
Nila duduk di salah satu kuris yang ada di restoran, hari ini pelanggan cukup padat sehingga membuat dirinya agak kerepotan. Belum lagi Mario dan Vivian sedang ada urusan lain sehingga dirinya harus ekstra bekerja, mencatat dan mengawasi ruangan bersama dengan Chihuahua.
Sejak restoran resmi di buka, Vivian mempercayakan semuanya pada dirinya, karena kelas Beta ujiannya cukup simpel dan tidak serumit kelas Alpha. Nila juga menyukai bisnis sehingga dia nyaman untuk memikul tanggung jawab di restoran.
Mario sudah mengatakan. padanya bahwa Vivian akan belajar bersama dengan teman sekelasnya untuk persiapan ujian akhir semester dan dirinya di tunjuk untuk terus menemani vivian.
Ting!
“Selamat datang di Kania Restoran...”
“Hai, kita bertemu lagi.”
“Kau...”
“Kau lupa, aku Dean temannya Kendra. Kita pernah bertemu di pesta ulang tahunnya.”.
“Ah, maaf kak ingatanku agak buruk.”
“Tidak masalah jika kau buruk dalam mendengarkan, aku juga buruk dalam menyampaikan.”
“Tidak Masalah.”
Dean kemudian memilih tempat untuk di duduki. Hari ini kuliahnya tidak lama sehingga dia mencoba untuk mengunjungi restoran Vivian, Dean tahu restoran ini dari Kendra.
Dia dan Leon bisa mendengar Kendra yang bercerita tentang Vivian, katanya meksipun usianya masih muda, Vivian sudah membuat bisnisnya sendiri. Juga masakannya enak, Ini membuat Dean merasa penasaran.
Leon sendiri berada di jurusan yang berbeda dengan Dean, sehingga mereka jarang untuk menghabiskan waktu bersama di hari-hari sekolah. Dean masuk ke jurusan hukum sedangkan Leon di jurusan bisnis manajemen.
Dean emmmesan mie merah dan jus jeruk, beberapa makanan penutup juga. Dean memperhatikan sekitarnya dan menilai bahwa itu indah. Pelayan bekerja dengan telaten, dan kebersihannya juga terjaga.
Setelah memesan, Dean menunggu beberapa saat kemudian Nila datang membawa pesanannya, karena pelayan semuanya merasa sangat buruk dengan melayani pelanggan yang datang.
“Silahkan dinikmati,” ucap Nila lalu meletakkan pesanan Dean di atas meja.
__ADS_1
“Tolong jangan pergi, temani aku disini. aku tidak terbiasa makan sendirian.”
“Ah, baiklah," Setuju Nila, setelah dia berpikir sejenak, Dia duduk di depan Dean dan menunggu Beta laki-laki tersebut menyelesaikan makannya.
Beberapa saat kemudian, Dean meletakkan peralatan makan. dan berkata ; “Terima kasih, Apa kau masih bisa tetap disini? Aku tidak terbiasa sendiri.”
“Ah, tentu saja.”
“Uhm, kau teman Kendra kan?”
“Tidak, aku adalah teman Vivan,” Jawab Nila, lalu Kembali memikirkan tentang pemuda didepannya ini.
Dean terkekeh mendengarnya, kemudian dia tersenyum. Dean penasaran ingin lebih mengenal sosok Vivian, pada saat ulang tahun Kendra, dia tidak sempat untuk berbicara dengan Vivian.
Nila berbalik untuk menatap Dean, Nila merasa bahwa kedatangan Dean pasti memilik tujuan tertentu sehingga datang kemari. Jadi Nila memilih untuk menganggukkan kepalanya dan berkata; “Benar, Apakah kau memiliki sesuatu untuk di sampaikan pada Vivi? kebetulan Vivi sedang tidak berada di tempat.”
“Bukan masalah besar, aku hanya ingin mengobrol dengannya.”
“Kalau begitu, nanti akan aku sampaikan padanya. Biasanya Vivian akan berada ditempat pada akhir pekan.”
“Jangan dipikirkan, jika kau ingin bertemu aku bisa membuat janji temu.”
“Aku rasa tidak udah, pawangnya akan marah jika aku melakukannya.”
“....Pawang?" Apa kau sedang menyinggung Kendra? hanya orang itu yang sering sekali menempel pada Vivian seperti perangko.
