
“Pasien sudah melewati masa kritisnya, untung saja pasien melepaskan selang infus, jika tidak mungkin nyawanya sudah tidak akan tertolong lagi."
Vivian mendengarkan apa yang di katakan oleh dokter tersebut. setelahnya dokter itu pergi, Vivian duduk di samping ranjang Stella dan menggenggam tangan Stella. Vivian mengingat jelas bagaimana kondisi Stella tadi, wajahnya merah bekas tamparan dan ada luka cakar di arena rahang dan pipinya.
Vivian merasa bahwa Bibi pemilik tubuh asli ini benar-benar sudah kehilangan otaknya. Dia bahkan berani melukai darah dagingnya sendiri, itupun disaat kondisi anaknya sedang tidak baik-baik saja.
Entah bagaimana ceritanya Ibu Stella bisa keluar dari penjara itu, Mario sudah memeriksa dan berdasarkan dari hasil yang dia dapatkan, ada seseorang yang berani menebus Ibu Stella. Tidak tahu orang itu siapa, Vivian merasa menang ada yang tidak beres dan kondisi yang dia dapatkan setelah perubahan plot cukup mengejutkan.
“Wanita itu dari mana dia tahu bahwa kakak dirawat disini?”
“Aku rasa seseorang sudah lama mendukungnya.”
“Tapi kenapa dia menargetkan Stella? Tidak ada seorang ibu yang akan melukai putrinya sendiri, kecuali jika mereka tidak memiliki hubungan darah.”
“Apa maksudmu dengan tidak memiliki bubungan darah? Stella bukan anak kandungnya begitu? tidak mungkin!”
“Jika itu tidak mungkin, maka bibi mu memang kehilangan otaknya.”
Vivian; “....” Itu lebih masuk akal, Dalam novel aslinya Tania menggila karena Kasus anaknya dan karena Stella mendekam di penjara, sekarang dia menggila karena dirinya yang terkena masalah dan bukan Stella.
“Apakah kau sudah mengabari yang lain tentang masalah ini?”
“Tentu saja, Pamanmu langsung menuju ke kantor polisi untuk mengurus ini, dan Tuan tua, aku rasa sebentar lagi akan tiba.”
Vivian mengangguk kemudian kembali menatap ke wajah Stella, gadis ini lumayan kasihan. Dia di kendalikan oleh Ibunya sendiri selama bertahun-tahun, lalu ketika dirinya sudah tidak berguna, ibunya ingin membunuhnya.
Sangat berbeda dengan isi plot dalam cerita yang mengatakan bahwa Tania sangat menyayangi putrinya, sehingga ketika.sesuatu yang buruk terjadi pada Stella, Ibunya akan bisa tidak terkontrol.
Beberapa menit setelah keheningan, didalam ruangan, pintu rawat Stella terbuka dan kakek serta ayah dan bibinya masuk kedalam ruangan. Vivian menjelaskan sesuai apa yang sudah dia ketahui kepada ketiganya.
“Dugaan ku memang benar, akhirnya dia membuka topengnya juga. Omega tetaplah Omega, beberapa dari mereka mencari kekayaan. Untung saja kau tidak menikahi seorang omega yang seperti itu,” Tuan tua berkata sambil memukul pundak Alexis.
“Ayah, sebaiknya kau istirahat dan kurangi bicaramu, ini di rumah sakit.”
“Humpt...”
“Ayah, ayo duduk. Kau sudah tua jadi duduk saja dengan tenang.”
__ADS_1
Vivian memutuskan untuk keluar dari ruangan mengikuti kedua temannya yang entah pergi kemana, karena Vivian tinggal untuk mengobrol dengan keluarganya sebentar. Lorong di koridor rumah sakit tampak sepi pengunjung, itu wajar karena hari sudah mulai sore.
Vivian berjalan dan memutuskan untuk kembali ke kafetaria lagi, mungkin saja keuda temannya ada disana. Perasaannya juga sudah tenang, Vivian kembali mengingat melakukannya tadi, begitu tidak sopan, apa lagi dirinya sampai mengangkat tangannya untuk memukuli seseorang di koridor.
Vivian tadi tidak terlalu melihat wajah orang itu jadi dia kurang yakin, apakah itu benar-benar Kendra atau orang yang hanya mirip dengannya saja. Lagi pula apa yang di lakukan alpha seperti dia di rumah sakit? Apa dia ingin memeriksa kondisi tubuhnya?
“Apa kau sudah merasa jauh lebih baik?” Mario bertanya dengan ragu kala Vivian sudah duduk di depannya.
“Aku, maaf atas tindakanku tadi.”
“Tidak Masalah, tindakan seperti itu wajar. Tapi dari mana kau tahu tentang kondisi Stella?”
