Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Bertemu kembali


__ADS_3

Lion masuk kedalam ruangan yang gelap, langkahnya terdengar di setiap lantai ruangan, angin malam berhembus dengan dingin memberikan perasaan yang buruk pada setiap orang yang ada disini, terutama untuk seorang wanita yang matanya sudah di tutup dengan kain hitam.


Udara dingin mencekam, wanita dengan mata tertutup itu meneguk saliva-nya dengan berat, pikirannya linglung. Baru saja dia menyelesaikan kelas untuk hari pertama belajar dan berniat untuk kembali ke kamar asramanya, tapi dia di cegat oleh beberapa orang di jalan.


“Anda orang yang berani menggertak tunangan ku? Berani sekali kau, aku sudah memperingati kalian untuk tidak menyentuhnya, tapi kau tidak mau patuh.”


“Kau...siapa kau! lepaskan aku! lepaskan aku, sialan!” Bella mulai memberontak dengan menggerakkan tubuhnya agar bisa lepas dari ikatan tersebut.


“Aku seseorang yang akan memberi ganjaran pada orang yang tidak patuh sepertimu.”


Suara orang itu terdengar asing, Bella tidak tahu siapa yang sudah mencegatnya. Suara orang tersebut terasa sangat dingin dan membuat bulu-bulu di tangan Bella merinding.


Plak!


Satu tamparan mendarat di wajah Bella, sehingga membuat kulit wajahnya yang terawat menjadi merah dan bengkak. Tamparan kedua diterima oleh pipi lain Bella, disusul oleh cengkraman di dagunya yabg memberikan rasa sakit.


“Sebaiknya kenali posisimu, kau hanya seorang Beta yang dikirim oleh pemerintah kedalam akademi karena perilaku mu yang tidak benar.”


“Kau! dari mana kau tahu? siapa kau sebenarnya!”


“Kau tidak punya hak untuk mengetahui siapa aku, apa kau paham!”


“Aku...Aku...” Bella tersedak dan tidak bisa bicara, siapa yang baru saja dia ganggu sehingga menariknya ke posisi buruk ini? Orang ini tahu tentang beasiswanya, berarti orang ini sangat berbahaya.


“Tolong lepaskan aku, aku mohon. Apapun yang sudah aku lakukan, aku minta maaf, di masa depan aku tidak akan melakukannya lagi..."


“Hm, apa aku bisa percaya padamu?” Lion mengangkat dagu Bella dan kuku-kukunya menancap di kulit gadis itu.


“Aku berjanji, aku tidak akan melakukannya.lagi. Aku...aku tidak akan mengganggu ruangan mu, siapapun itu...”


“Kau harus ingat namanya, jangan pernah mengganggu Stella Alisher lagi, aku akan selalu mengawasimu.”


“!!!” Stella Alisher, bukankah dia adalah primadona baru yang sudah merebut posisiku? Alisher....Ini dia apakah dia cucu dari Thomas Alisher itu? pebisnis yang sangat terkenal dan memiliki sejarah keluarga yang panjang? Bagaimana aku bisa menyinggung keluarganya? Bella tidak menyadarinya saat dirinya marah dan pergi menggertak orang yang seharusnya tidak dia sentuh.


“Apa kau paham!” nada yang tinggi terdengar di telinga Bella, sehingga membuatnya dengan refleks mengangguk. Jika dia berpikir lebih jernih hari ini, dia pasti tidak akan pernah mengganggu Stella.


Meksipun Stella tidak banyak bicara, gadis ini memang memiliki pesonanya sendiri, Sadar atau tidak memang benar kalau yang memandikan Stella sebagai primadona adalah para pelajar yang bahkan Stella tidak kenal.


Bella merasa bahwa karena Stella terlahir di keluarga yang terhormat, memang akan sangat muda baginya untuk mendapatkan ketenaran, kehidupan Stella sangat beruntung. Sangat berbeda dengan dirinya yang sudah sejak dulu hidup serba pas-pasan.


Bella awalnya lahir di keluarga kaya, tetapi tidak tahu beberapa tahun yang lalu bisnis ayahnya bangkrut dan mereka harus membayar banyak hutang. Mulai hidup dengan berhemat dan tinggal di perumahan kecil.

