Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Keluarga Alisher


__ADS_3

Varel tiba di kota silver pada pukul 09.00 malam, dia langsung bergegas kembali ke rumah utama tanpa memberikan kabar kepada kedua orang tuanya lebih dulu. Para penjaga menyambut kedatangan Varel, Kebetulan Paman pertamanya baru saja.kembali bersama dengan Paman mudanya.


Wajah Alex kurang baik, matanya merah dan feromonnya tidak terkendali. Dia baru saja mengamuk setelah sekian tahun, setelah kematian ibu Vivian. Excel dengan sigap mengurus adiknya.itu, sementara tuan tua duduk masih memikirkan apa yang baru saja terjadi hari ini..


Pagi tadi Vivian pulang ke rumah dan membicarakan beberapa hal tentang cabang bisnisnya l, juga beberapa hal lainnya. Kemudian di siang hari, Vivian berencana kembali dan tidak tinggal, sore harinya Tuan tua ke rumah sakit untuk pemeriksaan kesehatan.


Kembali ke rumah dia mendengar perjalanan cucunya dihalangi orang asing, supir yang bersama Vivian dirawat di klinik dan cucunya Vivian di bawa pergi oleh orang asing.


“Jadi, bagaimana kejadian ini bisa terjadi?” Tuan tua bertanya sambil matanya melirik ke arah Kedua putranya.


“Semuanya terjadi secara tiba-tiba, Ayah...” Excel ingin menjelskan tetapi kalimatnya sudah di potong oleh Varel.


“Maaf paman pertama, aku tidak sengaja memotong ucapan paman tapi aku pikir itu bukanlah kejadian yang tiba-tiba...” Sejenak Varel berhenti sebentar.


“...Ayahku berkata bahwa itu sebuah rencana. seseorang mungkin sudah lama merencanakan ini, aku tahu belum lama ini Perusahaan sedang dilanda masalah, juga restoran Vivian, dan insiden di hari ulang tahun Vivian...”


“Apa bisa langsung ke intinya saja?” Excel bertanya, dia tidak suka pembahasaan yang berbelit-belit tapi keponakannya ini begitu mewarisi sikap Ayahnya.


Gilbert, Excel dan juga Alex sudah saling kenal sejak zaman kuliah. Pertama kali kenal ketika Anna membawa Gilbert ke rumah mereka dan memperkenalkannya sebagai pasangan kekasih.


Dari sana Excel tahu seperti apa Gilbert yang suka berbelit-belit dalam bicara. dan mereka tidak tahu kenapa saudarinya bisa jatuh cinta dengan pria seperti Gilbert ini.


“Baiklah, intinya ayah berkata bahwa semuanya sudah di rencanakan oleh orang itu, bisa dilihat dengan kaki tangannya, bibi yang selalu menjadikan Stella sebagai bonekanya untuk menggertak Vivian setelah bibi kedua meninggal”

__ADS_1


Varel menatap serius pada paman keduanya, “Orang itu ingin balas dendam jadi, Apakah paman tidak pernah merasa memiliki masalah atau konflik dengan seseorang di luar sana?”


Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Varel, Alex cukup terkejut. Dirinya merasa tidak pernah menyinggung seseorang di luar sana, setiap kali melakukan pekerjaannya dia selalu menggunakan cara yang bersih, jadi bagaimana bisa dia tiba-tiba memiliki musuh?


Dan musuh itu menggunakan putrinya untuk balas dendam padanya, karena mungkin saja mereka sudah tahu titik lemah Alex. Setelah istrinya meninggal, dia terpuruk dan mengabaikan putrinya.


Sampai suatu ketika, Vivian dalam bahaya besar yang bisa merenggut nyawanya barulah dia mulai sadar dan tahu letak kesalahannya dimana. Tania kakak iparnya, menjadikan putrinya sendiri sebagai batu loncatan.


Alex menggeleng, “Paman tidak pernah merasa sudah terlibat dengan seseorang.”


“Coba ingat lagi, mungkin kau memiliki musuh saat zaman kuliah dulu,” Excel mencoba untuk membantu sebisanya, adiknya ini memiliki ingatan yang buruk untuk hal yang menurutnya tidak penting.


