Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Kembali Pulang


__ADS_3

Di rumah sakit, Nila dan Kesya sedang menemani Vivian sejak semalam. Farel meminta mereka menginap di rumah sakit karena tidak mungkin Vivian di tinggal sendiri di saat kondisi tubuhnya masih lemah, dia juga masih harus mengurus masalah Stella, yang menjadi tersangka.


Vivian sejak semalam sama sekali tidak tahu bahwa diluar sedang ada masalah, Nila hanya mengatakan bahwa alerginya kali ini parah sehingga dia harus dirawat inap di rumah sakit.


Dia tidak mengatakan kalau dia sudah di racun. Chihuahua juga diam, Vivian tahu kalau Chihuahua pasti mengetahui sesuatu, tetapi tidak ingin mengatakannya. Vivian mendengus, merasa bahwa teman-temannya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Nila duduk di sofa, Kesya sedang mencuci buah. Pintu rawat inapnya tiba-tiba terbuka, Vivian melihatnya dan tidak mengatakan apapun. Kendra mendekat ke arahnya setalah dia menutup pintu dan duduk di samping kasurnya.


“Bagaimana keadaanmu?” Alpha dominan itu bertanya.


“Sudah baik,” Alpha wanita menjawabnya.


Suasana mereka menjadi hening, Vivian berpikir apa hanya sampai ini saja? Yang dominan memang beda. Padahal dirinya sudah merasa baik, tapi dia masih harus terkurung disini. Tidak lama, Kesya datang membawa buah.


Vivian memperhatikan dan kebetulan saat ini Kendra dan Kesya ada di masing-masing sisi ranjangnya. Sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalanya, wajahnya menjadi cemberut dan terus menatap ke arah buah Apel.


“Hei, jangan bertingkah seperti itu. Apakah kau mau buah?” Kendra melihatnya dan bertanya, dia jadi heran mengapa saat sakit begini tingkah Vivian justru banyak. Orang sakit bukannya baring, gadis di kasur justru memajukan buah delimanya.


Mana itu merah lagi, Jika saja dia berada di hutan belantara, dia sudah pasti akan merekamnya. Sepertinya memang omongannya tidak di dengarkan, Vivian malah ketawa-ketawa memperlihatkan gigi putihnya.


Jadi Kendra berkata lagi; “Kesya, kupaskan saja gadis ini Apel.”


“Eh, Oh...Baiklah, mau yang hijau atau merah?”


“Beri saja dia yang hijau.”


“Eh, Eh...Baiklah.”


“Tidak aku mau yang merah.”


“Baiklah, satu apel merah akan segera datang.”

__ADS_1


Nila memandangi mereka bertiga, meliriknya satu persatu. Entah mengapa itu terlihat seperti sepasang suami istri yang sedang mengurus bayi kecil mereka yang sedang sakit. Vivian tidak sengaja menemukan Nila yang menatap mereka, lalu dia bertanya, “Ada apa? Mengapa menatap kami seperti itu?”


Nila tertegun karena kedapatan, jadi dia dengan santai berkata; “Tidak, Aku baru saja melihat sepasang suami istri yang yang sedang mengurus bayi mereka.”


Kendra melirik Nila dengan mata yang memicing, “Hei! Apa yang baru saja kau pikirkan?”


“Eh, itu benar. Bukankah kalian sedang mengurus aku? Kebetulan sekali kalian masih sendiri.”


Vivian melihat wajah Kesya yang sudah memerah, dan kepalanya menunduk. Ah, benar Omega memang pemalu. Vivian jadi ingin semakin mengusiknya, sehingga dia berkata, “Ayah, Ibu, Suapi aku.”


Siapa ayahmu! Kau seharusnya memanggil aku suami! panggil aku suami! Kendra ingin berteriak seperti itu dan mengklarifikasi, tapi apalah daya targetnya masihlah gadis muda yang baru memasuki usia dewasa kemarin.


Hiks, butuh satu tahun 350 hari jika ingin menunggu. Untuk alpha dominan sepertinya yang mengejar seorang Alpha wanita, apakah bisa bertahan sampai hari itu? Oh, jelas tidak. Pasti akan ada Omega pria yang menjadi saingannya, dan sudah jelas jika dia terlambat bergerak, Vivian pasti akan menandai seseorang nantinya.


