Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Pusat perbelanjaan


__ADS_3

Di Apartemen, Vivian sedang sibuk bergulat dengan buku pelajarannya. Jujur saja jika tentang matematika dan kawan-kawan favorit anak IPA, dia mungkin saja masih bisa tenang.


Tetapi, berbeda jika itu adalah pelajaran sejarah apa lagi tentang sejarah berdirinya kota Silver, dia adalah menjelajah dimensi bagaimana dia bisa tahu tentang hal ini. Mungkin pada awal masuk sekolah, Vivian masih bisa mengikuti karena itu bab baru, itu pun yang di bahas hanya tentang penemuan bersejarah.


Siang tadi Kendra berkata; “Untuk memahami lebih lanjut, kau harus mulai hari sejarah kota Silver, dan bagaimana virus ABO berkembang. kau tidak lupa kan? Itu pelajaran di sekolah dasar.”


Sekolah dasar apa? Ketika dia pertama kali datang ke dunia ini, dia sudah langsung menjadi anak sekolah Menengah Atas. Bagaimana dia bisa tahu tentang,  pelajaran sejarah anak sekolah dasar di kota Silver.


Yang benar saja!


Ini bukan seperti sejarah kota Makassar, yang di ketahui berada di muara Sungai Tallo dengan pelabuhan niaga kecil di wilayah itu sekitar penghujung abad ke 15. Dengan Sumber Portugis yang  menyebarkan berita , bahwa bandar Tallo itu pada awalnya berada di bawah Kerajaan Siang di sekitar Pangkajene.


Lalu pada pertengahan abad ke 16, Tallo bersatu dengan sebuah kerajaan kecil lainnya yang bernama Gowa, dan mulai melepaskan diri dari kerajaan Siang, bahkan menyerang dan menaklukkan kerajaan-kerajaan sekitarnya.


Atau seperti sejarah rumah adat Tongkonan dimana atapnya berbentuk seperti perahu sehingga selalu mengingatkan masyarakat bahwa leluhur orang Toraja menggunakan perahu untuk sampai di Sulawesi. 


Dikatakan bahwa asal usul Suku Toraja berasal dari Teluk Tonkin yang terletak di antara Vietnam Utara dan Cina Selatan. Yang pada awalnya, di katakan pula bahwa imigran asal Teluk Tonkin ini tinggal di wilayah pantai yang ada di Sulawesi. Namun karena suatu hal, mereka lebih memilih pindah ke dataran tinggi yang sampai saat ini masih didiami oleh Suku Toraja.


Ketika Vivian sedang sibuk untuk memahami sejarah kota Silver dan bagaimana virus ABO menyebar, suara gonggongan Chihuahua yang nyaring membuat Vivian menghentikan kegiatannya.


Tidak lama, kepala kecil Chihuahua masuk kedalam ruang kamarnya, sehingga dengan sedikit kesal dan kepala yang penting, Vivian mendengar Chihuahua berkata; [Tuan rumah!, Tuan Rumah! Gawat! Anda baru saja kehilangan 20 poin, misi hubungan keluarga. Total poin untuk sekarang 65]


Vivian melongo sampai kedua matanya membulat sempurna,“Apa katamu!? Kehilangan poin sebanyak itu? Jangan bercanda padaku!”

__ADS_1


[Tuan aku tidak berbohong. Sistem telah mendeteksi bahwa Antagonis wanita kembali membenci anda.]


Bagaimana ini bisa terjadi? Ketika mereka terakhir kali bertemu saat tamparan di rumah sakit itu, hubungan mereka masih baik-baik saja. Bagaimana bisa, tanpa adanya badai yang menerpa Stella bisa mengurangi poin keluarga sebanyak 20 poin.


Sangat tidak masuk di akalnya. Kemudian, Vivian menutup buku bacaannya. Mengangkat Chihuahua dan keluar dari kamar, untuk menemukan Mario dan Nila. Seharusnya keduanya juga berada di kamar berdiam diri dengan setumpuk buku.


Vivian mengetuk pintu mereka, kemudian tidak lama keduanya keluar. Mereka duduk di ruang santai tepat depan televisi. Mario memperhatikan Chihuahua, dan berkata; “Ada apa? Apakah ada pelajaran yang tidak kau mengerti?”


