
Vivian berdiri di balkon kamarnya di rumah utama, beberapa hari setelah makan malam itu, Vivian dan kawannya tidak kembali ke apartemen, Tuan tua meminta mereka untuk kembali ke rumah utama.
Vivian dengan senang menyetujuinya, sudah lama juga Vivian tidak menyentuh dapur dan tidak mengurus masalah restoran, Vivian hanya menerima laporan harian dari Kesya setiap hari, meskipun laris tapi tidak seramai sebelumnya.
Terutama pada akhir pekan, dua kali akhir pekan sudah terlewatkan, biasanya restoran akan sangat ramai didatangi pada akhir pekan karena hari itu adalah hari yang cukup istimewa, Vivian langsung turun tangan.
Vivian juga biasanya memberikan potongan harga setiap akhir pekan, atau puding gratis untuk anak-anak mereka. Vivian menatap jauh ke depan, dia sudah kembali bersekolah dan sudah mengejar ketertinggalan, aneh memang dari semua mata pelajaran yang terlewat olehnya, mereka hanya diminta untuk menyalin bahasa alien.
Tapi kalau di pikir-pikir ini sudah cukup menyenangkan. sesaat Vivian masih asik melamun, pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang; “Nona kedua, ada kiriman untuk anda."
“Baik, bibi. Aku akan segera turun.”
Vivian keluar dari kamarnya dan menuju ke lantai satu, di atas meja ruang keluarga terdapat sepucuk surat dan setangkai bunga mawar, lagi. Vivian mengambilnya dan membaca isinya, Vivian kemudian mengernyit ketika selesai membacanya.
“Kenapa dia sering sekali mengirim bunga?”
“Bukankah itu tindakan yang romantis?
,“Kakak berkata ini romantis, tapi kenapa aku tidak terpengaruh?"
Beberapa hari ini Vivian selalu mendapatkan kiriman bunga setiap pagi, dari pengirim yang sama. Vivian menjadi linglung karena memikirkan kelakukan Kendra, meskipun dia sudah tidak menempel seperti perangko, Kendra memiliki cara lain untuk melakukannya.
Seperti mencari kesempatan dalam kesempitan, ketika Vivian sibuk melakukan pekerjaannya, Kendra akan disana dan saat Vivian sangat fokus sehingga lupa akan dunia, Kendra mengambil kesempatan untuk bertindak.
Seperti didalam kelas, beberapa kali Kendra sengaja menjatuhkan penanya di dekat kaki Vivian, sehingga pada saat dia mengambilnya kulit mereka akan selalu bergesekan. Vivian menyadari kelakuannya itu, ingin menegur namun dia sadar masih dalam proses belajar.
“Tidakkah kau suka jika mendapatkan bunga setiap hari?"
“Aku lebih suka mendapatkan makanan dari pada bunga yang akan layu."
“Hei, kau ini. Aku pikir apa yang di lakukan oleh Kendra sudah cukup manis.”
“Ih, kak... Manis dari mana? dia bukan lebah yang akan menghasilkan madu manis, Dia mengusik diriku."
“Itu tandanya dia memang serius, kau seharusnya senang. Apa yang membuatmu ragu lagi?”
__ADS_1
“Aku...Dia terlalu mengganggu ku, kak!”
“Mengganggu bagaimana? Apakah dia mencampuri semua urusan mu?”
Memang tidak semua tapi tetap saja itu menganggu. Beberapa kali ketika Vivian sendiri dan Kendra tidak ada, Vivian merasakan bahwa Kendra ada di dekatnya, dan sedang mengendus lehernya, itu membuatnya merinding.
Orangnya tidak ada, kau justru diganggu oleh bayangan orang tersebut, Kemanapun dan apa pun yang kau lakukan di sana, kau pasti akan melihat dia. Pikiranmu akan menjadi tidak stabil dan jantung mu akan berdetak menyuarakan namanya.
Paling parahnya jika orang tersebut mengikuti dirimu sampai ke dalam mimpi, dan membuat tidurmu terganggu. Seperti yang dirasakan oleh Vivian dua hari ini, Kendra selalu muncul di mimpinya dengan pakaian pernikahan.
Apakah hal ini sudah dapat disebut Vivian sebagai cinta? Omong kosong!
