The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Dimulainya Peraturan


__ADS_3

Semua karena ketegasan Wilia, situasi bisa dikendalikan tanpa ada amarah atau pertengkaran panjang. Pembicaraan menjadi lancar sehingga semuanya dapat saling mendengarkan pendapat lain. Semuanya tunduk dan segan dihadapan sang putri dan kata-katanya.


Meskipun dengan sedikit tambahan dan penyesuaian, peraturan yang Ashnard buat tetap diberlakukan oleh semuanya.


Tidak perlu menunda lebih lama lagi. Peraturan langsung dimulai saat ini juga, setelah pembicaraan selesai. Dan bagi siapapun yang melanggarnya, hukuman akan diberikan setelah berdiskusi dengan yang lainnya.


Saat itu, ada kekhawatiran pada pikiran Ashnard. Meskipun peraturannya tetap dilaksanakan, tapi Ashnard tidak merasa puas atau senang. Dia justru gelisah seolah-olah bukan hal-hal semacam peraturan itu yang dimaksud olehnya.


Ashnard membawa Liliya ke belakang tangga selagi yang lainnya duduk di meja makan, menunggu sarapan.


"Kenapa kau tidak mengangkat tanganmu?" tanya Ashnard berbisik.


"Karena kau tidak seperti dirimu. Aku merasa kau berbeda saat itu. Lebih keras, lebih ambisius, dan seperti seorang yang otoriter. Aku tidak menyukaimu yang seperti itu," jawab Liliya.


Ashnard tidak tahu kalau Liliya menganggapnya seperti itu. Mungkin kekhawatiran Ashnard bukan pada Liliya atau lainnya yang bisa tiba-tiba tidak memihaknya tapi pada dirinya yang bisa tiba-tiba berubah tanpa dia sadari. Berubah menjadi sosok yang dirinya sendiri tidak kenal.


Ashnard menghela, menandakan dia menerima ucapan Liliya meskipun sebagian dari hatinya tidak.


"Bagaimana menurutmu? Apakah aku tidak cocok sebagai pemimpin?" Ashnard mengganti pertanyaannya.


Sebelum Liliya yang ragu ingin menjawabnya, Eris dan Cynthia berteriak memanggil semuanya untuk bersiap-siap sarapan. Makanan yang menggunakan bahan-bahan sederhana sudah jadi dan siap dihidangkan.


Ashnard tidak mau menjadi orang munafik yang tidak mematuhi peraturan yang dia ciptakan sendiri. Karena itu, Ashnard terpaksa membiarkan Liliya tanpa memberikan jawabannya.


"Setelah ini apa?" tanya Reinhard yang sedikit menyimpa kekesalannya setelah insiden terjadi. Walaupun Reinhard lapar, tapi dia tidak bersemangat untuk menghabisi makanannya.


Sementara Ashnard dan yang lainnya melahap hingga tak tersisa di piring mereka. "Kita akan berlatih bersama untuk mempersiapkan kita jika muncul masalah lainnya," jawab Ashnard setelah memuaskan perutnya.


Di depan villa, semua orang berkumpul. Mempersiapkan pedang kayu mereka. Satu per satu saling berhadapan. Tujuannya bukan untuk mengalahkan dan menang, tapi untuk memperbaiki dan mengasah kemampuan tiap orang. Selain melatih fisik, mereka juga melatih kemampuan penguasaan terhadap kekuatan elemental. Tidak ada yang mengatur selayaknya pemimpin, semua berdasarkan saran pribadi atau pendapat tiap orang semata. Saran yang lebih positif dengan melakukan pendekatan yang terbuka, sehingga semua orang bisa saling memahami dan bisa saling membantu. Tidak ada perasaan negatif.


Kemudian mengistirahatkan fisik dan mental mereka melalui berbagai macam cara. Dengan buku, bersantai di atas balkon, menikmati lukisan, bercerita, dan banyak hal lainnya. Waktu ini adalah waktu yang pas bagi mereka untuk bersantai dan bersenang-senang.


"Bagaimana menurut kalian?"

