
Setelah menjemput Vivian, mereka kembali ke restoran. Dari luar, memang tampak sepi, tetapi setelah masuk kalian akan menemukan pelayan kafe yang sibuk mengantar dan menulis pesanan pelanggan, Bagian kasir tampak sibuk melakukan prosedur pembayaran, area dapur di kuasai oleh Koki pilihan kakeknya.
Para pelayan kafe diseleksi langsung oleh Mario dan Nila melalui CV dan tes wawancara. Mereka mendapatkan lima orang yang mengurus pelanggan, usia mereka rata-rata adalah mahasiswa dan mahasiswi, empat orang dari mereka adalah Beta dan seorang dari mereka adalah Omega.
Pelayan Omega yang baru mereka tempatkan di bagian kasir, bersama dengan Kesya. Agar menghindari adanya masalah, Mario pertama kali memasuki restoran, dia melihat Bila dengan buku dan pensil di tangannya, sedang mendata pelanggan.
Nila menghentikan kerjaannya, dan melirik Mario kemudian bertanya; “Kau sudah datang, Dimana Vivi?”
“Dia masih diluar, katanya dia meneliti sekitar restoran.”
“Heh? Apa yang menarik dari halaman restoran.”
“Dia mungkin ingin menambah beberapa meja dan kursi diluar."
“Huh... Bukankah itu terlalu terburu-buru?”
“Tidak kok, itu baru rencananya saja. Kalau bisnis ini sukses, dia pasti akan melakukannya nanti.”
“Oh, iya... Kau benar juga.”
Mario lalu ikut memandangi restoran, semaunya terlihat aman. Tugas dia sendiri adalah mengawasi restoran, dan menjaga keamanan pelanngan, meksipun sudah ada CCTV, Mario tetap melakukannya secara manual, tidak hanya dengan instan.
Mungkin saja kan, dari pelanggan yang datang dia menemukan Omeganya. Hehehe, siapa yang tahu. Diluar restoran Vivian berdiri dengan menopang dagunya, halaman restorannya cukup luas, area parkir untuk pelanggan berada di lokasi tersendiri, tidak terlalu jauh dari restorannya.
Pelanggan hanya membutuhkan waktu tiga sampai lima menit untuk tiba. Setelah cukup lama memperhatikan halaman Restoran, Vivian masuk kedalam dan langsung mendapatkan pandangan dari pelayan baru.
Ah, Vivian lupa. Seminggu kemarin dia sibuk jadi tidak pergi untuk menemui karyawan barunya pada saat hari pertama bekerja, mereka yang baru bergabung pasti tidak mengetahui siapa dirinya.
“Vivi, kau sudah datang?” Kesya bertanya padanya, saat melihat Vivian.
“Tentu, Aku minta maaf karena keterlambatan ku.”
“Tidak Masalah, lagi pula kau pemilik resto ini.”
“Tidak usah bilang begitu, aku jadi malu.”
Karyawan yang baru masuk pada melotot, heh ternyata bos mereka masih semuda ini. Hebat,
Remaja semuda ini sudah berani terjun ke dunia bisnis, yang persaingannya tidak main-main juga, Meskipun memang bidang kuliner masih lah tidak seramai bidang fashion.
__ADS_1
Pelayan Omega di samping Kesya berbisik; “Berapa usia bos? Dia terlihat sangat muda.”
“Akhir Desember lalu, dia baru menginjak tujuh belas tahun. Sekarang berada di tahun kedua Sekolah menengah, Vivi seangkatanku.”
“Uh, bos pasti sangat pintar yah. Pada zamanku dulu di usia itu aku baru di tahun pertama.”
Kesya mengangguk, dia juga awalnya terkejut kok saat tahu kalau Vivian adalah adik sepupu Stella, yang setahun lebih muda darinya. Jadi dia melirik Vivian dan tersenyum.
“Apa di wajahku ada sesuatu?” tanya Vivian, dia berdiri di dekat kasir dan ikut mengobrol dengan Omega baru itu, berkata; “Kak siapa namamu?”
“Aku Nadin, kalau bos?”
Vivian terkekeh, tersenyum lalu berkata; “Tidak usah memanggilku Bos, kak. Aku merasa sangat tua jadinya, panggil saja aku Vivian.”
“Baiklah,” Nadin senyum, Vivian menilai penampilan Nadin, dia terlihat lembut menggambarkan sosok Omega yang dia ketahui, Kulitnya standar, tapi cukup manis saat tersenyum.
Setelah mengobrol sebentar, Vivian akhirnya menuju ke dapur untuk melihat kerja para koki, mereka seperti sangat bersemangat. Tentu saja, berterima kasihlah pada resep makanan Vivian yang mereka dapatkan belum lama ini.
