Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Ajakan Dansa


__ADS_3

Vivian berdiri di teras rumah, menikmati suasana malam yang dingin. Acara potong kue sudah selesai, Vivian tidak tahu apa yang akan dia lakukan sekarang, malam masih terasa panjang. 


Vivian menutup matanya, ingatannya berkelana jauh ke tahun-tahun sebelumnya, ketika dia masih berada di dunia aslinya. Sejak kecil Vivian hanya hidup berdua dengan Ibu dan kakeknya.


Setiap ulang tahun ibunya akan selalu membuatkan puding agar-agar untuknya sebagai pengganti kue ulang tahun, memang harganya tidak semahal kue tart, tetapi puding Ibunya di buat dengan penuh cinta, itulah yang membuat puding tersebut istimewa.


Kakeknya juga akan membuatkan dia mie panjang umur, Ibunya selalu bekerja keras untuk memenuhi keperluan sekolahnya. Pada awal buka warung, itu hanya sebuah kios kecil. Dari hasil yang di kumpulkan Ibunya, kios kecil itu perlahan menjadi warung makan  rumahan, Burjo kalau kata perantau Jogja.


Makanan yang di tawarkan juga sederhana, seperti nasi telur, nasi orak-arik, Nasi sarden, Nasi ati Ampela, dan beberapa jenis makanan lainnya. Ibu biasanya akan mulai membuka warung makan dari pukul 07.00 pagi sampai malam.


Ibunya pernah berkata; “Jangan pernah anggap dengan apa yang kau miliki, karena bisa saja barang itu akan hilang suatu saat nanti.”


Inilah yang di tanamkan Vivian sejak usianya masih sangat muda. Selain itu, Ibunya juga pernah mengatakan; “Ada tiga hal, yang harus selalu kau ingat. Pertama, Jaga harga dirimu. Kedua, Rajinlah belajar, dan ketiga, jangan membuat malu keluarga.”


Vivian tahu ketiga makna yang terkandung dalam ketiga hal itu. Harga diri yang di maksud adalah Kesucian, sebagai seorang anak gadis, Perintah untuk rajin belajar adalah demi masa depannya sendiri dan jangan membuat malu keluarga artinya buktikan pada dunia bahwa kau bisa menjadi orang.


Menjadi orang sendiri di maksudkan pada keberhasilan dan kesuksesanmu di masa depan. Itu artinya kau bukan orang yang gagal. Vivian tahu itu, makanya dia selalu fokus pada pelajarannya dari pada melakukan hal lain.


Pada saat Vivian sedang melamun tentang dunia asalnya,Vivian merasakan bahwa seseorang menyentuh pundaknya, sehingga membuat Vivian kembali pada kenyataan.


Dia sekarang masih berada dalam buku, di dunia yang berbeda dari dunia aslinya. Vivian menoleh dan menemukan pandangan Kendra mengarah padanya.


Waktu terasa berhenti untuk sesaat, angin malam mulai bertiup menerpa mereka. Lalu Vivian mendengar, “Apa yang kamu lakukan disini? Sangat dingin diluar, jadi ayo masuk.”


Vivian terkejut, orang ini biasanya tidak menggunakan kamu jika berbicara dengannya, biasanya juga kau. Alisnya mengerut, dan itu tidak lepas dari pandangan Kendra.


Kemudian Kendra berkata lagi; “Hei, apakah ada masalah?”

__ADS_1


Vivian menggeleng, kemudian dia merasakan tangannya di genggam, dan memberikan kehangatan karena itu adalah telapak tangan Kendra. Di dalam hatinya Kendra tersenyum senang dan bersorak-sorai.


“Itu, tolong. Lepaskan tanganmu, Aku bisa berjalan sendiri.”


Vivian melihat tangannya yang di genggam lalu dia berpikir apakah Kendra tidak mendengar ucapannya, atau berpura-pura tuli? Hei, apakah kau pikir ini pantas? Kau seharusnya menggandeng Omega mu.


Alisnya dia angkat sebelah, pandangan matanya sulit untuk dia artikan sendiri. Vivian melihat sekitar, untuk mencari di mana Kesya berada. Ternyata gadis itu sedang mengobrol dengan Liam.


Hei, lihatlah ke sana, saingan cintamu sedang mendekati Omega mu, tidakkah kau seharusnya menghampiri mereka dan menarik Kesya untuk tetap di sampingmu?


“Hei, apa kau bisa melepas tanganku? Kita seharusnya tidak berpegangan tangan.”


“Kenapa?” Satu pertanyaan dari Kendra membuat Vivian diam beberapa detik.


