
Stella membuka matanya dan kepalanya menjadi linglung. Pikirannya kemudian teringat dengan kejadian.yang baru saja menimpah dirinya, dia ingat bahwa dia masuk kedalam ruangan di mana Vivian disekap, dan meminta Vivian untuk bekerja sama dengannya.
Pintu itu awalnya memang tertutup dan para penjaga ada di balik pintu itu, Stella menjalankan rencananya, dia bertindak seolah-olah marah dan memukul Vivian, sementara Vivian berteriak kesakitan, sementara mereka melakukan itu Tangan Stella bekerja untuk membuka ikatan tali Vivian dan penutup mata.
Setelah melakukan itu, Stella menekan alat pelacak yang ada di tubuhnya untuk mengirim sinyal kepada Leon. Tidak lama setelah dia melakukan itu, Pintu ruangan itu di buka dengan kasar oleh seseorang dan disusul dengan tepukan tangan.
Kepala Stella jadi pening, dia memfokuskan pandangannya dan melihat bahwa mereka sudah berada di luar ruangan. Stella duduk dengan tangan dan kaki terikat, di belakangnya ada Vivian yang juga terjat bersamanya.
Hah?
Stella melotot, mereka berada di tepi jurang! Tidak jauh dari keduanya pria tua itu berdiri dan tersenyum pada mereka, sambil menikmati rokok miliknya, dan sesekali tersenyum pada Stella.
“Anak baik, kau masih terlalu muda jika ingin bermain-main dengan kakek.... fiuh...” Pria tua menghembuskan asap rokoknya.
“Kau, apa yang sudah kau lakukan! lepaskan kami...” Stella meneriaki pria tua itu. matanya menatap dengan penuh kebencian.
“Sebaiknya kau tidak banyak bergerak, jika tidak kalian akan jatuh...hahaha...Oh, itu juga ide yang bagus...” Tawa pria tua itu melengking.
“Dasar gila!” Stella berteriak lagi, pria tua itu benar-benar sudah gila, tidak waras.
Stella tidak bisa berpikir, bagaimana bisa ada orang segila kakek tua itu, sebenarnya apa yang sudah membuat pria tua itu jadi seperti ini? Dendam apa yang dia miliki...
Suara tawa pria tua itu terdengar sampai-sampai membuat Vivian tersadar, kepalanya sangat sakit dan tubuhnya begitu lemah karena kurangnya asupan nutrisi. Dia menjadi linglung dan tidak mengerti dengan situasi.sekarang.
Vivian tidak lama menyadari bahwa dirinya sudah tidak berada di dalam ruangan, meskipun tangan dan kakinya masih di ikat matanya sudah tidak ditutup lagi. Vivian akhirnya melotot, “Apa yang sudah terjadi? kita ada dimana?”
“Kau sudah bangun, bagaimana kondisimu? Jangan teriak supaya pria tua itu tidak dengar....” Stella berbicara dengan pelan pada Vivian.
__ADS_1
Penasaran dengan Pria tua.yang di maksud Stella, Vivian menoleh dan melihat seorang pria yang isinya seperti kakek mereka, “Siapa kakek itu?”
“Dia orang yang sudah menculik mu.... sudah, jangan tanya lagi,” Jawab Stella.
Vivian melotot, masih tidak percaya. Jadi selama. ini dia mengobrol dan di pukul oleh kakek tua? bagaimana bisa itu terjadi, Orang setua itu harusnya duduk diam dan minum kopi menikmati hari tuanya.
“Tidak mungkin!”
“Aku sudah bilang, pelan kan suaramu...” Stella mengingatkan, yang langsung membuat Vivian bungkam.
Vivian kemudian menoleh dan melihat pemandangan hutan yang lebat dan pegunungan di depan matanya, ditemani dengan angin yang berhembus lembut, dan udara yang dingin, ‘Hah!!!!’
Sial, mereka ada di tepi jurang, Vivian tiba-tiba gemetar dan jantungnya berdetak dengan cepat. Apa dia akan mati disini? Vivian memperkirakan bahwa jurang itu dalam, dia tiba-tiba ingin menangis.
Setelah alur novel berubah drastis dan tidak bisa di perbaiki lagi, Vivian hanya berharap agar endingnya menjadi bahagia paling tidak Kendra mati bahagia di hari tuanya bersama dengan dirinya.
Kemudian dia akan membuka matanya dan kembali di kasur empuknya. Jika dia mati lebih dulu, apa yang akan terjadi nantinya? Mungkin Vivian akan selamanya terjebak dengan sistem rusak itu dan tidak akan pernah lagi bertemu dengan Ibunya.
