Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Masalah Mario


__ADS_3

"Hei, tolong perhatikan langkahmu!”


Samanta yang sedang membawa sebuah ember berisi air dingin mengernyit dan melihat seorang Omega perempuan didepannya. Wajah yang asing, tentu saja karena omega tersebut bukanlah peserta dari sekolahnya.


“Apa kau bisa tidak teriak? dan lihat disini kau yang berbuat salah, mengapa kau berjalan di jembatan.yang sempit, apa kau tidak lihat aku sedang mengangkat dua ember ini?”


Uhuk!


Omega perempuan tersebut tersedak air, Beta wanita kota ini pasti orang yang cerewet. Mereka tidak saling kenal, tapi di pertemuan pertama sudah berbicara panjang, gadis ini pasti tidak punya sopan santun.


Dasar anak Kota.


Jembatan ini adalah penghubung antara tepi sungai untuk memudahkan para wisatawan yang datang, agar tidak basah karena. air sungai.. Jembatannya kecil, tidak muat untuk dua orang berjalan di saat yang sama,


Tadi Samanta tidak sengaja bertemu dengan gadis omega dari sekolahnya yang sedang mengambil air, Samanta melihat bahwa omega tersebut sedang kelelahan, makanya dia berniat untuk membantu membawa dua ember yang sudah isi dengan air.


Memang tidak tahu bagaimana ceritanya omega itu berada di seberang tempat kemah, Samanta dengan senang hati membawa dua ember air tersebut, lalu situasinya kembali pada saat ini. Omega di depannya menghalangi jalannya, padahal tadi jalan tampak bersih di depan matanya..


“Cepat minggir!”


“Kau yang harus minggir!”


“Tidakkah kau harus sopan dengan tamu?”


”Aku sopan jika kau juga sopan, dasar anak kota.”


“Dasar anak pedesaan.”


Uhuk!


“Kau!!!”

__ADS_1


“Apa! kau mau memanggil kawanan mu lalu melakukan yang sama seperti pada omega dari sekolahku?”


Omega tersebut tersentak, malam kemarin mereka bergosip tentang omega kota yang tidak bisa apa-apa, bukan istri idaman, dan lebih terbelakang di bandingkan dengan Omega desa. Siapa yang sangkah, seseorang mendengar mereka lalu pagi ini seisi desa digemparkan oleh berita bahwa Omega dari kota itu tidak Membiarkan Alpha dan Beta untuk bekerja.


Omega perempuan ini sebenarnya diam-diam mengintip kegiatan pelajar dari kota, terdapat rasa iri di hati ketika melihat para pelajar terutama omega sangat di hormati, orang-orang dari kota mengetahui pentingnya memperhatikan seorang omega, karena tenaga mereka yang mudah habis.


Sangat berbeda dengan kehidupan Omega di Desa, mereka di paksa untuk terus bekerja keras setiap hari demi hidup Alpha dan Beta lainnya, tidak memandang laki-laki atau perempuan. Ada banyak kasus yang terjadi di desa kecil seperti mereka, yang kurang pendidikan.


Mengandung sebelum waktunya, di tandai sebelum usia mereka cukup,, kekerasan fisik jika tidak mau bekerja, banyak teman-temannya yang sudah mengalami hal ini, dan banyak juga yang lebih baik memilih mati dari pada terus menerus menjadi alat kembang biak.


“Sekarang minggir, aku tidak ada waktu untuk meladeni mu.” Samanta berlalu dengan kesal, omega perempuan itu melihat punggung yang semakin menjauh.


Samanta membawa Keuda ember tersebut ke area masak, dan meletakkannya, “Apakah masih ada yang bisa aku bantu?”


“Aku rasa tidak, sudah cukup. terima kasih, padahal kami sudah sepakat akan membiarkan kalian. bersantai,” ucap omega yang sedang mengaduk sup ayam.


“Hei, tidak apa jika hanya meminta bantuan, keseluruhan pekerjaan juga masih di dominasi oleh kalian.,”


“Benarkah? terima kasih sudah memberitahu aku.,”


Samanta pergi mencari kedua teman satu kelompoknya, jam makan siang sudah hampir tiba dan makanan sudah beberapa sudah mulai di tata di atas karpet besar. Ketika Samanta pergi mencari kedua teman regunya, dia melewati sebuah rumah yang dekat dengan area kemah.


