Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Liburan


__ADS_3

Vivian duduk di samping Kesya, lokasi mereka tepat di bagian belakang, dekat dengan kolam ikan milik Tuan tua. Ini adalah tempat favorit Tuan tua, katanya mendiang istrinya sangat menyukai ikan koi, jadi semasa hidupnya nenek Vivian akan selalu menghabiskan waktunya disini untuk menatap ikan-ikan tersebut.


Vivian merasa bahwa tempat ini menyimpan banyak kenangan untuk Tuan tua, sehingga sejak kepergian istrinya, Tuan tua menggantikannya untuk melihat ikan koi yang terus berenang ke sana kemari.


Dalam aturan *Feng Shui, ikan koi dikatakan sebagai unsur yang paling membawa keberuntungan. Ikan koi melambangkan kekayaan, hubungan yang bahagia dan nasib baik. Sedangkan di negeri Sakura, ikan koi dipercaya sebagai salah satu simbol cinta dan persahabatan.


^^^Feng Shui/Fengsui (風水),風 (Feng) artinya Angin dan 水 (Shui) artinya Air merupakan sistem cina kuno berupa ilmu topografi kuno dari Cina yang mempercayai bagaimana manusia dan surga (astronomi), serta bumi (geografi) dapat hidup dalam harmoni untuk membantu memperbaiki kehidupan. ^^^


Ikan koi adalah ikan yang lemah lembut dan jinak. Tidak ada pemimpin di dalam kelompok koi, dan tidak ada seekor pejantan kasar yang mengganggu koi betina, tidak ada penghuni lama yang akan menggertak penghuni baru.


Vivian merasakan karena hal inilah kehidupan keluarga kakek dan neneknya begitu harmonis, dan selalu mendapatkan keberuntungan, awalnya Vivian tidak terlalu memeorcayai ada hal seperti ini, tetapi berpikir dia saja masuk kedalam buku, bisa saja apa yang dia dengarkan di dunia aslinya juga benar.


Vivian memeluk Kesya yang masih menangis, kemudian dia mendengar Kesya berkata; “Aku benar-benar pecundang kan? Aku tidak memiliki keberanian untuk jujur padanya.”


Bagaimana bisa dia tidak tahu perasaanku? Dia selalu menjadi alasan Stella menggertak dirimu pikirnya. Kemudian Vivian berkata; “Jangan sedih, itu pasti hanya akal-akalan Stella. Kendra tidak mungkin mau bersama dengannya, sangat tidak cocok.”


“Tapi tadi, dia...”


“Kau tau kakakku? Dia orang yang mudah penasaran dan sampai rasa penasarannya hilang dia tidak akan berhenti membahasnya.”


“Tapi tadi, kau..."


“Aku dan dia tidak ada apa-apa, sekalipun di masa depan aku tertarik pada Alpha, itu pasti bukan dia. Lagi pula dia bukan tipe pria idamanku.”


Kesya mengangguk, kemudian Vivian yang merasa bahwa Kesya sudah merasa lebih baik, menceritakan sebuah kebohongan tentang bagaimana kakak sepupu laki-lakinya sangat protektif padanya. 


Dalam buku aslinya Farel memang lebih memperhatikan Vivian dari pada Stella karena selain Vivian adalah yang paling muda, kondisi kesehatannya juga buruk sejak kecil, dan juga Vivian tidak pernah di perhatikan dengan baik.


“Jadi begitulah, kakak selalu memperhatikan aku dan membaut Stella selalu cemburu.”

__ADS_1


“Kau sangat beruntung, Vian. Kau memiliki keluarga yang lengkap dan juga memperhatikan mu.”


“Iya, aku tahu. Tapi meskipun aku di perhatikan, aku tidak pernah ingin memanfaatkannya. Itu milik kakek, dan ayahku.”


Vivian memandangi langit malam, terlihat bintang membentuk beberapa rasi. Sangat indah, pantulan bulan terlihat jelas di tengah-tengah kolam ikan, sehingga membuat Vivian tidak bisa menahan senyumnya.


Vivian menyadari bahwa Kesya sedang memandangi sepasang koi yang sedang bersama-sama saling memutari, meskipun dia tidak tahu membedakannya.


“Apa kau menyukai ikan koi?” Kesya bertanya, matanya berbinar dan bibirnya tersenyum.