“Aku tidak tahu, mungkin saja karena kami memiliki ikatan.”
“Aku tidak meragukannya, tapi kau tampak mengetahui semuanya. Kau meminta aku untuk memeriksa penjara untuk memastikan keberadaan bibi mu kan?”
“Itu benar, bahkan aku rasa ini juga bukan kali pertama. Sejak kita pindah ke sekolah, kau sudah dimana letak kafetaria, dan kejadian-kejadian penggerakan Stella pada kesya.”
“Hei, kenapa kalian jadi memikirkan hal seperti itu? Kalian mengira aku bisa meramal masa depan?”
Mario dan Nila mengangguk, Tidak salahkan jika mereka berpikir seperti itu? kejadiannya tidak hanya sekali loh yah. Vivian yang melihat keduanya seperti itu langsung terkekeh, dan membuat keduanya menjadi heran.
“Hehe, aku hanya berpikir bahwa kalian berdua pasangan yang cocok.”
“Hah?” Mario dan Nila saling bertatapan kemudian membuang wajah mereka masing-masing ke lain tempat.
“Humpt, Dia Alpha/Beta” Keduanya berucap.
“Lihat bicara kalian saja barengan, mau mengelak lagi?”
Tidak ada yang menjawab, Vivian tersenyum dan menatap keduanya secara bergantian. Meksipun Nila tampak biasa saja, Vivian tahu bahwa jantung Nila sudah tidak aman lagi, getarannya terlalu cepat. Mario sendiri Vivian menemukan bahwa pipinya tampak berwarna merah, apakah dia malu?
kenapa situasinya tampak berbeda? paling normal pipi seorang gadis yang akan memerah ketika di goda, tapi kenapa didepan matanya pihak laki-laki yang memerah, ini kondisi yang jarang terjadi selama hidup Vivian.
“Jangan melihat kami seperti itu, bagaimana jika kita membahas tentang hubunganmu dengan Ken?”
Vivian. melotot, ,“Kenapa harus aku dan Alpha itu?”
__ADS_1
“Bukankah kalian pasangan? Dia Alpha mu kan?"
“Hei, aku juga Alpha tahu.”
“Tetap saja, karena kau adalah pihak yang di tandai.”
.“Ingat, ini tanda yang tidak sah. Aku di tandai secara tiba-tiba tanpa persetujuan dariku.”
“Tapi kau suka dia, benarkan?”
“T-tidak kok, siapa yang bilang kau aku suka dia?”
“Mata dan tingkah mu."
Mata apa, tingkah apa? Aku masih kenal mana dunia nyata mana dunia fiksi. Chihuahua yang berada di bahwa kolong meja batuk beberapa kali untuk mengejek Vivian, [Tuan karena kau masih tahu membedakan mana dunia nyata dan dunia fantasi, ayo selesaikan tugas dan kita pulang.]
"...Jadi maksudmu saat aku melahirkan aku akan mati dan kembali ke duniaku begitu?”
[Tentu saja, itu adalah akhir dari perjalanan anda di dunia ini.]
“Apakah benar-benar akan berakhir? Kau tidak akan seperti sistem lain yang akan mengirim aku ke buku lain kan?”
[Itu bukan aku yang menentukan Tuan, pusat yang tentukan...Tapi kalau kau mau aku akan merekomendasikan mu untuk perjalanan selanjutnya]
“....” Vivian menjadi diam, siapa yang mau menjadi pemain dalam novel Arc, selalu mati diakhir cerita dan melompat ke cerita lainnya, lagi pula ini tidak mungkin terjadi. Vivian belum pernah menemukan perjalanan yang menghabiskan 100 episode lebih chapter untuk season pertama.
Vivian membantah perkataan Mario, dengan berkata; “Aku tidak suka dia, tahu...”
“Tidak suka siapa?” Bisikan di telinganya membuat Vivian terkejut.
“Astaga Apa yang kau lakukan disini!” Vivian berucap setelah menoleh dan menemukan Kendra di belakangnya.
“Menangkap seekor kucing,” Kendra berbicara dengan santai. Dia baru saja selesai mengobati pipinya yang di pukul Vivian tadi, dia menunggu di depan kamar Stella cukup lama, namun tidak mendapati Vivian makanya Kendra memutuskan untuk pergi ke kafetaria rumah sakit saja.
Kendra mendapati Vivian memang ada disini, dia menguping sebentar setelah itu saat Vivian membantah perasannya lagi, Kendra memutuskan untuk menghampiri Vivian, dia kali ini akan mencoba untuk membuat Vivian mengakui perasaannya.
...°°°...
__ADS_1
...Terima kasih atas dukungan kalian semua, mohon maaf apabila masih menemukan Typo yang bertebaran....