__ADS_1


Seiring berjalannya waktu, Bella tumbuh menjadi gadis yang sangat memperhatikan penampilannya dan suka menggoda, dan pada akhirnya polisi menangkapnya, lalu memasukkannya ke akademi ini karena perilakunya yang tidak senonoh.


Keesokan harinya, asrama wanita di gemparkan dengan rumor beredar. Stella yang mendengarkan rumor itu turut serta bertanya pada teman-teman karena ikut penasaran; “Apa yang sedang mereka bicarakan sih? Kenapa seperti melihat aku terus?”


“Pagi tadi Bella di temukan dengan wajah jelek dan luka di wajahnya, di gudang sekolah. Para pelajar mengira bahwa mungkin orang dari pihak mu yang sudah melakukannya, karena terakhir kali Bella menggertak mu di kelas.”


“Omong kosong! aku bahkan belum menghubungi keluargaku sejak kemarin, bagaimana bisa yang menggertak balik Bella dari pihak ku? Dia mungkin tidak sengaja berurusan dengan orang besar.”


“Tapi para pelajar semuanya berpikir tentangmu.”


“Abaikan saja mereka, Ayo ke kelas sebentar lagi pelajaran akan dimulai.”


Pada saat Stella sudah tiba di kelas, dia tertegun. Lion sudah duduk di sampingnya, Hei! orang ini benar-benar satu kelas dengannya?;Tidak mungkin! Lihat senyum bodohnya itu, kepala Stella langsung mau meledak.


“Kau, kenapa kau duduk disini?" Stella bertanya, matanya menatap mata milik Lion.


“Tempat ini memang tempatku, Dimana kau duduk jika tidak disini?"Lion senyum, pelajar di kelas melongo, melihat wajah Lion yang lebih berekspresi dan berwarna.


“Tapi kau, tidak masuk selama satu Minggu kemarin.”


“Apakah kau merindukan aku?” Mendengar pertanyaan ini seketika membuat Stella menyesal karena sudah bicara.


Orang ini sepertinya terlalu narsis sehingga dia terlalu percaya diri, Stella justru senang karena tidak melihat wajahnya di sekolah, kemarin dia mengira bahwa mereka ada di kelas yang berbeda, saat tidak sengaja bertemu di koridor.


Oh, sungguh... Kendra sangat merindukan Vivian, tidak tahu bagaimana keadaan gadis itu saat mereka tidak bertemu. Mario berkata padanya bahwa Vivian baik-baik saja, dan sepertinya sudah lelah untuk terus bertanya keberadaannya..


Memang pikiran Kendra untuk tidak mengatakan kondisinya pada Vivian tampak bodoh, dia juga tidak tahu mengapa mengambil keputusan seperti itu. Yang dia tahu, dia tidak ingin melihat wajah sedih Vivian.


“Kau bisa menahannya selama ini? Itu adalah rekor terlama untuk seorang Alpha dominan sepertimu,” Dean membuka pembicaraan mereka, kedua temanya datang ke rumah untuk menemani Kendra.


“Aku tidak sekuat itu tahu, jujur saja jika bukan karena kakiku yang masih sakit, aku pasti sudah berlari menemuinya.”


“Tapi kau juga masih harus menunggu hingga esok pagi kan,” Leon berucap.


"....” Kendra tidak berbicara lagi, dia kemudian ikut bergabung dengan kedua temannya, Dean dan Leon ada disini karena kebetulan besok mereka tidak memiliki jadwal kuliah.


Selain itu, rumah Leonard sedang sepi, Tuan tua sedang pergi ke luar negeri untuk menemui cucu perempuannya. Katanya supaya dia tidak kesepian, karena Kendra yang menghilang entah kemana.


Mereka berada disini untuk membantu kebutuhan Kendra, sebagai kakak yang baik. Awalnya mereka terkejut karena Kendra baru mengabari mereka berdua tentang kondisinya saat dia akan pulang ke rumah.


Keesokan paginya, Kendra bangun dan bersiap untuk ke sekolah, tidak lupa membawa kayu penyanggah yang akan membantunya untuk berjalan. Para pelajar di sekolah langsung memandangi Kendra saat dia sudah tiba dan turun dari mobil, di hantu oleh Leon dan Dean.

