
Alunan musik terdengar menemani setiap gerakan mereka, tangan mereka bertumpu pada posisi yang masih sama. Pandangan mata mereka saling bertukar, seperti sedang berkomunikasi. Senyum tipis tidak pernah hilang dari wajah Kendra.
Perasaannya begitu nyaman, mata bunga persik Vivian sekarang tepat berada dekat dengannya. Bibir semerah buah delima itu juga tidak ketinggalan dengan pandanganya, ingin rasanya Kendra menabraknya namun dia masih ingat aturan penting dalam norma masyarakat.
Menjaga kesopanan dan tata Krama, tidak bertindak seenaknya, dan hormatilah orang lain jika kau juga ingin di hormati. Kendra memperhatikan bahwa bagian bulu mata Vivian agak lebat dan terlihat lentik.
Pinggang Vivian juga terasa begitu pas di tangannya, aroma tubuh miliknya juga menyegarkan, dalam suasana dansa ini Kendra mengambil kesempatan untuk berbisik; “Selamat ulang tahun, malam ini kau terlihat sangat cantik.”
Tiba-tiba dipuji cantik seperti itu tanpa persiapan, tentu saja Vivian tidak bisa menahannya sehingga kedua pipinya tercetak rona merah. Mengapa kau tiba-tiba mengatakan hal seperti itu? Vivian menatap Kendra dengan alis yang mengkerut.
“Apa yang baru saja kau katakan? Aku....” Vivian tidak melanjutkan, karena bibirnya terhalang oleh sesuatu. Kendra menempatkan jari telunjuknya disana.
“Diam, dan nikmati saja alunan musiknya.”
Mereka berputar-putar, dan menari dengan indah. Kendra menikmati setiap waktu yang dia habiskan dengan Vivian sekarang, mereka menjadi pusat perhatian di aula dansa, semua mata memandangi mereka.
Stella dan Kesya menatap mereka dengan pandangan yang berbeda. Meskipun Kesya adalah protagonis wanita, yang berakhir tragis dalam buku ini jika Vivian tidak berhasil menjalankan misinya. Kesya juga tidak memiliki hak untuk marah pada Vivian.
Dia melihat bahwa Kendra lah yang pertama kali mengajak Vivian berdansa, karena tampaknya Vivian sedang memikirkan sesuatu tadi, sehingga dia banyak menghayal.
Liam memperhatikan Kesya yang terus memandang ke arah aula dansa, kemudian dia juga melakukan hal yang sama pada Kesya membungkuk untuk mengajaknya berdansa; “Ayo kita lakukan juga, kita jangan kalah dengan mereka.”
“Eeh, tapi...” Kesya dengan ragu ingin berbicara. Akan tetapi dia tidak bisa menyelesaikannya karena tangannya sudah di tarik oleh Liam ke area dansa.
“Sudah, ayo. Ini hanya berdansa bukan yang lain, tadi aku melihat bahwa kau terus saja menatap mereka.”
__ADS_1
“Itu karena menari mereka indah,” Kesya berucap sambil menatap Liam. Tangan Alpha itu sudah ada di area pinggang Kesya, mata mereka saling bertemu.
Meskipun ada alunan musik, Kesya merasa bahwa dunia di sekitarnya justru sunyi. Di depan matanya sekarang hanya ada Liam, Alpha dengan senyum yang hangat.
Sejujurnya, sudah sangat lama ketika Kesya terakhir kali Kesya berdansa. Jika Kesya tidak salah ingat itu terjadi pada saat dia ada di taman kanak-kanak, ketika sekolah mengadakan pesta untuk perayaan kelulusan mereka.
Saat itu, Kesya sedang diam dan hanya menatap teman-temannya yang sedang berkumpul dan memamerkan pakaian mahal mereka. Seorang anak laki-laki datang mendekati dia dan berkata; “Ayo ikut aku. Pesta dansa akan di mulai, guru mengatakan aku harus mencari pasangan jika ingin ikut.”
“Kau siapa? Kata Ibu tidak boleh berbicara sembarang dengan orang asing.”
“Aku bukan orang asing, namaku Ander. Kita adalah teman kelas, jadi kau harus ikut denganku.”
