The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Kubah Merah


__ADS_3

Reinhard beserta yang lainnya bergegas kembali ke villa saat tiba-tiba lapisan cahaya merah membentuk kubah, menyelubungi sekitar. Semua orang berada dalam kubah itu termasuk villa tersebut.


Pandangan Reinhard langsung tertuju ke Nina berdiri bersama Ashnard di depan danau, memandang dengan puas papan peringatan yang telah mereka buat. Reinhard mendekat dengan wajah berang.


"Nina! Apa yang telah kau lakukan?" panggilnya sambil berteriak.


"Aku memasang peringatan agar tidak ada siapapun yang berenang di danau. Aku tadi mencobanya dan seketika kakiku membeku. Bahaya, bukan?" sahut Nina.


"Apa? Bukan itu, bodoh! Lihatlah ke atas."


Nina dan Ashnard mendongak ke atas dan baru menyadari ada sebuah kubah merah di sekeliling mereka. Padahal, beberapa menit yang lalu mereka yakin tidak ada kubah tersebut.


"Apa rencanamu, bodoh? Kau ingin mengurung kita disini?" lanjut Reinhard membentak Nina.


"Aku tidak paham apa yang kau maksud."


"Tidak usah berlagak bodoh, gadis api!" Wilia maju dan menatap tajam ke arah Nina yang kebingungan. "Api di hutan itu ulahmu, bukan? Katakan saja bagaimana cara menghilangkannya. Dengan begitu, masalahnya selesai."


"Api apa?" Ashnard dan Nina sama-sama kebingungan.


Ashnard melirik ke Liliya di belakang. Tampak ekspresi gelisah dan khawatir darinya. Ashnard yakin telah terjadi sesuatu saat rombongan Reinhard pergi ke hutan.


"Di dalam hutan sana, ada api yang tiba-tiba meledak dan membuat kubah ini saat kusentuh. Kubah itu mengurung kita! Membakar apapun yang berusaha lewat. Burung, daun, batu, apapun. Semua terbakar hingga lenyap menjadi abu. Kita terjebak disini," jelas Reinhard. "Dan di antara kita semua, yang memiliki elemen api adalah kau!"


Ashnard menahan bahu Reinhard, mengisyaratkan untuk berhenti. "Tunggu sebentar, Reinhard. Hanya karena Nina memiliki elemen api, bukan berarti dia yang melakukannya. Lagipula, kenapa kau menyentuh sesuatu yang tidak kau ketahui? Apa kau tidak berpikir jernih terlebih dulu? Jika kau tidak menyentuhnya, mungkin kubah ini tidak akan ada. Dan kita tidak akan terjebak disini."


Reinhard menepis tangan Ashnard, dan membalas menatapnya. Seolah dia menerima tantangan jika Ashnard mengajaknya untuk berduel. "Kau bilang ini salahku? Yang benar saja! Sekarang aku mengerti. Kau melindunginya. Itu berarti kalian berdua bersekongkol untuk menjebak kami semua, kan?"


"Hei, itu konyol! Untuk apa aku berusaha menjebak kalian? Memangnya aku terlihat jahat di matamu?" balas Nina yang mulai kesal.


"Nina benar, Rein. Sebaiknya kita pikirkan bersama-sama terlebih dulu," ucap Liliya berusaha menenangkan Reinhard.


Tiba-tiba, pintu villa terbuka. Eris dan Cynthia bergegas keluar setelah mendengar keributan di luar.


"Ada apa ini?" tanya Eris, mengamati satu-satu semua orang yang ada di luar.

__ADS_1


"Cih!" Reinhard memutuskan untuk mengakhiri emosinya, dan masuk kembali ke dalam villa. Dia sadar telah membuat keributan dan semakin bertambah dengan datangnya Eris dan Cynthia. Untungnya, Liliya berhasil membujuk Reinhard.


