
Ada sebuah bunga berwarna putih yang tumbuh di dalam perut makhluk itu saat tubuh kayunya terbuka ke samoing hingga tampak seperti sayap.
Bunga itu begitu putih hingga tak ada warna lain yang bisa menodainya. Bahkan, bunga itu juga memancarkan cahaya putih yang menyihir Ashnard dan yang lainnya.
Lebih indah daripada bunga biru. Lebih murni daripada semua makhluk hidup. Ayunan kelopaknya saat tertiup angin begitu elegan selayaknya penari profesional. Batangnya yang kokoh mampu menopang mahkota putih seperti seorang raja dengan mahkotanya.
Ashnard berjalan perlahan mendekati bunga itu. Tangannya meregang ke depan seolah berkata, "Ini bunga yang kita cari. Setelah bunga ini diambil, maka misi telah selesai." Bunga paling dicari ada di depan mata Ashnard dan tinggal beberapa langkah lagi sebelum bunga itu ada di genggamannya.
Namun, tiba-tiba Ashnard berhenti. Ia melihat bunga itu begitu murni sehingga dirinya yang pernah berbuat salah tak bisa untuk melangkah lebih dekat. Hanya dengan melihat saja, Ashnard tahu kalau bunga itu lebih berharga daripada apapun, bahkan hadiah ulang tahun berupa gaun. Ashnard sadar, jika ia mengambil bunga itu, ia akan menyesalinya kelak. Ashnard mengurungkan niatnya.
Secara mendadak, tubuh ular itu yang terbelah dan terbuka, kembali menutup. Lalu, kulitnya yang terbelah, tersambung kembali dengan mudah seperti tidak terjadi apa-apa. Makhluk itu kembali bergerak selayaknya makhluk hidup pada umumnya yang tak terluka.
"Kau berbeda." Makhluk itu berbicara yang tentu saja membuat Ashnard dan lainnya terkejut.
"Kau bisa bicara?" tanya Ashnard.
Makhluk itu menganggukkan kepalanya. "Kau berbeda dengan kebanyakan manusia lainnya. Tidak sedikit orang yang tidak tergiur harta sepertimu." Suara yang terdengar menyerupai suara seorang wanita.
"Siapa kau sebenarnya?"
"Aku Leashira," jawab makhluk itu.
"Tidak mungkin! Leashira sudah meninggal ratusan tahu yang lalu!" sergah Eris menolak percaya.
"Memang tubuh asliku sudah kembali ke tanah, tapi percayalah, aku Leashira. Aku tidak mungkin melupakan seragam akademi yang telah aku dan teman-temanku bangun. Bahkan, aku sangat bersyukur masih ada murid akademi seperti kalian."
"Bagaimana caranya kau berubah menjadi ... entahlah, apapun makhluk ini, ular mungkin?" tanya Ashnard.
"Setiap manusia yang berelemen memiliki sebuah jiwa elemen. Sama seperti inti elemen pada makhluk elemental. Jiwa yang sejatinya bukan bagian dari diri manusia sebenarnya bisa dipisahkan dengan berbagai cara. Aku tak ingin bunga Erastion dimanfaatkan oleh orang yang salah, karena itu, setelah aku mati, aku memindahkan jiwaku ke dalam bentuk ular agar dapat melindungi bunga ini," ungkap Leashira.
Nina berjalan mendekat, dan bertanya, "Kenapa ular? Kenapa kau tidak memindahkan jiwamu ke tubuh manusia yang lebih mudah?"
"Ular adalah simbol kesembuhan dan pengobatan," jawab Eris cepat, bahkan sebelum Leashira ingin menjawabnya.
__ADS_1
"Kau gadis yang pintar," puji Leashira. "Tapi, ular juga berarti kesuburan dan kelahiran kembali. Konsep keabadian berupa jiwa yang dipindahkan ke raga yang baru. Seperti yang telah kulakukan saat ini."
Berbicara tentang jiwa, Ashnard juga memiliki masalah yang sama. Ia tertarik karena itu erat dengan apa yang terjadi pada dirinya. Suatu kebetulan yang Ashnard sudah nantikan.
