
Semakin mendekati hari ulangtahun Vivian, Tuan tua semakin melarang Vivian untuk datang ke rumah dan menyuruhnya untuk fokus saja belajar. Rumah utama itu sangat luas jadi mereka membutuhkan banyak waktu untuk melakukan persiapan dimulai dari dekorasinya sendiri.
Tuan tua secara pribadi memutuskan untuk membuat pesta ulangtahun perayaan kedewasaan Vivian. Meskipun dia sendiri tahu bahwa, Vivian sudah mengatakan tidak ingin pesta ulangtahun. Menurutnya itu terlalu membuang banyak modal, sebaiknya di pergunakan untuk membangun bisnisnya saja.
Si Tua Alisher ini merasa berhutang banyak hal pada Vivian, terutama tentang waktu dan kasih sayang. Sejak kelahirannya dan informasi Gender kedua Vivian keluar, Tuan tua tidak pernah memperhatikannya.
Pandangannya dulu ketika dia masih sangat muda, setelah mengalah pada si Tua Leonard, dan menikahi mendiang istrinya. Pandangannya tentang Omega berubah. Kecuali jika kau merupakan pihak dengan gen dominan, seperti Stella dia masih bisa sedikit menerima, karena dia masih menghormati buyutnya.
Tuan tua memperhatikan setiap sudut ruangan kemudian dia berkata pada pelayan; “Hei, sudah aku bilang letakkan vas keramik itu di setiap sisi tangga, lemari itu seharusnya di pindahkan ke sudut sana, sofa itu juga...”
“Balonnya warna putih saja, aku rasa cucuku tidak menyukai warna merah muda, lalu mengapa ada banyak warna? Hei! Cucuku bukan anak kecil lagi.”
Petugas yang mendekorasi mulai membatin Tuan, anda sendiri yang memesan barang-barang ini kemarin berkata bahwa anda tidak tahu yang mana favorit cucu anda, jadi anda meminta kami untuk membawa semua warna. Huft, mereka menghela napas maklum. Mungkin karena usianya yang tak lagi muda sehingga moodnya mudah sekali berubah.
Kebetulan Excelo dan Alexis baru saja kembali dari kantor, ketika melihat ayahnya mengomel lagi mereka menghela napas lalu Alexis berkata; “Ayah, sebaiknya kau istirahat saja. Biarkan mereka yang mengurusnya.”
“Alex berkata benar Ayah, ini sudah tiga hari sejak Ayah memutuskan untuk membuat perayaan ulang tahun vivian,” Tambah Excelo.
“Kalau aku tidak mengawasi mereka, memangnya kalian mau! Kalian selalu sibuk bekerja dan kau Alex, ini ulangtahun ke tujuh belas putrimu.”
“Aku tahu Ayah, tetapi Ayah juga harus memperhatikan kesehatan Ayah, Bagaimana Jika pada saat ulangtahun Vivian Ayah sakit? Dia pasti akan sangat sedih.”
“Tapi...”
Pembicaraan ketiganya terus berlanjut, dari atas lantai dua Stella bisa mendengarkan mereka karena suara meraka agak tinggi. Tangannya terkepal, lalu Stella kembali masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
BRAK!
Pintu itu, Stella banting dengan keras. Sehingga lekas membuat Tania, Ibunya khawatir. Wanita yang sudah berusia kepala empat itu, menghampiri kamar Stella lalu mengetuknya.
Karena tidak ada jawaban, Tania membuka pintu kamar Stella yang tidak terkunci. Kemudian media melihat Stella menatap kosong ke arah luar jendela, Stella yang merasakan kedatangan Ibunya berbalik dan langsung memeluk Ibunya.
Dia menagis, lalu menyalurkan semua isi hatinya; “Ibu... Apakah kakek, Ayah dan paman sudah tidak menyayangi aku lagi?”
Tania menepuk kepala Stella, kemudian mencium keningnya dan berkata; “Siapa bilang? Putriku akan selalu menjadi yang tersayang.”
“Hiks, tapi Kakek mempersiapkan ulangtahun tujuh belas Vivian secara pribadi, sementara saat ulangtahun ku tahun lalu, Kakek hanya memberi perintah pada orang lain, untuk mengurusnya sesuai dengan keinginan ku...” jeda Stella.
Kemudian Stella berkata lagi; “Apakah Vivian akan merebut semua milikku, Ibu? Aku tidak mau itu terjadi.”
