
Dunia omegavers ini memiliki beberapa keistimewaan, terutama dalam status hubungan oleh tanda gigitan, terkhusus bagi mereka yang sudah saling terikat. Keistimewaan ini di miliki oleh kalangan Alpha terhadap pasangan mereka.
Umumnya jika omega seorang Alpha sedang diganggu, keistimewaan ini akan aktif dengan sendirinya, yang mana bisa membuat Alpha mengetahui lokasi Omeganya.
Ini berlaku untuk pasangan Alpha-Omega, dalam kasus ini Kendra memiliki sedikit perbedaan. Karena mereka adalah pasangan Alpha-Alpha, dia tidak bisa dengan pasti mengetahui keberadaan Vivian.
Kendra hanya bisa merasakan kondisi Vivian, dan sekarang dia merasakan kesakitan di tubuhnya. Rasanya memiliki banyak beban, dan rahang serta pipinya terasa sakit. Dari sana Kendra tahu kalau Vivian sedang tidak baik-baik saja.
“,Sebaiknya kau istirahat, Ken. Wajahmu tidak baik,,” Nila menyarankan Kendra, pria itu memang seharusnya berdiam diri dalam kamar Vivian saja.
Disana masih ada sisa Feromon milik Vivian yang tertinggal, Nila melirik Mario, “Pergi dan bantu dia berbaring...”
Mario menurutinya dan membawa Kendra pergi menuju kamar Vivian, untuk istirahat. Feromon pasangan bisa membantu menegangkan perasaan pasangannya, ini berguna untuk beberapa situasi seperti yang sedang dialami Kendra.
Setelah membawa Kendra, Mario dan lainnya mulai bersiap, dan menunggu kedatangan orang-orang itu. Didalam ruangan, Stella sudah bersiap dengan posisinya, diruang kerja Thomas, Excel dan Alex sudah memperhatikan layar monitor mereka. Varel dan lainnya juga berada di ruangan yang berbeda.
Cukup lama mereka menunggu, sampai akhirnya di malam hari Rumah begitu berisik dengan kedatangan orang-orang itu, mereka semua berpakaian hitam dan bertudung. Suara lemparan dan juga perlawanan dari penjaga yang mereka sewa terdengar.
Mereka menerobos kedalam ruangan untuk men Ari keberadaan Stella. Setelah menemukannya, mereka melepas ikatan dari tubuh Stella dan membawa gadis itu ikut bersama dengan mereka.
Stella tetap menutup matanya dan berpura-pura tertidur, Tuan tua dan yang lainnya tetap mengawasi dari monitor, Stella sudah meletakkan alamat pelacak di tubuhnya sehingga merkea bisa melihat lokasinya.
”Inikan arah ke....” Ucap Mario terhenti ketika dia tidak sengaja melirik Nila, wajah gadisnya berubah menjadi jelek.
“Apa kau tahu kemana mereka akan pergi?” Liam bertanya sembari melirik Mario.
Mario tiba-tiba menggeleng, “Tidak, aku salah ingat Ku kira itu jalan ke kampung halamanku.”
“Dasar aneh...”
Mobil yang ditumpangi Stella, terus melaju melewati pedesaan kemudian menaiki puncak gunung. Lokasinya tidak jauh dari Kota Silver, Stella memperkirakan itu 30 menit sebelum Mobil berhenti disebuah pekarangan rumah yang cukup besar.
__ADS_1
Stella merasakan tubuhnya kemudian di angkat dan dibawa oleh seseorang. Bunyi pintu berdecit, dan suara wanita yang familiar di telinganya terdengar.
“Bawa dia ke kamar samping kamar ku, jangan biarkan dia berkeliaran. aku akan kesana setelah bertemu dengannya...”
“Baik nona...”
Ruang kamar tempat Stella tidak seluas kamar miliknya, dia membuka matanya setelah dirinya yakin ruangan itu benar-benar sudah kosong. Dia menatap langit-langit kamar seolah-olah sedang kebingungan.
“Kau sudah bangun?” Stella menoleh pada orang yang baru saja berbicara, itu Tania ibunya yang sedang berdiri di dekat pintu, menatapnya dengan wajah dingin...
“Ibu...Kau... aku dimana?” Stella memegang kepalanya seolah-olah sedang menahan rasa sakit.
