The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Keinginan Sang Asberion


__ADS_3

Ditinggal oleh sang pangeran dengan jawaban yang mengecewakan tak membuat murid bertudung itu menyerah begitu saja.


Ia bersikap tenang sambil mempersiapkan segala cara untuk tujuannya tercapai. Mungkin kali ini hasilnya tak sesuai, tapi berikutnya pasti.


Namun, sesaat ia ingin pergi, ia di hadang oleh orang lain yang memergokinya dari samping. Dengan senyuman puas dan tatapan yang menyimpan sejuta rencana, Gerlon menyapa sosok bertudung itu dengan santai, "Sayang sekali, aku tak mendengar obrolan barusan dengan pangeran. Bolehkah kau menceritakannya padaku?"


Murid bertudung itu menatap Gerlon tajam. "Siapa kau?"


"Aku? Aku hanyalah anak dari panti asuhan biasa, bukan orang kaya, atau bangsawan terkemuka. Aku hanyalah orang biasa sama sepertimu," jawab Gerlon tersenyum santai.


"Kau tidak mengenalku."


"Tidak, tidak. Aku mengenalmu. Sang pangeran yang mengabaikanmu bukankah itu menunjukkan kalau kau bukan siapa-siapa." Senyumannya lebih terkesan mengejek.


Murid bertudung mendekati Gerlon dan menyipitkan matanya, mengamati. "Untuk seukuran orang biasa, sikapmu tidak biasa. Kau sombong, sama seperti mereka."


"Sombong bukan jaminan kalau orang tersebut pasti adalah bangsawan. Sombong itu sikap yang wajar dimiliki seseorang, kau, aku, petani, tukang masak, mungkin dewa sekalipun bisa sombong."


Murid itu lalu membuka tudungnya, memperlihatkan wajah aslinya pada Gerlon. "Jika kau bukan bangsawan, berarti kau sudah merasakan rasa sakit yang sama sepertiku. Saat mereka mencemoohmu, menjatuhkanmu, melemparkan semua kesalahan yang bahkan tidak kita perbuat, kau pasti sudah merasakan semua itu. Mereka tidak peduli dengan kita, tapi kita peduli dengan mereka. Kita membutuhkan mereka agar bisa hidup."


Gerlong mengangkat bahunya. "Yah, aku pernah merasakan itu sih."


"Maka dari itu, kita harus bekerja sama agar mereka tidak semena-mena lagi. Kita harus membungkam kesombongan mereka-"


"Kurasa tidak, aku tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk mengalahkan mereka. Kau tahu kekuatan Asberion sangat kuat, kan?" tolak Gerlon.


"Kalau kau mau, aku bisa memberimu kekuatan yang besar," bisik murid bertudung itu.


"Kekuatan apa?"


"Seperti kataku, kalau kau mau."


"Tidak, aku lewat. Sepertinya terlalu beresiko," jawab Gerlon dengan santainya.


"Kau lemah." Murid bertudung itu pun berjalan pergi melewati Gerlon.


"Omong-omong, kenapa dengan matamu?" tanya Gerlon penasaran dengan bola mata orang itu yang berwarna hitam.


Murid bertudung menjawab sambil meneruskan langkahnya. "Ini adalah berkah, tapi bagi orang lain ini kutukan."


***

__ADS_1


Kerumunan bubar setelah meja dan teh dirapikan kembali. Reinhard juga sudah pergi, begitu pula Wilia, meninggalkan para murid dengan penuh pertanyaan. Setelah meninggalkan taman, Reinhard menemui Liliya di koridor.


Para murid tidak seheboh saat Reinhard bertemu Wilia. Itu karena mereka menganggap Liliya tidak seistimewa sang putri. Mereka berpencar, mengabaikan pertemuan Reinhard dan Liliya.


"Maaf, apa aku mengganggumu," ucap Liliya memelas.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu. Abaikan saja," ucap Reinhard agar Liliya tak merasa bersalah. "Kau mencariku, ada apa?"


Reinhard pun membawa Liliya duduk di bangku yang di sediakan di sepanjang koridor taman. Dengan atap, tanaman bunga dan semak yang dihias cantik, membuat siapapun yang bersantai disini akan merasakan ketenangan.