“Apakah kau lupa, Aku seorang Alpha. Tidak seharusnya Alpha saling berpegangan tangan.”


“Karena kita bukan pasangan, kau dan aku seharusnya menemukan Omega bukan?”


“Kenapa harus Omega? Keluargamu terkenal karena menikahi sesama Alpha.”


Apa maksud ucapan mu barusan? Vivian menatap matanya, seperti mencari jawaban dari pertanyaannya sendiri. Ini kedua kalinya Kendra berinisiatif membahas tentang pasangan alpha dan Omega dengannya.


Vivian menghela napasnya lalu berkata; “Keluargaku adalah keluargaku, Aku adalah aku. Hanya karena aku dibedakan menjadi Alpha, aku tidak harus mengikuti jejak mereka. Buktinya Ayahku menikahi Ibu ku yang berferomon lemah, meksipun terlambat di bedakan mereka menghasilkan Alpha, yaitu aku.”


Kendra melihatnya dan perasaannya tampak agak kecewa. Perkataan Vivian memang benar, pernikahan Alpha dengan Omega bergen lemah dapat menghasilkan keturunan Alpha.


Sementara Omega dominan dan seorang Alpha biasa, justru akan menghasilkan keturunan Omega karena gen yang di milikinya lebih kuat dari pada milik Alpha-nya.

__ADS_1


Kendra jadi linglung, ternyata bener tidak semua Alpha wanita akan langung memikirkan pasangannya setelah mencapai usia dewasa. Ah, tidak seharusnya bagian ini hanya berlaku pada Vivian.


Biasanya seorang Alpha wanita akan mulai mencari omeganya, ketika sudah mencapai usai dewasa. Sementara Alpha pria menunggu Omega mereka sendiri yang datang mencari.


Tentu saja, Kendra termasuk Alpha yang menunggu Omeganya juga datang. Tetapi bahkan sampai usianya akan beranjak 18 tahun beberapa bulan kedepan, Kendra belum menemukan Omega dengan feromon yang cocok.


Vivian seharusnya tidak masuk list miliknya, tetapi feromon beraroma Citrus dan kayu manis itu, membuatnya sedikit terhipnotis.


Kendra Mendengar Vivian berkata; “Tidak ada yang ingin kita bicarakan lagi kan? Sekarang lepaskan tanganku.”


Kendra tidak bergeming, sementara itu karena Vivian merasa bahwa Kendra tidak ingin melepaskan tangannya jadi dia ingin melakukannya sendiri. Dia harus pergi untuk menemukan Chihuahua lagi.


Bukannya melepaskan, Vivian justru dibuat terkejut karena melihat Kendra membungkuk dan mengajaknya berdansa, Vivian baru menyadari mereka berada di tengah-tengah pesta.


Apa yang sudah terjadi dengan protagonis Pria! Teriak Vivian dalam batinnya, bagaimana dia akan menjawab sementara mata para tamu sudah tertuju padanya. Jika menolak ajakan Alpha ini, Vivian yakin keesokan akhirnya mereka akan menjadi trending topik.


“Baiklah, hanya untuk kali ini saja,” Kendra tersenyum tipis mendengarnya.


“Baiklah Nona,” ucapnya.


Kemudian kedua tangan Vivian menyentuh pundak Kendra, sementara tangan Kendra menyentuh pinggang Vivian. Lalu dia sedikit terkejut, dia tidak pernah memperhatikan lebar pinggang Vivian, tetapi ketika dia menyentuhnya Kendra tahu disana ramping.


“Ini...” Vivian tidak tahu harus berkata apa, sentuhan kendra di pinggangnya itu jujur saja membuat Vivian geli.


,Kendra melihat Vivian lagi, dia mengira bahwa Vivian sedang gugup sehingga Kendra dengan lembut berkata; “Tenanglah, jangan gugup. Sekarang tatap saja mataku dan serahkan semuanya padaku.”


Apa maksudmu dengan gugup! Kau yang gugup, semua keluargamu gugup teriak Vivian di pikirannya, perasaannya berubah menjadi kesal. Lalu dari belakangnya, entah kenapa Vivian merasakan tatapan yang tajam seperti induk singa yang akan menerkam mangsanya.

__ADS_1


Ketika posisi mereka bertukar, Vivian dapat melihat Stella sudah melotot padanya, Vivian dengan wajah yang jelek karena menangis dalam diam mulai membatin; “Ini bukan salah ku, jadi jangan membenciku sehingga itu berpengaruh pada poin misi ku...Hiks...”


__ADS_2