Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Stella [Danger!]


__ADS_3

Di rumah sakit Vivian sedang mengupas buah apel untuk Stella. Hari baru akan menjelang siang, Vivian duduk di sofa yang ada dalam ruangan dekat dengan jendela. Rumah sakit pusat penelitian feromon ini berada langsung di bawah pengawasan bibinya Anna.


Jaraknya juga tidak jauh dari tempat penelitian dan asrama sekolah, Vivian ditemani oleh Mario dan Nila di rumah sakit selama proses pemulihan Stella. Padahal Vivian sendiri sudah mengatakan agar mereka masuk kelas saja, tapi keduanya tetap ngotot untuk ada di dekatnya.


Padahal mungkin saja ini cuma akal-akalan mereka supaya bisa libur dari kelas dan bersantai di luar. Vivian memberikan sepiring apel yang sudah dia


kupas dan potong tadi kepada Stella.


“Kak, mau buah yang lain? Jeruk mungkin atau anggur?”


“Uh, ini sudah cukup. Aku mungkin tidak akan makan lagi nanti.”


“Tidak, kak kau harus makan. Kau butuh pemulihan agar cepat sembuh, dengan begitu kita bisa cepat pulang ke rumah...”


“Uhm, Baik-baik aku akan makan asalkan kau juga. kau terlalu memperhatikan aku dan tidak sadar kalau tubuhmu juga semakin kurus.”


“Aku tidak apa kak, tubuhku memang sudah kurus seperti ini, kakak yang harus banyak makan, dan konsumsi buah-buahan...”


Stella menggeleng, bukan tidak mau makan tapi karena ulah Vivian. Apa yang sudah dia lakukan di masa lalu, sehingga dia membuang banyak waktu yang manis dengan Vivian? Stella baru menyadari bahwa Vivian adalah gadis yang cerewet.


Di masa lalu Vivan dia begitu lemah dan membosankan, mungkin. karena Stella selalu mengganggunya, dia tidak menyangkah bahwa jika sudah lebih dekat dengan Vivian, itu akan mengasikkan. Jauh lebih asik dari pada bersama dengan teman-temannya yang selalu mengajaknya untuk berbelanja.


“,Kau juga harus memperhatikan kesehatanmu, sudah berapa lama kau tidak masuk sekolah?”


“Kak, aku sudah mengurus izin dan pihak sekolah menyetujuinya,”


“Apa kau bodoh? kau merepotkan dirimu sendiri tahu.”


Astaga, apa tidak ada yang memberitahu mereka tentang konsekuensi tidak masuk kelas? Stella menghabiskan satu setengah tahun di sekolah itu dan dia tahu pasti apa yang akan terjadi, kepala sekolah pernah menyebutkan peraturan itu saat penyambutan siswa baru.


Mereka yang tidak masuk sekolah dengan atau tanpa izin, akan di berikan kelas tambahan untuk mengejar ketertinggalannya. Diberikan tugas yang menumpuk dengan batas pengerjaannya yang hanya memesan waktu paling cepat sehari, paling lambat dua hari.


Vivian tidak membalas ucapan Stella, melainkan Vivian berkata untuk meminta Stella kembali beristirahat. Sementara dirinya pamit untuk keluar sebentar, mencari kedua temannya itu.

__ADS_1


Stella perlahan mulai memejamkan matanya, baru saja terlewat beberapa menit, pintu sudah di buka oleh seseorang, tidak ada suara sehingga membuat Stella ragu untuk membuka matanya.


Biasanya jika Vivian datang atau kakeknya yang datang, keduanya pasti akan selalu bicara, perawat juga seperti itu, mereka meminta izin untuk melakukan pemeriksaan pada dirinya. Namun yang sekarang, ini tampak berbeda.


Langkah kaki terus mendekat ke ranjangnya, dan suara wanita yang pernah dia panggil ibu terdengar di telinganya; “Apa kabar anakku, sayang...”


Ini, benar-benar ibunya...


Bagaimana ibunya bisa ada di rumah sakit?;Stella tahu sekali kalau Ibunya sudah mendekam di penjara, dan yang mengurus semuanya adalah Ayahnya. Bagaimana sekarang ada disini? Suasana yang mencekam di sekitarnya membuat Stella tidak berani untuk membuka matanya, dia berpura-pura untuk tidur saja.


“Ibu dengar kalau putri cantik Ibu, sudah menjadi Beta yah?!Hahaha... seorang Beta! Beta yang tidak berguna! Kenapa kau tidak menjadi Alpha saja? dengan begitu masih ada kesempatan untuk menguasai harta Alisher....”