"Ini soal Dewan Kesiswaan," kata Liliya.


"Ya, aku tahu." Reinhard paham telah mengabaikan ajakan dewan. Padahal, baginya tidak ada masalah untuk bergabung dengan mereka. Dia hanya merasa bingung untuk pertama kalinya. "Menurutmu bagaimana, apakah aku harus menerimanya atau menolaknya?" tanya Reinhard ke Liliya.


Ekspresi Liliya sedikit terkejut tak percaya. Karena Reinhard yang ia kenal tidak pernah meminta pendapatnya.


Reinhard melambaikan tangannya di depan mata Liliya yang membisu.


Liliya tersentak. "A-aku tentu saja mendukungmu. Maksudku, menjadi anggota dewan, bukankah itu keren?"


Namun, Reinhard menunjukkan keraguannya.


Gadis itu sadar dan bertanya, "Pasti soal dinding itu, kan? Kau tidak perlu memikirkannya. Kau seharusnya hidup sesuai keinginanmu, jangan mengikuti apa yang kau tidak sukai.


"Kau menyerah, padahal kau belum mencobanya."


"Ucapan lebih mudah daripada melakukannya," timpal Reinhard.


"Begini saja, bagaimana jika kau melakukan semua yang kau inginkan dan anggaplah dinding itu bonus untukmu. Jadi, apa yang kau inginkan, Rein?" tanya Liliya.


"Aku ingin ...." Reinhard berhenti sejenak, sambil memandang ke gadis itu. Lalu, benaknya mengungkapkan perasaan sejatinya. Aku ingin bersamamu. "Aku akan bergabung ke dewan.


Liliya melompat dan bersorak spontan dengan penuh gembira sambil bertepuk tangan seolah memenangkan suatu perlombaan yang besar. Kegembiraannya terlalu berlebihan, tapi itu cukup untuk membuat Reinhard tersenyum.


Wajah ceria Liliya kemudian membuat senyuman Reinhard pudar, membuat dia bersedih. Muram dan penuh kegelapan. "Terima kasih dan ... maaf. Maaf karena telah membuatmu dan keluargamu terkekang karena perjanjian. Aku tahu bahwa itu salah, tapi aku tak bisa melakukan apa-apa untukmu."


Ada bagian di hatinya yang serasa diremas oleh kesedihan dan amarah. Seperti ia telah lama menekan perasaannya itu dan menyembunyikan kepahitannya dalam-dalam. Dan ketika orang lain membukanya dan menyentuhnya, meskipun tidak akan berdampak besar, tapi adalah sesuatu yang berbeda yang seakan membuat bebannya sedikit berkurang.


Ia menunggu sangat lama untuk orang mengatakan hal itu. Selama ini Liliya menganggap perjanjian itu adalah sebuah kutukan yang mengurungnya. Tapi, ketika Reimhard mengatakan maaf padanya, tidak lain hanyalah apa yang menurut dia salah tapi menurut orang lain benar.


Gadis itu terdiam sejenak ketika Reinhard meminta maaf. "Tidak apa. Perjanjian itu juga telah melindungi keluargaku selama ini. Aku tidak sepenuhnya membencinya."

__ADS_1


Reinhard tahu bahwa sebenarnya perjanjian itu berat untuk keluarga Nerefelon, tapi menguntungkan untuk bangsawan lainnya.


Ketika, keluarga Nerefelon pertama kali datang untuk meminta perlindungan di Winfor. Para bangsawan menyetujui perlindungan untuk Nerefelon, tapi dengan bayaran kemampuan.


Dimana kemampuan Nerefelon yaitu darah mereka yang dapat menyembuhkan luka fisik, lebih berguna daripada pengobatan modern saat ini. Darah magis mereka membantu dalam penyembuhan luka para bangsawan.


Mereka harus memasok darah yang telah ditentukan, dengan begitu Winfor akan melindungi mereka. Para Nerefelon juga harus menyembunyikan identitas asli mereka dari siapapun, termasuk para Winfor sendiri.


Itulah sebabnya hanya segelintir keluarga saja yang tahu kemampuan darah Nerefelon.