“Kau aman di sini, istirahatlah...”Tania duduk di samping kasur dan menatap wajah putrinya yang buruk.
Dia benar-benar melukai putrinya sendiri....
Wajah Stella penuh lebam dan merah, juga luka karena di cengkram. Tania tidak bisa berpikir baik, dia masih memikirkan tentang perubahan yang terjadi pada Excel.
“Ini semua salah gadis itu, Putri ku sudah menderita...”
“Istirahatlah, aku akan segera kembali...” Tania membaringkan Stella, menatapnya sebentar lalu meninggalkan ruangan itu.
Stella membuka matanya kembali setelah dia merasa aman, kemudian berdiri dan memperhatikan ruangan itu lebih jelas, Di balik jendela adalah pemandangan hutan yang lebat. Stella berpikir bahwa mereka pasti ada di puncak juga yang jelas daerah sekitar itu sangat sepi,
Jauh dari kawanan penduduk....
“Sekarang, kemana aku harus menemukan Vivian?”Stella mengintip dari balik pintu dan menemukan bahwa ruangannya di jaga oleh beberapa orang.
“Sial, apa aku harus menunggu sampai malam?"
Di rumah keluarga Alisher semuanya sudah berkumpul diruang tamu termasuk Kendra. Dia sudah merasa sedikit jauh lebih baik setelah banyak istirahat. Dia menatap Leo yang bertugas untuk melacak keberadaan Stella.
__ADS_1
“Dimana mereka?”
Leon menoleh dan menatap wajah buruk Kendra, “Hutan mendekati puncak gunung, dekat dengan desa ungu...,”
Setelah mengetahui lokasi tersebut, Kendra bangkit dari duduknya, “Kalau.begitu aku pergi Sekang...”
Pergelangan tangan Kendra di tahan oleh Mario, “Bersabarlah sedikit lagi, Stella belum menemukan ruangan Vivian...”
“Bagaimana aku bisa bersabar! ini sudah hampir satu Minggu, sialan!” Kendra berteriak, hormonnya sedang tidak bagus dan dia juga sedikit sensitif.
“Kalau.kau.mau Vivian selamat, tenanglah seidkit. jangan sampai rencana kekasihku hancur dan memuat mereka berdua ada dalam masalah besar....” jelas Leon.
Jangan berpikir bahwa disini hanya Kendra yang tidak bisa menahan diri, meskipun Leon Beta dia paranoid dan mudah marah. Sejak Stella berani dengan bodohnya melukai tubuhnya sendiri, Leo sudah ingin marah tapi dia menahannya...
Dan sekarang Stella ada di sarang orang-orang yang berbahaya. Jika mereka sampai salah langkah, maka itu tidak akan baik. Stella berpesan padanya bahwa mereka bisa bergerak jika dia sudah memberikan informasi.
Jadi mereka harus tetap menunggu....
“Kita akan bergerak jika Stella sudah memberikan kita kabar. Sekarang kita harus menunggu lagi...,” Tambah Leon.
Pandangannya tertuju pada Kendra. sejujurnya dia sedikit tidak suka dengan pemuda ini, karena sangat terburu-buru, orang ini adalah laki-laki yang ada di masa lalu Stella dan orang yang pernah di cintai oleh Stella. Dan sekarang mereka akan menjadi keluarga di masa depan nanti.
Dia cemburu....
“Karena sudah malam, aku akan pamit dulu. Aku tidak bisa membawa Keisya terlalu lama, apa lagi disini banyak Alpha...jadi aku akan mengantarnya pulang dulu...”
Keisya melirik Liam, kemudian dia hanya mengangguk saja. Keisya memang menginap beberapa hari bersama dengan mereka, karena pekerjaan yang tidak segera usai, sehingga tidak ada waktu untuk mengantarnya pulang.
“Kakek, paman.... kami pamit dulu...” Keisya berpamitan dengan sopan, kemudian dia keluar bersama dengan Liam yang sudah merangkul dan memeluk pinggangnya.
Excel menatap punggung Keisya dan kembali mengingat cinta masa mudanya yang tidak terbalik. Dia menggelengkan kepalanya tidak lama setelah itu, ‘Apa yang sudah aku pikirkan?’
__ADS_1
.