
Cahaya seterang langit siang memang muncul dan cahaya itu menerangi penjagal sekaligus Ashnard yang memanggilnya. Cahaya membuat dunia yang Ashnard lihat menjadi sangat putih seperti kebalikan dari Ruang Kosong.
Cahaya yang menyilaukan itu membuat penglihatan Ashnard dan penjagal kabur dan berkunang-kunang. Tampaknya itu adalah sihir untuk membutakan musuh, tapi karena Ashnard tidak mengetahuinya dan hanya bermodalkan keyakinan, dia jadi terkena imbasnya. Sihir yang bisa digunakan Ashnard untuk kabur menjadi sia-sia.
Ashnard dan penjagal terdiam di tempat seperti orang linglung sambil menunggu penglihatan mereka kembali normal.
Setelah dapat melihat dengan jelas, Ashnard langsung berlari ke depan saat melihat penjagal yang celah penjagaannya terbuka lebar. Dia mengambil momen yang singkat ini secepat mungkin sebelum kesadaraan penjagal kembali dan mengamuk.
Dengan cepat, Ashnard merebut pedang besar dari tangan penjagal. Tak disangka olehnya, pedang itu cukup berat dari dugaannya. Sangat berbeda bobotnya dengan pedang Hoku. Saat Ashnard mengangkatnya di udara, dia hampir terhuyung karena bobot berat yang membuatnya kehilangan keseimbangan. Tapi, mau bagaimanapun, Ashnard berhasil untuk menyesuaikan tubuhnya dengan pedang tersebut. Lebih baik daripada musuh yang memegang pedang ini.
Pedang tersebut terayun cukup lambat meskipun respon saraf yang Ashnard berikan sudah cukup cepat. Massa ototnya serta ukuran dan tekstur pedang membuatnya sedikit terhambat. Setiap pedang berbeda satu sama lain. Setiap prajurit memiliki gaya dan kekuatan yang berbeda-beda. Karena itu, dia masih harus beradaptasi saat berganti senjata. Itulah yang Ashnard rasakan saat ini.
Meskipun pedang Hoku terlihat lebih besar daripada pedang pada umumnya, nyatanya memiliki bobot yang lebih ringan. Seperti memegang ranting. Ingatan tubuhnya sudah terbiasa dengan pedang seperti itu. Apalagi cara bertarung Ashnard yang selalu memanfaatkan kekuatan mengubah ukuran bilah pedang juga sangat mempengaruhi.
Kemampuan tersebut tidak ada pedangnya saat ini. Sehingga dia selalu lupa mengatur jaraknya yang cukup jauh karena mengira dia bisa memanjangkan pedangnya.
Terlepas dari kesulitannya menguasai pedang sang penjagal, setidaknya Ashnard berhasil mendaratkan ayunan di beberapa bagian tubuh penjagal yang keras. Tampak bekas goresan pedangnya di tulang lengan penjagal, rusuk kiri dan kanan.
Mereka kembali bertarung walaupun sekarang pemegang senjata sudah berpindah, begitu pula situasi pertarungan. Luka gores di seluruh tubuh bertulangnya tak membuat penjagal berhenti mengayunkan lengan kuatnya dan cakarnya yang tajam. Beruntung baginya, Ashnard yang tidak berkuasa atas pedang besar tidak memberikan dampak yang begitu besar pada tubuhnya.
Memiliki pedang di tangannya tak membuat Ashnard unggul jauh dari penjagal. Malahan membuatnya setara atau malah tidak beruntung. Ein dapat melihat kesulitan yang Ashnard alami sekarang dari tempatnya bersandar. Dia berpikir jika dia tidak segera melakukan sesuatu, Ashnard akan dalam bahaya.
Saat itulah dia diberikan kesempatan. Dia melihat cahaya biru yang bersinar pudar di sebuah kertas yang tersangkut cabang salah satu pohon. Jarak pohon itu dengannya tidaklah terlalu jauh. Tapi, Ein tak yakin dapat mengambil gulungan sihir itu dengan cepat.
__ADS_1
Dia melihat kedua kakinya yang direntangkan ke depan. Ada sedikit respon dari kakinya berupa gerakan bergeser saat Ein memberikan sinyal untuk bergerak. Memang kecil, seperti seorang pasien yang kakinya telah lama lumpuh dan perlahan mendapatkan kembali kekuatannya.
Seharusnya sekarang sudah ada tenaga yang telah kembali, entah itu banyak ataupun sedikit. Ein bertekad untuk menggunakan seluruh tenaganya, meskipun dia akan kembali tak bisa bergerak setelahnya.
Tangannya yang masih dapat bergerak bebas, menarik tubuh Ein beserta kakinya ke belakang sambil bertumpu pada batu sandarannya. Kakinya memang masih kaku seperti kaki boneka, tapi Ein mampu untuk melakukan langkah lebar meskipun tangannya ikut membantu kakinya. Tangannya memegang pahanya sebagai penggerak sehingga langkah demi langkah mampu dia lakukan hingga sampai ke tujuan.
Ein langsung memeluk batang pohon dengan kuat sebelum dia jatuh ke depan. Mungkin akan sangat berbeda rasanya jika apa yang dia alami sekarang adalah kelumpuhan yang sesungguhnya.