Mereka semua lalu duduk di ruang tengah. Membahas apa yang sedang terjadi saat ini. Semua orang mulai resah, bingung, panik, khawatir dan takut saat satu per satu misteri di danau bermunculan. Di mulai dari danau yang langsung membuat siapapun membeku dan kubah yang membakar siapapun yang mencoba untuk melewatinya.


Semua orang saling diam. Memikirkan sesuatu yang hanya masing-masing dari mereka ketahui saja. Tak ada yang bicara satu pun. Hanya ada keheningan yang mengisi. Semua orang pastinya menunggu suatu jawaban.


Namun, yang merasa paling pusing karena kejadian ini adalah Ashnard. Dia yang diberi tugas untuk menjaga mereka, malah menurunkan kewaspaadannya hingga membuat mereka semua berada dalam bahaya.


Saat dia sedang memikirkan suatu cara agar teman-temannya tidak terjebak, dia disadarkan oleh Roc bahwa ada satu yang sedang tidak ada di villa. Ashnard mengamati sekelilingnya lagi dan ternyata benar, Gerlon tidak ada.


"Apa kalian melihat Gerlon?" tanya Ashnard.


Tidak hanya dia yang tidak tahu. Semua orang saling melempar tatapan seolah juga mengharapkan jawaban yang sama.


"Mungkinkah dia ada di luar kubah?" tebak Eris yang masih ingat bahwa Gerlon juga pergi ke hutan setelah Reinhard.


Ashnard langsung bergegas mencarinya. Dia tidak sabaran mengelilingi kubah untuk mencari tahu apakah Gerlon masih ada di luar atau tidak. Meskipun teman-temannya menyuruhnya untuk perlahan-lahan, tapi Ashnard tidak bisa berhenti panik saat ada satu temannya yang masih di luar.


Di bagian timur hutan, cukup jauh di belakang villa, akhirnya mereka menemukan Gerlon yang berdiri di sebelah kubah. Ekspresi Gerlon seketika senang saat melihat Ashnard dan yang lainnya datang.


"Gerlon! Kau baik-baik saja?" tanya Ashnard. "Oh, jangan sentuh lapisan merah itu! Kau bisa terbakar."


"Tunggu sebentar. Aku akan memikirkan cara untuk membawamu masuk."


Batu, ranting, pohon, semua telah Ashnard coba untuk membawa Gerlon masuk, tapi tidak ada satu pun yang berhasil. Saat dia ingin menggunakan kayu panjang untuk menarik Gerlon dari sisi lain, kayu itu langsung hangus terbakar saat melewati kubah.


Ashnard tidak berhenti memikirkan cara lain. Dia harus segera melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Gerlon. Itu juga bagian dari tugasnya.


"Yang terpenting adalah bersyukur karena kau masih utuh dan baik-baik saja," ucap Eris ke Gerlon.


"Eris benar. Melihatmu baik-baik saja sudah cukup untuk membuatku tidak khawatir lagi. Gerlon, kita pasti akan membantumu," sambung Liliya berusaha menenangkan Gerlon meskipun Gerlon tetap terlihat tenang seperti biasanya.


"Lagipula, bagaimana kau bisa ada di luar? Sejauh mana kau pergi ke hutan?" tanya Reinhard.


"Yah, aku hanya ke sana saja." Tunjuk Gerlon ke belakangnya. "Sebenarnya tidak ada apa-apa di sana. Hanya pohon, sungai, batu, dan pohon lagi," jawab Gerlon sambil tertawa santai.

__ADS_1


"Tempat di mana villa ini didirikan cukup aneh. Ada kubah api serta danau yang langsung membekukan siapapun. Kenapa Guru Terenna memilih lokasi ini untuk dijadikan hukuman kita? Apa dia sebenarnya sudah tahu dan memang menginginkan kejadian seperti ini? Aku benar-benar tidak kepikiran apapun," gumam Eris sambil menjelaskan informasi yang harus Gerlon dengarkan.


"Kau ada benarnya. Jika memang lokasi ini bukan sembarang lokasi, mungkin ada rencana sesuatu di baliknya. Hanya saja bukan Guru Terenna yang melakukannya. Kalian tahu kan kalau keputusan terakhir untuk memberikan hukuman ke murid-murid ada di tangan siapa?" Wajah Gerlon terlihat mulai serius dari sebelumnya.