Dia tidak mau itu. Kendra menatap Vivian yang sedang asik makan Apel, gadis itu terlihat menikmatinya. Sial, dasar kau buah delima merah. Kendra mengalihkan pandangannya dari Vivian, sehingga memuat kedua alis Vivian hampir tersambung.


“Apa kau juga mau buah? Silahkan, aku masih ada banyak di piring,” Vivian menyodorkan sepiring buah Apel yang sudah di kupas dan di potong oleh Kesya.


Aku tidak mau Apel, aku mau Delima! Delima! Setelah batin Kendra berteriak lagi, dia memutuskan untuk keluar dari kamar Vivian, untuk mencari angin.


[Tuan Rumah, Apakah anda sudah membaik?]


“Kau baru mau bicara sekarang?”


[Apa yang bisa aku katakan ketika aku tidak di dekat mereka.]


“Sekarang kau sudah di dekat mereka, jadi apa yang ingin kau katakan?”


[Tuan, mereka akan pulang dan menyelesaikan masalah kemarin.]


“Masalah kemari? Oh, saat alergi itu?”

__ADS_1


[Bukan hanya itu, mereka akan membuka topeng antagonis.]


Hei! Bukankah itu plot bagian ku? Mengapa berubah menjadi mereka? Astaga, apakah sebenernya sistem miliknya sudah rusak sejak awal? Sehingga Vivian merasa bahwa masuknya dia didalam buku ini tidak ada gunanya.


Dia hanya menggantikan posisi Pemilik tubuh asli untuk di racun. Kemudian Vivian diam saja, tidak mendengarkan apa yang di katakan oleh Farel, kepalanya linglung jadi Vivian memutuskan untuk tidur saja.


Ketika Vivian bangun, dia menemukan dirinya sudah ada di dalam mobil. Berbaring di pangkuan Farel, mata Vivian berkedip-kedip memikirkan nasibnya sendiri selama berada di dalam buku.


Hiks, Ibu aku mau pulang. Sebuah sistem mengurung aku di dunia ini. Farel mengelus kepala Vivian dan berkata; “Bagaimana keadaanmu? Apakah masih ada yang sakit?”


Kepalaku yang sakit, batin Vivian. Kemudian Vivian menatap wajah Farel, berpura-pura untuk tersenyum dan berkata; “Aku baik kak. Ngomong-ngomong kemana kita akan pergi?”


“Kembali ke rumah,” Farel menjawab dengan santai.


“Apa? Pulang, tapi liburannya...”


“Tidak ada liburan lagi, pulang ke rumah dan istirahat dengan baik.”


Hiks, dia belum menikmati pegunungan kota Gold, dan dia harus pulang. Tidak adil, Vivian mulai mengutuk siapapun yang sudah memberinya Seafood saat makan malam.


Ketika mereka tiba di rumah utama, keluarga di hebohkan dengan kesehatan Vivian yang menurun, Vivian kembali menjadi linglung melihat bagaimana kakek dan ayahnya sudah memintanya untuk masuk ke kamar.


Tuan tua meminta Farel untuk ikut dengannya kedalam ruang kerja, Alexis juga ikut bergabung sebagai ayah Vivian dia tentu saja ingin mengetahuinya juga. Ini sudah bertahun-tahun lamanya sejak terakhir kali alergi Vivian kambuh.


Tuan tua bertanya, “Ceritakan semuanya padaku, jangan ada yang sampai terlewat.”


Farel menjawab, “Tidak ada yang memberitahu Kesya dan Nila tentang alergi Vivian, aku kebetulan sibuk pada saat itu jadi hanya tinggal Stella saja. Lalu seseorang sengaja memberikan sup Seafood pada Vivian, sup itu sudah dia campur dengan suatu zat.”


“Ah, ini salah kakek, kakek lupa memberitahu Mario dan Nila tentang alergi itu. Seseorang yang sengaja itu apakah....”


“Bukankah Stella dan Vivian rukun-rukun saja? Mengapa bisa jadi seperti ini?” Alexis memangku dagunya dan berpikir.

__ADS_1


“Kami juga awalnya tidak percaya paman, tetapi semua merujuk pada Stella, Dia bersama dengan Nila tapi dia tidak mengatakan apa-apa, ada CCTV juga disana.”


“Simpan itu untuk nanti sudah malam, kau harus istirahat dulu, kita bahas ini besok. Jangan lupa bawa Stella kehadapan ku, aku yang akan menanyai dia.”


__ADS_2