
Ketika jam makan malam sudah dekat, Stella memperhatiakan sekitarnya dan menemukan bahwa semuanya masih pada sibuk. Stella mengambil kesempatan ini untuk membantu memindahkan hasil masakan Kesya dan Nila ke atas meja.
Setelah itu Stella mengambil serbuk bubuk yang ada di saku celana jeans miliknya dan memalsukannya kedalam mangkuk. Kemudian Stella menyiapkan mangkuk itu untuk Vivian.
Wajahnya tersenyum senang, Nila yang melihat itu berpikir bahwa mungkin saja Stella memang sedang merasa baik hari ini, sehingga dia tidak mencari masalah seperti biasanya.
“Apa yang kau lihat?” suara Kesya membuat Nila kembali.
“Tidak ada, tidakkah kau merasa curiga pada Stella? Sejak pagi dia bersikap baik.”
“Mungkin perasaannya sedang baik,” Kesya melanjutkan pekerjaannya untuk mencuci peralatan dapur.
“Benarkah begitu?”
Tidak ada jawaban, Nila sedikit ragu jika itu berkaitan dengan Stella. Meskipun selama dua bulan ini dia jarang untuk ikut mengobrol dan hanya berbicara seperlunya saja, matanya masih tetap bekerja untuk memperhatikan gerak-geriknya.
Pada malam ulang tahun Vivian, Nila sebenarnya tahu bahwa Stella memiliki niat buruk soda Vivian, hanya saja saat dia ingin mencegah aksi Stella, Chihuahua sudah melakukannya lebih dulu.
Nila ingin mengatakannya pada Vivian, namun dia sama sekali tidak memiliki waktu yang pas, jadinya secara diam-diam Nila meminta bantuan pada ketiga Alpha pria itu untuk ikut mengawasi Stella.
Dia tidak menyangkah bahwa Stella pada akhirnya juga akan ikut bersama dengan mereka ke kota Gold. Nila melihat bahwa kelompok pemanggang juga sudah hampir selesai, Farel memangil mereka untuk membawa makanan ke meja.
Farel bertanya, “Dimana Vivian?”
Nila melihat bahwa Vivian memang belum kembali, sehingga dia berkata; “Aku akan memanggilnya.”
“Tidak, Aku saja.”
Semuanya melihat ke arah Stella, Farel sampai berpikir apakah ini serius? Stella yang selalu tidak menyukai Vivian sejak mereka masih muda, berinisiatif untuk memanggil Vivian.
“Ada apa? Kakak mengapa kau menatap aku seperti itu?”
“Tidak, tidak kau bisa pergi sekarang.”
__ADS_1
“Baiklah, kami akan segera kembali.”
Stella pergi, kemudian Kendra mendekati Farel dan bertanya; “Mengapa kau membiarkan dia?”
“Apa salahnya? Dia tidak akan melukai Vivian, bagaimanapun juga dia saudaranya.”
“Aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan.”
“Aku juga tidak mengerti tentangmu, dan tolong ketahuilah batasan mu.”
Ada apa dengannya? Pikir Kendra, rasanya dia cuma bertanya dan mengutarakan pikirannya, mengapa Beta laki-laki tersebut merespon seperti itu? Mengetahui batasan ku, hei mereka palingan hanya berbeda dua tahun seperti kedua temannya.
Kendra melihatnya pergi, tidak lama Vivian dan Stella kembali. Kendra mendapati wajah Vivian khas orang yang baru saja bangun. Vivian begitu menikmati hari ini, karena dia tidur sangat nyenyak tadi, sampai lupa waktu.
Dia cukup terkejut saat Stella datang membangunkannya, setelah kembali Vivian pergi untuk membersihkan dirinya dulu baru ikut bergabung dengan yang lain. Jam makan sudah hampir tiba.
Vivian melihat ada banyak makanan di atas meja, yang menggugah seleranya sehingga dia bertanya; “Apakah sudah bisa dicicipi?”
“Silahkan, kami membuatnya khusus untukmu.”
Vivian dengan mata berbinar dan bersemangat duduk di meja makan lebih dulu. Stella tersenyum dalam diam saat dia melihat Vivian duduk di tempat yang sudah dia atur tadi.
Didepannya sudah ada semangkuk sup seafood, Vivian tidak menaruh curiga dan merasa bahwa teman-temannya sengaja menyiapkan semangkuk untuknya. Jadi Vivian dengan nikmat memakannya.
Chihuahua tiba-tiba muncul dibawah kolong meja dan berkata, [Tuan Rumah! kau belum menyentuh makanan di meja kan? Aku lupa memberitahumu bahwa pemilik tubuh asli tidak cocok dengan seafood.]
“Apa?! Mengapa kau baru bilang sekarang, aku sudah menghabiskan hampir setengahnya.”
