Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Pencarian


__ADS_3

Kendra termenung dan tangannya tidak lepas dari ponsel, sudah hampir tiga jam dia mencoba menghubungi Vivian tetapi sampai sekarang masih tidak ada jawaban, Tadi dia memang sudah bilang kalau sebaiknya dengan ikut saja tapi Vivi menolak dan berkata dia hanya ke rumah tidak ke tempat lain.


Jadi dengan demikian, Kendra membiarkan Vivi pergi sendirian, dia juga seharusnya mengutus beberapa orang untuk menjaga Vivi di jalan tapi mereka bahkan menghilang dan jejaknya tidak di temukan.


“Sial apa yang terjadi!” tangannya terkepal erat.


Sering ponsel terdengar, Kendra pikir itu panggilan dari Vivian tapi dia salah. Nama kontak yang muncul dilayar ponselnya adalah milik orang kepercayaannya. Kendra kemudian mengangkat panggilan tersebut.


“Katakan, dimana Vivi...”


“....”


“Anak buah tidak berguna!” marahnya sampai tanpa sadar dia mengeram dan mencengkram Ponsel tersebut sampai kaca layarnya retak.


Argh!!!!


Kendra menyentuh kepalanya, dia kembali mengingat apa kata Tuan tua saat sebelum dia masuk kedalam ruang isolasi Vivian. Kendra tahu betul seperti apa Tuan Tua Alisher, pria tua itu tidak berbeda jauh dengan Kakeknya.


“Tunggu dan lihat, aku tidak akan membiarkan seorangpun kabur....” Kendra lagi-lagi menggertak. Dia juga marah pada dirinya sendiri karena membiarkan Vivian pergi sendiri hari ini.


“Sialan...”


kabar tentang Vivian dengan segara sampai di telinga teman-temannya, bukan cuma itu bahkan sampai memenuhi seluruh kota. Orang-orang cukup terkejut, karena biasanya keluarga Alisher selalu dalam penjagaan yang ketat.


Kabar inipun juga sampai ke telinga Varel yang sedang menempuh pendidikan di luar kota. Pria itu baru saja menyelesaikan ujian semester dan berencana untuk pulang, dia kebetulan sedang menelpon dengan ibunya ketika seseorang datang dan memberitahu tentang Vivian.


Varel sudah lama tidak bertemu dengan adik kecilnya itu, dia hanya mendengar kabar kalau hubungannya dengan Stella sudah semakin baik dan sikap Stella juga sudah berubah setelah dia disekolahkan di akademi militer.


”Apa yang sedang kau pikirkan, son” Suara seorang pria yang tiba-tiba bersandar di pintunya.


“Ayah, aku sudah bilang ketuk pintuku sebelum masuk,” Kesalnya.


“Ck, kebiasaan deh...”

__ADS_1


“Sudah sana, ayah pergi dan jangan ganggu aku.”


“Dan membiarkanmu berpikir sendiri? Jangan harap.. katakan padaku, apakah ada masalah mendesak?” Gilbert masuk dan duduk di sofa kamar Varel.


“Sesuatu.menang sedang terjadi ayah, Vivian hilang... seseorang menghadang mereka di jalan dan membawa paksa Vivian...” Itulah informasi yang Varel dapatkan dari pembicaraan ibunya tadi.


“Hmn... Begitu rupanya,... Apa ini ada kaitannya dengan Istri Excel? Bibimu itu?” tanyanya.


Varel sama sekali tidak menjawab, Gilbert sudah mengambil kesimpulannya. Dia sejak dulu memang sudah tidak menyukai Tania, orang itu bersifat licik dan sangat suka mempengaruhi Stella agar membuat permusuhan dengan Vivian.


Meskipun dia tidak berada di kota yang sama dengan Anna karena urusan pekerjaan, dia selalu bisa tahu apa yang sedang terjadi. Baru-baru ini, dia mengetahui tentang kebebasan Tania dari balik jeruji, dia juga tahu kalau orang yang membantu Tania bukanlah orang sembarangan.


Itu terbukti dari identitasnya yang tidak bisa akses, tapi Gilbert memiliki asumsi bahwa orang itu masih ada kaitannya dengan keluarga Alisher. Karena hanya menargetkan Vivian, maka yang paling bisa di simpulkan m orang itu adalah musuh bebuyutan Alex.


