
Pada hari ketiga Vivian dan teman-temannya bertahan hidup dengan mencari umbi-umbian. Dua sebelumnya mereka bertahan hidup dengan menggunakan buah liar yang mereka temukan di dalam hutan.
Nanas dan Semangka, Vivian tidak menyangkah akan menemukan keduanya di hutan, Kelompok lain, mereka justru mengunjungi masyarakat, membantu pekerjaan rumah mereka lalu sebagai upah mereka akan di berikan makan.
Penanggungjawab kegiatan pariwisata tidak mengatakan harus melakukan apa yang boleh dan yang tidak selama berada di desa hijau ini. Mereka bebas melakukan apa saja asalkan tidak menyentuh kebun.
Selain membantu masyarakat, ada kelompok yang memutuskan untuk pergi ke pantai mencari kerang atau mengikuti para nelayan menangkap ikan. Kelompok Alpha laki-laki di kelompok Vivian ikut melakukannya juga, sementara Omega laki-laki dan Beta laki-laki mengurus api dan kayu bakar. Para gadis, bertugas untuk memasak makanan mereka. Cukup baik, selama bahan masakan bisa mereka temukan.
“Kegiatan ini tidak buruk juga,” Samanta mengupas ubi singkong hasil temuan mereka hari ini, yang sudah di bakar.
“Tentu saja,, ini menyenangkan tahu, akan lebih menyenangkan. jika kami bisa turut serta membantu yang lain.”
“Hei, kalian berdua memang tidak bisa., Alpha tidak bisa bersama dengan omega.."
"..." Fino diam, sambil mengaduk sup jamur yang sedang di masak oleh Vivian. Sementara Reza menjaga api agar tetap menyala. Mereka berdua memang selalu ditugaskan untuk yang ringan-ringan.
Urusannya selalu berada di dapur untuk menjaga masakan Vivian, dan atau mencari daun pisang untuk mereka jadikan alas makan. Vivian tidak membiarkan para omega bekerja dengan keras, jadi dia hanya meminta tolong untuk melakukan yang ringan-ringan saja.
Kesya sendiri memiliki bagian untuk menata makanan di atas daun pisang., Vivian bertugas untuk memasak dan Nila membantunya.. sementara sisanya mereka pergi mencari bahan makan, berburu di dalam hutan atau seperti yang tadi di jelaskan. menangkap ikan di laut..
Pantai Desa hijau kaya akan hewan lautnya,, Kendra dan yang lainnya membantu tugas nelayan untuk menangkap ikan. Hasil tangkapan mereka akan di berikan beberapa ke kelompok pelajar yang sudah membantu pekerjaan mereka. Tentu saja dengan pengecualian Vivian tidak dapat memakannya.
Ketidak cocokan tubuh Vivian asli pada seafood membuat Vivian secata pribadi kesal, seafood adalah salah satu makanan kesukaannya di dunia asli.. Dia bisa menghabiskan banyak makan jika ada Kerang dan kawannya, sekarang dia harus menahan dirinya untuk tidak menyentuh makanan enak tersebut, karena tidak mau masuk rumah sakit lagi..
Kendra juga begitu melarang Vivian untuk memakannya, jadi setiap kali mereka makan Vivian akan kebagian buah yang entah dia dapat dari mana,. Kendra menatap jauh ke depan mata,, di depannya terdapat pegunungan yang indah, angin berhembus di sore hari dan helaan napas terdengar.
“Kita harus segera kembali.”
“Tunggu sebentar, paman akan memberikan kita beberapa makanan laut.,”
“,Pacarmu tidak akan ada masalah, jadi tenang saja." Liam menyentuh bahu Kendra lalu ikut memandangi pemandangan di depan matanya.. Hari sudah sore dan mereka baru saja selesai menantu seorang warga menangkap ikan.
“Aku akan pergi dulu. Kita butuh air untuk bertahan hidup,, Aku akan mencoba untuk memintanya pada kepala desa.," Mario pergi tanpa mendengar respon temannya..
__ADS_1
Cukup baik setelah beberapa hari tinggal disini, Mario belum berkeliling desa untuk melihat sejauh apa tempat kelahirannya ini sudah berkembang.. Tentu saja selain ukuran rumah dan bangunan yang sudah jauh lebih baik, Mario belum menemukan yang lain lagi..
