
Jam pelajaran sudah memasuki jam terakhir, Vivian duduk manis di tempatnya sambil memikirkan keputusan bodohnya yang meminta bantuan pada Kendra, dia sedikit menyesal. Sekarang dia harus banyak bekerja keras hari ini.
Selama pelajaran Vivian sesekali melirik pada Kendra, orang itu masih tetap fokus pada penjelasan pengajar, Dia sangat bersemangat. Bersemangat untuk menunggu bel berbunyi.
Jika bukan karena ujian akhir yang sudah didepan mata, Vivian tidak akan melakukannya secepat ini. Dia bisa meminta bantuan Tuan tua atau ayahnya untuk mencarikan guru les untuknya.
Ujian akhir hanya tinggal tiga Minggu lagi, apakah Vivian bisa mempelajarinya secepat itu? melihat simbolnya saja sudah membuatnya pusing, apa lagi jika harus membacanya.
“Baik, kelas saya akhiri sampai disini. Ingat untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian kenaikan tingkat," Pengajar bicara, setelah itu pamit ke luar setelah merapikan barangnya.
“Ayo pergi,” suara Kendra terasa hangat saat di dengar oleh Vivian. Vivian kemudian mendengus dan menoleh ke arah Mario, dan Liam.
“Rio, Kalian langsung ke restoran saja. Hari ini aku ada perlu dengan Kendra.”
“Ada apa? perlukah kami ikut?”
“Tidak perlu, aku akan ke sana saat urusan kami selesai."
“Iya, aku tahu. Pasti akan aku hubungi."
Mario melihat punggung Vivian yang semakin jauh, sedikit memikirkan apa yang akan di lakukan oleh kedua Alpha itu? Liam menyenggolnya dan berkata:
“Apa kau tidak khawatir jika temanmu diterkam oleh serigala?"
“Eh, apa maksudnya, tidak ada serigala di kota silver.”
Liam menggeleng lalu meninggalkan Mario, Hari ini dia harus mengantar Kesya seperti biasa ke restoran, jadi Liam tidak mau membuat tunangannya menunggu lama. Sebelumnya dia tidak menyangkah bahwa Kesya adalah orang yang dia cari selama ini.
Semuanya bermula saat Liam mengunjungi rumah Kesya, dia tidak sengaja masuk kedalam kamar Kesya dan melihat foto sekumpulan anak TK yang berfoto dengan guru mereka.
Liam terkejut ketika mendapati dirinya juga ada disana, Liam bertanya pada Ibu Kesya dan ibunya justru menceritakan masa kecil Kesya, selengkap-lengkapnya. Malam itu juga, dengan perasaan yang berdebar, Liam membicarakan hal ini dengan orang tuanya.
Orang tua Liam adalah orang tua yang mengutamakan kebahagiaan anaknya, sehingga apapun pilihan Liam dan dengan siapapun Liam ingin bersama, tidak peduli dengan status sosial, Ayah dan Ibunya memberikan restu mereka.
Jadi Liam mulai melakukan pendekatan terang-terangan pada Kesya, hingga pada akhirnya Liam memberanikan diri untuk mengatakannya pada Ibu Kesya, Awalnya Ibu Kesya terkejut, dia bertanya pada Kesya, lalu Kesya mengangguk.
Begitulah cerita singkatnya bagaimana pertunangan Liam dan Kesya terjadi, usia Kesya dan Liam juga sudah cukup untuk menandai dan membuat ikatan. Liam melihat kelas Kesya yang sepertinya sudah mulai kosong.
__ADS_1
Jadi dia memeriksanya, dan menemukan Kesya masih duduk di kursinya. “Key, Ayo pergi.”
Kesya mengangguk dan menerima uluran tangan Liam, mereka berjalan ke parkiran dan segera menuju ke restoran, Kesya adalah gadis yang mandiri jadi meskipun Liam melarangnya untuk bekerja lagi, tetap pada prinsipnya.
Dilain tempat, mobil Kendra melaju dengan cepat ke rumahnya. Vivian mengutuk Kendra yang berkendara dengan tidak baik, dan membuat jantungnya berkoar-koar ingin menendang sesuatu.
“Ayo turun, kita sudah sampai. Atau apakah kau mau aku gendong?”
“Tidak usah repot-repot, aku masih punya dua kaki,” Vivian keluar dari mobil dan mengikuti Kendra kedalam rumah.
“Ayo, kita belajar di kamar ku.”
“Tidak, aku mau disini.”
“Bukankah kita sudah sepakat untuk mengikuti aturan ku?” Kendra menundukkan kepalanya agar melihat ke Vivian yang tepat berada di depannya.
“Aturannya mengatakan kita belajar di rumahmu, bukan di kamarmu.”
“Kamarku ada di rumahku, Jadi ayo cepat.”
“Aku sudah janji tidak akan melakukan apapun padamu kan, jadi apa yang kau takutkan?” Kendra mengunci pandangan Vivian sehingga Vivian tidak bisa melirik ke tempat lain.
