Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Stella [Bergerak]


__ADS_3

Ketika malam sudah semakin larut, Stella membuka matanya dan melihat jam di dinding. Jam sudah menunjukkan pukul 01.00, seharusnya semua orang sedang tertidur. Jadi Stella mengendap-endap membuka pintu dengan pelan dan mengintip.


Para penjaga sudah tidur...


Stella tahu bahwa tempat seperti ini pasti tidak akan lepas dari kamera pengawas, jadi Stella berjalan-jalan seperti orang yang baru saja bangun, mengucek matanya dan melirik ke kiri dan ke kanan, “Dimana aku harus menemukan kamar mandi?”


Stella mengingat bahwa ruangan ibunya ada di samping ruangannya, jadi dia berinisiatif untuk mencoba bertanya pada Ibunya. Stella bersyukur untung saja ruangan kamarnya tidak di sertai dengan kamar mandi.


“Ibu...”


Tok!


Tok!


Tok!


“Ada apa kau kemari?” Suara dari dalam ruangan terdengar, Tania yang sedang mengantuk memaksakan dirinya untuk terbangun dan membuka pintu...


Kemudian dia menemukan Stella, “Apa maumu? Apa kau merasakan kesakitan?”


Stella menggeleng, “Tidak... Ibu aku ingin bertanya, dimana kamar mandi? Aku...aku ingin...”


Pergilah ke sebelah kiri, disana ada ruangan. Ingat kau hanya boleh ke kiri, jangan ke ruangan lain.” Setelah itu, Tania menutup pintunya dan membiarkan Stella.


Stella berpikir mungkin saja ibunya sedang lelah sehingga dia sangat mengantuk dan tidak begitu keras melarangnya. jadi setelah itu, Stella menuju ke arah Kanan, di dalam bangunan rumah itu memang memiliki banyak ruangan.


Bangunan itu berlantai dua, tapi sudah cukup besar karena dibangun diatas tanah yang luas. Hanya ada lampu yang remang, sehingga itu membuat pandangan Stella tidak terlalu jelas.


Ada banyak ruangan dan sejauh ini semua ruangan yang di buka Stella tidak di kunci. Dia jadi bingung karena belum menemukan Vivian, juga sejak tadi dia tidak mendengar suara yang mencurigakan.


Di depannya adalah ruangan terakhir, Stella baru saja akan membukanya ketika dia merasakan seseorang berdiri di belakangnya dan menyentuh pundaknya.


“Apa yang kau lakukan disini?” Suara seorang pria yang menyeramkan.

__ADS_1


Tubuh Stella gemetar, takut. Dia mencoba untuk memberanikan dirinya untuk menatap pria itu, karena cahaya disana remang dan tidak terang, Stella tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu, “A-aku... aku ingin ke kamar mandi...”


Pria itu mengernyit, dan menatap Stella, “Apa kau putri Tania?”


Stella hanya mengangguk, Pria itu tersenyum sumringah, “Hm, tidak buruk... andai saja kau alpha...aku tidak harus melakukan sejauh ini... dan bisa memulangkan anak itu....”


“...S-siapa yang kau maksud?”


“Lain kali bicaralah lebih sopan, bagaimanapun aku juga bisa di sebut sebagai kakekmu...”


Stella diam, karena tidak mendapatkan jawaban dari pria tua itu. Pria itu langsung masuk kedalam ruangannya dan menutupnya, meninggalkan Stella di pintu ruangannya. Stella seidkit mengernyit, “Hah, apa dia tidak curiga?”


Apa lagi tadi yang di katakan orang tua itu, berbicara sopan padanya dan memanggilnya kakek? Stella berpikir sedikit lebih lama, orang seperti itu ingin menjadi kakeknya? mimpi saja.


.


Stella kemudian berbalik arah dan menuju ke sebelah kiri yang di maksud Ibunya tadi, Stella menemukan kamar mandi, dan juga ada sebuah ruangan tidak jauh dari sana, yang mana di depannya ada penjaga yang sedang patroli.


“Apa mereka tidak tidur? Bagaimana aku bisa menemui Vivian...” Stella cemberut, ada banyak penjaga disana dan badan mereka besar-besar tidak sama dengan penjaga yang di tempatkan untuknya.


