Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Gunung Silver


__ADS_3

Gunung Silver merupakan gunung terbesar yang jaraknya dekat dengan kota Silver. Lingkungannya hijau dan asri, tepat di belakang pemukiman warga desa Hijau. Pada awalnya, gunung Silver bernama gunung hijau, akan tetapi masyarakat mengusulkan untuk mengubahnya menjadi gunung Silver karena masalah namanya.


Pegunungan sudah tentu identik dengan warna hijau, jadi bagi mereka tida iak seusai saja karena jika begitu seharusnya semua gunung bernama gunung hijau. Silver sendiri dipilih karena kota silver adalah kota yang paling berkembang yang dekat dengan mereka.


Semua hasil tanam dan panen mereka jual ke pasar tradisional di kota Silver. Karena pemupukan yang masih original, hasil panen selalu tidak selalu mengecewakan. Lokasi kemah ada di sekitar perkebunan Sawi dan lainnya, ada kebun buah juga.


Udara di desa Hijau begitu segar, masih sangat alami berbeda dengan kota silver. Dari pinggir tempat lembah adalah jalan setapak dengan rerumputan liar, berjalan sebentar untuk melewati kebun sayur dan buah akan ada persawahan di sisi kanan dan kiri, sebelumenemukan gerbang untuk memasuki area hutan.


Pada hari libur, Gunung Silver akan dipenuhi oleh para pendaki yang ingin berkemah di puncak gunung Silver. Area puncak tidak begitu luas, dan hanya bisa menampung 30 tenda kecil. Bus Vivian tiba saat menjelang siang hari tadi, para warga sebelumnya sudah membantu untuk menyiapkan tenda mereka.


Tenda Alpha laki-laki bersampingan dengan tenda Beta laki-laki, lalu Tenda Vivian setelah tenda Beta laki-laki yang di batasi oleh pagar bambu. Setelah tenda Vivian yang gabung dengan Beta perempuan, adalah tenda yang ukurannya agak sedang, milik Omega wanita dan terakhir adalah milik Omega laki-laki, yang isinya Kurang dari 10 orang.


Hari sudah sore dan jam sudah menunjukkan pukul 16.00, Vivian dan Nila keluar dari tenda mereka setelah beristirahat sejenak. Udara sore sudah mulai dingin, mereka menggunakan jaket mereka, dan duduk didekat lokasi api unggun.


“Perjalanan wisata ini, menyenangkan tapi apakah kau merasa ada yang aneh dengan Rio?” Nila membuka pembicaraan diantara mereka.


Vivian yang mendengar pertanyaan tiba-tiba Nila, menoleh dan mengernyit; “Aneh bagaimana?”


“,Dia tampak lebih banyak menghayal baru-baru ini. Padahal biasanya dia selalu aktif.”


“Mungkin dia mabuk darat sepertimu.”


“Itu tidak mungkin, kita pernah pergi bersama ke kota Gold dan dia aman-aman saja.”


“Mungkin karena kita menggunakan Bus, dan terlalu banyak orang di dalam.”


“Uhm, itu mungkin saja. Tapi...”

__ADS_1


“Sudah, jika perilakunya masih berlanjut mari kita tanya saja padanya agar lebih jelas.”


“Ya, kau benar.”


Hari sudah semakin sore, Guru penanggungjawab yang ikut bersama mereka kembali meniup peluit dan meminta para pelajar untuk berkumpul mengelilingi api unggun, tentu saja dengan pengaturan yang berbeda dari sebelumnya. Pelajar perempuan duduk selang-seling sesuai dengan genre Keuda mereka.


“Guru, boleh aku bertukar dengan Mario?” suara Kendra tiba-tiba terdengar, Vivian melirik dan hampir lupa kalau dia punya pacar.


Guru penanggungjawab dengan wajah bingung berkata; “Tidak, ini sudah di atur tidak ada yang bisa duduk samping pacar, mengerti?”


Semua mengangguk kecuali ketiga alpha dari kelas Vivian. Kendra mendengus tidak suka, karena tidak bisa dekat dengan Vivian. Sementara Mario bernapas lega, karena bukan dia yang bertanya dan Liam sudah menahan tawanya karena kali ini Kendra yang menolak pengaturan.


