
Ketika jam sekolah selesai, Mario menarik Vivian untuk langsung kembali bersamanya. Mario sadar betul bahwa Vivian belakangan ini terlalu banyak pikiran, sehingga tidak dapat tidur dengan baik di malam hari.
Sejak Sabtu malam setelah mereka kembali, Vivian mulai banyak menghayal, dia bahkan melupakan bahwa akhir pekan adalah waktunya untuk pulang ke rumah dan memasak makan malam untuk keluarganya.
Malam Minggu kemarin, Mario bahkan harus berbohong berkata pada Ayah Vivian bahwa dia terlalu lelah di restoran sehingga tertidur ketika di perjalanan, sehingga Ayah Vivan tidak bertanya lagi dan membiarkan mereka ke Apartemen.
Pada hari Minggu kemarin, Vivan bahkan tidak menghabiskan makan sarapan paginya dan terus mengurung diri di dalam kamar, tidak membiarkan siapapun untuk masuk. Mario dan Nila menjadi khawatir dengan temannya ini, sehingga mereka memutuskan untuk membawa Vivian bersantai setelah jam sekolah selesai.
“Kemana kalian akan pergi setelah ini?” Kendra bertanya pada Mario, dijawab dengan mengernyit, sejenak sebelum dia berkata;
“Membawa anak ini untuk bersantai sejenak,” lirik Mario ke Vivian.
“Boleh aku ikut?”
“Aku rasa sebaiknya jangan, kau terlaku sering disekitar Vivi. Dia mungkin pusing karena mu.”
““Bukankah hal itu bagus?”
“Bagus apanya?” Mario bertanya balik.
“Ingat semboyan dari mata turun kehati?”
Mario mengernyit lagi, dan menunggu Kendra melanjutkan Kalimatnya; “Aku rasa yang benar adalah dari mata naik ke pikiran lalu turun ke hati.”
Mario; “...”
Mereka menuruni tangga dan melihat bahwa kelas Beta masih belajar, Mario dan Vivian menunggu kelas Nila selesai, mereka memilih untuk menunggu di parkiran saja.
Pada saat melewati koridor untuk kelas Omega, Vivian tiba-tiba berhenti dan Membuat Mario serta Kendra juga ikut berhenti. Di depan adalah ruang kelas Stella, seseorang sedang menyapu karena piket.
Tidak sengaja Omega yang menyapu itu mengangkat kepalanya sehingga dia menatap Vivian dan lainnya. kulit wajah Omega itu langsung memerah, dan merasa malu sekarang.
“Vivi, Hai!” Mery berteriak sambil melambaikan tangannya, Vivian hanya tersenyum membalas.
“Kau mengenal gadis itu?”
“Tidak sengaja ketemu di jalan.”
Meskipun berat untuk Vivian, dia tetap memperkenalkan Mery dengan Mario. Setelah itu Vivian diam, tidak berniat untuk bicara. moodnya hari ini begitu jelek, tahu kenapa?
Kejadian di koridor kelas tadi, membuat Vivian mengingat bahwa Dahi, pipi, dan hidung, tiga tempat itu sudah meninggalkan kenangan. Bahkan jantungnya pun juga sudah mulai mendapatkan efek maraton.
“Ayo kita tinggalkan mereka," Kendra menggandeng tangan Vivian dan membawa Vivian secara paksa menjauh dari Mario.
__ADS_1
“..." Vivian mencoba untuk melepaskan tangannya dari Kendra tapi genggaman milik Kendra sangat kuat.
“Jangan bantah, aku tidak akan melakukan lebih, hanya menggenggam tanganmu saja.”
“...lepaskan itu gerah.”
“Akhirnya kau mau bicara denganku. Kenapa kau mendiami aku dari tadi?”
“Kau menyebalkan, kau tau.”
“Menyebalkan? apakah aku menyebalkan?”
“Kenapa kau banyak bicara?”
“Karena kau yang mengisi pita suaraku.”
“...” Apa-apaan itu? apakah kau sedang mencoba untuk menggoda seorang gadis? kalimat mu sangat buruk, sehingga membuat Tengkuk Vivian merinding.
“Kau diam lagi?"
“Jangan bicara padaku, tolong.”
“...” Kendra memandangi wajah Vivian, lalu menghela napasnya. Mungkin memang Vivian tidak tidur nyenyak karena terus memikirkannya.
Setelah berpikir bahwa Vivian terus memikirkannya sehingga tidak bisa tidur, Kendra tersenyum dengan senang. Berarti perasaan Vivian padanya sudah mulai muncul.