Saat itu Kesya hanya mengikuti anak laki-laki tersebut, dan berdansa bersamanya. Ketika acara kelulusan mereka, sebelum keduanya berpisah anak laki-laki itu berkata pada Kesya; “Sekarang kita sudah lulus dari TK, dan akan menjalankan kehidupan sekolah di tempat yang berbeda. Aku akan pergi ke luar kota, tapi aku janji suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi. Jadi tunggu aku yah, mungkin saja di masa depan aku akan menjadi Alpha mu.”
Kata-kata anak laki-laki itu masih terus permanen di pikirannya. Tetapi Kesya tidak ingin berharap lebih, pada suatu hal yang memang belum tentu akan terjadi. Tanpa sadar dia menyebut nama anak laki-laki itu, “Ander...”
Jika itu adalah dirinya, maka mungkinkah Kesya adalah Leyra? Gadis pendiam di taman kanak-kanaknya dulu? Liam tidak tau pasti. Tetapi sejak pertama kali bertemu dengan Kesya, dia sudah memiliki perasaan yang akrab.
Masih dalam suasana dansa, ketika tiba-tiba lampu mati membuat kegiatan mereka terhenti. Vivian melepaskan tangannya, dan mengambil kesempatan untuk kabur, tapi seseorang sudah berdiri tepat di belakangnya.
Vivian merasakan hembusan napas di dekat telinganya, lalu kemudian vivian merasakan bahwa ada seseorang memeluknya dari belakang, dan juga satu ciuman di pipinya membuat Vivian terkejut.
“Kau, siapa kau?” Vivian bertanya, suaranya agak keras sehingga itu juga di dengar oleh Kendra.
“Apa yang sudah terjadi? Vivian kau baik-baik saja kan, sial! Mengapa sangat gelap.”
__ADS_1
“Aku baik-baik saja tapi...” Lampu tiba-tiba kembali menyala. Mata Kendra melotot ke arah Vivian, tidak tepatnya ke arah pemuda Beta yang sedang menekuk Vivian dari belakang, bahkan dengan beraninya dia bersandar di pundak Vivian.
Vivian yang masih dalam keterkejutan, tidak tahu harus berbuat apa. Dia juga sedang bertanya-tanya pada dirinya sendiri, siapa karakter yang satu ini? Pemuda Beta itu tersenyum dan berkata dengan lembut; “Selamat ulang tahun, kecil.”
Cup
Vivian merasakan ciuman di pipinya lagi, otaknya jadi blank. Kendra di buat terkejut dengan tindakan Beta tersebut, berani sekali dia bertindak. Bahan Kendra yang sudah mengenal Vivian dua bulan tidak pernah berani untuk melakukannya.
“Hei, kau siapa? Berani sekali kau mencium orang sembarangan.”
“Apa maksudmu seperti ini?”
Cup...
Bibir pemuda Beta itu bertengger lama di pipi Vivian, Kendra bisa melihat bahwa wajah Vivian sudah memerah karena malu. Gila saja, siapa yang akan mencium seseorang di depan umum seperti itu?
“Kau, siapa kau? Lepaskan aku...” Vivian berusaha untuk lepas dari pelukan pemuda Beta itu. Dia tidak suka jika harus menjadi pusat perhatian banyak orang, seperti ini.
“Kecil, apa kau benar-benar melupakan aku? Aku sangat merindukanmu tahu.”
Jangan panggil aku kecil, aku tidak kecil, tinggi ku 155 cm di dunia asliku dan 153 cm di dunia mu! Vivian meneriaki pemuda Beta itu dalam batinnya. Kendra melihat bahwa sejak tadi, pemuda Beta itu tidak pernah meresponnya.
Jadi Kendra berjalan mendekat pada mereka, memegang tangan Vivian, lalu langsung menarik Vivian agar berdiri di belakangnya, sehingga tindakannya itu membuat Vivian terkejut.
Situasi apa ini? Mengapa Kendra terlihat marah? Otak Vivian jadi linglung, kemudian dia melihat Stella sedang menatapnya dengan marah seperti mengatakan ‘Tunggu saja, aku akan membunuhmu.’
__ADS_1
Vivian tergigit nyeri, kemudian dia tiba-tiba mendengar Chihuahua berkata; [Tuan Rumah, gawat! Anda mendapatkan pengurangan poin pada misi keluarga sebanyak 20, total poin untuk sekarang 45. Tuan harpa perhatikan ini.]
“Sialan, Kau pasti sengaja!” Vivian dengan kesal meneriaki Sistem.