Jadi Mario berjalan melewati rumah-rumah warga menuju ke balai desa. Seingatnya rumah kepala desa berada tepat di dekat balai pedesaan. Kepala desa yang sekarang memimpin adalah anak dari kepala desa yang terdahulu, pemilihan kepala desa selalu menggunakan garis keturunan keluarga.
Dan sekarang sudah menjadi generasi ke lima yang memimpin, usianya sekurangnya sepantaran dengan ayah Vivian. Mario berjalan-jalan, dia sama sekali mengabiskan pandangan anak seumurannya yang terus saja melihat dirinya sejak bus mereka tiba sini..
Meskipun Mario tidak dapat merasakan feromon,, insttingnya masih sekuat alpha lainnya.. Mario hanya mencoba untuk mengabaikan mereka dan berharap hari segera berlalu.. Pada saat dia tiba di balai desa, Mario melihat beberapa anak remaja sedang duduk di sana dan bermain kartu..
“Hei, kau ingin ikut?” Seseorang berbicara padanya, Mario tidak tahu apakah dia Alpha atau Beta atau mungkin Omega jadi dia hanya mengernyit sebagai balasannya.
.
“Hei, anak kota kau dengar aku? Halo...” Pemuda itu bicara lagi..
“Tidak perlu...”
”Huh,, dasar anak kota.. Mereka semua sombong., bilang saja jika kau tidak ingin bermain dengan kami.”
Mario menghela napas lalu dia berkata,,“Satu ronde...”
“Terserah, jadi kemari cepat. Kita akan memulai permainan kita..”Bagaimana jika kita melajukan seperti ini setiap orang yang kalah wajib menjawab satu pertanyaan.”
Huh? Kau menantang ku? aku jelas tidak takut,. Mari biar ku tunjukkan apa yang ingin kalian ketahui dari permainan bodoh ini.. Bermain kartu begitu mudah untuk Mario hanya saja dia memang sedang tidak berminat untuk melakukannya,, jadi Mario membiarkan dirinya kalah
“Sudah aku duga, anak kota sepertimu memang tidak tahu apa-apa tentang bermain kartu..”
Aku bukannya tidak tahu, aku hanya malas..
“Kalau begitu kau harus menjawab pertanyaan kami.. Usiamu sudah sepantaran kami jadi, apa kau sudah pernah melakukan hal lebih pada Omega mu?”
“Tidak,.”
“Jadi kau belum mendapatkan Omega mu?”
__ADS_1
“Sudah.”
”Omega mu tidak ingin di sentuh?”
“Ya.”
“Kenapa? bisakah kau menjawab dengan benar?”
”Bisa. Karena kondisi kami agak istimewa.”
“Huh? istimewa? apa yang istimewa dari kalian, apakah kau juga tidak bisa merasakan feromon, sehingga kau tidak punya hasrat menyerang,?”
Kenapa pertanyaan my seperti itu? dasar orang kepo gila, sok kenal padahal asing. Mario diam malas menjawab lagi,, biarkan saja orang-orang ini merasa penasaran. Mario tidak akan memperdulikannya bahkan jika mereka terus mengekor dirinya dan mengawasi perilakunya.
“Aku anggap diam mu sebagai jawaban. Kasihan sekali,, kau mengingatkan aku pada seseorang di masa lalu.”
“Kau masih ingat anak itu,? ini sudah lama sekali."
, Meskipun Mario tidak penasaran, dia tetap bertanya pada kedua pemuda tersebut, “Apa yang kalian bicarakan,?"
“Tidak penting,, hanya seorang teman yang sudah berpulang.. Dia juga memiliki kondisi yang sama sepertimu. Dia mati tenggelam di laut saat pergi bersama ayahnya.”
“Hei kau jangan mengungkit itu lagi.,”
“Ups, maafkan aku."
Mario melihatnya dan darahnya seperti akan baik ke ubun-ubun. Siapa yang bilang kalau aku mati tenggelam? Orang tua gila itu yang membuang ku ke kota., Aku di telantarkan bukan mati tenggelam, moncong lele.!
...TBC...
...Maaf banget jarang update bukannya malas tapi saya sedang sibuk di real life ngurusin penelitian akhir....
“
__ADS_1