Stella mengingat kembali perayaan ulang tahun kedewasaannya dulu, meskipun sangat mewah, semuanya di susun sesuai dengan keinginannya. Mulai dari gedung, dekorasi, dan bahkan kue ulang tahunnya. Sementara ketika Vivian akan ulang tahun, Tuan Tua mempersiapkannya secara pribadi, dan bahkan perayaannya langsung di lakukan di rumah.
Termasuk kasih sayang keluarga, dan juga harta warisan, lanjut Tania membatin. Setelah berhasil menenangkan Stella, Tania kembali berkata; “Sekalipun dia Alpha, Ibu akan mencari cara untuk menyingkirkannya.”
“Benarkah Ibu?” Stella bertanya, nada suaranya begitu pelan.
“Tentu saja, ibu akan melakukan apa saja untuk kebahagiaanmu.”
ibu berjanji Stella, meskipun harus dengan melenyapkan gadis itu, Ibu juga akan melakukannya, Tania membatin. Kemudian dia teringat lagi pada hari saat laporan Vivian keluar, dia menggertakkan giginya.
Pada hari itu dia sangat sibuk arisan, sehingga dia terlambat mengetahui bahwa Vivian sedang di bedakan di rumah sakit. Jika saja, pemberitahuan datang lebih cepat, dirinya mungkin masih bisa melakukan sesuatu, seperti menular hasil pemeriksaan.
__ADS_1
Sehingga Putrinya tidak akan mendapatkan perlakuan seperti ini. Sejak Vivian dibedakan, Tania sudah memperhatikan perubahan dalam keluarga. Tuan tua memberikan semua apa yang tidak pernah di minta oleh Vivian sebelumya, Suaminya jadi semakin dekat dengan adiknya, dan adik iparnya tidak perlu ditanya, meskipun dia ayah kandung Vivian, sebelum dibedakan dia selalu mengabaikan gadis itu.
“Apakah, kau sudah agak tenang? Dari pada menangis di kamar, bagaimana jika kau mengajak teman-temanmu belanja saja?” Tania memberi saran.
Stella memikirkannya kemudian dia berkata; “Itu ide bagus Ibu, aku harusnya melakukan itu dari kemarin.”
Setelah Tania keluar dari kamar, Stella langsung bersiap. Dia menuruni tangga, lalu matanya tampak jengah melihat dekorasi ruangan. Semuanya serba warna putih, dekorasi yang di gunakan juga tampak sangat berkelas.
Ck! Stella mendengus, ketika dia hampir mencapai pintu utama, langkahnya terhenti karena mendengar suara Ayahnya bertanya; “Kemana kau akan pergi? Tidak biasanya.”
Apakah ayah pernah memperhatikan aku setelah Vivian dibedakan? Stella bertanya dengan membatin. Ini kali pertama setelah hari pembedaan Vivian, Ayahnya berinisiatif untuk berbicara padanya lebih dulu.
Stella tahu bahwa Ayahnya sibuk dengan urusan bisinis, tetapi tidak seharusnya dia mengabaikan Putri kandungnya sendiri, untuk seorang keponakan seperti Vivian.
Ayahnya seharusnya, tahu bahwa Vivian masih memiliki seorang Ayah, yang bisa memberikannya kasih sayang, sehingga dia tidak perlu membagi perhatiannya dan tidak perlu ikut mengajari Vivian tentang bisnis, setiap hari Sabtu.
Mendengar pertanyaan ayahnya, Stella menghela napas agak panjang lalu berkata; “Aku ingin berbelanja, Ayah.”
“Wah, kalau begitu nikmati belanja mu. Dan oh, apakah kau berencana untuk membeli kado Vivian, barang seperti apa yang akan kamu berikan?”
“Kenapa aku harus memberikan dia hadiah?” Stella bertanya, dan berpura-pura sembunyi.
“Bukankah dia adik tersayang mu? Dan lagi, sudah kewajiban seseorang memberikan kejutan pada hari ulang tahunnya, bukan?” Excelo menatap putrinya dan tersenyum.
Stella diam-diam mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya, untuk kesekian kalinya Stella merasa bahwa perubahan gender kedua Vivian sudah merebut apa yang seharusnya menjadi milik Stella, terlebih lagi ini berkaitan dengan kasih sayang ayahnya sendiri.
__ADS_1
Melihat senyum Ayahnya, Stella dengan enggan juga ikut tersenyum dan berkata; “Tentu saja Ayah, Vivian kan satu-satunya adikku tersayang.”
Tersayang dari hutan Amazon! Stella melanjutkan dengan membatin, kemudian dia pamit dan segera meminta supir untuk mengantarnya ke salah satu pusat perbelanjaan.