Aku takut padamu! kau seperti serigala lapar yang sudah tidak makan berminggu-minggu. Siapa yang mau masuk kedalam sarang buas? itu namanya cari mati. Vivian sadar betul, kamar adalah tempat yang intim. Vivian tentu saja tidak mau mendapatkan risiko.
“Hei, kenapa diam? Aku hanya mengajakmu, jika tidak mau ya sudah kita belajar di ruang tamu.”
Sial, Vivian merasa baru saja ditipu!
Kendra menahan tawanya lalu meninggalkan Vivian di ruang tamu. Seorang pelayan tidak lama datang membawakannya minuman, lalu menunggu sebentar. Kendra menuruni tangga setelah berganti pakaian, dia membawa beberapa buku di tangannya dan meletakkannya di atas meja pas didepan Vivian.
Vivian menatap buku tebal itu dengan kaku, dari mana buku ini berasal? Vivian melirik pada Kendra dan bertanya; “Apa ini?"
“Kumpulan kosakata yang harus kau halalkan dan tulis, bisa kau cocokan dengan prasasti yang di kirim oleh pengajar."
Siapa yang akan menghapal isi buku ini dalam waktu tiga Minggu? Vivian tentu saja bukan orangnya, tapi dia dengan hati yang berat adalah orang yang mau tidak mau harus melakukannya, Vivian lantas menyadari bahwa sejak awal dia sudah di tipu oleh si dominan.
Kendra menjelaskan dengan cukup lama, bagaimana pelafalannya dan cara penulisannya, selama satu jam awal. Satu jam berikutnya adalah giliran Vivian untuk mengerjakan tugasnya, Vivian meneguk saliva-nya dengan berat, dan Delimanya Kemabli bergetar bersama dengan detak jantungnya yang berdebar lagi.
__ADS_1
Kendra diam-diam melirik hasil kerja Vivian, dia lalu mengernyit, Vivian ini mungkinkah dia memang memiliki kesulitan dalam bahasa? dari sekian soal yang Kendra siapkan, Vivian sudah berutang dua delima padanya.
Vivian melempar penanya di meja lalu menatap Kendra dan bertanya; “Kau tidak sedang mengusili aku kan? Aku merasa aku sudah di tipu dan sekarang terjebak dalam perangkap mu.”
“Aku benar-benar mau membantumu, apakah kau tidak memperhatikan penjelasan ku tadi?”
Memperhatikan apa? aku mendengar menggunakan telinga kananku, dan aku tidak menutup gerbang di telinga kiri ku, jadi dia bebas keluar dan menghilang. Vivian menghela napasnya dan melanjutkan pekerjaannya.
“Lima menit lagi, silahkan kau coba untuk melafalkannya."
Vivian memulainya, “Kamela..."
“Itu Kambela, artinya Jauh.”
*..." Vivian mengigit Delimanya dan menetralkan detak jantungnya. Kendra sudah berdiri di belakangnya, pemuda itu kemudian ikut duduk di sampingnya, Kendra tersenyum tipis yang justru terlihat menyeramkan di mata Vivian.
“Lihat aku, sesuai dengan kesepakatan pagi tadi, kau tidak berhasil melakukan satupun dari tadi. Sekarang, serahkan delima merah mu padaku, kucing liar kecil.”
“Kau...kau...bisakah hari ini menjadi pengecualian?"
“Apakah kau pernah bertemu seorang pekerja kebun yang terlambat memanen hasil kebunnya?”
Vivian menggeleng, kemudian dia menutup matanya dan membiarkan Kendra melakukan aksi panennya, tentu saja Kendra merasa sangat senang, sudah berapa lama dia tidak merasakan rasa manis dari delima Vivian.
Itu delima merah yang Kendra rasa setiap hari warnanya semakin merah dan matang, rasa manisnya seperti rasa permen Lollipop, Kendra begitu menikmatinya sementara Vivian gadis tanpa pengalaman itu cuma bisa diam dan membiarkan isi Delimanya diserang oleh lidah buaya milik lawan.
Tolong siapapun akhiri serangan ini, aku tidak bisa bernapas dan jantungku sepertinya akan copot sekarang, dia akan membunuhku! Vivian berdoa dalam hatinya, siapa yang mau berada di posisi seperti vivian, sudah tidak profesional, tidak punya pengalaman, hidup lagi.
Tidak lama, Vivian merasakan delima Kendra sudah terlepas, matanya terbuka dan langsung membulat, di depannya Sekang Tuan tua Leonard sedang menjewer telinga Kendra.
“Dasar anak nakal! berani sekali kau menyerang cucu orang lain yang usianya belum mencukupi!”
"Kau mengganggu momen ku pak tua!” Kendra kesal, Kakeknya datang di waktu yang tidak tepat, dan menggangu acara panennya.
“Kalian berdua ikut aku keruang kerja, sekarang!" Tuan tua memerintah, lalu Kendra dengan santainya menarik tangan Vivian untuk ikut bersamanya.
...TBC...
__ADS_1
,