“Duduk saja disitu. Ini karena kau lambat datang, semua orang berebut tempat.”


“Diam kau, kripik udang.”


“Aku hanya mengatakan sebuah fakta, dasar kau singkong rebus,” Liam menggembungkan pipinya lalu membuang muka dari Kendra yang ada di seberang mereka.


“Tolong kalian bertiga sate buah, perhatikan pemandu," Vivian ikut menimpali.


Kendra dengan wajah jelek menatap Vivian dengan mata anak anjing; “...Kucing liar.”


“Tidak, jadilah anak baik yang patuh.”


Semua orang: ....


Posisi Kendra ada di seberang api unggun, sementara Vivian ada di antara Mario dan Liam, di samping Liam adalah Nila. Tadi Kendra izin ke kamar kecil sehingga dia terlambat untuk mencari tempat, Guru menempatkan Kendra diantara Alpha wanita dari kelas lain.

__ADS_1


Penanggung jawab kemudian menghela napas ketika merasakan sekitarnya sudah tenang, lalu berkata dengan menggunakan pengeras suara; “Baiklah, dengarkan. Hari ini makan malam akan di siapkan oleh warga setempat. Besok dan seterusnya kalian akan mencari makan sendiri.”


Semua orang kecuali Vivian dan Nila; “Apa!”


Seorang dari kelas Beta; “Bukankah ini perjalanan wisata? kenapa jadi bertahan hidup di alam liar?”


Seorang Beta di sampingnya; “Hei, aku rasa ini berlebihan. Bukankah biasanya kita hanya akan jalan-jalan?”


Seorang dari kelas Omega; ”Apakah Omega juga harus ikut partisipasi? Kami adalah makhluk yang lemah dan tidak bertenagah.”


Seorang dari kelas Alpha ikut mendukung; "Benar, omega adalah manusia yang lembut dan tidak bisa mengerjakan hal berat.”


“Sudah bicaranya? kalau begitu izinkan bapak untuk melanjutkan... Kegiatan untuk tingkat tiga memang berbeda. Kalian akan di latih untuk bertahan hidup di alam, demi bekal masa depan kalian...”


“Kalian akan di bagi dalam 19 kelompok. masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang dari kelompok yang berbeda-beda...”


“...Kelompok 15, dari kelas Alpha ruang tiga Vivian, Liam, Mario, Kendra, dari kelas Beta Nila, Samanta, Adrian, dan dari kelas Omega Kesya, Fino dan Reza...”


“...Sekian kelompok yang saya tetapkan. Untuk himbauan, tidak ada yang bisa ganti kelompok, kerja sama kalian akan di lihat untuk pembuatan sertifikat.”


Wajah Kendra semakin menghitam ketika guru selesai berbicara. Apa-apaan itu tadi? Kendra senang jika sekelompok dengan Vivian dan teman yang lain tapi kenapa harus ada dua tambahan dari kelas omega laki-laki?


Kendra bukannya takut pada mereka tapi, hei ini omega loh. Mereka bisa saja mencari celah dan mendekati Vivian, satu-satunya alpha wanita di kelompok mereka. Kendra tahu mereka sudah terikat dengan tanda permanen, tapi tetap saja Kendra tidak suka melihat ada Omega yang mendekati Vivian.


Dengan wajah tembok, Kendra ikut bergabung dengan Vivian dan yang lainnya. Dia duduk tepat di belakang Vivian dan memeluk Vivian, dengan aroma feromon yang sedikit keluar, sehingga membuat kedua omega laki-laki dan Vivian tersentak.


“Kau anjing gila! apa yang kau lakukan dengan feromon mu itu? hentikan segera, apa kau mau kita mendapat penilaian buruk dari guru?” Vivian berteriak dengan marah pada Kendra dan melepaskan pelukan si dominan dengan kasar.

__ADS_1


“Kau pasanganku, aku tidak suka kau dekat dengan orang lain apa lagi jika mereka Omega laki-laki,” Kendra menatap tajam pada kedua Omega laki-laki di kelompoknya.


Kedua omega laki-laki; “... Ada apa dengannya?”


__ADS_2