
Keesokan harinya mereka bergerak cepat, dari apartemen Vivian mereka langsung menuju ke Rumah utama. Stella dan Nila sudah mengabari semuanya untuk berkumpul kembali, Rumah besar keluarga Alisher pun menjadi ramai karena banyak orang yang berkumpul.
Sebenarnya karena penyelidikan mereka yang sampai larut malam, Kendra dan yang lainnya diminta untuk menginap disana. Pekerjaan kantor di abaikan oleh Excel dan Alex, juga tuan tua yang meski sudah sangat jengah karena belum ada titik terang, tetap ikut untuk mendengarkan Rencana cucunya.
“Sekarang katakan pada, apa rencana yang kau miliki Stella?” Wajah tua itu menatap cucu perempuan pertamanya.
“Singkatnya aku ingin meminta izin dari kakek, ayah dan paman untuk menyetujui rencana ku ini.... Tolong, jadikan aku tawanan kalian....” Tatap Stella.
“Apa maksudmu, menjadikan dirimu tawanan?” Excel menatap mata putrinya tidak mengerti, dengan pikiran Stella.
“Aku ingin memancing Ibu, ayah... Aku tahu bagaimana Ibu... meskipun dia jahat dan sudah memperdaya aku selama puluhan tahun... seharusnya sebagai seorang ibu dia tidak akan mau melihat putrinya dalam masalah kan?” Stella bertanya balik, pandangan matanya semakin serius.
“Kau tidak perlu melakukan hal berbahaya ini, Stella... Paman dan semuanya akan melakukan yang terbaik untuk Vivian...” Kali ini, Alex yang bicara, dia tahu apa yang sudah terjadi tapi semua itu bukan salah Stella, dia tidak tahu apa-apa.
Ini sepenuhnya adalah salahnya....
Meskipun belum secara utuh, Alex tahu bahwa pria yang mendatangi dia delapan belas tahun lalu di rumah sakit, memiliki dendam pada dirinya karena kematian putrinya yang depresi, oleh karena cintanya tidak pernah terbalas.
Dugaannya setelah penolakan Alex di belakang universitas hingga sampai setahun kelulusan mereka, dimana dia melamar Kania di taman, dengan selang waktu setahun lagi tepat di hari pernikahannya, wanita itu kembali dengan perut yang sudah terisi.
Mengaku bahwa itu adalah bayinya...
Setelah usahanya gagal, Wanita itu semakin depresi setelah melahirkan anaknya yang entah siapa ayahnya, kemudian berlanjut hingga pada hari kelahiran Vivian, Pria itu datang dan berkata bahwa darah harus di bayar dengan darah...
__ADS_1
Wanita itu mati...
Alex tahu disini ada kesalahpahaman, hanya saja karena waktu yang semakin berjalan itu membuat beberapa hal menjadi tidak penting lagi dan pria itu hanya ingin balas dendam padanya melalui Vivian, titik lemah Alex.
Alex melihat senyum Stella, kemudian dia mendengar keponakannya berkata; ”Biarkan aku melakukannya paman, aku berutang banyak hal pada Vivian... Kali ini biarkan aku menggunakan peranku sebagai seorang kakak yang seharusnya melindungi adiknya....”
“Paman tahu, tapi kau tidak harus membahayakan dirimu untuk putri paman...paman yakin kita bisa segera menemukan Vivian, dia adalah gadis yang kuat seperti Ibunya. Dia juga adalah Alpha, Vivi akan baik-baik saja...” Alex khawatir, tapi dia tidak bisa membiarkan keponakannya dalam bahaya juga.
Dia tidak bisa mementingkan kepentingannya sendiri dan mengabaikan perasaan Kakaknya. Alex sangat kenal Excel, meskipun dia tampak tidak peduli, sebenarnya hatinya rapuh. Excel menyimpan kekecewaannya sendiri terhadap Tania, wanita yang bertahun-tahun sudah menemani dirinya.
Selain kecewa, Excel juga menyimpan rasa bersalahnya sendiri. Dia merasa bersalah pada adiknya, dan kepada Vivian yang tumbuh tanpa kasih sayang dan selalu di gertak oleh Stella dan Tania, sekarang keponakannya itu menjadi alat balas dendam pria misterius di belakang istrinya.
Stella masih berusaha agar keluarganya setuju, kali ini harapannya adalah Tuan Tua Alisher. hanya pria tua itulah yang bisa memutuskannya, Stella berlutut di depan Tuan tua dan menggenggam tangan tua itu;
Tuan tua menatap mata Stella, memang tujuan dirinya mengirim Stella kesana adalah agar cucunya itu bisa menjadi lebih baik, disiplin dan bertanggungjawab, dia tidak pernah mengharapkan perubahannya sampai seperti ini.
Thomas melirik kedua putranya, kemudian dia menganggukkan kepalanya, “Baiklah, kakek akan setuju tapi...”
“Tidak, ayah! bagaimana kau bisa lakukan itu? Stella cucumu, tempat itu berbahaya...” Alex menentang keputusan Tuan tua.
“Ini sudah tiga hari, dan kalian belum menemukan titik terang... Apa salahnya menggunakan rencana Stella? menyusup lebih baik dari pada hanya diam di tempat dan menggunakan elektronik...percayakan hal ini pada Stella... jangan khawatir, dia pasti bisa melakukannya.” Tuan tua tersenyum pada Stella dan itu membuat Stella terkejut.
Dalam ingatannya, dia tidak pernah memberikan sesuatu yang membanggakan kepada keluarga, bertahun-tahun dia hidup sebagai boneka ibunya dan hanya bisa menggertak Vivian, kemudian berpura-pura menjadi omega lemah sehingga orang lain memarahi Vivian.
__ADS_1
Dia tumbuh tanpa prestasi apapun...
“Apa kau benar-benar bisa melakukannya?” Excel yang sedari tadi diam memilih bertanya pada Stella dengan kepala yang linglung.
“Percayalah padanya, inilah kenapa aku mengirim dia ke akademi militer, selain untuk memperbaiki kelakuannya banyak hal yang bisa dia dapatkan disana... pelatihan mereka setara dengan pelatihan yang di terima oleh Mario dan Nila paling tidak dalam hal bertarung.”
Excel menatap Tuan tua agak lama sebelum dia menghela napas dan akhirnya menganggukkan kepalanya, sebagai persetujuan untuk Stella. Alex juga hanya bisa menghela napas, mau tidak mau harus ikut setuju.
“Berjanjilah kalian akan baik-baik saja...,”
“Aku janji paman, aku pasti akan membawa Vivi kembali,” Stella bangkit kemudian memeluk mereka satu persatu.
Varel dan yang lainnya sejak tadi hanya diam dan menyimak pembicaraan mereka saja. meskipun Varel ingin bersuara, dan memberikan pendapatnya, dia sadar bahwa suaranya kali ini tidak akan dibutuhkan. Jadi dia memilih diam dan menunggu tahap selanjutnya.
Varel berpikir bahwa rencana Stella patut untuk di coba, hanya saja dia tidak tahu apa yang akan Stella hadapi setelah dia masuk kedalam Sadang mereka, Dia juga menghawatirkan keadaan Vivian.
Sudah tiga hari sejak penculikan dan mereka belum menemukan apapun tentang pria itu, semua informasinya sudah di hapus sehingga tidak ada satupun yang dapat menjadi petunjuk. Varel juga berpikir apakah mereka bisa membodohi orang-orang itu?
Kendra memperhatikan Stella, dan melihat banyak perubahan dari teman kecilnya ini, dia kemudian bertanya: “Apa kau benar-benar akan melakukannya?"
Stella hanya tersenyum lembut, “Iya, anggap saja ini sebagai balasan karena sudah menjaga aku sejak kecil...Aku pasti akan membawa kembali pasanganmu, Ken.”
“Terima kasih, Ella” ucap syukur Kendra.
__ADS_1
Liam yang sudah tampak lelah karena terus berada di depan komputer akhirnya menghela nafas, dan berkata; “Huft... aku harap kali ini akan memberikan hasil, ngomong-ngomong apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”