
Suatu pagi, di rumah Keluarga Alisher Vivian bangun dengan malas. Sudah hampir satu Minggu Vivian tinggal di rumah utama, Tuan tua melarangnya untuk kembali ke Apartemen, katanya Vivian masih harus istirahat. Padahal dia sudah sejak lama membaik, itu membuat Vivian sampai berpikir kalau Tuan tua tidak mau jika sampai rumah sepi tanpa cucunya.
Stella sudah berada di asrama dan sekarang hanya Vivian yang tersisa, Farel tinggal di rumah orangtuanya. Sesekali akan datang, jika Farel tidak melaku kan apapun, atau merasa bosan karena tidak ada kawan.
Vivian keluar kamar setelah dia rapi, menuruni tangga hingga ke lantai pertama dan menuju ke ruang makan, meminum susu dan makan roti. Tuan tua dan Ayahnya ada disana, sedang sarapan juga.
“Ayo habiskan sarapan mu, lalu kita pergi,” Vivian melirik Tuan tua dan mengenyit.
“Kau bosan di rumahkan, Ayo ikut dengan Ayah dan kakek mu.”
“Kemana kita akan pergi?”
“Mengecek restoran milikmu.”
Dengan begitu Vivian langsung menghabiskan sarapannya, kemudian mengikuti keduanya ke daerah restoran Vivian. Letak restoran Vivian berada di tempat yang cukup strategis, masyarakat suka berlalu-lalang.
Pada saat mereka tiba disana, Vivian di kejutkan dengan restoran miliknya, ini bukan lagi Rumah makan, ini sangat luas dan besar. Vivian langsung berpikir bahwa Keluarganya begitu sangat kaya dan berulang.
Pada saat mereka masuk kedalam, Vivian kembali di kejutkan dengan teman-temannya yang sedang mengurus Restoran. Ada Farel dan bahkan Kesya dan Liam juga turut hadir, Kendra juga tidak tertinggal.
“Kau sudah datang?” Farel datang menghampirinya dan memeluknya.
“Bagaimana menurutmu dengan dekorasi ruangannya?” Farel bertanya lagi.
Vivian hanya memperhatikan dan kemudian berkata; “Bagus tampak klasik dan juga elegan.”
“Aku yang menentukannya,”
Vivian mengangguk dan duduk, Tuan tua dan Ayahnya masuk kedalam sebuah ruangan. Ayahnya sedang tidak memiliki banyak pekerjaan di kantor, sehingga ikut menemani mereka ke restoran.
Farel lalu mengatakan apa yang dia tahu tentang teman-temannya, ternyata Kesya ada di sini karena ayahnya meminta dia melakukan pekerjaan paruh waktu, setelah mengetahui tentang kondisi Kesya.
Jadi ayahnya berniat untuk membantu Kesya, kasihan gadis ini, Ibunya masih di rumah sakit dan dia harus banting tulang, Ayah Kesya sudah pergi dan Kesya sendiri masih seorang pelajar.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” Nila ikut bergabung dengan Vivian, dia membawa Chihuahua juga.
__ADS_1
Pada hari kedatangan mereka ke rumah utama, Vivian meminta Nila untuk membawa Chihuahua ikut bersamanya ke Apartemen. Nila membawanya, karena berpikir mungkin saja anak anjing itu sudah bosan di rumah utama.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” Nila bertanya dan meletakkan Chihuahua di atas meja. Meski Tuan tua mengatakan bahwa Restorannya sudah akan mulai beroperasi, nyatanya mereka masih harus memperhatikan banyak hal.
Terutama Kebersihan, dan suasana di dalam Restoran. Vivian belum juga menentukan daftar makanan dan minuman yang akan dia sajikan, dia lupa dan tidak ada yang mengabarinya lebih dulu kalau hari ini mereka akan ke Resto.
“Aku memikirkan bagaimana aku akan mengatur waktu kedepannya,” jawab Vivian.
“Mengapa harus di pikirkan? Bukankah pelatihan feromon mu sebentar lagi sudah akan berakhir? Kau bisa mengurus restoran pada akhir pekan. Seharusnya kelas kami biasanya pulang lebih cepat, aku akan singgah di sini untuk membantumu mengawasinya. Pada jam sekolah, kau bisa datang setelah kelas selesai.”
“Tapi jika seperti itu, siapa yang akan mengurus Chihuahua?”
“Titip dia di toko hewan peliharaan, atau bawa dia ke rumah utama,” Mario datang membawa minuman.