Di atasnya, mungkin berjarak kurang lebih 4 meter dari bawah tanah, gulungan itu menunggu di cabang untuk diambil oleh Ein.
Dan sekarang gadis tanpa ekspresi itu berada dalam pikirannya. Dia berpikir tentang bagaimana cara dia mengambil gulungan tersebut. Dia bisa saja menggunakan sihir untuk mengambilnya, tapi pasti tenaganya yang belum sepenuhnya pulih akan langsung habis total. Jika tenaganya habis, sudah pasti dirinya akan pingsan. Ein tak ingin semakin merugikan Ashnard.
Maka dia sudah mengambil keputusan untuk meraih dahan dan menarik bagian bawah tubuhnya. Secara perlahan dan berhati-hati. Gadis itu mengandalkan kekuatan tangannya untuk membawa tubuhnya dari dahan pohon dan memanfaatkan celah atau lubang pohon agar sampai di dahan di mana gulungan itu berada.
Dia berhasil membawa dirinya sampai ke dahan yang dituju hanya dengan kedua tangannya saja. Dia memeluk lalu merayap di dahan yang cukup besar itu seperti seekor cicak. Gulungan itu sudah ada di depan matanya, di antara dua cabang gulungan itu tersangkut.
Semakin dia mendekat ke gulungan semakin dahan itu mengecil ujungnya. Terlalu berbahaya untuk melanjutkan. Dia bisa saja terpeleset dan jatuh ke bawah. Terpaksa dia harus merentangkan tangan kanannya sejauh mungkin hingga sukses meraih gulungan tersebut.
Namun sekarang, dia tidak memikirkan satu hal. Bagaimana caranya untuk turun dari ketinggian 4 meter?
Di sisi lain, Ashnard yang masih bergelut habis-habisan dengan penjagal terkejut saat melihat sekilas di belakang penjagal tersebut, Ein yang berusaha turun dari atas pohon.
Lengahnya Ashnard tersebut membuat dia terkena pukulan hebat di area leher dan dadanya. Dia terpental semakin jauh ke belakang, menabrak pohon dengan punggungnya. Bisa dibilang sebuah keuntungan karena dia tidak merasakan sakit di dunia ini. Ashnard kembali berdiri ditopang pedang besarnya.
__ADS_1
Ashnard mengangkat pedang dengan ujungnya menghadap ke depan. Lalu, dengan dilapisi aliran air yang kencang di seluruh bilahnya, Ashnard menerjang ke depan seperti seekor Rokeros-mamalia raksasa yang memiliki tanduk seperti tombak di wajahnya.
Dengan begitu, penjagal harus menerima secara langsung serangan yang tampak dengan jelas dan lurus. Pilihan yang lebih mudah dan masuk akal, tentunya adalah menghindari serangan yang banyak celah.
Senyuman percaya diri terukir di wajah lelaki yang sudah menebaknya sebelum melancarkan serangan tersebut. Bisa dibilang, Ashnard sengaja memberikan serangan yang terlalu jelas dan terlihat seakan-akan tidak berguna atau mudah dihindari. Nyatanya sangat berguna, bagi Ashnard.
Ashnard tidak sembarang. Dia melakukan itu karena tahu serangannya akan dihindari daripada diterima secara langsung. Lalu, Ashnard akan menggunakan momen tersebut untuk menangkap Ein yang tergantung di dahan pohon. Jika rencananya tidak sesuai, mungkin Ashnard akan menusukkan pedangnya ke tubuh penjagal lalu meninggalkan begitu saja.
Ein terpeleset saat ingin turun dari pohon. Ashnard melihat itu dan bergegas untuk menyelamatkannya. Tepat saat pegangan Ein lepas, Ashnard berada di bawahnya. Ein terjatuh tepat di tubuh Ashnard yang lebih empuk daripada tanah dan batu yang menyakitkan.
"Kau menyelamatkanku lagi. Aku senang." Gadis yang duduk di atas Ashnard itu mendekatkan wajahnya yang tak berekspresi pada wajah Ashnard.
"Yap. Aku tahu. Bisa kau cepat turun dariku sekarang?"
Ashnard meletakkan kedua tangannya di bawah ketiak Ein lalu mengangkatnya seperti mengangkat anak kecil. Melalui bahu sang gadis, Ashnard melihat penjagal yang berlari mendatanginya.
"Gulungannya! Gunakan gulungan yang itu!" suruh Ein saat melihat ada satu gulungan yang ujungnya keluar dari saku celana Ashnard.
"Aku sudah menyiakan gulungan yang sebelumnya dan aku tak mau terulang lagi," tolak Ashnard.
"Percayalah padaku!"
Penjagal yang semakin dekat setiap detiknya memaksa Ashnard untuk mengeluarkan gulungan di sakunya. Jika Ein bersungguh-sungguh dengan ucapannya, maka gulungan ini akan berguna.
__ADS_1
Cahaya sihir muncul sebagai tanda teraktifnya lingkaran sihir. Cahaya itu langsung menyelimuti Ashnard sekaligus juga Ein yang memeluk Ashnard seperti memeluk batang pohon. Bersamaan dengan hilangnya cahaya tersebut, hilang juga keberadaan laki-laki dan gadis itu dari penglihatan sang penjagal. Seperti jejaknya lenyap, ditelan oleh ruang dan waktu.