__ADS_1


Ashnard yang keras kepala masih berusaha melepaskan kekhawatirannya. Dia mencari seseorang untuk membantunya. Kini dia menemui Nina dan Eris di perpustakaan.


"Menurutku, kau tidak perlu terus memikirkannya. Ketika seseorang mendapatkan kritikan, lalu tidak bisa berhenti memikirkan kritikan itu, bukannya orang itu akan berubah menjadi lebih baik, tapi justru menjadi sulit untuk berkembang. Ada kalanya kau berhenti dan melupakannya. Ada kalanya kau mengingatnya tapi sebagai motivasimu kelak."


Eris berbicara melalui fakta dan kelogisan suatu hal menurut pikiran dan pengalamannya. Dia tahu apa yang terbaik dengan menunjukkan kerealistisan seseorang dalam berpikir. Sementara Nina lebih berbicara melalui perasaannya.


"Menurutku tidak ada masalah sama sekali. Jika kau memang ingin menjadi seorang pemimpin, lakukan saja. Jika ragu, sebaiknya mundur. Pilihlah apa yang terbaik untukmu dan kamu juga harus memberikan apa yang terbaik untuk orang lain."


"Kau kurang tegas, Nina," sambung Eris di lorong rak lain, mendengar perkataan Nina.


"Dan kau juga kurang menunjukkan saranmu yang sebenarnya," balas Nina. "Kau hanya menunjukkan contohnya saja."


"Tidak. Aku sudah bilang di awal, menurutku Ashnard tidak harus terus memikirkan perkataan Wilia."


"Kalian sama sekali tidak membantuku," desah Ashnard.


"Ya karena sekarang waktunya bersantai jadi seharusnya kita tidak perlu memikirkan hal yang rumit, kan?" Nina menunjukkan pada Ashnard bahwa saat ini bukan waktunya untuk murung, tapi berpuas-puaslah bahagia. Baginya, bahagia adalah hal yang harus dirasakan oleh setiap orang apapun kondisi yang mereka alami. Sekalipun, sebuah kubah merah yang mampu membakar dan danau yang membekukan, bahagia tetaplah yang utama.


Pemikiran seperti itu mengingatkannya pada Liliya, sontak membuat Ashnard tertawa lega. Mengira bahwa awalnya dirinya tidak bisa mengembalikan suasana menjadi lebih tenang karena beberapa masalah yang terjadi.


"Hei, apa kalian tahu kenapa bagian ini kosong?" tanya Eris yang berada di lorong sebelah. Penasaran dengan salah satu bagian di rak yang kosong di antara buku-buku. Dia ingat betul belum pernah menjelajahi lorong bagian ini sebelumnya.


"Mungkin, ada yang meminjamnya?" tebak Nina, berpikir positif.


"Ya, mungkin itu Liliya. Setahuku dia juga lumayan suka membaca," tambah Ashnard.


"Omong-omong, ada yang ingin kutanyakan pada kalian." Seketika, Eris mengecilkan suaranya seolah tak ingin siapapun mendengarnya. "Menurut kalian, bagaimana Terenna bisa meletakkan barang-barang kita disini? Maksudku, dia tahu seluruh bajuku dan menyimpannya di lemari satu kamar yang akan menjadi kamarku. Bahkan gaun Nina yang baru Ashnard belikan juga ada, padahal sebelumnya kita tidak membawa banyak barang, kan?"


"Setelah kau mengatakannya, ada benarnya juga. Semua barang-barang pribadiku, catatan harianku, bahkan aroma kamarku disini sama persis seperti di asrama dan kamar asliku di Agnar." Nina juga tampaknya setuju dengan ucapan Eris.


Ashnard justru berbeda dengan yang lainnya. Karena awalnya, dia memang tak memiliki banyak barang saat tinggal di asrama. Dia hanya mengganti beberapa pakaian yang jumlahnya mudah dihitung dengan jari saja. Bahkan, dia merasa senang karena kamarnya yang di villa memiliki lebih banyak pakaian daripada miliknya.


"Aku rasa itu wajar saja. Guru Terenna kan pengawas asrama perempuan, jadi wajar saja jika dia tahu seisi kamar kalian," jawab Ashnard berusaha membuat mereka tidak curiga.