Vivian masih sadar, tapi sayangnya lehernya sudah tidak selamat. Di sana sudah ada tanda kepemilikan milik Kendra, tinggal menunggu dirinya menggigit balik leher si dominan lalu semuanya akan menjadi sempurna.
“Ayo, jawab pertanyaan ku. Kenapa diam?"
“Dia tidak mengganggu ku secara langsung kak, tapi aku tetap saja terganggu.”
“Itu artinya kau suka dia, terima kenyataan ini.”
“Tidak, aku tidak akan mempercayainya semudah itu.”
“Aku...tidak tahu.”
Stella menghela napas, Vivian terlalu keras kepala. Tidak akan mudah untuk membuat Vivian mengakui perasaannya sendiri, kasihan Kendra yang sudah mengejarnya selama ini.
“Kau harus jujur pada perasaan mu, terutama pada Alpha yang tidak pernah menyukai gadis lain selama hidupnya.”
“Kak, mengapa kau terlihat mendukung Kendra sekarang?”
“Aku tidak mendukungnya, aku hanya membantumu untuk bisa berpikir.”
“Aku tidak butuh itu kak, aku bisa mengaturnya sendiri. Aku memang belum yakin padanya, dan tidak tahu hal apa yang menjadi keraguanku."
Vivian memiliki ketakutan sendiri, melahirkan dan meninggalkan dunia ini. Meski itu masih bertahun-tahun kedepan jika di hitung secara normal, Vivian sudah bisa membayangkannya.
__ADS_1
Jika tubuh asli kembali, mungkin akan baik keluarga mereka, tapi Vivian secara pribadi yang akan merasakan kepedihan, dia yang mengandung, dia yang akan melahirkan, dan orang lain yang akan merawat anaknya.
Vivian tidak mau!
Ini yang membuatnya dengan sadar terus saja mengundur waktu secara diam-diam, Sistem 001 itu menyebalkan!, belakangan ini seringkali mengingatkannya tentang tugas ini. Dia tampak lebih aktif dari pada sebelumnya.
Curang memang.
Sebelum-sebelumnya anak anjing kecil kurus tipis itu bahkan selalu tidur dan makan, hanya melaporkan total poin yang bahkan sekarang Vivian sudah lupa, dan merasa sudah tidak ada gunanya lagi.
“Kau harus belajar untuk mempercayainya. Aku kenal bagaimana Kendra, kau akan bahagia jika bersama dengannya.”
“Aku tahu dia baik Kak, tapi alpha dan alpha apakah itu masuk akal di zaman sekarang?”
“Kenapa tidak, Kakek dan nenek, lalu kakek dan nenek buyut, lalu kakek dan nenek di atasnya buyut, mereka semua adalah Alpha, kehidupan mereka sejahtera dan bahagia.”
Tapi mereka adalah karakter figuran yang hanya satu dua kali muncul di dalam plot cerita! Aku tidak ingin kebahagiaan yang hanya sesaat, dan menghilang dalam sekejap mata. Vivian tidak bisa menanyakan yang sebenarnya pada Stella, dia ragu dan dia tidak yakin Stella akan mempercayainya.
“Kakak benar...” tapi sayangnya aku bukan karakter asli dalam buku ini.
“Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, setidaknya aku bisa mengganti tahun-tahun yang sudah aku abaikan."
“Kak, kita sudah pernah membahas ini berkali-kali. bukan salah kakak, semua ini karena Bibi."
“Dan bibi itu adalah Ibuku sendiri,"
“Kak, tolong...”
“Aku tahu, aku tidak akan membahasnya lagi.” Meski begitu Stella masih tetap akan membahasnya tanpa sadar beberapa hari setelahnya.
Stella tidak bisa merasa tenang sebelum masalah ini selesai, Ibunya harus ditemukan dan kalau bisa di adili, Stella takut ibunya akan datang lagi dan mengancam nyawa, orang itu gila dan Stella menyesal memanggilnya Ibu di masa lalu.
Mario berkata bahwa mereka tidak dapat menemukan jejak Tania, ada orang besar di belakangnya yang menolongnya, Stella memiliki kecurigaan tapi dia masih harus memastikannya sendiri sebelum mengatakannya pada yang lain.
...°°°...
__ADS_1
...Halo, terima kasih sudah membaca dan terima kasih atas dukungan kalian teman-teman...
.