Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Vivian [Waktu santai]


__ADS_3

Sehari setelah masalah keluarga di selesaikan, Tuan tua mengurus kepindahan Stella ke Akademi Bertaraf Militer. Menyelesaikannya dalam waktu satu hari, dan keberangkatan Stella akan terjadi dua hari setelahnya. Sangat kebetulan, dalam masa libur sehingga tidak akan menganggu pelajaran Stella.


Stella akan di kirim lebih awal satu Minggu sebelum sekolah kembali di mulai, supaya dia bisa menyesuaikan diri lebih dulu. Berat memang, apa lagi ini pertama kalinya Stella akan tinggal di asrama Akademi, yang jauh dari rumah utama.


Letak akademi itu sendiri berada di dekat tempat penelitian dan pelatihan feromon serta rumah sakit. Sengaja di tata seperti itu, untuk mencegah kalau-kalau terjadi sesuatu yang buruk, seperti feromon yang tidak terkendali.


Tuan tua memeriksa kelengkapan dokumen milik Stella yang sebelumnya sudah dia kirim melalui email ke seorang kenalannya yang bertanggungjawab di Akademi Bertaraf Militer.


Pintu ruang kerja di ketuk oleh seseorang, Tuan tua mempersilahkannya untuk masuk. Stella mendekat ke meja kerja Tuan tua, lalu duduk dan menunggu Tuan tua berbicara.


Stella tahu pembahasan mereka pasti tidak jauh dari Akademi Bertaraf Militer, Stella mengetahui bahwa sejak kemarin kakeknya sudah mulai mengurus semuanya.


“Bagaimana perasaanmu?” Tuan tua bertanya, karena sejak kemarin Stella lebih banyak diam dan enggan untuk berbicara.


Stella linglung, jika bertanya tentang perasaannya bagaimana dia akan mengatakannya? Menyesal karena bertingkah Bodoh sehingga Ibunya bisa dengan bebas memanipulasi otaknya untuk mengganggu Vivian.


Atau lega, karena dia akhirnya sudah lepas dari Ibunya? Tidak bisa di bayangkan selama 13 tahun lamanya, dia hidup dalam skenario Ibunya sendiri. Bahkan membuatnya terobsesi pada Kendra.


Ah, bagaimana mengatakannya yah? Perasaannya pada Kendra, sebelum hari kemarin dan hari ini itu tidak bisa dia ungkapkan. Perasaanya pada Kendra menjadi campur aduk, ada kasih sayang tapi Stella rasa itu bukan cinta. Tetapi sebelumnya Kendra adalah mimpinya, dan juga tujuannya.


“Aku baik, Kakek,” ucapnya.


“Kakek tidak bermaksud ingin mengatur hidup mu, tapi tindakanmu juga salah meskipun Ibumu yang mengaturnya.”


“Aku tahu kakek, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi, aku sudah berjanji.”


“Kakek tahu, tapi kau akan tetap kakek kirim ke Akademi.”


“Aku mengerti kakek, aku akan pergi ke sana dan menyelesaikan pendidikan ku.”


“Oh, itu bagus.”

__ADS_1


Setelah selesai berbicara dengan Tuan tua, Stella pamit untuk kembali ke kamarnya, matanya memperhatikan koridor rumah, di dinding terdapat banyak bingkai foto.


Stella berhenti ketika dia melihat bingkai foto yang berisikan anak-anak yang sedang bermain. Ada foto saat liburan sekeluarga di pantai, Farel menyusun pazel dan dirinya bermain boneka bersama dengan Vivian yang saat itu baru berusia 4 tahun.


“Aku akan menjadi Ibu, dan kau akan menjadi bayiku.”


“Kenapa aku harus jadi bayi? Kenapa bukan kakak saja,” suara Vivian dengan aksen khas balita.


“Karena aku lebih tua darimu. Kau terlalu muda.”


Tertawa, Stella tidak tahu mengapa foto itu membawa kembali ingatan kecilnya, saat itu usianya baru 5 tahun, Bibinya juga masih hidup dan sering Membuatkan mereka camilan sore hari.


Di rumah ini, mereka sering berlarian bersama sehingga terkadang membuat Bibinya mengomel karena takut jika salah melangkah saja, mereka bisa jatuh, Terlebih lagi itu di lantai atas.


Semuanya menyenangkan, sebelum sang ibu menyerang otak polosnya. Farel, dia dan Vivian sebelumnya dekat, jika di lihat dari potret mereka. Kapan semuanya dimulai?


