
Nila duduk berseberangan dengan Mario, kepalanya masih linglung karena apa yang baru saja dia alami beberapa menit yang lalu, Mario si Alpha yang memiliki masalah dengan penciuman feromon itu baru saja menerkam Delimanya.
Nila sangat terkejut dan masih belum bisa percaya, bertahun-tahun dia dekat dengan Mario tapi tidak ada tanda-tanda bahwa Mario akan oleng dari Omega menjadi Alpha atau mungkin Beta, aneh seperti dirinya.
Mario tidak pernah sekalipun menunjukkannya, selama ini juga Mario lebih sering membahas tentang Omega wanita yang manis dan lembut. Nila masih merasa kejadian ini seperti mimpi, sehingga Nila berharap tidak akan pernah bangun lagi.
Jadi kenapa seorang pemuda menerkam seorang gadis, jika mereka tidak memiliki perasaan lebih? Sejujurnya Nila tidak ingin terlalu berharap pada sesuatu.yang endingnya sendiri sudah dia ketahui.
“Kau...” Keduanya bicara bersamaan, mata mereka saling bertemu satu sama lain, lalu mengelak ke arah lain.
“Kau duluan,” suara Nila terdengar di telinga Mario, pemuda itu berbalik untuk menatapnya.
“Tidak, gadis lebih dulu."
Delima Nila bergetar dengan ragu, “Tadi... kenapa kau lakukan itu?”
“Apa?”
“Tadi...tadi .. kau...”
“Maaf aku refleks, aku tidak suka jika kau bersentuhan dengan lawan jenis.”
“Kenapa...”
“Aku marah... Aku... aku tidak tahu apa yang aku lakukan, tapi... Aku ingin kau terus berada di sisiku.”
“Maksudmu?”
“Apa kurang jelas? