
Pada akhir pekan seperti biasa Vivian akan menghabiskan waktunya di restoran miliknya. Karena Sabtu kosong, Vivian menjadikan hari itu sebagai hari khusus untuknya memasak bagi pelanggan restorannya.
Pengunjung restorannya juga sudah begitu ramai, pada awal resto dibuka mereka kewalahan karena saking padatnya, sekarang meja, kursi mesin kasir dan karyawan sudah di tambahkan lagi.
Semuanya berjalan sesuai dengan apa yang sudah mereka rencanakan, ketika sore hari tiba biasanya Vivian akan membawa makannya ke rumah utama untuk di nikmati bersama dengan keluarga.
“Vivi, ada tambahan pesanan untuk makanan penutup meja nomor Lima"
“Langsung cek aja, seharusnya stoknya masih ada.”
“Dessert rasa coklat mana!”
“Itu di lemari pendingin.”
Restoran pada hari ini cukup ramai karena akhir pekan, kasir di restoran atau tempat pembayaran sudah memiliki tiga karyawan yang masing-masing mengurus satu tempat.Kadang Nila akan menggantikan salah satunya jika tidak ada yang bertugas.
Mario bertugas untuk mengawasi keamanan dan menjaga kenyamanan pelanggan, dia juga bertugas menyambut pelanggan akan masuk kedalam restoran.
Ting!
*Selamat dat--Tuan besar!” Mario berteriak, sehingga membuat karyawan restoran langsung menundukkan kepala, memberi hormat dan pelanggan ada yang diam-diam memotret.
“Kakek, apa yang kakek lakukan disini?” Vivian lari ke luar setelah mencuci sayuran.
“Kakek hanya mengunjungi restoran mu dan ingin melihat perkembangannya.”
“Seperti yang kakek lihat, semuanya dalam kendali kami."
Vivian mengantar Tuan tua ke dalam ruangannya untuk istirahat, Vivi tahu jika orang tua seperti kakeknya ini pasti lebih suka ketenangan dari pada tempat yang ramai, dia juga meminta Chihuahua yang sedang tidur di dekat pintu untuk ikut menemani kakeknya.
Chihuahua yang tidurnya terganggu pun bangun dan masuk ke dalam ruangan Vivian, Tuan tua sedang memperhatikan interior ruangan tersebut, cukup nyaman dan pas untuk anak muda seperti Vivian.
Sebenarnya Tuan tua punya urusan lain untuk dilakukan dengan Vivian, tapi karena melihat restoran yang ramai, Tuan tua memilih untuk menunggu pekerjaan Vivian selesai dulu. Pintu kembali dibuka, Vivian masuk dan membawakan beberapa jenis puding rasa.
“Makanlah kakek, aku tidak terlalu menggunakan banyak gula didalamnya."
[Tuan rumah, punyaku mana?]
”Apakah anjing juga makan puding?”
[Humpt, tuan rumah anda pilih kasih.]
“Apa kau ingat kalau itu Kau tidak pernah membantuku, menyelesaikan misi?"
“Baik, letakkan saja di meja. Dan setelah pekerjaanmu selesai, tolong temui kakek, ada yang harus kakek bicarakan dengan mu.”
Vivian cuma mengangguk dan pamit untuk melanjutkan pekerjaannya. Tuan tua menunggu cukup lama di dalam ruangan, puding yang di berikan oleh Vivian rasanya enak dan lembut.
Pada saat hari sudah sore, pintu restoran kembali di buka. Mario mengucapkan selamat datang untuk pengunjung tersebut, seorang laki-laki tua bersama dengan cucu laki-lakinya, Kendra.
__ADS_1
“Kakek, carilah tempat yang nyaman untuk mau duduki. Aku akan menyusul setelah memesan makanan lembek untukmu.”
“Hm, lakukan saja apa yang kau mau.”
Kendra pergi menuju ke Vivian untuk bertanya tentang makanan lembek yang bisa di makan oleh Tuan tua Leonard, belakangan ini gigi kakek tuanya sedikit sensitif dan kesulitan mengunyah makanan.
Vivian menatapnya dan mulai menjaga jarak dari Kendra, dia berpikir kalau hari ini akan tenang, tapi sepertinya Vivian salah karena meksipun Kendra tidak muncul di pagi hari, masih ada sore hari untuknya.
“Tenanglah, kenapa kau menjauh? Aku tidak akan melakukan apa-apa hari ini.”
“Apa yang kau mau?”
“Aku mencari makanan lembek untuk kakek tua keluargaku.”
“Aku tidak menjual bubur, hanya ada dessert disini.”
“Itu juga cukup baik”
“Pergilah dan temui Mario, dia tahu semua makanan."
“Baik, aku pergi. ngomong-ngomong, kau tampak imut dengan serbet itu."
Serbet apa! ini celemek. Baru saja Vivian mau bicara, dia sudah tidak melihat Kendra. Pemuda itu sudah pergi lagi, Vivian geleng-geleng kepala dan melanjutkan pekerjaannya bersama dengan dua koki Beta.
Kendra mendekati kakeknya setelah mendapatkan makanan lembek untuknya. Tuan Tua Leonard memperhatikan keseluruhan restoran dan terakhir dia menatap puding yang baru saja di letakan oleh Kendra di atas meja.
