The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Perjalanan Membosankan


__ADS_3

Pada malam yang dingin itu, kereta kuda terguncang oleh jalan yang tidak rata. Dipenuhi batu-batu yang membuat perjalanan mereka tidak nyaman.


Malam itu, mereka tidak bisa tidur. Walaupun dalam gerbong kereta kuda khusus yang dibuat senyaman mungkin, tapi tidak ada satupun dari mereka yang bisa tidur. Sudah sejak dua hari lalu, mereka masih tidak tahu kemana tujuan kereta kuda ini.


Bunyi derap kaki kuda, suara roda yang terbentur batu, serta pecutan menemani mereka sepanjang hari. Di gerbong yang sunyi ini tidak ada yang bisa mereka lakukan selain mendengar suara-suara yang menemani perjalanan malam mereka.


Reinhard sudah tidak bisa menampung lagi kesabarannya. Dia membuka jendela kecil di belakangnya, yang merupakan pembatas antara penumpang dan kusir kuda.


"Sebenarnya kemana kau akan membawa kami?" tanyanya. Reinhard menunggu dan tidak ada jawaban dari pria tua yang sedang mengendalikan para kuda. "Tuan Egon?" panggilnya.


Akhirnya, Reinhard menyerah setelah sekian kali mencoba berkomunikasi dengan pria tua pemurung itu. Dia menutup pembuka itu dengan keras.


"Apa ini hukuman yang dimaksud Kepala Akademi? Duduk di kereta kuda tanpa tujuan, tidak berhenti dan tidak beristirahat. Kalau memang benar ini hukuman, maka aku tidak ingin melanggar lagi. Bahkan seingatku, aku tidak pernah melanggar apapun," celoteh Reinhard yang bosan.


"Ya, aku juga tidak pernah mengingat kau melanggar sesuatu," balas Ulfang setuju. "Jika mereka mengatakan kau melanggar sesuatu, itu berarti mereka yang salah."


Gerlon yang menyandarkan pipinya dengan tangannya di sebelah jendela, tertawa cekikikan. "Apa kau yakin tidak lupa pernah melanggar? Rata-rata orang lebih sering melupakan hal yang kecil daripada mengingatnya," sindir Gerlon.


"Reinhard tidak bodoh! Dia tidak pernah melanggar apapun sejauh yang aku tahu," balas Ulfang yang emosinya terpancing.


"Tenanglah, Ulfang. Jangan dengarkan dia," tegur Reinhard yang kemudian menghela nafasnya. Pandangannya seketika tertuju ketika matanya teruka pada Ashnard yang diam sedari tadi. "Kau tahu sesuatu? Kepala Akademi tidak mungkin sekedar mengumpulkan kita lalu memberi hukuman dengan duduk di kereta kuda selama dua hari saja, kan?"


Ashnard mengangkat kedua bahunya, wajahnya lesu seperti malas untuk menjawab. "Aku tidak tahu masalahmu. Tapi, Kepala Akademi memang sedang menghukum kita. Aku memang melanggar sesuatu, di kota, saat Nina dan Wilia berkelahi."


Reinhard mendengar kejadian itu setelah Wilia tiba-tiba menerobos kamarnya dan menceritakan banyak hal aneh terutama soal dirinya yang ternyata manusia. Saat itu, ia memang mendengar soal Ashnard dari Wilia, jadi dia percaya pada Ashnard yang terlibat dalam urusan tersebut.


"Ah, sayang sekali waktu itu aku tidak melihatnya," sahut Gerlon yang menyesal.


"Kau kan bilang sendiri kalau ada hal yang harus dikerjakan. Aku bahkan tidak melihatmu sama sekali di kota selama seminggu. Memangnya apa yang kau lakukan?" tanya Ashnard ke Gerlon.


"Aku sebenarnya kembali ke panti asuhanku. Mereka mengadakan acara besar untuk menyambutku. Mereka juga menyuruhku untuk menginap disana," jawab Gerlon.