Alex tetap menggeleng, “Tidak ada, kecuali saingan cintaku tapi dia sudah lama meninggal karena penyakit jantung.”


“...” semua orang.


Pada akhirnya dia harus menerima kekalahan karena Kania mencintai Alex, Saingan cintanya pun memilih untuk mundur. dia berpikir bahwa Kania akan jauh lebih bahagia jika hidup bersama dengan Alpha dari kalangan atas.


Tiga tahun lalu, Alex mendengar bahwa saingan cintanya sudah berpulang karena sakit jantung stadium akhir, memikirkan itu Alex sedikit berpikir bahwa orang itu beruntung karena lebih dulu bertemu dengan Kania.


Itu membuatnya sedikit cemburu, karena berdasarkan kabarnya hingga akhir hidupnya, Saingan cintanya memilih untuk hidup sendiri dan tidak mencari pasangan hidup, teman-teman seangkatan mereka mengaitkan keputusan itu dengan Istrinya.


“Aku benar-benar tidak memiliki masalah dengan orang lain,” Alex berkata lagi karena dia melihat ayah dan kakaknya seperti ragu-ragu padanya.

__ADS_1


Varel berpikir kembali, “Jika paman tidak memiliki musuh, hal apa yang membuat orang itu selalu menargetkan Vivian dan bukan aku atau Stella?”


“Orang itu tidak mungkin menyentuh Stella karena Tania ada bersamanya, jika ingin menjadikan Tania sebagai kantung sampah, maka Stella adalah kuncinya.” Excel bicara, meskipun itu adalah istri dan anaknya, Excel tidak akan mentolerir tindakan kejahatan.


“Ayahku yakin jika orang itu ingin balas dendam pada Paman kedua, sekarang kita hanya tinggal mencari tahu saja apa yang sebenarnya terjadi.”


Alex pusing, dia tidak bisa berpikir dengan baik. Dia menghawatirkan keadaan putrinya, dia tidak tahu apakah orang itu memperlakukan putrinya dengan baik, atau mereka sudah menggertak putrinya.


Tuan tua memperhatikan Alex kemudian dia menghela napasnya, “Sebaiknya kau istirahat, Alex. Ayah pikir kau harus menjernihkan pikiran kemudian setelah itu kita bisa melanjutkan ini.”


“Aayh.benar, kau harus istirahat dulu. Kau pasti sudah sangat lelah sejak sore tadi, jangan khawatir kami akan melakukan yang terbaik untuk menemukan Vivian.” Excel menyentuh pundak Alex dan memberinya pengertian.


“Varel, antar pamanmu ke kamarnya...” Tuan tua Alisher memerintahkan Varel.


“Ayo paman...” ajak Varel. dia memapah Alex menuju kamarnya dan membantu membaringkannya.


Varel berpikir bahwa dia harus melakukan sesuatu juga, dia tidak bisa hanya mengandalkan Paman dan juga ayahnya. Dia memperhatikan wajah lelah Alex, pamannya ini sedikit kasihan, istrinya meninggal saat usia Vivian masih.sangat muda..


Dia juga mengetahui sebagian besar waktu pamannya di habiskan untuk bekerja, penyesalan terbesar pamannya adalah karena tidak memperhatikan pertumbuhan dan kondisi Vivian, dia memiliki banyak utang pada anak itu.


Baru dua tahun ini Alex bisa membayar semuanya pada Vivian, tapi itu masih jauh dari cukup. Meskipun Vivian mengatakan tidak apa atau mengatakan bahwa dia tidak masalah, atau mengatakan dia suka, Alex tahu putrinya tidak terbiasa dengan perhatian yang dia berikan.


Karena waktu yang dia buang selama bertahun-tahun, Alex tidak tahu bagaimana dia harus menghadapi putrinya, dia tidak tahu bagaimana harus bertindak di depan putrinya dan juga tidak tahu pasti apa yang disukai oleh putrinya.

__ADS_1


“Kania....”


Varel menyelimuti Alex, dan tangannya terkepal, “Paman, bibi... percayakan semuanya pada kami, aku pasti akan membawa Vivian kembali.”


__ADS_2