Vivian ingin mengatakan tentang materi sejarah kota Silver, tetapi dia urungkan lalu kemudian Vivian berkata, “Aku merasa bosan, bagaimana jika kita mengunjungi rumah utama?”


Nila dan Mario saling menoleh dan memandang, alis mereka mengerut lalu kembali menatap Vivian, bersama-sama mereka berdua berkata, “Tidak boleh!”


“Mengapa? Kita biasanya juga melakukan ini kok, aku hanya berkunjung sebentar lalu kembali belajar.”


“Kau benar, tetapi aku merasa sedikit bosan setelah berhari-hari hanya menghabiskan waktu dengan buku-buku itu. Jadi tidak bisakah kita pergi?”


Nila berpikir sebentar, kemudian dia berkata; “Baiklah, Ayo pergi... Tetapi kita tidak akan ke rumah utama.”


Vivian melihatnya kemudian di cemberut. Tujuannya hanya untuk memeriksa apa yang terjadi pada Stella, sehingga poin misi keluarga bisa berkurang banyak. Ini sudah yang kesekian kalinya dalam beberapa hari ini, Vivian mendapatkan penolakan untuk mengunjungi rumah utama.


Kakeknya memang berkata bahwa mereka harus mempersiapkan diri untuk ujian, tetapi dia tidak pernah berpikir bahwa hanya karena alasan ini, Vivian tidak bisa mengunjungi rumah utama.


Vivian menatap curiga pada kedua temannya, mungkinkah keduanya sedang mendapat perintah untuk mengawasi belajar Vivian. Jadi karena itulah, temannya selalu menolak permintaannya.

__ADS_1


Vivian kemudian mengangguk, setelah selesai bersiap Mario membawa keduanya ke pusat perbelanjaan kota Silver, mereka memasuki gedung tinggi itu lalu mulai berkeliling.


“Apa ada yang kau inginkan, Vian?” Mario bertanya, kemudian memperhatikan sekitar. Mereka sedang berad di lantai dua, lokasi untuk toko pakaian.


Vivian memikirkan ini, jujur saja berbelanja itu bukan kebiasaan dia, terutama jika belanjanya di tempat mewah seperti ini.  Harganya mahal, jika itu di dunia aslinya Vivian pasti akan menemukan brosur dengan promo besar-besaran, beli tiga pasang hanya seharga seratus ribu.


“Aku masih tidak memiliki pilihan, bagaimana jika mencari barang kalian dulu, sambil aku berpikir dahulu.”


“Tapi kami juga tidak memiliki sesuatu untuk di cari, jadi apa yang akan kita lakukan disini?”


“Bagaimana jika kita makan ice saja? Aku melihat dari iklan bahwa mall ini sedang memiliki promo besar-besaran untuk tiga kotak ice cream.”


Baiklah, mereka pada akhirnya mengikuti saran Mario, dan pergi ke lantai pertama. Sementara itu pada lokasi yang berbeda, di gedung yang sama nampak Stella  seperti sedang mengomel dalam batinnya, sambil melihat ke deretan perhiasan di depan matanya.


Mengapa Ayahnya harus mengingatkan dia tentang kado ulang tahun Vivian? Merepotkan dirinya saja, padahal Stella ke luar hanya untuk membuat perasaannya menjadi lebih baik, setelah matanya perih melihat dekorasi ulang tahun di rumah.


Stella kemudian melirik temannya sekilas lalu bertanya pada kedua temannya tersebut; “Hei, menurut kalian apa yang cocok dengan gadis itu?”


“Mengapa kau harus repot-repot memikirkan ini? Kau bisa membeli yang imitasi saja,” Salah satu Omega itu menjawab, sambil membandingkan merek perhiasan di depan matanya.


“Apa kau pikir aku bisa melakukan itu? Ayahku pasti akan memeriksa barang yang ku beli nanti.”


Teman Omeganya yang lain, ikut memberi saran padanya; “Belikan saja dia satu paket perhiasan, atau kau bisa memberikan perhiasan bekas mu saja. Ayahmu tidak mungkin mengingat barang belanjaannya kan?”

__ADS_1


“Kau benar, aku seharusnya memikirkan ini sejak tadi,” Stella kemudian memilih sekotak perhiasan keluaran terbaru,  untuk dirinya sendiri.


__ADS_2