The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Gara-gara Mata


__ADS_3

Mereka keluar dari hutan dan mengendap menuju ke arah sebaliknya saat mereka pergi. Di antara dua bukit terjal yang membentuk seperti gerbang batu, ada jalur yang sangat panjang di mana para roh menunggu giliran mereka untuk di adili.


Saat mereka keluar dari hutan dan mengambil jalan berpasir putih, sudah ada banyak para roh yang berdiri sepanjang jalan.


Barisan roh itu terus memanjang dari jalan putih, menuruni bukit yang berkelok, padang bunga berwarna ungu, tanah gersang hingga naik tangga menuju ke bangunan yang melayang di atas. Barisan terpanjang yang pernah Ashnard lihat seumur hidupnya.


Di antara para roh itu, ada sebuah cahaya berwarna ungu yang saling menyambung tiap roh pada bagian jantung mereka.


Roh-roh itu tidak terlihat bahagia. Justru banyak dari mereka yang tertunduk sedih serta penuh kebosanan. Seolah mereka menyesal berdiri di jalan menuju pengadilan atau sedih karena tahu mereka tidak akan bisa menikmati kehidupan lagi. Mungkin beberapa dari mereka tahu bahwa takdir mereka setelah di pengadilan adalah neraka. Karena itu tak ada kebahagiaan yang terpancar di wajah tembus pandang mereka. Ingin melarikan diri tapi tak tahu bagaimana caranya.


Membantu mereka juga adalah hal yang dilarang. Ashnard dan yang lainnya hanyalah manusia biasa yang memiliki tujuan sendiri. Fokus pada tujuan lebih baik daripada ikut campur urusan orang lain, bahkan urusan alam kematian.


"Jadi, kita akan menunggu di barisan paling belakang dan tak tahu kapan giliran kita tiba?" tanya Roc.


Sesaat setelah Roc bertanya dengan heran sekaligus kesal, muncul dari udara yang kosong sebuah cahaya putih kecil. Cahaya itu berputar seperti disedot dari dalam, lalu kembali membesar dan mengeluarkan satu roh baru. Yang kemudian roh tersebut mengisi baris paling belakang karena Ashnard dan yang lainnya hanya berdiri di samping, tidak segera mengantri. Roh di depannya memunculkan sebuah cahaya di bagian punggungnya yang lalu memanjang dan menyatu ke dada roh baru tersebut.


"Bagus. Sekarang barisannya bertambah semakin panjang," ucap Roc kecewa.


"Dasar bodoh." Ein tiba-tiba berdiri di belakang Roc, lalu mendorong punggungnya cukup keras hingga membuatnya menabrak dan mengeluarkan barisan para roh dari jalurnya. "Ashnard bahkan jauh lebih pintar darimu."


"Hei, apa yang kau lakukan, dasar gadis aneh!?" Walaupun tak memiliki wajah, Roc terlihat sangat marah.


Di langit, titik cahaya hitam muncul yang berputar lalu melebar dan muncul sosok makhluk yang sangat besar dengan cahaya biru di keningnya. Penjaga berjubah hitam itu turun untuk menindak tegas siapapun yang merusak barisan. Dengan tangannya yang besar, penjaga itu memegang kepala Ein dan Roc lalu mengangkat di udara.


"Lepaskan aku! Ini gara-gara dia, bukan aku!" Roc berusaha dengan kuat melepaskan diri di tangan yang tidak bergeming sedikitpun.


"Ashnard, sekarang!" kata gadis yang wajahnya tetap datar meskipun tubuhnya berada 20 kaki dari tanah.


Dengan cepat, Ashnard melompat dan menggunakan kepala cincin tongkat untuk mencongkel batu di kening penjaga tersebut.


"Berhasil!" seru Ashnard.


Akibat batu yang terlepas, penjaga itu otomatis melepaskan Ein dan Roc. Lalu, diam total seperti boneka yang tidak memiliki tujuan lagi.


