
Setelah menginjak kaki Kendra dengan tidak elitnya, Vivian langsung pergi meninggalkan Kendra yang masih di koridor sekolah. Malu tahu, jadi bahan perhatian pelajar sekolah.
Kendra itu gak ada mikir yah, udah tahu mereka sesama Alpha tapi malah nempel terus sama Vivian, Vivian merasa terganggu dengan pandangan pelajar padanya.
Iya dia tahu pasti kalau Keluarganya terkenal dengan pernikahan sesama Alpha, dia bisa mewajarkan penilaian orang padanya, tapi untuk Kendra, Vivian tidak bisa mengungkapkannya.
Keluarga Kendra adalah keluarga yang normal, nikahnya sama Omega, Vivian tahu ini pasti akan membawa masalah besar suatu hari nanti. Vivian berpikir bahwa dunia ini pasti masih memandang kelas sosial, meksipun Leonard dan Alisher setara tapi hubungan kedua kakek tua itu tidak baik.
Pasti akan sulit untuk mendapatkan restu dari keduanya. Yah, Vivian juga tidak berharap banyak, apa lagi berharap kalau emang bakalan bareng sama Kendra. Bagaimanapun juga bukan Vivian yang menjadi tokoh utamanya.
Dia sadar kalau dia cuma figuran yang suatu saat nanti pasti akan menghilang. Vivian juga masih tidak lupa dari masa dia berasal, dunia ini cuma dunia khayalan penulis, dan kebetulan saja Vivian ikut berkontribusi.
“Pada kenapa sih?” Vivian tanya sama dirinya sendiri ketika tiba di kelas dan minat teman sekelasnya pada mandangin dia.
“Omega tadi nyariin kamu Vi." Seorang Alpha laki-laki teman sekelasnya bicara.
“Sekarang dia dimana?"
“Taman belakang sekolah, katanya ada hal penting yang harus kalian omongin.”
Ini pasti tentang coklat itu, Kendra sialan! Vivian berteriak dalam diamnya. Omega yang menitip tadi pasti sudah menemukan kalau coklatnya udah ada di tong sampah.
Menyebalkan! Dengan malas, Vivian pergi menuju ke taman belakang sekolah. Ketika dia tiba disana, Omega tersebut sudah duduk di kursi. Vivian menghampirinya, dan ikut duduk di sampingnya.
“Maaf, tentang coklat mu. Bukan aku yang membuangnya," ucap Vivian, diam-diam dia melirik omega tersebut.
“Aku tahu, itu ulah Kendra kan?” suara lembut Omega wanita itu terdengar di telinga Vivian.
“Kau melihatnya?”
Omega itu mengangguk sehingga Vivian kemudian menghela napasnya dengan berat. Omega perempuan itu, memandangi langit yang cerah. Angin berhembus disana, dan aroma feromon milik omega tersebut sedikit dapat tercium di hidungnya.
Leci! Aromanya mirip milik feromon baru Dean tapi yang ini lebih pekat dan manis. Vivian menatapnya dan bertanya; “Kau baik-baik saja kan? Feromon milikmu tercium olehku.”
Omega perempuan. itu tampak terkejut dari lamunannya sehingga dia mencoba untuk mengendalikan feromonnya, setelah itu dia minta maaf pada Vivian karena membuatnya tidak nyaman.
“Maaf, aku tidak menyadarinya.”
__ADS_1
“Tidak masalah, aku sudah bisa bertahan dari feromon Omega. Oh, iya boleh aku tahu bagaimana kau bisa mengenal Rio?”
“Aku, aku tidak sengaja melihatnya saat mengantar Stella lalu aku bertemu lagi dengannya pada awal tahun.”
Awal tahun, apakah itu saat sebelum kebenaran Stella terungkap? Hanya saat itu dia jarang bertemu dengan Mario dan Nial, karena Tuan tua memintanya untuk tinggal di rumah besar.
“Sebelum perasaanmu semakin dalam, lebih baik kau ketahui satu hal dari ku. Mario memiliki sedikit masalah untuk mencium feromon omega...”
“Kau teman sekelas Stella kan? Siapa namamu?” lanjut Vivian.
“Aku Mery,” setelah mengatakan namanya, omega itu senyum lagi.
Vivian melihat Omega tersebut lalu menilai karakternya cukup sopan dan juga Vivian rasa anak ini baik, kulitnya putih dan penampilannya sama seperti Omega kebanyakan, kulitnya halus, bibir mereka merah, suaranya lembut..