__ADS_1


"Yah, sebenarnya aku tidak masalah sih. Karena itu lebih memudahkanku saja," ucap Nina. "Oh ya, Ash, ada buku yang ingin kutunjukan padamu. Ikut aku." Nina dengan cepat melupakan topik obrolan yang sedang berlangsung. Dia langsung meraih lengan Ashnard dan menariknya ke rak buku yang lain.


Setelah Nina dan Ashnard pergi, Eris mengeluarkan sebuah buku yang dia sembunyikan di belakang punggungnya. Sebelum meletakkan kembali di bagian rak di antara buku yang kosong, dia mengintip melalui celah buku. Mengintip sahabatnya yang tertawa bahagia membahas soal buku bersama Ashnard.


Eris menyadari apa yang sedang Nina lakukan, dan dia ingin mengawasinya. Dia tidak akan ikut campur, kecuali situasi sudah berada di luar batas.


"Di Winfor, ada banyak cerita dan puisi yang berkaitan dengan angin. Walaupun buku yang kau tunjukkan ini bagus, tapi bagiku sudah terlalu membosankan jika mereferensikan kekuatan angin di ceritanya."


"Sungguh?" Nina terlihat kecewa. "Tapi, angin dibuku ini lebih bermakna, lebih filosofis, dan lebih terkesan romantis!" ucapnya masih bersikeras.


"Percayalah, Nina. Sebagai penduduk kota angin, aku berani bilang angin di sana lebih dari semua yang kau sebutkan."


"Kalau kau tidak mau membacanya, aku akan membacakannya untukmu!" Nina menyeret Ashnard dan mendudukannya di kursi. Lalu, dia membuka sebuah buku yang dipegangnya, dan mulai membacanya dari paragraf awal.


"Oh, kau rupanya bertindak agresif, ya," gumam Eris tersenyum kecil. Dia masih menikmati tontonannya.


Segera, Ashnard mengambil buku sebelum Nina menyelesaikan paragraf pertamanya. Dia lalu melemparkan buku tersebut ke ujung meja yang jauh.


"Hei, tidak sopan! Aku sedang bercerita tahu!" Nina melompat ke meja untuk mengambil buku tersebut. Tapi, jaraknya terlalu jauh sehingga dia menjatuhkan badannya di atas meja, ditambah dengan menjulurkan lengannya sejauh mungkin.


Dengan susah payah, Nina berhasil meraih buku tersebut. Dia mengangkat tubuhnya dan berbalik. Dia diam membeku, tatapannya terpaku ke arah Ashnard saat menyadari posisinya yang terlalu mengejutkan.


Nina duduk tepat di meja di bagian Ashnard menghadap. Kedua kaki gadis itu tergantung di samping kedua paha Ashnard. Terlalu dekat baginya, bahkan lututnya menyentuh dada Ashnard. Kepala Ashnard hanya setinggi dadanya saja, tapi matanya tertuju pada mata merah delima gadis tersebut.


"Kenapa kalian terus tatap-menatap? Setidaknya katakan sesuatu, Nina. Posisimu sudah cukup bagus," gumam Eris.


Jika sedikit saja dia maju, Nina akan jatuh tepat di pangkuan Ashnard. Nina berusaha agar tidak jatuh dengan meletakkan kakinya tepat di samping paha Ashnard sebagai penyangga.


"Ka-kau tidak mau melanjutkannya?" tanya Ashnard yang gugup, memandang ke kaki Nina yang menyentuh pahanya.


Jantung Nina tentunya berdentam kencang seperti genderang perang. Selain karena posisinya, tapi juga karena Ashnard yang sebelumnya menolak dan sekarang ingin mendengarkan ceritanya.


"Ka-kalau begitu aku akan turun," ucap Nina.

__ADS_1


Ashnard membiarkan Nina turun dari meja dan duduk di kursi sebelahnya. Padahal, di lubuk hatinya yang terdalam dia tidak menginginkan Nina turun. Dia terlalu malu untuk mengatakannya.


"Dasar, kalian benar-benar payah," hela nafas Eris terdengar kecewa.


__ADS_2