Sementara batu yang berbentuk oval biru dengan tepi halus itu masih berputar di udara. Ada sekelebat bayangan yang sangat cepat lewat di udara dan merebut batu tersebut sebelum Ashnard sempat mengambilnya.


Sosok itu menunjukkan dirinya sebagai pria dengan wajah tengkorak merah dan dua tanduk panjang di keningnya. Jubahnya hitam seperti milik para penjaga namun ada tambahan armor di bahu kanannya yang berwarna emas kusam.


"Mata ini milikku."

__ADS_1


"Siapa kau? Roh atau penjaga?" tanya Ashnard.


"Bukan keduanya."


Dari arah samping, Roc menerjang ke depan berusaha mengambil batu tersebut. Namun, pria misterius itu melompati Roc sambil membuka kakinya lurus ke samping, lalu mendorong Roc hanya dengan tangannya saja.


"Amatir. Kalian para roh amatir, berani sekali mencuri Mata Petunjuk dari penjaga."


"Bukan urusanmu. Kau datang mengambil batu kami lalu seenaknya saja mengatai kami. Apa sebenarnya tujuanmu?"


"Tujuanku tidak lain demi kebaikan tuanku."


Seketika pria itu melesat ke hutan. Larinya sangat laju seolah dia berlari di udara. Bahkan Ashnard tidak mampu menyamakan langkahnya yang cukup lebar untuk seukuran pria dewasa. Saat memasuki hutan, Ashnard sudah kehilangan jejak pria itu.


"Kurasa kita harus mengulang lagi," ujar Ein menatap ke arah Roc.


"Apa lihat-lihat? Akan kupukul kau jika kau mendorongku lagi!" ancam Roc.


"Hm, bukankah kegunaanmu memang itu?"


Ashnard menghentikan obrolan sengit mereka. "Hei, kita harus mengejar orang itu."


"Aku tidak akan melakukannya! Kenapa kau tidak mendorong dirimu saja?" sergah Roc.


"Kenapa kalian bertengkar? Kita harus cepat! Jika tidak ...."


Sayangnya, Ashnard tidak bisa mengejar pria itu lagi. Berdiri dengan tubuh hitamnya di belakang mereka adalah penjaga sebelumnya yang terlihat tidak senang. Penjaga itu dipastikan marah karena Ashnard telah mencongkel matanya.


Saat itu, Ashnard tahu meskipun dia memberikan bukti bahwa dia tidak memiliki batu tersebut, penjaga tersebut tetap akan menangkapnya.


Dengan tangannya yang besar, penjaga itu mengangkat kerah mereka seperti mengangkat kucing nakal. Ein di tangan kirinya, Ashnard sekaligus Roc di tangan kanannya.


Di sanalah mereka. Di bangunan melayang lah mereka berakhir. Penjaga itu terbang membawa Ashnard dan yang lainnya menuju bangunan yang dikenal sebagai Aula Pengadilan. Lalu, di lorong yang berliku serta di balik besi yang tidak bisa di bongkar, ketiga kucing nakal itu di kurung dalam sebuah penjara tanpa celah.


Di dalam sel, hanya ada tempat untuk berbaring saja. Itupun terbuat dari lempeng besi yang sangat keras. Walaupun roh tidak memiliki rasa kantuk, Ashnard menganggapnya sebagai suatu penghinaan. Dindingnya bahkan lebih tebal daripada pintu sel yang merupakan besi tebal dengan sistematis kunci yang sangat rumit.


Sayangnya ini alam roh. Kemampuan roh untuk menembus benda seperti yang dilakukan Ein tidak berguna di alam mereka sendiri.


"Sekarang bagaimana? Tongkat sihirmu dan Ibumu diambil oleh mereka. Bahkan mantel pemberian Ibumu juga," tanya Ashnard yang menunduk di depan pintu sel yang tidak bisa dibuka selain dari luar.

__ADS_1


"Aku tidak mendapatkan ide apapun," jawab Ein yang duduk di atas kasur besi.


"Jika kau tidak mendorongku, penjaga itu tidak akan muncul, tahu!" gerutu Roc yang duduk bersandar di dinding.