“Kau sudah tidak berguna lagi, hahaha... membuang mu adalah jalan terbaik sekarang.”


“Sampaikan salam ku pada bibi tercintamu di alam sana...”


Mata Stella sontak terbuka, melotot marah pada Tania, apa tadi yang baru saja dia dengar? Ibunya sampai membahas mending bibinya, tidak mungkin! Dugaannya tidak mungkin benar.


“I-ibu...Kau...”


“Ibu! kau sudah gila! menjauh dariku... kau ! kau! kau monster!"


Plak!


“Berani kau tidak sopan pada Ibumu? Kau mau menjadi anak durhaka? Anak manis, tenang yah, Suntikan ini tidak akan sakit kok hahaha...” Tania menyentuh dagu Stella dengan keras, kukunya yang panjang menggores kulit Stella.


Tamparan di wajah Stella masih terasa dan sekarang rasa sakit di kulitnya juga bertambah, Ibunya benar-benar sudah gila! Tidak seharusnya di ampuni lagi, Stella merasakan rasa sakit di hatinya lagi dan lagi.


Di depannya sekarang adalah Ibu yang pernah memeluknya dengan pelukan yang hangat, kenapa tiba-tiba menjadi orang asing seperti ini? Mata Stella yang lemah memandangi Tania yang menyuntikkan sebuah cairan kedalam selang infusnya.


Tidak! aku tidak ingin mati, aku belum memulai kehidupan baruku dengan status yang baru! aku belum melakukan banyak hal untuk Vivian, aku sudah berjanji untuk menjadi anak yang baik!


Dengan sisa tenaganya Stella mencabut selang infus dari tangannya, Tania sudah pergi keluar tidak tahu menggila kemana, Stella tidak akan peduli padanya lagi, jika masih ada kesempatan untuknya Stella pasti akan mengejar kemanapun ibunya pergi dan memberikan hukuman yang setimpal.

__ADS_1


Vivian berlari di koridor rumah sakit, dia baru saja dari kafetaria. Mario dan Nila ada di belakangnya, perasaannya menjadi Gundam, tidak tenang meninggalkan Stella sendiri, rasa marahnya tiba-tiba muncul dan bunyi tanda bahaya yang menggelegar di lorong rumah sakit semakin memperparah dirinya.


Brakk!


“Jangan menghalangi jalanku, sialan!"


“Vi, tenanglah. apa yang terjadi padamu? apa yang sudah terjadi?”


“Segera cek kantor polisi pusat! cek apakah bibi sialan itu masih di penjara!”


“Hah? apa!”


“Lakukan saja, apa kau dengar!”


Mario tergigit nyeri kala melihat Vivian dalam mode marah, Vivian tiba-tiba saja bersikap seperti ini di kafetaria. Itu membuat mereka bingung, pada dasarnya saat Vivian makan, dia mengingat bahwa ketika Stella masuk penjara, Ibunya menjadi gila.


Sekarang yang mendekam di penjara adalah Ibu Stella, mungkin dia akan lebih gila dan melakukan sesuatu yang buruk pada keluarga, belum lagi Chihuahua terus meneriaki dia untuk segera kembali ke kamar Stella.


Sangat kebetulan ketika Vivian sudah berada di belokan terakhir, menuju ruang rawat Stella, tangannya.tiba-tiba di tarik oleh seseorang, dan tubuhnya di peluk dari belakang, dan lehernya di hirup lagi.


BUG!


“Sialan aku sedang buru-buru, sudah ku bilang jangan halangi jalanku!” Vivian berteriak tepat di depan wajah Kendra, dan membuat si dominan itu mematung. Vivian mengabaikannya dan langsung berlari menuju ruang rawat Stella.


BRAK!!!


“Kakak!!! Astaga! Panggil dokter sekarang sialan!” teriakan Vivian yang marah semakin membuat Mario linglung, Nila dengan cepat pergi memanggil perawat dan mencari dokter yang bertugas memeriksa Stella sejak awal.


Kendra masih diam, sambil berpikir apa yang baru saja terjadi? Feromonnya tidak berpengaruh pada Alpha Wanita yang pernah marah?


Itu menyeramkan!


...°°°...

__ADS_1


...Terima kasih sudah membaca dan juga untuk dukungan kalian...


...Mohon maaf apabila masih menemukan banyak typo yang bertebaran...


__ADS_2