“Sebaiknya kau segera pulang, dan tanyakan pada Alex, Ayah pikir mungkin saja orang itu memiliki masalah dengannya sehingga dari kalian bertiga dia hanya menargetkan Vivian saja.” Usul Gilbert.


“Huh?” Varel menoleh pada ayahnya.


“Ayah bilang pulanglah dan temui mereka. Ayah akan mencoba untuk membantu melacak keberadaan Vivian....” Jelas Gilbert lagi.


Pria itu tersenyum dan merasa menang, di depannya hampir semua bagian kota silver sudah dia awasi, bagian-bagian penting memperlihatkan kepanikan dari keluarga dan teman-teman Vivian.


Alex, pria yang paling dia benci sedang terpuruk dan wajahnya sangat tidak baik. “Darah harus di bayar dengan darah, kaulah penyebab Putri kesayanganku mati dan kau si tua sifatmu masih saja sama...”


“...Menyebalkan.”


Vivian memiliki kesadaran yang tidak baik, bisa di katakan dia setengah sadar karena efek dari obat yang belum lama ini disuntikkan padanya. Vivian tidak tahu itu adalah obat apa, tapi itu sangat tidak enak.


Walaupun begitu, Vivian dengan samar mendengar ucapan pria itu. Vivian berpikir tentang banyak hal, dia rasa pasti orang ini memiliki masalah dengan keluarganya, tapi dari semuanya kenapa harus menargetkan dirinya?.


“Apa kau sudah memikirkannya?” Suara pria itu terdengar dan lagi Vivian merasakan dagunya di angkat.


“Tidak akan!” Vivian menjawab dengan sedikit ketus. apa sih maunya orang ini? Tadi berkata darah harus di bayar dengan darah, kenapa sekarang bertanya seperti itu?

__ADS_1


Dasar tidak jelas!


“Hm, sayang sekali... Alpha sepertimu harus terjebak dengan seorang Alpha”


”Itu bukan urusanmu! jauhkan tanganmu dariku orang asing!”


Plak!!!


Uhuk! Uhuk!.


“Aku sudah bilang, bicaralah yang sopan padaku nona kecil, kau harus belajar menghargai orang tua.” Pria itu tidak suka dengan ketidaksopanan.


Vivian menggerakkan giginya dan mengutuk orang itu, ”Ibu ku bahkan tidak pernah menamparku, beraninya orang ini! Aku harap kau kesepian seumur hidupmu!”


Pria itu berani menamparnya lagi, tunggu dan lihat saja nanti, Kakek pasti akan membalasnya dengan kejam, ayah tidak akan melepaskan mu dan Alpha ku pasti akan menghukum mu, tadi Vivian ketakutan setengah mati tapi sekarang dia menjadi kesal.


Di perkirakan Vivian sudah mau 5 jam di kurung disini dan perutnya sudah berbunyi dari tadi, belum makan siang tapi orang-orang itu malah pura-pura tidak dengar, paling tidak berikan dia makan.


“Hei, paman... aku tidak tahu apa tujuanmu membawa aku kemari, tapi berikan aku makan dong...” Akhirnya Vivian meminta pada pria itu.


”Kau lapar?” Pria itu bertanya seperti tidak tahu saja.


”....” Kau masih bertanya!


“Baiklah, aku akan meminta orangku untuk membawakan mu makanan.”


“Hmm...”


Ruangan kembali sepi, Vivian tidak tahu penuh seperti apa ruangan ini, Matanya serta tangan dan kakinya masih terikat jadi ini begitu gelap. Dia hanya bisa menggunakan pendengarannya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi sekarang.


“Ayah... aku harap kau cepat datang, aku tidak suka disini dan aku juga tidak tahu bagaimana aku harus mengetahui identitas orang ini”


“Ibu yang anda di surga dunia ini tolong bantu aku untuk mengetahui identitas orang ini...”

__ADS_1


“Ken, anjing gilaku aku harap kau cepat datang sebelum orang itu memaksaku untuk bersama dengan Cucu omeganya...”


__ADS_2