap ketat dan menjengkelkan. Para murid menyebutnya perusak kesenangan atau penjilat bukan tanpa alasan. Banyak murid-murid yang sudah menjadi korban pencatatan Eris. Dari pelanggaran kecil hingga besar. Siapapun yang pernah dicatat oleh Eris akan selalu mendapatkan hukuman yang menakutkan dari Egon.


Sampai saat ini, pandangan orang-orang terhadap Eris tidak berubah. Sudah sering orang-orang menghujatnya atau ingin memberinya pelajaran, tapi keberadaan Nina selalu menghalangi mereka. Mereka takut terhadap gadis yang amarahnya seperti kobaran api yang membakar jiwa.


Jarang sekali melihat Eris tidak bersama Nina. Kemanapun, dia pergi selalu saja ada Nina yang menjaganya. Eris memang merasa bersyukur punya seseorang seperti Nina yang membela di sisinya. Namun, ia juga merasa kesal karena terlalu bergantung kepada Nina.


Orang-orang seharusnya takut terhadap peraturan yang akan membuat kehidupan banyak orang menjadi tidak stabil jika terus dilanggar, bukannya takut pada gadis berambut merah yang selalu menempel padanya.

__ADS_1


Eris yang sudah menjadi kebiasannya sebagai prefek, selalu menjaga asrama perempuan, kini dia menjaga tempat dia dan Nina menginap. Dia berdiru di depan penginapan, di dinginnya malam. Padahal bisa saja dia meminta Nina untuk menemaninya, tapi dia tidak melakukannya.


Dia berkata ke Nina sebelum keluar dari kamar, "Kau telah sering menjagaku, kini giliranku menjagamu, yah, dan beberapa penginap lainnya."


"Ini bukan akademi, Eris. Kau bukan prefek atau komite kedisiplinan di sini. Kau tidak perlu menjaga penginapan. Istirahat saja selama seminggu. Kamu selalu bekerja keras," lirih Nina yang sudah tidak kuat lagi membuka mata.


"Kedisiplinan tidak harus dilakukan di akademi. Di luar sini juga harus ditegakkan. Kita tidak tahu, ada orang macam apa yang akan menerobos masuk ke penginapan. Dan juga, aku sudah tidur siang. Aku tidak mengantuk sekarang," jelas Eris.


Tidak ada yang bisa mengalahkan ambisi Eris, bahkan Nina yang sudah mengantuk sekalipun.


Tanpa kehadiran Nina, tak ada kehangatan di malam yang dingin ini. Tak ada kenyamanan yang bisa Eris rasakan. Sangat berbeda saat menjaga asrama sendirian. Sangat sedikit orang yang lalu lalang, hingga Eris bisa menghitungnya dengan jari-jarinya.


Meskipun, udaranya cukup dingin, tapi Eris tidak lengah sama sekali. Matanya selalu mengamati tiap sudah kegelapan yang memungkinkan untuk dicurigai. Mengawasi orang-orang yang lewat. Dan bahkan menegur jika ada orang yang telah melanggar peraturan di hadapannya.


Dari sekian banyak orang itu, ada sejumlah remaja perempuan seusianya yang lewat, lalu berhenti tepat di depan Eris. Tidak seperti orang-orang sebelumnya yang mengabaikan Eris dan melewatinya, namun remaja-remaja ini menuju Eris dengan gelagat yang mencurigakan.


"Ada yang bisa kubantu?" tanya Eris, memasang wajah tidak senang.


Eris tersentak karena ucapan perempuan itu yang tiba-tiba. Tanpa dia sadari, semua orang sudah mengelilinginya. Tiba-tiba, salah satu tangan mereka mencengkeram tubuh Eris, diikuti dengan tangan lainnya, hingga pada akhirnya Eris ditarik dengan paksa oleh mereka ke sebuah gang yang gelap.


Usaha Eris untuk memberontak tidak berhasil. Bahkan, ia mencoba untuk menggunakan elemen listriknya namun salah satu dari mereka menampar Eris. Lalu, semuanya ikut menampar dan memukul hingga menjatuhkan Eris di lantai gang.


Pakaian Eris dirobek, rambutnya dijambak. Siksaan yang tiba-tiba itu membuat Eris tidak berdaya. Dia tidak merasa bersalah apapun pada mereka, bahkan dia tidak mengenali mereka satupun. Tapi, mereka telah memperlakukan Eris dengan sangat jahat.


Lalu, salah satu perempuan yang berlagak seperti pemimpin kelompoknya, menarik kerah baju Eris ke dekatnya hingga mata mereka saling bertemu.