“Sebaiknya kau diam dan biarkan aku berpikir dulu,” Stella menjawab. Dia juga sedang bingung. Seharusnya informasi itu sudah di terima oleh mereka..
“Apa kau mencari ini?” Pria itu mulai bersuara. Di tangannya ada alat pelacak dan juga peralatan yang membantu Stella menghubungi Leo..
Stella melotot, “Sial, jadi ini adalah rencanamu sejak awal?”
“Aku sudah bilang, kau seharusnya memanggil aku kakek... Aku tidak suka cucu yang tidak patuh.”
"Kakek, Cucu... apa maksud kalian?” Vivian tiba-tiba ikut campur, dia kemudian melihat Pria tua itu tersenyum licik.
__ADS_1
“Oh, aku baru ingat belum mengatakannya padamu anak baik... Aku adalah Yudas Arendal, paman bibimu... kakek jauh Kakakmu...”
“Apa tujuanmu.?” Vivian bertanya.
Pria itu berdecak tidak suka, “Ck, didikan Alisher memang seburuk ini, anak tidak sopan..”
“Tidak usah berbelit-belit, pak tua... katakan apa maumu?” Vivian bertanya lagi.
“Darah harus di bayar dengan darah... itu adalah sumpahku pada hari kelahiran mu, sekaligus hari kematian putriku.” Nada suara pria tua itu tidak enak di dengar di telinga Stella dan Vivian.
Mereka berdua jadi terdiam, dan berpikir apa hubungannya hari kelahiran Vivian dan hari kematian putri pria tua itu? Sangat tidak ada kaitannya, kematian adalah takdir sang pencipta.
“Putriku adalah seorang Alpha, dan dia mengidap kelainan istimewa... Dia jatuh cinta pada ayahmu tapi cintanya tidak pernah terbalas, dia melakukan banyak cara agar bisa mengikat ayahmu, sayangnya semuanya gagal.... Dia akhirnya mati depresi....” Pria tua merasa sedih ketika mengingat putrinya lagi.
Tapi itu berbeda dengan Stella dan Vivian. meskipun mereka merasa kasihan, tetap saja itu tidak dapat di jadikan alasan balas dendamnya. Cinta tidak pernah bisa di paksakan, Stella pernah berada di posisi itu tapi dia mencoba untuk menerima kenyataan, dan akhirnya dia menemukan cinta yang baru.
“Itu adalah cara yang licik. kau tidak bisa memaksakan seseorang untuk terus berada di sampingmu, itu namanya egois....” Stella berkata demikian, dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari pria tua.
“Kenapa tidak bisa? Ibumu bisa melakukannya, kenapa putriku tidak?” Stella terdiam. Yah, dia tahu seperti apa masa lalu orang tuanya tapi hubungan mereka masih logis.
Ibunya adalah Omega Dominan dan saat bertemu ayahnya, ayahnya sedang mengejar seorang gadis. sayangnya cinta ayahnya bertepuk sebelah tangan, wanita itu mencintai alpha lain. Kemudian, Ibunya datang dan mulai dekat dengan Ayahnya, akhirnya mereka menikah.
Meskipun ibunya memiliki tujuan lain, dalam pernikahan tersebut. Tetap saja dia tidak melakukan tindakan yang berlebihan seperti yang di lakukan oleh Helena, putri pria tua itu.
*Karena Ayah hanya mencintai Ibu saja. Ibu adalah satu-satunya wanita yang ada dalam hidup ayah,” Vivian memberikan jawaban, memang agak susah membahas tentang perasan dengan orang yang sudah berumur.
Pria tua terlihat semakin marah pada mereka, tangannya terkepal dan dia menggerakkan giginya lagi, “Tidak ada yang boleh bahagia...jika putriku tidak bahagia....”
__ADS_1
Tawa pria tua itu kembali terdengar, dia menatap langit dan melihat wajah terakhir putrinya, yang tersenyum pilu sambil terus memanggil nama Alex, hingga akhir hidupnya. Air mata jauh seketika, Dia hanya memilik satu anak dan dia sangat menyayangi anaknya itu.
Yudas memanjakan putrinya, dan semua yang di inginkan oleh Helena akan selalu di dapatkan olehnya, sampai pada akhirnya dia jatuh cinta dengan seorang Alpha di kampusnya, Setelah itu, kehidupan putrinya jadi berubah seiring berjalannya waktu. Perasaan putrinya kemudian bertumbuh menjadi obsesi yang tidak dapat di cegah lagi.