Sejak awal dari jauh-jauh hari sebelumnya Nila sudah menyadarinya, mungkin dia orang pertama yang peka dengan gelagat aneh Kendra. Semuanya semakin terlihat jelas saat kebenaran Stella, Liam yang menceritakannya pada mereka.
Kendra selalu mengikuti Vivian dimana-mana temannya itu pergi dengan alasan yang aneh, dia membuat dunia Vivian menjadi berantakan, tidurnya tidak nyenyak dan nafsu makannya berkurang.
Nila tahu bagaimana perasaan Vivian pada Kendra, dia juga tidak masalah jika Vivian akhirnya bersama dengan Kendra, asalkan temannya itu tidak tersakiti. Nila pasti akan senang, Vivian terlalu muda untuk terikat dengan hubungan, dan Kendra sudah berada di usia yang pas untuk terikat.
Nila takut sesuatu akan terjadi nantinya, tidak semua pasti akan baik-baik saja. Nila menggelengkan kepalanya, dan membuang semua pikiran buruknya. Memang tidak semua hubungan sesama Alpha akan selalu bahagia, kecuali itu keluarga Alisher yang sudah membuktikannya.
__ADS_1
Vivian lahir di zaman modern, ada banyak hal yang tentunya bisa menjadi pemicu Maslah, berbeda dengan zaman pendahulunya, Vivian bisa mengatur pasangannya sendiri, sementara pendahulunya masih sistem perjodohan yang di atur oleh keluarganya.
“Kendra, bocah itu selalu memuji Vivian didepan kami tahu, terutama tentang skill masaknya.”
“Dia mengatakan semuanya?”
“Tentu saja, dia begitu mengagumi Vivian dan aku merasa dia kelainan istimewa.”
Nila mengernyit heran, lalu dia kembali bertanya; “artinya kau juga tahu kalau Kendra sudah menandai Vivian sepihak? tanpa persetujuannya?”
“Hah, apa? kapan? kenapa aku tidak tahu bagian ini? dia sama sekali tidak membahasnya dengan kamu.”
“Kau benar-benar temannya tidak?” mata nila melotot pad Dean, Orang ini tidak masuk akal, padahal tadi Nila sengaja membahas tentang itu agar dia memperoleh informasi, kalau begini jadi sia-sia saja namanya.
“Dia tidak pernah membahas rencana ini sebelumnya...” Atau mungkin aku yang lupa tentang bagian ini, lanjut Dean membatin.
Pada hari ulang tahun Kendra saat itu mengalami siklus panas yang liar, dia memang mengatakan kalau dia akan jujur pada Vivian tentang perasaannya, tetapi Dean kurang yakin untuk bagian gigit-gigit leher itu.
Dean tidak bisa menduga bahwa Kendra sudah bergerak terlalu cepat, dia menandai Vivian sebelum usia gadis itu genap delapan belas tahun. Alpha wanita biasanya mengalami siklus panas liar di usia 18 tahun, lebih cepat satu tahun dari Alpha pria.
“Kau benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu? Apa kau tahu hampir satu Minggu Vivian selalu mengunci dirinya di kamar dan tidak mau makan.”
“Dia pasti mengalami waktu yang sulit, Kendra benar-benar tidak memiliki kesabaran, apa salahnya menunggu sampai akhir tahun?”
“Bukankah kau seharusnya membela temanmu?” Nila menatapnya dengan heran.
“Aku tidak pernah berada di pihak yang salah, apa yang di lakukan oleh Kendra memang salah, tidak bisa aku belah.”
“Kau...”
“Aku juga tidak membelah Vivian, atau berada di pihaknya. Jadi biarkan saja mereka menjalaninya.”
Yah, hal ini benar. Biarkan saja mereka menjalaninya, sehingga setiap hari Nila akan melihat Vivian yang berusaha untuk tidak peduli pada Kendra dan selalu berwajah malu-malu dengan wajah dan telinga yang memerah.
__ADS_1
Nila tidak tahan dengan, padahal Vivian menyukai Kendra juga tapi dia tidak berani menghadapinya dan justru mengelak setiap waktu, kan gemes lihatnya Vivian sudah seperti kelinci putih kecil yang sedang di buru oleh serigala lapar.
.