[Tuan, aku juga kesulitan. Antagonis mengikatku di pohon tadi saat aku ingin pergi menemui mu.]
Ah, sial. Vivian mengutuk Stella dalam diam, omega satu itu memang apa salahnya sih? Dia tidak mendekati Kendra, dia juga berusaha untuk mengambil kepercayaannya kembali.
Kenapa sekarang tiba-tiba dia merasa seperti sedang di serang diam-diam oleh musuh. Hei, ini gila. Vivian mulai merasakan gejala-gejala tidak enak, kulitnya terasa gatal dan tubuhnya menjadi panas, kepalanya juga berputar-putar, perutnya roller coaster, napasnya menjadi sesak.
__ADS_1
Oh, astaga dengan sisa tenaganya Vivian berusaha untuk berbicara; “Ka...Kakak...”
Farel mendengar panggilannya, matanya langsung terkejut ketika melihat kulit Vivian memerah dan bengkak. Dia langsung menghampiri Vivian dan melihat makanan di atas meja, Farel berkata dengan marah; “siapa yang sudah memberikan Seafood pada Vivian!!!”
Teriakan Farel terdengar sehingga semuanya berkumpul di sekitar Vivian dan Farel. Mereka juga ikut terkejut, Stella memanfaatkan situasi ini dan mendekat pada Vivian lalu berkata; “Maaf kak, aku tidak memperhatikan makannya tadi, jadi aku langsung saja memasukkannya dalam mangkuk.”
Kesya dan Nila menghentikan kerjaan mereka lalu saling memandang, jika Stella tahu Vivian alergi pada seafood, mengapa tidak mencegah mereka dari tadi?
Tidak ada yang memberitahu mereka, sehingga mereka tetap memasak seafood, Stella sengaja melakukannya sehingga dia dengan marah menargetkan semuanya pada Kesya, berkata bahwa Kesya bukan teman yang baik untuk Vivian.
“Seafood adalah ide masakan Kesya tadi, aku tidak tahu jika sup tersebut adalah sup seafood,” Stella kembali berkata.
“Kalau kau tahu mereka akan memasak seafood, mengapa tidak kau cegah lebih awal?” Kendra tiba-tiba bertanya padanya.
Kendra ingat bahwa saat membeli daging tadi, Stella juga membeli penyedap rasa seafood yang biasanya untuk campuran sup. Kelakuannya sejak pagi juga sangat baik dan patuh.
“Sudah aku bilang, aku tidak tahu kalau mereka akan membaut sup seafood.”
Kau berbohong lagi, batin Kendra. Lalu dia melirik kedua gadis lainnya, dan berbalik pada Vivian lagi. Kali ini dia bertanya lagi, “Jika dia tahu bahwa dirinya alergi, mengapa tetap dimakan? Gadis bodoh.”
“Matamu bodoh, dua bulan lalu kepala Vivian terbentur, sehingga ingatannya agak terganggu!” Farel berkata dengan kedua tangannya yang mengangkat Vivian.
Farel merasa sangat marah namun tidak bisa mengamuk di sini. Sehingga dia membawa Vivian ke dalam mobil dan tidak membiarkan siapapun mendekati Vivian. Farel membawa Vivian ke rumah sakit terdekat dari penginapan.
Setelah Farel pergi, suasana di penginapan jadi sangat hening. Kesya merasa bersalah karena idenya, dia terus menundukkan kepalanya dan tidak berani mengangkatnya. Stella diam-diam tersenyum dan berkata; “Kalian sebagai temanya seharusnya mengetahui ini, bukankah kakek menugaskan kalian untuk menjaga Vivian?”
Kemudian Stella lanjut berbicara lagi,“Aku tidak tahu apa yang kakek akan lakukan jika kejadian ini terdengar di telinganya.”
Stella senyum tipis sebelum dia pergi untuk menyusul Vivian ke rumah sakit dan melihat hasilnya, akan tetapi langkahnya terhenti ketika dia mendengar suara Kendra; “Aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku menemukan kebenaranya.”
Stella mengepalkan kedua tangannya dan menggertakkan giginya lalu pergi dari sana. Kendra tersenyum sumringah, dan mengecek ponselnya. Kemudian dia menatap Kesya dan berkata; “Ini bukan salahmu, aku akan mencari buktinya.”
“Itu benar, kau tenang saja. Vivian pasti akan baik-baik saja, percaya padaku. Sekarang ayo kita pergi menyusul mereka ke rumah sakit,” Liam menggenggam tangannya dan menariknya untuk ikut.
__ADS_1
Mario melirik pada Nila, kemudian dia berkata; “Apakah ini bagian dari rencana mu?”
“Bukan, aku hanya tidak berpikir kalau Stella akan melakukan lebih dari apa yang aku rencanakan.”