Tuan tua menempatkan dua koki untuk membantu Vivian di restoran, keduanya adalah pasangan suami istri yang memang berasal dari keluarga koki. Awalnya mereka ragu, karena usia Vivian yang masih muda.
Tetapi saat mengetahui Vivian memiliki bakat memasak dan bisa menemukan jenis makan baru, mereka menjadi tertarik. Sehingga ingin mengenal Vivian lebih jauh, keduanya tersenyum ketika melihat Vivian mendatangi dapur.
“Tidak paman, aku hanya ingin menyapa paman dan bibi saja, kakek sudah mengatakan padaku kalau Paman dan Bibi akan membantu aku di restoran.”
“Tentu saja, Nona.”
Vivian melihat sepasang suami istri ini, dia menyadari bahwa keduanya adalah Beta. Usia mereka hampir sepantaran dengan usia ayahnya, mungkin lebih tua sedikit. Paman dan bibi ini juga tampak baik, Vivian menilai mereka diam-diam karena ini pertama kalinya dia akan bersosialisasi dengan penghuni dunia ini selain karakter penting dalam buku yang dia baca.
Setelah dari dapur, Vivian menuju ruangannya. Pada saat dia membuka pintu, dia terkejut melihat Chihuahua tertidur di atas mejanya, mata hewan kecil itu terbuka lantas menampilkan wajah khas baru bangunnya.
Dasar sistem pemalas!
[Aku mendengar mu tuan,] Sistem dalam Chihuahua berkata sambil menguap.
“Sudah berapa kali aku bilang, jangan membaca pikiranku.”
[Kau tidak bisa menghentikan aku Tuan rumah.]
Vivian duduk di kursinya dan mengelus bulu tipis Chihuahua, sambil mengingat kembali pertemuannya dengan dengan Dean lagi di pelatihan feromon, kemudian dia menghela napasnya.
__ADS_1
“Aku bertemu dengan Omega durian tadi,” ucap Vivian, Chihuahua langsung meliriknya.
[Karakter yang tuan rumah sudah tolak itu?]
“Iya, ternyata dia menghilang karena mengganti feromonnya. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Dia sekarang menggunakan aroma Leci, raja buah-buahan.”
“Aku ingat, seharusnya dia tidak pernah muncul kan? Tidak ada Omega laki-laki yang di bahas dalam buku the end of poor omega, kecuali pendahulu keluarga Alisher. Sistem kau tidak mungkin mengalami kerusakan kan?" Lanjut Vivian.
[Aku sistem yang terhormat, tuan rumah. Tidak mungkin rusak.]
Tapi kau sering terkena Bug! Bukankah ini sudah namanya kerusakan? Kau seharusnya sudah masuk bengkel. Vivian mendengus, kemudian telinganya mendengar ada keributan dari luar.
“Ada apa sih ini? Sudah sore loh, siapa yang berani membuat keributan? Mengganggu kenyamanan pelanggan ku saja.”
“Bos ada masalah di pintu masuk, dua orang pria saling mendorong untuk memasuki pintu,” ucap seorang karyawannya.
“Heh, tidak bisakah merekamelakukannya dengan baik?”
Vivian meninggalkan Chihuahua, lalu keluar dan menuju ke pintu masuk. Matanya membulat, giginya mulai menggertak kesal, kenapa dua manusia ini sampai bertingkah Bodoh? Dasar kekanak-kanakan.
“Mario bantu aku membersihkan kedua orang itu.”
Vivian bicara tapi tidak mendapatkan respon dari Mario. Pandangan Mario lurus pada arah pintu, Vivian kemudian mencoba menyadarkannya, “Hei, lihat mereka membuat pelanggan kita tidak nyaman.”
“Ah, Baik,” Mario pergi mendekati pintu masuk lalu mengapa keduanya saling bergantian.
“Bagaimana kalian bisa bertingkah Bodoh? Masuk satu-satu, jangan rebutan pintu. Apa kalian sedang melakukan perlombaan?”
“Hei bantu saja kami dulu, ini sempit tahu.”
“Hei, ini semua salahmu, kenapa kau sampai disini?”
“Hei, aku yang seharusnya bertanya padamu.”
“Heh kau...”
BRUAK!!!!
Keduanya tiba-tiba terjatuh ke depan, itu ulah Vivian yang sudah menahan rasa kesalnya. Jadi dia membuka pintu itu lebih lebar, agar Kendra dan Dean bisa berhenti bicara. Kendra dengan tidak elitnya jatuh ke lantai, sementara Dean di tahan oleh Mario yang kebetulan jaraknya dekat.
__ADS_1
“Aroma Leci...”