“Nona Muda, ayo ikut kami untuk makan pagi bersama dengan tuan besar dan nona...” seorang penjaga berkata padanya.


Stella mengangguk kemudian mengikuti langkah mereka. Di meja makan sudah ada Ibu dan pria tua yang sepertinya usianya hampir sama dengan dengan kakeknya. Dia dipersilahkan untuk duduk dan sarapan bersama.


“Bagaimana kondisi tubuhmu?” Pria tua bertanya padanya, dan Stella mengangguk.


“A-ku merasa lebih baik...” Stella menundukkan kepalanya.


“Mereka jahat kan? Iya, itulah sifat asli mereka...mereka sangat kejam...mereka tidak segan membunuh orang yang sudah mengusik mereka...hahaha...”


“Paman, sebaiknya anda menghabiskan sarapan anda dulu...” Tania mengingatkan pamannya.


Stella hanya mendengarkan dan di bawah meja tangannya terkepal, dia tidak suka jika keluarganya di tuduh seperti itu... Apa lagi oleh pria tua yang asal usulnya tidak jelas seperti paman ibunya.

__ADS_1


“Apa kau ingin bertemu dengan sepupumu?” tiba-tiba mendapatkan pertanyaan seperti itu, Stella memegang garpunya dengan erat dan tanpa sadar menggertak kan giginya..


“Paman, kau...”


“Biarkan saja Putrimu bertemu dengannya, aku yakin putrimu butuh mainan kan, dia bisa menggunakan anak itu untuk melampiaskan kemarahannya.”


“...” - Tania


“Semudah itu?” Pikir Stella, tidak tahu kenapa dia jadi curiga dengan situasi ini. bagaimana.bisa orang tua sepertinya membuka jalan untuknya?


Membuang pikirannya itu, Stella lalu mengangguk dan setuju. Prioritasnya sekarang adalah menemukan Vivian, urusan apa yang akan terjadi nantinya adalah urusan belakangan.


Setelah sarapan selesai, seorang pengawal menyiapkan sepiring makanan dan segelas air. Piring itu berisi lauk yang warnanya tidak baik, mungkin karena itu adalah lauk malam kemarin, nasi yang dingin.


“Bawalah itu, dan ikuti penjaga...” Pria tua itu memerintahkan Stella yang hanya mendapatkan anggukan.


Stella mengikuti penjaga yang berbadan besar itu menuju ke ruangan yang kemarin Stella lihat. Pintu itu di bukan dan penjaga mempersilahkan Stella untuk masuk kedalam.


Stella tersentak kaget ketika melihat Vivian, ‘Apa yang sudah mereka lakukan padamu?’ Stella sangat khawatir.


Mata Vivian di tutup, tangan dan kakinya diikat, wajahnya penuh dengan lebam, rambutnya kusam dan tubuhnya sangat lengket karena berhari-hari tidak mandi. Bibir Vivian kering, dan tubuhnya sangat kurus, berat badan Vivian menurun drastis.


Vivian sudah tidak bisa menahan dirinya, rasa sakit di tubuhnya tidak pernah hilang. Kepalanya sudah sangat sakit begitu juga dengan perutnya. Dia sudah sangat lemas, dan kemarin di kembali menerima beberapa perlakuan kasar dari orang-orang itu.


Vivian merasakan langkah kaki yang mendekat padanya, Tubuhnya gemetar hebat dan bibirnya berkedut, “Bibi...,”


Vivian tersentak kaget dengan kebingungan karena dia tidak merasakan bau feromon, juga karena dia merasakan sebuah pelukan, “Siapa...siapa kau...”


“Ini aku...”


Mendengar suara yang sangat familiar, membuat Vivian akhirnya menangis. Setelah lama menangis, dia akhirnya terdiam, “Bagaimana kau bisa sampai kesini, kakak?”


“Nanti akan aku jelaskan, yang jelas aku butuh kerjasamamu....”

__ADS_1


“Hah?” Vivian terkejut setelah mendengar perkataan Stella, tubuhnya sudah sangat lelah dan kesadarannya semakin memudar, tapi di masih harus membantu Stella melakukan beberapa hal.


”Hanya sebentar, kau hanya perlu mengerang sakit sementara aku akan menghubungi mereka untuk segera bergerak...”


__ADS_2