Tuan tua Leonard mencoba puding itu dan kagum dengan rasanya, kemudian dia mendengar cucu laki-lakinya berkata; “Kalau kakek mengizinkan aku untuk mengejar pemilik restoran ini, kakek pasti akan lebih sering mencoba masakanya.”
“Tentu saja tidak, hanya kebetulan saja kakek...” Memanfaatkan kesempatan di depan mata, lanjut Kendra dalam hatinya.
Kau pikir aku tidak bisa membaca wajahmu, anak muda? Tuan Tua Leonard tahu kalau sejak pagi tadi, Kendra sudah berulang kali naik turun tangga di rumah dan masuk ke dalam kamarnya untuk mencari cara agar dia bisa menyetujui keinginan Kendra untuk mengejar seorang Alpha wanita.
Wajah tuanya mengusung, pada saat yang sama pintu di depannya terbuka, Tuan tua mengernyit ketika dia melihat seorang kawan lama, juga ada disini. Diam-diam Tuan tua ingin tertawa, memang sebuah kebetulan saja.
Tuan tua Alisher yang merasa di pandangi pun juga terganggu, dia balik menatap ke arah pandangan itu berasal kemudian dia menyesalinya. Kenapa orang berumur ini juga bisa ada disini?
Untuk menjaga muka, Tuan tua Alisher pun ikut bergabung dengan keduanya. Kendra menatap kedua kakek tua tersebut secara bergantian, mereka tampak santai, Meski dia sadar dengan pandangan Tuan tua Alisher kurang bersahabat.
“Oh, tumben sekali Pak tua keluar dari sarang, Apa yang membawamu sampai kemarin?” Tuan tua Alisher yang membuka obrolan.
“Pak tua ini juga butuh waktu santai, aku mendengar ada restoran baru jadi aku ingin mencobanya.”
*Hei, bukankah kalian rival? Kenapa terlihat jauh lebih akrab?”
“Bagaimana menurutmu, masakan cucuku enak kan?”
“Ya, aku akui itu. Dia gadis yang hebat.”
“Kalau begitu, berikan aku restu mu kakek, kau sudah mengakui dia hebat kan?” Kendra tiba-tiba ikut dalam obrolan kakek tua, sehingga dia menjadi objek yang di perhatikan oleh keduanya.
__ADS_1
“Kau, restu apa maksudmu!” Tuan Tua Alisher yang bertanya.
“Jangan hiraukan dia, cucuku memang suka bercanda, abaikan saja.”
“Kakek, kau harus menolongku.”
“Siapa yang ingin menolong cucu nakal sepertimu?”
Kendra mendengus, dan memilih untuk diam. Orang tua seperti kakeknya memang berbeda, sekarang dia memilih untuk hanya mendengarkan percakapan mereka dan menutup mulutnya serapat mungkin. Kemudian tiba-tiba saja sekitar mereka menjadi hening.
“Aku mendengar bahwa seorang Alpha sedang mendekati cucuku.”
Gluk!
“Alpha itu sudah menyerang cucuku sebanyak tiga kali, menurutmu apa yang sebaiknya aku lakukan padanya?”
Gluk!
“Lakukan saja apa yang kau mau, aku tidak peduli dengan Alpha yang kau sebut itu.”
Ohok!
Dimana ketidakakraban kalian? apakah ini yang di sebut sebagai rival yang tidak pernah akur? Ini jelas-jelas memperlihatkan kedekatan kalian, pikir Kendra. Kakeknya dan kakek Vivian seharusnya memiliki hubungan seperti saudara, jadi bagian mana yang salah?
“Kau memberi aku izin? Meskipun Alpha yang aku sebutkan adalah keturunanmu?”
“Heh, tidak mungkin. Cucuku menyukai Omega.”
“Omega apa? Dia terus menempeli cucu perempuanku!”Suara Tuan tua Alisher agak meninggi.
“Tidak-tidak, pasti cucu perempuanmu yang lebih dulu mendekati Cucuku,” Tuan tua Leonard menjawab dengan sangat santai.
“Cucu Perempuanku memang ramah, cucumu saja yang mengartikannya dengan maksud lain.”
“Cucuku tidak seperti itu, dia taat aturan.”.
“Oh, benarkah! Lalu kenapa dia terus mengendus seperti Chihuahua, yang lengket denganku?”
Tuan tua Leonard kemudian menatap kearah Kendra, alis tuanya mengernyit, apakah itu benar? Kendra yang di tatap kemudian merasa linglung, apakah Tuan Tua keluarga Alisher ini sudah mengawasi dirinya? Sehingga sampai tahu apa yang sudah dia lakukan.
“Apa kau benar-benar berperilaku sepeti bulu tipis kecil itu?” Tuan tua Leonard bertanya pada Kendra, sambil melirik Chihuahua yang berada di dekat pintu ruangan Vivian.
Chihuahua; [Apa salahku?]
“Hei, aku hanya menghirup aromanya bukan mengendus dan bertingkah seperti anak anjing.”
.
...Danke...
__ADS_1
...atas dukungan kalian teman-teman...
...Semoga kedepannya saya bisa lebih baik lagi dalam menulis, sadar banget banyak typo seperti Meskipun yang jadinya Meksipun...