Reinhard langsung tersentak. "Maksudmu, Kepala Akademi?"


Semua orang menatap terkejut dan sulit untuk percaya pada ucapan Reinhard tersebut.


"Tidak usah panik. Itu kan hanya kemungkinan saja," kata Wilia. Sebenarnya dia sendiri berusaha menenangkan dirinya yang takut.


"Kemungkinan itu berarti lima puluh lima puluh persen, lho," sambung Gerlon yang entah tujuannya ingin menakuti Wilia atau hal lainnya yang sulit dipahami.


Tidak ada dari mereka semua yang menginginkan kemungkinan lima puluh persen itu terjadi. Meskipun hasilnya sedikit buruk, tetap tidak menginginkannya. Namun, mereka diajarkan untuk selalu berharap dengan hasil yang lebih baik.


Sesaat dari mereka berharap dan ada juga yang berpikir. Ashnard kembali setelah sebelumnya sibuk memikirkan suatu cara untuk membawa masuk Gerlon. Bisa dibilang rencananya gila.


Saat melihat Ashnard yang datang kembali dengan satu lengan kanannya membeku, kepanikan dan kekhawatiran semakin menggebu-gebu.


"Apa yang kau lakukan, Ash?" teriak Liliya.


"Aku akan menyelamatkanmu, Gerlon." Ashnard berpikir jika tangannya yang membeku bisa menahan lapisan panas itu.


Saat dia mengangkat tangannya yang membeku dengan tangan satunya dan tinggal sedikit lagi menyentuh lapisan merah, Nina menariknya. Nina menggenggam lengan Ashnard, lalu menggunakan apinya untuk melelehkannya.


"Itu tidak akan berhasil. Tanganmu pasti akan terbakar," tegur Nina.


"Kau memang bodoh!" dengus Reinhard.


Ashnard yang mendengar itu langsung marah. Dia berusaha melepaskan diri dari Nina supaya dia bisa menghajar Reinhard yang merupakan penyebab dari kubah ini sebenarnya. Matanya melotot dan wajahnya merah seperti saat terkena aura api Nina. Namun, usaha Ashnard untuk melepaskan diri justru membuat cedera di lengannya yang belum sepenuhnya cair. Ashnard berlutut sambil memegang tangannya.


"Tunggu sebentar, kalian semua. Kalian tidak perlu bertengkar karena aku. Aku ini masih hidup. Kenapa kalian berusaha seolah-olah aku terluka dan berada dalam bahaya. Seharusnya kalian mengkhawatirkan diri kalian sendiri yang sedang terjebak." Gerlon ingin tertawa ketika melihat teman-temannya bertengkar.


Gerlon berpikir logis di situasi ini karena hanya dirinya lah yang memiliki situasi yang berbeda sendiri daripada yang lain. Dia berpikir karena dia berada di luar, bukan dirinya lah yang berada dalam bahaya. Dirinya justru yang baik-baik saja dan yang paling bebas. Serta ada kemungkinan lebih aman daripada yang lain.


"Lalu, bagaimana?" tanya Ashnard yang menunjukkan wajah putus asanya.

__ADS_1


"Begini saja, aku akan mencari bantuan. Dari kita semua, hanya aku yang bisa melakukannya. Walaupun memang kemungkinannya kecil dan butuh usaha yang lebih, tetap masih ada persentasi aku akan menemukan seseorang yang bisa membantu. Mungkin akan lebih lama. Oleh karena itu kalian harus bersabar," jelas Gerlon.


Setelah Gerlon mengucapkan hal itu, dia telah lenyap ke dalam pepohonan yang gelap gulita meskipun matahari masih ada di atas. Ashnard dan yang lainnya hanya bisa melihat punggung Gerlon yang semakin menjauh, tanpa bisa melakukan apapun untuk mencegahnya.


__ADS_2