Di depan rumah tersebut Samanta melihat Mario yang sedang berbicara dengan pemilik rumah. tampak saja sekilas, wajah keduanya hampir mirip, Samanta mengernyit, kepalanya tidak tahu tiba-tiba merasa linglung. Jarak mereka agak lumayan dekat jadi Samanta bisa mendengar sedikit obrolan mereka.


“Katakan, kau putraku kan? kau masih hidup, aku tidak mungkin salah mengenalimu, kau Rio putraku kan?” Wajah pria tersebut tidak dapat Samanta lihat, karena tertutupi oleh tubuh Mario.


“Apa yang kau bicarakan paman? Apakah aku mirip dengan putramu?” Mario tersenyum remeh pada orang di depannya. Siapa yang mau mengakui identitasnya lagi setelah dibuang?


“Tidak, ini pasti benar-benar kau, kau pasti putraku. Aku tidak mungkin salah mengenalimu.”


“Paman, sudah aku bilang berulang kali, aku bukan dia, aku juga tidak mengenal putramu. Kau pasti salah mengenali orang di masa tuamu.”

__ADS_1


“Tidak, aku tidak mungkin salah, itu pasti kau, kau putraku!..”


Di wajah Mario muncul kerutan, darahnya seperti ingin meledak, kenapa orang ini terus saja mengganggunya sih? Mario benar-benar merutuki kebodohannya karena singgah di rumah ini kemarin, andai saja dia berjalan terus dan mengabaikan panggilan pemuda kemarin, dia pasti tidak akan bertemu dengan pria brengsek di depannya.


Sejak pagi saat dia bangun dan berkeliling desa, pria ini terus mengikuti dirinya. puncaknya saat dia ingin kembali ke tenda, pria ini memanggilnya dan mengajaknya untuk mengobrol, sampai pada puncaknya, pria itu membuka kembali memori kecilnya.


Barang yang sudah di buang, tidak dapat di pungut lagi, karena barang tersebut pasti sudah di ambil lebih dulu oleh orang yang dapat menghargai nilainya. Hati Mario merasakan sakit, dan tenggorokannya bergetar, kondisinya sama dengan barang tersebut, dia di buang oleh ayah kandungnya dan di ambil oleh Anna, orang tua angkatnya.


“Paman, sudah aku bilang aku bukan putramu, aku bermarga Alisher, jika tidak percaya kau bisa bertanya pada semua temanku atau bahkan guruku. anda benar-benar salah orang, paman ” Mario berucap untuk terakhir kalinya.


wajah pria itu menegang, dan mulutnya bergetar kaku, ”Kau...sejak kapan kau bermarga Alisher? tidak, itu tidak mungkin! bagaimana kau bisa mengenal keluarga legendaris itu? ini...”


”Tentu saja karena dia adalah keluargaku,” setelah mendengar suara ini, Mario menoleh dan terkejut melihat Vivian sudah ada di belakangnya bersama dengan Nila dan Samanta.


“Kau, siapa kau?” Alpha muda yang sedang menggendong seorang bayi mengangkat suaranya.


Vivian meliriknya dan memperhatikan bayi yang ada di gendong, “Apa dia adikmu?”


Uhuk,! Alpha muda itu tersedak dan tidak berbicara lagi. dia kemudian memperhatikan Mario kembali, dan melirik ayahnya, Uh kapan keributan ini akan berkahir? Vivian melangkah maju dan menyentuh pundak Mario, lalu menatap Pria di depannya.


“,Paman, apa kau salah mengenali orang? Kakak ku tidak mungkin putramu, sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan putramu? apakah dia menghilang? atau dia diculik seseorang? jika dia beruntung seseorang mungkin saja sudah membesarkannya, jika tidak dia mungkin sudah mati karena dibunuh oleh penculik yang mengambil organ dalamnya dan menjualnya ke pasar gelap.”


Uhuk!


Semua teman Vivian tersedak secara bersamaan. dari mana ide ini muncul? rencana awal hanya membawa pergi Mario dari sana, dengan cepat bukan melanjutkan obrolan dengan pria alpha di depan mereka.


...•••...


...Maaf banget yah jarang up, lagi sibuk banget ini sama penelitian....


...terima kasih sudah membaca...

__ADS_1


__ADS_2