“Cobalah, bagaimana rasanya?” tanyanya lagi.
“Kau membuatnya?” Vivian melihat segelas minuman di atas meja dan melirik ke Mario.
“Tentu saja,” Mario dengan semangat berbicara.
Vivian mencobanya dan mengernyit, ada susu, teh, tapi juga rasa lemon. Heh, rasanya sama seperti Ice Lemon milk tea di dunia aslinya, tidak buruk juga. Bisa dia tambahkan kedalam list miliknya.
Bukankah seharusnya wajahnya tampak jelek karena ini? Jika kedekatan mereka sudah meningkat, seharusnya Kendra mendominasi di antara mereka dan tidak membiarkan keduanya mengobrol.
“Ada apa ini?” Vivian melirik Chihuahua dan bertanya.
[Tuan apa yang kau pikirkan?]
“Tidakkah kau melihat, ada yang salah dengan karakter utama laki-laki?”
[Maaf tuan rumah, saya tidak bisa menjangkau pikiran Protagonis pria.]
Heh? Apa kau memang sistem sialan yang tak sengaja menjadi patner ku? Kau mungkin sistem yang seharusnya di perbaiki. Baru saja Vivian berpikir seperti itu, dia lalu di kejutkan dengan Kendra yang berdiri di sampingnya, dan langsung meminum minumannya.
“Rasanya menyegarkan. Apa kau yang membuatnya, ini enak. Aku suka.”
__ADS_1
Enak apa! Kenapa kau tidak punya sopan santun? Aku sudah menggunakan gelas itu. Mata Vivian melotot pada Kendra, sementara yang di tatap hanya mengernyit. Kendra tertawa dalam hatinya melihat respon Vivian.
Itu tampak imut.
Sehingga Kendra berkata; “Apa yang kau lihat? Apakah kau sudah menyadari bahwa aku tampan?”
Pluk
Ketukan.kersd di atas kepala Kendra, sehingga membuat Kendra sedikit meringis, siapa yang sudah berani melakukan itu pada seorang Alpha dominan sepertinya? Kendra melihat Farel berdiri di belakangnya, dan mendengar Farel berkata; “Apakah Omega di luar sana sudah habis, sehingga kau mulai mencoba menggoda adikku?”
“Hei, apa salahnya itu? Dia juga seorang gadis.”
“Dia alpha, kau seharusnya menggoda Omega. Kau tidak mungkin mengalami kondisi istimewa kan?”
“Kak, dia tidak mungkin. Bagaimana bisa seorang Alpha dominan mengalami itu?” Vivian tiba-tiba berbicara, setelah tersadar.
“Kenapa dia tidak bisa?”
“Kak, apa kau lupa kalau keluarga Leonard hanya menerima Omega sebagai menantunya? Aku Alpha, sekalipun aku nantinya tertarik pada Alpha juga, itu pasti bukan Kendra. Kakek juga tidak akan mengizinkannya.”
“Tapi...”
“Percaya padaku kak, Kendra masih menyukai Omega.”
Tidak, aku mungkin memang sudah mengalami kelainan istimewa. Kau sudah menarik perhatianku, rasa masakan mu, aroma kayu manis dan Citrus milikmu, mata bunga persik indah mu, dan juga buah delima merah milikmu.
Semuanya seperti candu untukku, setiap malam selalu terbayang sehingga membuat aku sulit untuk tidur. Senyum dan juga tawamu, selalu terdengar di telingaku. Namun mendengar apa yang kau katakan hari ini, itu pasti akan menjadi kesulitan ku di masa depan nanti.
Terima kasih, sudah mengingatkan aku bahwa hubungan kedua pak tua itu harus aku permak lebih dulu, agar mereka tidak menjadi penghalang untukku mengikatmu di sisiku. Kendra berhenti berpikir kemudian dia melihat Farel dan tertawa, memukul pundaknya lalu berkata; “Aku hanya bercanda, jadi jangan terlalu di pikirkan.”
...•••...
...Gimana Alurnya masih aman kan? ...
...kalau dah agak rasa gak nyambung ingetin aku yah, lagi sibuk banget sampai lupa buat ngetik dan ngecek kerangka saya. ...
__ADS_1
...Dan maaf jika menemukan Typo di banyak tempat dalam bab, saya terkadang lupa untuk memeriksanya lagi. ...
...Terima kasih atas dukungannya Teman-teman...