Sementara di belakang kereta para lelaki yang membosankan, kereta para gadis justru lebih menyenangkan dan ramai. Benar-benar penuh kehangatan antara para penumpang serta sang kusir itu sendiri yang ramah.

__ADS_1


Tawa dan canda memenuhi kereta, benar-benar berbeda dengan para lelaki yang saling menjual diri dan tidak peduli. Para gadis bercerita dan bersenang-senang penuh kegembiraan, bahkan sang tuan putri pun ikut tertawa bersama pelayannya.


"Aku tidak tahu Eris bisa melakukan itu!" seru Liliya.


"Aku juga terkejut saat pertama kali dia melakukannya. Dia mengikat tangkai buah beri dengan mulutnya sangat mudah. Dia adalah seorang profesional. Padahal, waktu itu baru pertama kali baginya. Aku saja sampai sekarang belum bisa," sahut Nina penuh semangat.


"A-aku tidak seahli itu. Nina terlalu melebih-lebihkan," jawab Eris malu-malu, sambil membenarkan kacamatanya.


"Jika berkenan, aku ingin Nona Menriotte memperlihatkan lidahnya," pinta Cynthia.


Semua orang memajukan tubuh mereka dan memperhatikan dengan seksama saat Eris perlahan menjulurkan lidahnya. Semua orang bersorak kagum melihat lidah Eris yang ternyata cukup panjang.


"Katanya, jika kau bisa mengikat tangkai beri dengan mulut dan lidahmu saja itu berarti kau ahli dalam mencium," ungkap Terenna tidak ingin melewatkan keseruan para muridnya.


Semua orang merespon dengan heboh. Wajah Eris merah seketika saat mendengar ucapan Terenna tersebut. Namun, hanya Wilia yang lebih bersemangat daripada yang lainnya.


"Benarkah?" tanya gadis itu keras, tak bisa menahan semangatnya. Matanya berbinar-binar menandakan dia tertarik dengan topik pembahasan tersebut.


"Itu benar," jawab Terenna, tersenyum lebar. Dia lalu kembali fokus mengendalikan kudanya.


"Aku tidak tahu caranya," jawab Eris.


"Kau bisa mengajariku dengan mempraktekannya padaku secara langsung. Aku tidak masalah," kata Wilia, tidak terlihat bercanda sama sekali.


Eris tentu saja menolaknya karena itu sangat memalukan Apalagi hubungannya dengan Wilia yang sebelumnya tidak baik. Jika tiba-tiba saja bersikap seperti ini padanya, Eris merasa sangat aneh dan tidak nyaman. Sekalipun sudah memaafkan perbuatan Wilia waktu itu, ingatannya dan rasa sakitnya masih tertanam.


Nina terkejut, mengira Wilia akan melanggar janjinya lagi dan berusaha menyakiti Eris. Dia mendorong Wilia sehingga mengguncang kereta. Menimbulkan kegaduhan yang membuat para lelaki penasaran.


"Para gadis, hentikan," tegur Terenna dengan lembut, sambil berusaha membenarkan kembali kereta yang sedikit keluar jalur. "Wilia jika kau ingin belajar cara mencium, aku bisa mengajarkanmu nanti. Sekarang bukan waktunya kalian bersenang-senang. Tunggulah sampai kita di tujuan."


"Memangnya kemana kita akan pergi?" tanya Liliya. "Aku hanya tahu kalau kita sedang di hukum saja. Tapi, aku tak tahu ada hukuman semacam ini."


"Ini cuman perjalanan saja, kau tahu. Hukuman yang sebenarnya ada di tempat tujuan kita. Seperti penjara atau tempat penyiksaan atau mungkin tempat dimana kalian akan diperjual belikan di sana secara ilegal," ungkap sang guru, tersenyum jahil.