"Bagaimana caramu memindahkan jiwa? Apakah bisa memindahkan jiwa ke tubuh orang lain?" tanya Ashnard.
"Tentu saja. Tapi, memindahkan sebuah jiwa ke sebuah raga yang sudah memiliki jiwa akan berdampak pada penolakan batin."
Melihat ekspreski Ashnard dan yang lainnya kebingungan, memberi tahukan Leashira bahwa pemikiran dan pengetahuan mereka belum sampai ke tahap yang sedang dibicarakannya. Ia menjelaskan lebih lanjut.
"Sama seperti dua pemimpin dan satu wilayah. Dua keong dan satu cangkang. Mereka semua akan berebut untuk mendapatkan rumah mereka atau kekuasaan mereka masing-masing. Jiwa yang saling berebutan akan menimbulkan getaran bagi tubuh, perubahan jiwa yang mendadak tidak akan terelakkan lagi.
"Kadang satu jiwa mengendalikan tubuhmu saat ini, kadang jiwa yang lain akan secara tiba-tiba merebutnya. Tidak ada batasan di dalam alam bawah sadarmu yang akan membuat tubuhmu akan kehilangan jati diri. Pada akhirnya, kau akan menjadi gila."
Ashnard menggelengkan kepalanya. Rasanya begitu sulit untuk Ashnard cerna. "Aku tidak mengerti. Lalu, bagaimana denganmu?"
"Tubuh ini aku sendiri yang membuatnya." Leashira merujuk ke tubuh ular dengan badan kayu yang sepanjang sungai. "Akan lebih mudah jika kau memindahkan sebuah jiwa ke wadah yang kosong. Karena itu aku membuat tubuh baru."
"Kau bilang jika jiwa dipindahkan ke tubuh yang sudah memiliki jiwa lain akan terjadi penolakan, kan?"
"Bagaimana jika tidak terjadi penolakan antar dua jiwa?"
"Itu adalah hal yang bagus. Namun, sayangnya, aku belum pernah melihatnya semudah itu."
Mendengar jawaban itu, wajah Ashnard menjadi pucat pasi. Saat Nina bertanya padanya, Ashnard tak menjawab apapun. Ia hanya mengangguk sangat pelan hingga hampir tidak terlihat.
Ini adalah momen dimana semua orang berada dalam kebingungan. Apalagi pada kenyataan yang sangat berbeda daripada apa yang mereka ketahui soal wanita yang mendirikan akademi.
Eris yang paling mengenal Leashira dari buku, tidak mengerti dengan semua ucapannya. Sosok di depannya bukan seperti Leashira yang dia kenal. "Semua orang tahu kalau kau adalah ahli tanaman dan pengobatan. Bagaimana kau bisa tahu hal semacam itu? Kau benar-benar seorang dokter, kan? Kau seharusnya menyembuhkan orang lain, bukan berurusan dengan jiwa-jiwa semacamnya."
Leashira lalu menurunkan kepalanya agar dapat menatap lebih dekat ke Eris. "Itu adalah dosa yang telah kuperbuat. Masa laluku. Aku terlalu terobsesi mencari obat yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit sampai tak terhitung banyaknya yang telah kukorbankan. Mungkin bagi kalian aku adalah orang yang kejam, tapi bagiku itu adalah sesuatu yang benar. Aku melakukannya demi umat manusia."
Eris lalu mendekati Leashira dan mengelus kulit kayu di lehernya. "Tidak, kau tidak kejam. Aku paham perasaanmu. Aku juga memiliki tugas yang membuatku dibenci oleh banyak orang, meskipun tujuannya demi kebaikan."
__ADS_1
Semak-semak dan bunga tiba-tiba berguncang, terdengar suara seperti berbisik yang memenuhi area tersebut. Lalu, muncul makhluk kecil yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan, keluar dari balik semak-semak, dari bawah batu, lubang pohon dan kolam air.
Makhluk itu bergerak dalam jumlah yang besar mengelilingi Ashnard dan yang lainnya. Bentuknya menyerupai tanaman kecil seperti bunga, jamur, atau bentuk lainnya yang masih memiliki struktur tubuh seperti tanaman yang bisa bergerak.
