Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Tanda Permanen


__ADS_3

Tuan tua duduk di kursinya, sementara Vivian dan Kendra duduk di depannya. pandangan tuan tua mengarah pada Kendra, melotot marah padanya, namun tetap saja Kendra tidak memperdulikan tatapan kakeknya.


Kendra masih kesal, memang seharusnya Kendra membawa Vivian ke dalam kamarnya saja agar tidak di ganggu oleh Tuan tua, Kendra masih belum puas panen tadi, dia mungkin belum mencapai lima menit pertama.


Semuanya hancur karena kedatangan kakeknya, Kendra berbalik menatap tuan tua seperti ingin melawan. Tuan tua mengabaikannya sekarang, lalu pandangannya beralih ke Vivian.


“Sekarang aku butuh penjelasan dari salah satu diantara kalian.”


“Tidak ada yang perlu kami jelaskan, Apa yang kakek lihat adalah kebenaran, aku dan Vivian sudah bersama.”


“Bersama, atau kau memaksanya untuk bersamamu? dengan tanda sepihak itu? Kau pikir akan berhasil?”


“Kakek seperti tidak pernah muda saja, Oh, aku lupa masa muda kakek ada di tangan nenek buyut.”


“Dasar kau anak nakal.”


“Terserah, kakek seperti tidak pernah menjadi anak nakal saja.”


“Kau...” Tuan tua tidak melanjutkan, pandangannya mengarah pada Vivian yang hanya menundukkan kepala, dan wajah yang memerah, delima yang agak bengkak.


“Vivi, coba jelaskan pada kakek apa yang sudah terjadi? Apakah bocah ini menipumu?"


Benar, bocah itu menjebak ku kakek. Jantung ku tidak berdetak dengan normal, kulitmu menjadi panas dan delima ku sudah dia buat menjadi bengkak seperti ini, bagaimana aku bisa pulang nanti?


Vivian tidak mengatakan isi hatinya, dia hanya berkata; “Aku meminta bantuan pada Kendra untuk mengajarkan tentang tulisan di prasasti, Kendra membuat peraturan dan dia berkata dia akan menyerang ku jika aku tidak tahu, dia menyiksaku kakek.”


Vivian mulai menangis bombai, Kendra melotot tidak percaya dengan yang di sampaikan oleh Vivian, meskipun hal itu memang benar adanya. Vivian baru saja mengadu dan berakting di depan kakeknya sekarang.


“Dia membuat peraturan seperti itu?"


“Iya kakek, kalau aku tidak ngotot untuk di ruang tamu, Kendra mau membawa aku masuk ke kamarnya.”


“Hah!” kau cucu yang lumayan licik rupanya, memanfaatkan sesuatu demi keuntungan mu. Sayang sekali kau tidak seperti aku saat muda dulu.


“Kau melakukan itu?"


,“Apa salahnya? Aku hanya tinggal mendapatkan restu mereka kan? Vivi sudah menjadi pasanganku sejak awal.”

__ADS_1


“Kau anak nakal! usianya belum pas untuk kau ikat, dia masih awal dewasa."


“Dia akan dewasa, beberapa bulan lagi. Jadi untuk apa menunggu sampai akhir tahun?” .


Vivian memperhatiakan keduanya, dan mencerna pembicaraan mereka. Kenapa Kendra suka melawan balik kakeknya, yang memiliki penyakit jantung. Benar-benar tidak bisa Vivian bayangkan. Ruang kerja milik tuan tua, hanya di isi oleh ocehan keduanya. Vivian ingin menyala, namun tidak mendapatkan waktu yang pas.


Vivian kemudian mendengar tuan tua bertanya padanya; “Apakah kau dan Ken adalah pasangan?”


“Kami...itu...kami... kami teman sekelas .."


“Apakah kau ingin bersamanya?”


“Aku...aku tidak tahu."


Sial, delima vivian menjadi kaku lagi, dan jantungnya kembali meronta. Vivian merasakan seperti seseorang yang baru saja akan di adili, Tuan tua dan Kendra sama-sama sedang menatapnya. Tuan tua mengernyit dan berpikir bahwa Vivian sudah di ancam oleh cucu nakalnya.


Sementara itu Kendra diam-diam. menghela napas, Vivian meski tidak mengatakannya Kendra sudah tahu kalau Vivian sepertinya sudah memiliki perasaan padanya, namun ada sesuatu yang membuat Vivian tidak bisa jujur untuk mengungkapkannya.


Vivian hanya membutuhkan keberanian, Kendra mengetahui hal ini karena saat dia memanen Delima Vivian, dan dan menyerang lidah buayanya, tubuh Vivian terhentak, mungkin kaget dan menjadi kaku tapi tidak memberontak, seperti sebelum-sebelumnya.


“Kakek jangan menatapnya seperti itu, Vivian bisa tidak nyaman.”


