
Vivian berdiri di depan kamar Stella sudah sejak tadi, entah berapa kali dia sudah mengetuk pintu tersebut tetapi Stella tidak memberikan jawaban. Sejak Lion datang ke rumah mereka, Stella lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar.
Vivian merasa khawatir pada sepupunya itu, takut kalau misalnya Stella melakukan sesuatu yang berbahaya sendiri, salah orang itu yang selalu merecoki rumah mereka setiap hari, dan berkata bahwa Stella salah tunangannya.
Vivian secara pribadi merasa bahwa Bibinya sangat bodoh, seperti tidak pernah sekolah saja,.Vivian yang datang dari dunia lain saja tahu hubungan Alpha, Beta dan Omega seperti apa, Tania yang memang dari dunia ini kenapa bisa melakukan hal seperti itu.
Hubungan apa yang akan terjalin antara Beta dan Omega? Beta tidak memiliki siklus panas, sementara Omega setiap bulan pasti akan selalu ada. Jika si omega sedang dalam masa panas, apa yang bisa dilakukan oleh Beta tersebut?
“Kak, apa kau sudah bangun? Halo...” Vivian terus mengetuk pintunya, meskipun dia tahu tidak akan mendapat jawaban.
“Kak, kau benar-benar masih tidur? Aku akan keluar dan akan lama, jika ada yang membunyikan bel di jam 10 nanti jangan di buka, itu pasti Lion.”
Stella yang tidak tidur semalaman, “...Kau mau kemana?”
“Akan ke restoran, aku sudah tutup sangat lama. Sekolah akan dimulai menunggu depan dan...”
“Tunggu, aku ikut denganmu.”
“,Kau benar-benar mau ikut? tapi aku akan lama di restoran, kau bisa bosan nanti.”
“Tidak, aku tidak akan...” lebih baik merasa bosan dari pada harus bertemu dengan Beta macam Lion.
Setelah selesai bersiap, Stella membuka pintunya kamarnya. Vivian langsung mengernyit bingung melihat penampilan Stella, dia tahu kalau beberapa hari ini Stella selalu di kamar, meksipun dia tidak tahu pasti apa yang dilakukannya seharian, tidak seharusnya dia kurang tidur.
Vivian bertanya; “Apa kakak tidak tidur dengan baik? Lingkar mata kakak begitu jelas.”
“Ya, orang itu selalu meneror ponselku, jika tidak sesuatu akan muncul di jendela kamarku.”
“Uh, aku merasa itu sangat mengganggu. Tapi aku juga merasa kalau Lion benar-benar menyukaimu.”
__ADS_1
“Dia tidak suka aku, dia hanya ingin balas dendam dan lagi aku tidak ingin memiliki hubungan dengan Beta yang memiliki banyak pacar.”
“Apa dia buaya? tapi dari mana kau tahu kalau dia orang yang seperti itu?”
“Dia berkata kalau kami satu sekolah jadi aku berusaha bertanya dengan teman-teman ku, dan rata-rata jawaban mereka seperti itu. Lion akan selalu mendekati primadona baru.”
"Apa benar?" tapi aku sudah bertanya tentang hal ini dan sistem selalu berkata bahwa Lion tidak pernah memiliki masalah percintaan. Sistem juga mengatakan bahwa Lion adalah pemuda yang dingin di sekolah dan jarang tersenyum. Sistem tidak pernah mengatakan bahwa Lion adalah seorang playboy.
“Ya, aku tidak suka tipe pria seperti itu. Apakah dia berpikir bahwa hati perempuan itu seperti mainan yang bisa rusak lalu dibuang setelah mendapatkan mainan baru.”
“Kak aku rasa aku sangat berlebihan. Tapi sudahlah, jika dia memang serius dia pasti akan memperjuangkan mu,” ucap Vivian.
Stella tidak berbicara lagi, mereka masuk ke mobil lalu Mario langsung mengemudi menuju restoran. Satu Minggu lebih, mereka tidak mengurus restoran, sehingga mereka tidak tahu pasti bagaimana keadaannya.
