
Pada pagi hari Vivian dan kedua temannya bangun dengan semangat untuk menghadapi hari pertama di sekolah. Sekarang ini mereka sudah berada di tingkat tiga, tahun terakhir mereka di sekolah menengah.
Seperti biasa Mario akan menyetir mobil dan Vivian sekarang meminta Nila untuk duduk di samping pengemudi, sementara Vivian sendiri duduk di belakang. Sembari mobil terus melaju menuju sekolah, Vivian menatap jalanan yang masih agak sepi.
Ingatannya kembali mengenang dunianya, seharusnya jika dia ada disana, Vivian pasti sudah akan menjadi kakak senior, juga dan Sekolah akan mulai mengatur belajar tambahan sepulang sekolah untuk persiapan ujian nasional.
Anak-anak kelas pasti akan berbondong-bondong membawa makan siang mereka dari rumah dan berkumpul menjadi satu di ruang kelas untuk makan bersama, dengan saling berbagi lauk-pauk.
Ah, Vivian jadi merindukan teman kelasnya kalau begini, meskipun Vivian jarang berkumpul dengan mereka untuk makan bersama, kehidupan kelas mereka cukup harmonis dan tentram juga, solidaritas mereka juga sangat baik.
Vivian merasakan tepukan, lalu menoleh dan mendengar Nila berkata; “Ayo, Vivi kita turun sudah sampai.”
“Ah, baiklah.” Vivian turun dari mobil, dan menghirup udara sekolah. Udara hari ini sangat menyegarkan, Para pelajar berlalu-lalang di koridor sekolah bersama dengan teman-teman mereka, ada yang mulai bergurau dan ada juga yang mulai membahas tentang kuliah.
Sekolah menengah kota silver memiliki lima gedung, tiga gedung berlantai tiga untuk ruang kelas, satu gedung untuk gedung pengajar di dilantai atas, perpustakaan dan ruang peralatan olahraga, lalu auditorium untuk pertemuan tertentu di lantai pertama, bersamaan dengan ruang UKS dan badan konseling siswa, serta kafetaria di gedung yang berbeda yang hanya terdiri dari satu lantai saja.
“Bukankah sangat membosankan? kita hanya pindah gedung dengan posisi kelas yang sama?”
“Lantai tiga memang menyebalkan, aku lelah jalan kaki dari lantai pertama.”
“Aku tidak suka, kenapa gedung untuk tingkat tiga lebih dekat dengan perpustakaan dan jauh sekali dari kafetaria.”
“Itu karena kita harus lebih fokus belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi dan bukan mengisi perut terus.”
Hei, makanan juga di butuhkan untuk nutrisi otak tahu! aku tidak bisa fokus juga tidak kenyang.”
“Kalau begitu, bawa bekal makan siang mu sendiri. Kita sekolah untuk belajar bukan untuk makan.”
__ADS_1
Vivian menggelengkan kepalanya ketika mendengar percakapan pelajar sekitar, kemudian dia terkekeh karena merasa lucu. Mario yang berjalan di sampingnya tidak luput dari keheranan, apa yang lucu dari percakapan orang-orang itu?
Pada saat mereka tiba di depan kelas, Mario masuk lebih dulu lalu Vivian menyusul dari belakang. Ruang kelas yang baru tampak lebih bersih dan sangat rapi, ada pengharum ruangan juga dan tampaknya lebih luas dari kelas di gedung mereka sebelumnya.
“Vivian duduk meja di sampingnya masih kosong sehingga dia memilih untuk menoleh pada Mario yang ada di belakangnya dan bertanya; “Mengapa kau duduk disana? Kuris di sampingku masih kosong tahu.”
“Kursi itu milik pacarmu tahu. Bukankah hari ini dia akan masuk?”
“Aku tidak tahu,” Vivian menjawab dengan santai.
“Kau tidak bertanya padanya? Atau merengek karena dia menghilang seminggu.”
“Apa kau pikir aku seorang omega yang manja dan ingin selalu menempel pada pacarnya?”
“Oh, maaf. aku lupa kau Alpha pengidap kelainan istimewa.”
“Hei, santai. Aku hanya mencoba untuk mencairkan suasana.”