“Ya, aku suka mereka. Kolam ini adalah milik kakekku, ah tidak. Sebenarnya ini adalah milik mendiang nenekku.”


“Aku pernah mendengar beberapa mitos tentang Ikan ini, katanya kita bisa mendapatkan hubungan bahagia.”


“Mengapa kau tidak mencobanya saja? Merawat mereka begitu mudah kok, kau tidak akan kerepotan.”


“Aku ingin, tetapi aku tidak punya waktu. Aku harus bekerja.”


“Ada apa? Sepertinya aku harus menjaga ibuku di sungai sakit.”


“Aku punya empat tiket liburan, jadi apa kau mau ikut denganku untuk bersantai sejenak? Hanya lima hari saja, kok.”


Kesya memikirkan ini sehingga Vivian menjelaskan semuanya, terutama tentang perawatan yang akan di tugaskan untuk menjaga ibu Kesya. Jadi setelah hening sebentar, Kesya akhirnya mengangguk untuk setuju.


Keesokan harinya Vivian dan teman-temannya berangkat untuk liburan selama satu Minggu di kota Gold, kota ini adalah salah satu kota terbesar di negara Black, penduduknya juga padat.


Yang membuat kota ini istimewa karena berada di dekat pantai dan juga pegunungan, dimana sangat pas untuk mendaki. Pemandangannya juga terlihat sangat indah. Perjalanan mereka memakan waktu hampir empat jam melalui jalur darat.


“Apakah kalian sudah pernah ke sana? Bagaimana tempatnya? Apakah sangat indah? Aku dengar itu sangat keren,” Mario membuka pembicaraan di dalam mobil, sambil menyetir.

__ADS_1


“Aku...aku pernah, dulu saat ayah masih ada, ayah selalu mengajak kami berlibur ke kota itu,” Kesya menjawab, senyumnya tidak hilang sejak semalam.


Betapa senangnya dia ketika tahu Vivian mengajaknya liburan ke kota Gold. Kota itu menyimpan banyak kenangan baginya, bersama dengan sang ayah, bisa di bilang kota Gold adalah tempat favoritnya.


“Wah, aku semakin tidak sabar untuk tiba di sana, benarkan Chihuahua?” Nila juga merasa sangat senang, karena akhirnya bisa liburan juga.


“Mengapa kau selalu mengajak si bulu kecil pendek ini bicara?” Mario melirik dari kaca kecil dalam mobil.


Nila mendengus dan berkata; “Memangnya ada masalah apa? Dia pasti mengerti apa yang aku katakan, benarkan Chihuahua?”


Guk...


“Lihat, dia menggonggong setuju,” Nila mengangkat Chihuahua dan mengarah pada kaca di dalam mobil, agar Mario dapat melihatnya.


Chihuahua kembali mengonggong lagi; [Tuan rumah, tolong aku. Karakter ini akan membunuh aku sekarang.]


“Dia tidak akan melakukannya, dia sangat suka anak anjing.”


[Tapi, Tuan. Aku sangat sulit untuk bernapas.]


Vivian menggelengkan kepalanya karena melihat tingkah Chihuahua, yang tidak bisa melakukan apa-apa. Memang Nila begitu menyukainya, sejak Vivian membeli Chihuahua, Nila yang paling sering memberikan dia makan, atau memandikannya.


“Hei, Nila. Aku rasa kau harus menurunkan dia, sepertinya Chihuahua sudah kesulitan bernapas.”


“Eh, Oh... Astaga, maafkan aku, bulu kecil pendek.”


Vivian kemudian melihat pemandangan di luar kaca mobil, mereka melewati persawahan, dengan pegunungan di depan matanya yang sepertinya mengelilingi mereka. Belum lagi Aroma udara yang menyegarkan dan langit biru yang cerah.


Inilah hidup, pikir Vivian. Tidak ada misi, tidak ada sekolah, tidak ada pelatihan feromon, dan tidak ada antagonis. Vivian merasa seperti kembali pada dunia aslinya, Ketika mereka tiba di penginapan yang sudah di atur oleh Tuan tua, mereka langsung melapor.

__ADS_1


Kemudian masuk ke dalam kamar masing-masing, Vivian bersama dengan kedua teman perempuannya dan juga Chihuahua di kamar yang besar, sementara Mario di samping kamar mereka.


__ADS_2