Setelah kematian Ibu Vivian, Ibunya entah bagaimana mulai memamnfasrkan kondisi Pamannya yang terpuruk karena kematian Bibinya, sehingga pamannya lebih banyak menghabiskan waktu di kantor.


“Anjing! Kemari kau hewan nakal! Siapa yang mengizinkan masuk ke dapur dan menghancurkan adonan kueku!” Stella mendengar vivian yang berteriak, berpura-pura ingin mengambil minum, Stella turun ke lantai satu dan menemukan Vivian dengan celemek dan sarung tangan.


“Kakak, bantu aku menghadang hewan bulu tipis itu. Aku akan membotaki dia!”


[Tuan aku meminta maaf, aku benar-benar tidak sengaja menumpahkan adonan mu ke lantai. Salah mu sendiri mengapa tidak meletakkannya di meja?]


“Apakah kau tidak punya mata? Apa hidungmu sedang pilek sehingga berlarian di dapur?”


Bagaimana Vivian tidak marah kalau adonan mienya di rusak oleh Chihuahua, sistem sialan yang tidak pernah membantunya dan hanya tahu melaporkan misi saja. Kemarin sore, Vivian merasa bosan di rumah sehingga dia diam-diam keluar dan berencana membeli camilan.


Tiba di minimarket, Vivian terkejut karena menemukan bumbu pedas yang biasanya di gunakan di masakan Korea. Tapi Vivian sendikit kecewa karena tidak menemukan mie Samyang.


Oleh karena itu, Vivian membeli tepung, telur ayam dan minyak goreng untuk membuat mienya sendiri, untuk mengisi waktu luangnya di rumah. Akan tetapi, rencananya tidak berjalan lancar karena ulah sistemnya.

__ADS_1


Vivian tidak tahu apakah sistem juga tahu tentang Mie Korea atau tidak sehingga dia mendekat ke arah adonan buatan Vivian dan tidak sengaja merusaknya.


“Apa yang mau kau buat?” Stella bertanya, Suaranya lebih lembut dan tidak seperti sebelumnya.


“Aku ingin membuat resep masakan baru, tapi adonan ku di rusak oleh dia,” Vivian menunjuk Chihuahua dengan dagunya.


“Mengurus hewan tanpa bulu itu akan memakan waktu lama, kau bisa membuat adonannya kembali.”


Aku sudah lelah membuatnya, kalian pikir membuat mie itu semudah memasak mie yang sudah jadi? Itu membutuhkan tenaga dan kesabaran.


Hiks, Vivian cemberut dan berjanji akan mengabaikan Chihuahua. Dia kemudian kembali membuat ulang adonannya, untuk keseluruhan proses setidaknya menghabiskan waktu hingga sore hari.


Stella duduk di kursi dan memperhatikan Vivian, menunggunya hingga selesai. Rumah utama hari ini sepi, seperti biasanya, setelah hari kemarin paman dan ayahnya kembali sibuk dengan kantor.


Sementara ibunya sepengetahuan Stella, sudah di bawa pergi oleh orang-orang berpakaian hitam kemarin. Katanya akan langsung di bawa ke kantor kepolisian. Ibunya sempat memberontak lagi, akan tetapi tidak tahu karena hal apa yang di bisikkan okeh Tuan Tua, ibunya langsung setuju.


“Akhirnya selesai, Fiuh...Tidak ku sangkah akan menguras tenaga sebanyak ini.”


“Silahkan kakak, kau mau makan yang tidak pedas, atau super pedas?” Vivian bertanya lagi.


Stella melihat semangkuk makanan dengan kuah merah, kemudian dia balik melihat Vivian dan bertanya; “Apa ini? Apa bisa dimakan?”


“Itu mie kak, coba aja deh. Pasti kakak ketagihan, ini sangat enak loh yah. Jika masih ingin tambah, aku masih punya banyak di atas kompor.”


Stella merasa ngeri saat melihat makanan buatan Vivian kali ini. Meski dia bilang kalau dia sedang membuat resep baru, tetap saja mengapa kuahnya berwarna seperti merah dan terlihat seperti akan membakar lidahnya.


...•••...


...Bersantai sebentar yah...


...Terima kasih atas dukungan kalian teman-teman...

__ADS_1


...Jangan sungkan untuk meninggalkan komentar...


__ADS_2