Pada saat mereka sampai, benar saja ruangan sudah agak berdebu dan pengap. Tiga jam lebih mereka gunakan untuk membersihkan seluruh isi ruangan yang ada. Setelahnya mereka duduk di sebuah meja untuk empat orang.
Vivian berpikir apakah dirinya bisa menghadapi semuanya kedepan, mengingat selama libur dia tidak pernah belajar lagi untuk mengasah skill bahasanya. Stella meliriknya lalu mengernyit karena wajah Vivian yang berubah.
”Apa yang sedang kau pikirkan?aku lihat kau belakangan ini jarang bertemu Ken.”
“Biarkan saja dia kak, aku tidak memikirkannya. Aku hanya berpikir seputar ujian masuk perguruan tinggi.”
“Oh, benar bagaimana rencana mu?”
“Aku belum memikirkannya,” jawab Vivian, memang benar meskipun sekarang Vivian sudah punya bisnis sendiri, dia merasa tidak memiliki minat di jurusan Bisnis, bukannya apa? Seputar bisnis Vivian bisa belajar dari keluarganya.
Jika mungkin di dunia aslinya, Vivian pasti sangat bersemangat untuk mengambil bidang bisnis, tapi di dunia ini entahlah, rasanya terlalu banyak hal yang memiliki pengaturan berlebihan.
“Kau harus memikirkannya mulai sekarang, atau kau bisa mengambil jurusan perfilman, paman pasti membutuhkan penerus untuk melanjutkan usahanya kan, itu cocok untukmu.”
__ADS_1
“Apa kakak, juga akan mengambil jurusan bisnis?”
“Tentu saja, Bisnis adalah minatku dari kecil. Ayah juga sangat mendukung pilihanku.”
Vivian mengangguk, Excelo pamannya sekarang memegang penuh kendali perusahaan setelah kedua saudaranya menyerahkan tanggung jawab tersebut padanya, dan membuat hidupnya semakin sibuk.
Vivian melirik pada Mario dan Nila, pasangan terupdate yang sejak tadi hanya mendengarkan obrolan mereka, Vivian bertanya; “Bagaimana dengan kalian berdua?”
“Aku sepertinya akan mengambil farmasi, sementara Mario dia berencana masuk kedokteran,” Jawab Nila.
“Itu Benar, kami tumbuh di pusat penelitian feromon. Kami harus mengabdi pada mereka di masa depan,” tambah Mario.
Vivian dan Stella melihat mereka lalu Stella berkata; “Tapi bibi tidak memaksa kalian kan?”
“Iya, hal ini adalah keinginan kami sendiri,” Jawab Mario, sebenarnya semua ini juga dikarenakan ucapan profesor tua tempo hari.
Setelah Profesor pergi dari ruangan Anna, wanita Beta itu langsung mengatakan pada mereka bahwa mereka harus berhati-hati jika berurusan dengannya. Walaupun usianya sudah tua, dia memiliki banyak mata di luar sana.
Mata-mata miliknya akan mengawasi dan melaporkan segala jenis kejadian yang terjadi pada si target. Apa bila ditemukan kejanggalan, mereka akan langsung segera melapor dan akhirnya target diminta untuk kembali ke pusat penelitian feromon.
Mario dan Nila belum menceritakan hal ini pada Vivian, menurut mereka Vivian tidak perlu terlalu banyak tahu tentang kesepakatan keduanya, Anak itu mungkin saja bisa mengamuk jika menurutnya tidak bagus.
“Baiklah, lalu apa kata Bibi tentang hubungan kalian?” Nila melihat Vivian lalu beralih melihat Mario, mata mereka saling bertatapan seperti sedang. berkomunikasi.
“Anna berkata bahwa semuanya tergantung dari keputusan kami. Jadi aku rasa dia tidak akan keberatan dengan hubungan kami.”
“Aku senang, jika hasilnya baik.”
Beberapa jam setelah mereka mengobrol, mereka memilih untuk kembali. Hari memang sudah sangat sore, pada saat mereka tiba di rumah, di teras rumah sudah berdiri seorang pemuda. Vivian dan Stella saling melirik dan mulai berpikir apa orang ini tidak bosan sudah menunggu sejak pagi?
__ADS_1