“...” Vivian tersenyum, sebenarnya tenggorokannya sekarang tiba-tiba jadi ikut kaku, ingin bicara tapi tidak tahu apa yang harus dia katakan. Vivian melihat jam di dinding sudah sore ternyata, Vivian ingin pamit untuk pulang tapi tuan tua sudah bicara lebih dulu.


“Ayo,tinggallah sebentar untuk makan malam,Pengurus sepertinya baru memasak.”


“Kakek Aku..."


“Ayo ikut aku, nanti aku yang akan mengantarmu kembali, tidak usah menghubungi Mario,” Kata Kendra sambil menarik Vivian untuk mengikutinya.


“Jangan bersikap tidak sopan, Kendra Leonard!”


“Kakek, tidak usah urusi aku. Perhatikan saja kesehatanmu.”


.


Pintu di tutup, Kendra menarik Vivian masuk kedalam kamarnya. Vivian mencoba untuk melepaskan diri, tetapi kekuatan tangan Kendra jauh lebih banyak dari pada Vivian. Kendra mengeluarkan feromonnya, dan itu membuat Vivian mulai linglung.

__ADS_1


“Kau... apa yang kau lakukan?” Mata Vivian berkedip-kedip suhu tubuhnya menjadi panas, Delimanya bergetar, tubuhnya bergerak memeluk erat Kendra.


Kendra mengusap puncak kepala Vivian dan dan menyentuh keningnya dengan Delimanya, kemudian berbisik; “Gigit leherku...”


“Aku...Tapi... aku...”


“Gigit sayang, jika tidak aku tidak akan menghentikan feromon ku.”


“Kau...kau...”


“Aku hanya meminta untuk kau gigit, aku tidak akan melakukan yang berlebihan, ini belum waktunya.”


Aroma feromon Kendra semakin kuat, Vivian tidak bisa menatanya. Feromon orang ini seperti remote kontrol yang bisa mengendalikan dirinya, Vivian pernah membacanya. seseorang yang sudah di tandai tidak akan bisa melepaskan diri, kecuali kematian.


Feromon selain berguna sebagai perisai, feromon juga bisa menjadi alat pengendali pasangannya. biasanya Alpha mengeluarkan feromonnya untuk menenangkan Omeganya yang sedang dalam siklus panas.


Feromon ini juga bisa di gunakan oleh Alpha dominan untuk menghentikan Omeganya yang tidak patuh, atau dalam kasus Vivian yang hanya Alpha wanita biasa, Feromonnya tidak akan bisa mengalahkan milik Kendra.


Vivian sepenuhnya di kendalikan. Vivian memeluk leher Kendra dan menyusupkan Delimanya ke leher Kendra, mencari letak feromon si dominan ini. Kendra memeluk pinggang Vivian dan menahan punggungnya.


Perlahan, Kendra merasakan rasa sakit di belakang lehernya, Delimanya tersenyum, gadisnya sudah menandainya, sekarang tanda mereka akan menjadi tanda permanen. Gigitan Vivian perlahan terlepas, bersamaan dengan feromon Kendra yang mulai memudar.


Kepala Vivian masih agak linglung tapi Delimanya sudah di serang lagi oleh Kendra, kali ini gerakannya lembut dan perlahan, mata Vivian tertutup, Lidah Buaya Kendra menerobos masuk menyerang lidah buaya Vivian.


Vivian sedang tidak bisa berpikir dengan jernih, jantungnya berkoar-koar, wajahnya memerah panas, pelukan Kendra hangat, dan membuatnya nyaman, Lidah Buaya Vivian akhirnya turun ke medan perang, ikut menyerang lidah buaya Kendra.


Kendra melotot seketika, apa itu barusan? serangannya terbalas, Jantung Kendra ikut berdegup kencang, wajah cantik Vivian begitu dekat dengannya, mata bunga persik Vivian yang indah sedang bersembunyi di balik kelopak bunganya.


Vivian leleh, Kendra tetap memeluknya dan menyamankan posisi Vivian, kemudian dia berbisik; “Sayang, apakah ini jawab untukku?”


“Hm...” Vivian hanya bergumam.


“Apa kau suka aku?”


“Suka...” suara Vivian terlalu lembut, namun masih bisa di dengar oleh Kendra. Delima Kendra kemudian menyentuh dahinya, kemudian meletakkan Vivian di kasurnya dan membiarkan vivian tidur untuk sesaat.


Ketika Vivian bangun, dia melupakan kejadian tadi, Vivian bersikap biasa saja. Kendra Kendra memaklumi hal ini, mungkin karena tadi dia menggunakan feromonnya pada Vivian.

__ADS_1


Yang paling penting, adalah tanda mereka sudah menjadi permanen, urusan kejujuran Vivian tunggu sampai hasil ujian akhir semester keluar, Kendra juga akan menjadi anak sabar. Setelah makan malam selesai, Kendra mengantar Vivian Kembali ke apartemennya.


__ADS_2