Perjanjian tersebut menjadikan pilihan terakhir untuk Nerefelon, hingga akhirnya mereka menetap di Winfor.


Mungkin beberapa orang menganggap perjanjian itu tidak masalah karena menguntungkan juga keduanya, tapi beberapa orang menganggap perjanjian itu justru mengekangnya. Mereka tak boleh keluar dari Winfor, mereka tak boleh sering berinteraksi dengan warga, bahkan Liliya dilarang oleh ayahnya untuk keluar dari rumah sebelum insiden jurang tersebut.


Liliya terus melawan ayahnya hingga akhirnya, dia pun diizinkan untuk disekolahkan di akademi. Bukan atas izin keluarga bangsawan lain, melainkan atas izin ayahnya.


Sejak saat pertemuan pertama Reinhard dengan Liliya saat pesta, itu pertama kalinya mereka bertemu dengan orang yang sama terkekangnya dengan aturan keluarga. Reinhard dan Liliya. Dua orang yang sama mengikuti dengan terpaksa apa yang keluarga mereka inginkan.


"Saat malam itu, itulah saat aku menyadari ada orang yang sama tertekannya sepertiku. Kaulah yang membuatku sadar bahwa sebenarnya aku tidak sendirian," ungkap Reinhard. "Kau berkata kalau kau belum pernah keluar dari rumah hingga saat pesta. Kalau itu aku, mungkin aku sudah kabur atau menjadi gila."


"Aku juga berpikir sama sepertimu," jawab Liliya. "Saat di kamarku, aku selalu melihat ke arah bulan dan berandai, apakah ada orang yang sama menderitanya sepertiku. Jika ada, tolong pertemukan aku dengan dirinya."


Dalam benaknya, Reinhard membayangkan Liliya yang sedang memandangi bulan, saat di pesta. Wajahnya yang bersinar di bawah terangnya bulan, tidaklah pantas rasanya jika wajah itu harus bersedih dan menghilangkan semua keceriaannya.


"Liliya, setelah lulus dari akademi ini aku berjanji akan membujuk ayahku dan bangsawan lainnya untuk mengakhiri perjanjiannya," ucap Reinhard penuh tekad.


"Tidak usah. Kau beresiko melawan keluargamu sendiri dan raja," tolak Liliya, meskipun raut wajahnya menginginkan hal yang berbeda.


"Itulah kenapa, aku harus menjadi kuat setelah kelulusan. Aku akan melakukan segala cara, bergabung dengan dewan atau ordo ksatria jika terpaksa"


Liliya tahu kalau ucapan Reinhard itu bukan sembaran janji. Matanya, suaranya dan tangan yang menggenggam itu kokoh, menunjukkan betapa serius ucapannya tersebut.


"Aku tahu kau sebenarnya orang yang baik. Dari dulu, aku tahu itu." Liliya yang awalnya menunduk, menatap balik ke Reinhard. Pipinya merah merona. "Kalau kau benar-benad ingin melakukannya, aku merasa senang, tapi setidaknya kau tidak boleh melakukannya sendirian. Kau bisa meminta bantuanku atau Ash."


"Baiklah." Reinhard melunak karena wajah memelas Liliya yang tampak lucu. Jika Liliya memiliki kekuatan pendengaran yang tajam, ia akan bisa mendengar bunyi dentuman jantung Reinhard yang liar.


"Omong-omong soal anak itu, apa pandanganmu mengenainya?" tanya Reinhard yang penasaran, membuka obrolan baru sebelum kelas dimulai.


"Ash itu orang yang penuh semangat. Terkadang aku bisa melihat kesamaan di antara kalian berdua, seperti tidak suka kalah dan akan melakukan apapun untuk menang. Dia juga orang yang pertama kali menyapaku sama sepertimu. Karena itu aku akan sangat senang jika kalian berdua akrab."


"Bagaimana jika dia masih membenciku dan tak bisa akrab denganku?"

__ADS_1


"Kalau begitu, kau harus minta maaf padanya atas semua kesalahan yang kau lakukan. Kau bisa minta maaf kepadaku, seharusnya kau bisa meminta maaf ke Ash."


"Kurasa itu akan sangat sulit."


__ADS_2