"Rencana kita sudah selesai jika orang misterius itu tidak datang. Kau seharusnya berterima kasih padaku, roh aneh!"


Pertama kalinya Ashnard melihat Ein mengeluarkan nada tinggi. Walaupun ekspresinya tetap sama, setidaknya ada sedikit perubahan.


Mungkin ini hal yang bagus bagi Ein, tapi tetap tidak bisa membantu keluar dari sel ini. Ashnard tidak tahu sampai kapan mereka akan terjebak disini. Atau mungkin selamanya mereka tidak akan pernah bisa kembali ke dunia hidup.


Ashnard menarik nafas, mencoba menenangkan diri agar pikirannya jernih. "Ein, apa orang yang mencuri batu itu adalah si penjagal?"


"Bukan. Penjagal tidak mencuri barang. Orang asing tadi tidak membawa senjata apapun, sementara penjagal membawa pedang besar."


"Lalu, siapa yang mencuri batu kita? Tidak mungkin seseorang muncul begitu saja di waktu yang tepat kita mengambil batu, kan?"


Di pojokan, Roc berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tercampur semua perasaan di postur duduknya seperti orang yang tidak memiliki harapan. "Pft, kau yakin ingin membahas orang asing yang tidak ada gunanya? Ash, lihatlah sekitar kita! Kita ada di ruangan tertutup tanpa ada apapun. Daripada kau memikirkan orang yang mencuri batumu, lebih baik kau memikirkan cara mengeluarkan kita dari tempat ini!"


"Kenapa kau emosi? Tidak hanya kau yang terjebak disini, aku dan Ein juga!" balas Ashnard.


"Ini lebih buruk daripada Ruang Kosong. Aku tidak bisa melihat apapun disini."


"Apa kau pikir aku juga mengharapkan terjebak di tempat seperti ini? Kenapa aku merasa seolah-olah aku yang salah di sini?"


Roc bangkit, mendekati Ashnard dengan penuh emosi. "Kau benar. Yang salah adalah gadis aneh itu!" Roc berbalik, menunjuk secara terang-terangan Ein yang duduk tenang. "Semua gara-gara dia. Jika dia tidak mendorongku, kita tidak akan terjebak di sini."


"Aku melakukan apa yang harus kulakukan," ucap Ein dengan jujur.


Roc yang tidak menerima jawaban seperti itu, beralih menghampiri Ein. "Yang kau lakukan justru merugikan orang lain, tahu!"


"Tidak. Sudah kubilang. Semua akan baik-baik saja jika orang misterius itu tidak muncul. Aku bahkan baik-baik saja saat mencari Ibuku sendirian waktu itu. Aku melakukannya demi Ashnard."


"Lagi-lagi alasan itu yang kau pakai," geram Roc. Roc sebenarnya ingin memegang bahu Ein dan mengguncangkannya atas kekesalannya, namun ada harga diri yang membuatnya menahan kekesalannya. Harga diri untuk tidak menyentuh gadis manapun selain gadis yang benar-benar dia sukai.


"Sudahlah. Tidak ada gunanya bertengkar," desah Ashnard yang sedikit tidak berniat untuk melerainya. Dia sendiri juga tidak tahu harus bagaimana. Melihat tembok yang cukup tebal itu, dia yakin kekuatan apapun yang dimilikinya sulit untuk menghancurkannya.


"Selama aku bersama Ashnard, aku tidak masalah." Ein beranjak dari kasur besi, lalu duduk di sebelah Ashnard yang duduk menghadap ke pintu sel. "Kebahagiaan tetap bisa di dapatkan di manapun berada, jika kau bersama seseorang yang penting bagimu."


"Kau benar-benar gadis yang aneh," celetuk Roc bernada mengejek.

__ADS_1


Bersama-sama mereka menatap pintu seolah mengharapkan seseorang datang membukakan pintu agar mereka bisa keluar. Kenyataannya, pintu tiba-tiba terbuka dan ada seorang pria yang tersenyum di depan mereka.


__ADS_2