Kendra tidak tahu kalau sebenarnya Vivian seperti ini bukan karena memikirkan dirinya, tetapi karena plot cerita sudah mulai di luar kendalinya.
Pada sisi lain, Mario masih terus diam tidak memperhatikan Omega wanita yang ada di depannya sekarang. Dia malas dan juga apa gunanya kan? Mario sendiri tidak bisa merasakan feromon.
Mery sesekali melirik Mario, pipinya mulai panas karena dia berada dekat dengan pujaannya. Mery mencoba untuk menyebarkan feromonnya dan memastikan apakah yang dikatakan oleh Vivian adalah benar adanya. Tidak ada respon dari Mario ketika feromon Mery mulai menyebar.
“Aku... Kita, apakah kita bisa bertukar nomor ponsel?”
Mario meliriknya dan alisnya terlipat,“Apa kau memiliki urusan denganku?"
“Tidak, aku...aku ingin menjadi temanmu.”
“Kalau kau teman Vivi, maka kau juga adalah temanku. Tapi jika tentang nomor ponsel, aku tidak bisa. Jika ada keperluan silahkan hubungi Instagram saya, terima kasih.”
“Aku, aku ingin lebih mengenalmu."
“Apa kau tertarik padaku? tapi maaf aku bukan alpha yang sempurna, aku memiliki masalah dengan penciuman Feromon”
__ADS_1
“Aku...”
“Rio!!!” Nila berteriak pada saat dia baru tiba di lantai pertama, dan menemukan Mario sedang berbicara dengan seorang omega.
Nila mendekat dan berdiri tepat di samping Mario, lalu tersenyum. Mery melihatnya dan tahu bahwa Nila adalah Beta berferomon yang di katakan oleh Vivian, Memang cantik tapi sayang dia Beta, tidak pernah bisa menikah dengan Alpha.
“Kelas mu terlalu lama selesai, apa saja yang di lakukan pengajar di kelas?”
“Tidak ada, dia pengajar tua yang lupa waktu, ngomong-ngomong dimana Vivi?”
“Dia di tarik oleh pawangnya.”
“Heh, pawang yah?Lalu kalian, siapa gadis ini?”
Mery dengan malu-malu mengulurkan tangannya untuk berkenalan, Nila menangkapnya dan mendengar Mery memperkenalkan dirinya; “Aku Mery, dari kelas Omega.”
“...” Jadi kau Omega yang sempat dibahas oleh Vivian beberapa hari lalu, yang menitip sekotak coklat untuk di berikan kepada Mario, tapi sayang coklatnya berakhir di tong sampah karena Kendra membuangnya, pikir Nila.
Memang beberapa hari yang lalu, mungkin karena tidak ingin terlalu banyak pikiran yang membuat otaknya tidak istirahat dengan baik, Vivian memutuskan menceritakan tentang omega yang tertarik pada Mario. Vivian hanya mengatakan pada Nila tentang sekotak coklat tersebut, tidak mengatakan lebih lanjut lagi bahwa Omega itu berniat untuk mengejar Mario.
“Nila, dari kelas Beta.”
Mereka berbicara cukup lama, setelah pembicaraan berakhir Nila dan Mario memutuskan untuk pergi mencari Vivian, gadis itu sedang tidak baik dan sekarang dia sedang bersama dengan Alpha yang terus menempel seperti lem perekat..
Pada saat Vivian membuka matanya, kepalanya sedikit linglung. Dia mulai sadar bahwa mereka sedang berada di dalam mobil dan Kendra sedang menyetir, tadi apa yang terjadi? Vivian tidak tahu, bagaimana dia bisa berakhir didalam mobil Kendra.
“Kau sudah bangun?” lirik Kendra sebentar.
Vivian mengangguk, “Kemana kita pergi?”
“Ikut saja, nanti juga kamu akan tahu.”
Pada saat mobilnya sudah berhenti,mereka keluar dan ternyata Kendra membawanya ke toko Ice Cream.
“Ayo, media sosial bilang kalau menikmati Ice Cream akan bisa membuat perasaan jadi lebih baik.”
“...Eh?”
“Apa yang kau suka, Vanila atau Strawbery?”
“Aku pilih Coklat.”
Kendra, “...Itu juga baik.”
__ADS_1
...•••...
...Terima kasih atas dukungannya teman-teman, jangan sungkan mengingatkan saya jika ada Typo...