Aku minta maaf tapi kau sangat garing. Vivian kembali menoleh kedepan dan memunggungi Mario, jam sekarang menunjukkan pukul 08.00 pagi, ruang kelas perlahan mulai terisi penuh. Pandangan mata Vivian mengarah pada pintu kelas, menunggu kedatangan Kendra.
Biasanya Kendra selalu datang pagi tapi sekarang entah bagaiman hari ini tampak berbeda, padahal sudah jelas si dominan itu sudah berjanji akan menemuinya lagi saat sekolah dimulai. Apakah dia terlambat? Atau...
Tidak tahu kenapa perasaan Vivian jadi sedikit buruk, jantungnya seperti mengeras hingga kaku dan sulit untuk bernapas. Vivian mencoba untuk menetralkan pernapasannya, Mario melihatnya dan kemudian menepuk pundaknya.
“Vivi! apa yang terjadi padamu? kenapa kau tiba-tiba pucat? Vivi! katakan sesuatu padaku... Astaga! ”
“Sebaiknya cepat bawa dia ke UKS biarkan dokter yang memeriksanya, aku akan urus izin untuk kalian berdua.”
__ADS_1
“Baik, terima kasih,” setelah bicara Mario langsung membawa Vivian dalam pelukannya, keluar dari kelas dan menuju ke UKS.
“Sialan! kenapa kelas ini ada di lantai tiga!" Mario mendumel disepanjang jalan. Kebetulan Liam baru saja tiba di sekolah dan melihat Mario membawa Vivian sambil berlari, jadi dia memilih untuk mengejarnya.
“Buka pintunya! Dokter, tolong teman saya sedang dalam masalah.”
“Segera letakkan dia di kasur, saya akan memeriksanya." Beta wanita yang berprofesi sebagai dokter sekolah itu langsung dengan segera memeriksa kondisi Vivian.
Setelah memeriksa, Dokter wanita berkata pada Mario; “ Kondisinya baik-baik saja, mungkin dia kelelahan sehingga memberikan efek pada tubuhnya, apakah belakangan ini pasien kurang tidur?”
Mario menggeleng, tentu saja tidak. Vivian selama tiga hari ini baik-baik saja, tidak ada pekerjaan yang harus di urus selain laporan tentang perkembangan restoran, Pola makan Vivian juga tampaknya sedang meningkat. Jadi kenapa Vivian tiba-tiba merasakan sakit?
“Tidak ada dokter, belakangan ini dia hidup seperti biasa tidak ada yang aneh, makannya juga teratur,” Mario menjawab dengan mata yang masih terus melihat Vivian.
“Kalau begitu, hanya ada satu hal akhir untuk kesimpulan. Kondisi pasangannya.”
,Mario dengan mata melotot; “Apa maksud dokter?”
“Itu artinya Kendra mungkin sedang menghadapi masalah, mungkin.saja dia sedang terluka sehingga Vivian juga ikut merasakannya, sebagai pasangan mereka sudah terikat melalui tanda permanen, jika salah satunya sedang dalam masalah, pasangannya juga juga akan merasakannya.” Ucap Liam, yang sudah berdiri di samping Mario.
Dokter wanita itu mengangguk setuju, “Apa yang di katakan oleh teman anda memang benar, kemungkinan karena pasangannya sedang mengalami Masalah, bisa saja sedang terluka parah.”
Mario diam mematung, matanya berkedip-kedip dan kepalanya menjadi linglung. Bukannya dia tidak tahu tentang ikatan diantara pasangan yang sudah memiliki tanda permanen, dia hanya tidak jsoa percaya bahwa bahwa orang seperti Kendra yang terlihat selalu berhati-hati dalam melakukan sesuatu sekarang sedang terkena masalah.
Sebenarnya apa yang sudah menghambat perjalanan Kendra sehingga dia lama tiba di sekolah? Atau mungkin memang di perjalanan menuju sekolah Kendra mengalami insiden di jalan? seperti terluka sampai membuat Vivian tidak sadarkan diri.
Baru saja Mario berpikir seperti itu, ponsel di sakunya sudah bergetar. Lalu dia melihat sebuah nama yang tertera di ponsel Vivian yang sudah dia amankan tadi, Mario ingin meneriaki si penelpon namun si penelpon sudah lebih dulu berbicara, dan membuat mata Mario terkejut seketika.
__ADS_1