Makhluk itu ada di sekitar mereka, di sepanjang bagian atas tubuh Leashira, dan di pundak Nina. Mereka bertingkah dan bergerak dengan penuh dengan santai seolah mereka tidak takut dengan makhluk raksasa seperti Ashnard dan yang lainnya. Mata mungil mereka yang bulat penuh kepolosan.
"Makhluk apa ini?" Ashnard, Eris dan Nina bertanya-tanya.
Namun, bentuk lucu mereka tak sanggup mereka tahan. Nina tidak bisa menahan lagi jiwanya terus meronta. Ia melupakan tujuannya dan bermain bersama makhluk mungil itu.
"Ashnard, lihat! Makhluk ini bisa menari," seru Nina senang. Dialah yang paling tidak bisa menahan sisi imut para makhluk itu. Nina bahkan menarik lengan Ashnard untuk mengajaknya menerima semua keimutan tersebut yang tak tertahankan.
Nina lalu meletakkan salah satu makhluk yang berbentuk jamur di kepala Ashnard. "Kau sekarang terlihat seperti mereka," ucap Nina sambil tersenyum gembira.
Melihat Nina yang tersenyum dan bersenang-senang, membuat beban Ashnard sedikit demi sedikit terlepas. Semua kerisauan dan kebingungan sebelumnya soal perpindahan jiwa itu lenyap saat Nina mengajaknya untuk bermain bersama. Ashnard bahkan sempat berpikir kalau Nina menyadari kegelisahannya sehingga ingin membantunya.
Senyuman Nina yang seolah memeluk jiwa Ashnard dengan kehangatannya itu, mengingatkannya dengan senyuman Liliya.
Ashnard mendengar makhluk di kepalanya berbisik yang kemudian direspon oleh makhluk lainnya. Ashnard menyadari bahwa makhluk ini berkomunikasi dengan suara seperti bisikan. Bisikan-bisikan yang dia dengar sebelumnya hingga menuntunnya ke tempat ini.
"Makhluk-makhluk ini adalah hasil eksperimenku yang gagal. Aku berusaha mengubah tanaman menjadi manusia yang utuh," ungkap Leashira.
Semua orang terkejut, bahkan Nina bangkit lagi setelah sebelumnya sibuk bermain. "Jadi, makhluk-makhluk ini awalnya adalah bahan eksperimenmu?"
"Menciptakan kehidupan itu sudah melampaui batas manusia," ucap Eris.
Leashira justru tertawa. Sebuah reaksi yang sama sekali tak mereka duga. "Apa maksud kalian? Manusia juga bisa menciptakan kehidupan. Kalian para gadis kelak akan menciptakan kehidupan dari rahim kalian. Karena itu seorang gadis perawan seperti kalian, sangatlah penting dalam berbagai macam ritual," ucap Leashira ke Nina dan Eris. "Lagipula, tanaman pada awalnya memang sudah merupakan makhluk hidup. Aku hanya mengubah bentuk dan materi genetiknya saja agar menjadi seperti manusia."
"Tetap saja, itu mustahil," kata Eris masih menyanggah.
"Tidak, jika kau berusaha terus-menerus. Aku tidak pernah berhenti hingga akhirnya aku berhasil menemukan bunga Erastion ini. Bunga mahakuasa yang hanya ada satu di dunia. Kau mengolah putiknya saja, atau seratnya saja, atau bahkan mengambil sampel sekecil debu sekalipun lalu mengolahnya akan menjadi ramuan yang luar biasa. Bunga itu adalah kunci dari semua pertanyaan dan problematika.
"Setelah banyak percobaan, akhirnya aku berhasil menciptakan kehidupan. Namun, percobaanku berhasil di saat nafas terakhirku. Aku bahkan tidak sempat untuk melihat wujud manusianya. Aku benar-benar merindukan kecambah kecilku."
__ADS_1
"Kecambah kecil?" Ashnard melempar tatapannya ke Eris dan Nina. Serentak, mereka menyadari sesuatu yang sangat mengejutkan.