__ADS_1


“Aku merasa sekolah ini tidak banyak berubah, letak tong sampah dan juga air mancurnya masih ada di posisi yang sama.”


“,Mereka mungkin malas untuk mengatur ulang semuanya. Aku rasa hanya cat dinding yang baru, lainnya memang tetap sama.”


“Cepat bantu aku menaiki tangga, ini sangat sulit.”


Dean dan Leon saling menatap kemudian mengangguk, mereka berdua mengangkat tubuh Kendra bersamaan, kemudian menaiki setiap anak tangga sampai ke lantai teratas.


Aku memang meminta bantuan tapi tidak begini juga caranya! Kendra meneriaki mereka melalui sorot matanya, Sekarang dia justru semakin diperhatikan oleh pelajar. Kendra mendengus dan mencoba mengabaikan teman-teman sekolahnya.


Ketika Kendra tiba di kelasnya, penduduk kelas langsung bertanya-tanya padanya. Apa yang terjadi sehingga bahkan mereka tidak mendapatkan kabar tentang Kendra yang dirawat di rumah sakit dalam waktu yang lama.


“Kau datang juga? apakah lukanya begitu parah sehingga kau membutuhkan banyak waktu untuk sembuh?” Liam melihatnya, dan membantunya menuju kursinya, sementara itu Dean dan Leon langsung pergi setelah mengantar Kendra.


“Tangan dan kakiku patah sehingga butuh waktu untuk melakukan pemilihan. Dimana kucing liar ku?”Kendra menjawab lalu menanyakan keberadaan Vivian.


Liam menjawab dengan berkata; “Sudah aku tebak, pacarmu belum datang mungkin masih di perjalanan, tunggu saja dia sebentar lagi.”


“Hm..." Kendra menunggu kedatangan Vivian di kursinya. Setelah beberapa menit berlalu pintu kelas akhirnya terbuka juga. Kendra menoleh dan mendapati mata bunga persik Vivian yang mulai memerah.


“Kucing liar...”


Bug!


Vivian tidak peduli dengan pandangan teman kelas mereka, dia langsung berlari dan memeluk Kendra dengan erat, masih dengan mata yang memerah, lalu Menghirup aroma Feromon Kendra yang tajam dan kuat.


Vivian merasa gila! Awal satu bulan tanpa Kendra membuat Vivian merasa sangat kesepian, Hatinya tidak tenang dan pola hidupnya meksipun orang lain melihat itu tampak baik-baik saja, yang sebenarnya adalah memberikan beban di punggung Vivian.


“Hiks...Kau kemana saja Anjing gila! kau mengingkari janji untuk bertemu denganku saat sekolah di mulai...”


“Maaf, aku memiliki sedikit kondisi dimana aku tidak bisa memberitahumu yang sebenarnya,” Kendra memeluk Vivian dan mengelus kepala Vivian dengan lembut.


“Kau bajingan, sialan!” nada suara Vivian rendah dan hanya terdengar di telinga Kendra.


Vivian marah, jika tadi dia tidak bertemu dengan Dean dan Leon di parkiran Vivian mungkin masih akan mengira bahwa pacarnya belum muncul. Vivian bertanya pada mereka dan Dean menjelaskan tentang kondisi Kendra selama dua bulan ini.


Vivian marah karena Kendra menyembunyikan hal ini darinya, sebagai pasangan seharusnya mereka saling terbuka dan tidak menyembunyikan apapun, Vivian tidak setuju dengan tindakan Kendra, tapi dia tidak bisa marah secara langsung mengingat kondisi Kendra yang baru saja pulih.


Jadi Vivian mencoba untuk meletakkan kemarahannya di deretan paling belakang di pikirannya, agar kelak saat Kendra sudah sangat baik Vivian bisa membahasnya dengan Kendra di lain waktu.


Kendra mengangkat dagu Vivian lalu menatap mata bunga persik Vivian yang sudah berair, dia menyerang delima Vivian dengan lembut dan singkat karena sadar bahwa kelas sebentar lagi akan segera dimulai.

__ADS_1


“Ekhm... Jangan pedulikan kami. Kami hanya sekumpulan nyamuk disini,” Liam mulai bersiul-siul menuju ke mejanya, pelajar didalam kelas hanya menggelengkan kepala mereka ketika melihat kelakuan Liam.


__ADS_2