“Baiklah Mery, apakah kau masih akan tetap memantapkan perasaanmu pada Rio?”
“Apakah ada masalah lain? aku bisa berada disisinya itu sudah sangat baik."
“Bagaimana jika aku katakan sudah ada seseorang di sisinya? apa kau akan percaya?”
”Seorang Omega?”.
“Alpha dan Beta tidak mungkin bisa bersama.”
“Dia berferomon.”
Mery; "..."
Cukup lama setelah Vivian mengatakannya, Mery belum memberikan responnya. Gadis itu kembali menghayal lagi, memikirkan tentang omongan Vivian, seorang Beta berferomon dia baru pertama kali mendengarnya.
Tapi sepanjang dia hidup Mery sudah mendengar Alpha bersama dengan Alpha tapi tidak pernah mendengar Alpha bersama dengan Beta. Jadi menurutnya ini adalah hal yang tidak mungkin.
“Aku akan tetap melakukannya,” Mery berucap setelah memantapkan pikirannya.
“Kalau begitu, aku tidak akan menghalangi dirimu, tapi ingat gunakan jalan yang benar. Jangan sentuh Nila, karena dia punya posisi tersendiri untuk Mario.”
“Aku mengerti, aku akan melakukan yang terbaik. Rio berhak memilih ingin bersama dengan siapa.”
__ADS_1
“Siapa yang memilih untuk bersama siapa!”
Mereka berdua tertegun ketika tiba-tiba suara dari belakang mereka terdengar. Mery dengan tubuhnya yang gemetar, langsung berdiri dan pamit untuk pergi meninggalkan Vivian.
Berada di antara dua alpha, siapa yang mau cari mati? Vivian yang melihat dia di tinggal kemudian mendengus kesal. Baru saja dia merasa nyaman karena tidak melihat Kendra, tapi Alpha dominan itu justru bisa terus menemukan dirinya.
“Apa yang kau lakukan disini?” Vivian. bertanya masih dengan wajah kesal.
“Kau belum jawab pertanyaan ku. Siapa yang bebas memilih siapa?” Kendra masih berdiri di belakang kursi tempat Vivian duduk.
“Setiap orang berhak untuk memilih ingin bersama dengan siapa.”
“Tidak semuanya seperti itu, buktinya kau tidak memiliki hak untuk memilih.”
“Kenapa aku tidak?Aku seorang Alpha.”
“Itu tidak berlaku untukmu, kau sudah ada yang punya,” bisikan lembut di samping telinga Vivian membuatnya mematung.
CUP!
Serangan tiba-tiba dari Delima Kendra mendarat di permukaan pipi Vivian, sehingga membuat gadis itu melotot karena terkejut, ini Kedua kalinya Vivian di serang, pertama di dahinya sekarang di Pipinya.
Membuat Vivian tidak bisa melupakan kejadian itu saja. padahal kan sudah lewat berhari-hari, Sial memang. Dan sekarang Kendra meninggalkan kenangan di pipi kanannya. Bagaimana Vivian bisa tidur nanti malam! Pasti gak akan bisa, menambah pikirannya saja.
CUP!
“Eh, sial! apa-apaan itu tadi? siapa yang memberimu hak untuk menyentuh wajahku!” Vivian mau berdiri segera mungkin dan kabur dari Kendra tapi bahunya sudah ditahan lebih dulu.
“Jauh-jauh gak kau dari wajahku! gerah tahu.”
“Semakin kamu minta aku buat jauh, semakin aku akan mendekat,” Kendra meletakkan kepalanya di bahu kanan Vivian.
Vivian mendengus, bahunya terasa berat karena kepala Kendra. Dia menutup matanya, melawan Kendra mungkin akan memuat Vivian semakin resah saja. rencananya bahkan belum ada kemajuan Samapi sekarang. Semuanya terhambat karena ulah si dominan ini.
“Aku suka aroma kamu,” Kendra menoleh sehingga hidungnya nyentuh area rahang Vivian, dia nangkap wangi lain dari rambut Vivian.
Mendengar itu Vivian hanya diam, tidak memberikan respon apapun lagi, gak ada gunanya juga kan dia tetap akan kalah melawan si dominan.
__ADS_1
“Sangat wangi."
“Sabar Vi, sabar...biarkan saja dia jangan memberi dia terlalu banyak respon.”