__ADS_1


"Berhentilah menakuti kami," rengut Wilia, memegang erat tangan pelayan yang duduk di sebelahnya. "Aku ini seorang putri. Tidak mungkin aku akan dijual. Kalau benar, seharusnya tidak ada yang bisa membeliku. Karena hargaku harus mahal."


"Tidak ada juga yang akan membelimu," bisik Nina, yang tetap saja di dengar oleh Wilia. Pada akhirnya kegaduhan terjadi lagi karena ulah dua gadis yang masih saling membenci. Kereta kuda terguncang untuk kedua kalinya, tidak dihitung saat terguncang karena jalanan yang tidak rata.


Kereta pun berhenti, membuat guncangan terakhirnya sebagai tanda bahwa telah tiba di tujuan. Malam itu begitu dingin, tapi para pemuda itu menahannya agar bisa melihat dengan kepala sendiri ada apa di balik pintu kereta kuda yang tertutup.


Tak ada suara yang begitu menarik perhatian, selain suara kuda yang meringkik, pintu kereta kuda yang terbuka, serta langkah kaki para pemuda yang tidak sabaran.


Itu sangat gelap hingga kehangatan dan keceriaan yang terpancar dari para gadis mendadak tertelan. Kesunyian total selayaknya dunia lain membuat semangat mereka ciut. Hanya ada pantulan cahaya bintang di danau sebening kristal yang menawan di depan mereka. Hanya danau dingin saja lah yang menarik perhatian mereka.


Para guru turun, meletakkan sebuah miniatur rumah sekecil batu kerikil di tanah terbuka. Dengan sejumlah lambaian tangan di udara, sejumlah kalimat rapalan, dan cahaya terang yang menerangi wajah mereka, mainan rumah itu bergetar dan bergoyang. Seketika mainan yang ukurannya kecil itu membesar menjadi seukuran rumah pada umumnya. Lebih tepatnya, sebuah villa. Lengkap dengan segala isinya.


"Kita akan menginap disini," ucap Terenna, tersenyum pada seluruh muridnya.


"Maksudnya, hukuman kita adalah menginap di villa di pinggir danau?" tanya Reinhard.


"Itulah yang dia katakan," balas Egon yang selalu merengut meskipun tanpa penyebabnya.


"Ini bukan hukuman, ini liburan!" seru Wilia yang semula wajahnya muram kini cerah kembali.


Tanpa basa-basi, dan dengan dipimpin oleh Wilia yang sangat bersemangat, mereka masuk ke dalam villa itu. Meninggalkan Ashnard dan kedua guru di luar.


Egon pergi mengurusi para kuda, sementara Terenna menghampiri Ashnard yang berdiri di depan danau biru.


"Apa yang kau pikirkan? Sedang menyesali perbuatanmu?" tanya Terenna.


"Seharusnya aku bilang ke mereka. Aku merasa ini salah. Mereka bukanlah sosok penghancur. Aku percaya mereka tidak akan melakukannya," balas Ashnard, menggelengkan kepalanya.


"Kau baru sampai, dan keraguanmu baru muncul sekarang? Dengar, nak. Kau tidak boleh mundur begitu saja. Ada kewajiban yang harus kau tuntaskan sekarang. Itu misimu."


Ashnard tahu tidak bisa mundur. Karena itu, dia hanya bisa mengatakannya saja. Seperti yang Terenna katakan, misi harus dikerjakan. Ashnard sudah menerimanya dan ia harus bertanggung jawab akan hal itu.


Ashnard lalu menghadap ke arah villa. Terlihat cahaya dari salah satu ruangan di lantai atas. Jendela ruangan itu terbuka, muncul Nina yang melambaikan tangannya ke arah Ashnard.

__ADS_1


"Ash, ada banyak buku disini. Kemarilah!" panggilnya.


Ashnard tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika senyuman lebar gadis berambut merah ternyata bukan untuk menunjukkan kebahagian, tapi menyebar ketakutan. Ashnard takut memikirkan itu menjadi kenyataan.


__ADS_2