"Dari dulu, aku sudah membenci orang yang sok suci sepertimu. Mencampuri urusan dan hidup orang lain dengan embel-embel melanggar peraturan atau menciptakan dunia yang harmonis. Aku tidak peduli dengan bualanmu, gadis pengadu. Aku bersyukur karena Nona Wilia memberiku kesempatan ini."


Saking kuatnya, perempuan itu mencengkeram kerah Eris, hingga membuat pakaiannya terobek. Kini tubuh bagian atas Eris terpampang jelas.

__ADS_1


"Wow, lihat ini," ucap perempuan itu diikuti gelak tawa teman-temannya. "Tampaknya laki-lakimu yang bernama Ashnard itu belum menyentuhmu sama sekali."


Eris kembali lagi di dorong ke tanah. Seluruh tubuhnya kotor dan penuh memar.


"Sayangnya aku bukan laki-laki, aku tak tertarik memperkosamu."


Perempuan itu melihat Eris mengenggam sebuah pita merah. Dia mengambilnya dengan paksa, merobeknya menjadi dua bagian, lalu menginjak-injaknya.


"Ini pelajaran bagimu. Jika kau masih suka menganggu urusan orang lain dan bersikap seolah kau itu di atas kami, aku akan kembali untuk menghukummu lagi. Orang yang melanggar peraturan, harus diberikan hukuman, kan?" pungkasnya. Setelah puas menyiksa Eris, kelompok itu pergi begitu saja meninggalkan Eris yang terkapar di tanah.


Eris berjalan terhuyung kembali ke penginapannya dengan pakaian yang lusuh dan rusak. Pita merah kesayangannya yang telah robek ada di genggaman tangannya. Kacamatanya hancur. Eris seperti menangis, namun tertahan oleh sesuatu. Seolah sesuatu itu menahannya agar tidak menangis.


Dia membilas seluruh tubuhnya yang kotor. Bahkan, dinginnya air tidak membuat kepedihan di hati itu meredam. Air yang mengalir dari kepalanya hingga ke wajah, dan melewati matanya seperti menggantikan air mata gadis itu.


Sambil berendam, Eris terus mengasihani dirinya sendiri. Kenapa dia seperti ini, kenapa dia tidak bisa melawan, kenapa dirinya harus mengalami semua ini, kenapa semua ini terjadi padanya.


Dia bisa memikirkan semua hal saat berendam. Termasuk keinginannya untuk menyerah. Namun, lagi-lagi ada sesuatu yang membuatnya berhenti untuk memikirkan hal tersebut. Dia merenung dan menyadari sesuatu tersebut adalah ingatan tentang ayahnya sebelum meninggal yang selalu dia pegang teguh.


Ayahnya tidak akan menjadi seorang ahli hukum yang hebat atau memiliki Eris jika dia menyerah di tengah jalan. Baginya, sia-sia jika tidak melanjutkan apa yang sudah dia pegang dengan percaya diri.


Eris lalu mengobati memar dan semua luka di tubuhnya. Pipi kanannya lebam hingga perutnya. Setelah itu dia memakai gaun tidurnya. Eris terlalu lelah dan tidak kuat lagi. Dia menuju kamar dan melihat Nina yang tertidur pulas menghadap ke kiri, ke kasur milik Eris.


Eris mengamati wajah Nina. Berpikir apakah seperti ini rasanya ketika Nina membela dirinya? Apakah Nina juga merasakan semua rasa sakit yang dia alami selama membela dirinya? Jika benar, bagaimana cara Nina bertahan dari semua itu?


Tanpa dia sadari, dia berjalan ke kasur Nina sambil memegang perutnya yang sakit. Eris tersenyum kecil, atau lebih ke senyuman yang dipaksakan.


Lalu, daripada dia tidur di kasurnya miliknya, sendirian, dia memilih untuk masuk ke dalam pelukan Nina.


Eris tidak berbohong soal dia menyukai dipeluk oleh Nina. Karena pada saat Nina memeluknya, Eris merasakan kehangatan yang membuatnya tenang. Seperti seluruh beban di pundaknya menghilang karena kehangatan itu. Aroma tubuh Nina yang seperti pewangi ruangan serta dadanya yang empuk seperti bantal, membuat Eris merasa nyaman dipeluk olehnya. Hanya saja dia terlalu malu untuk mengungkapkannya.

__ADS_1


Seketika, Eris langsung menangis saat membenamkan wajahnya di dada Nina. Nina langsung terbangun karena merasakan sesuatu yang basah dan suara tangisan kecil yang malang.


__ADS_2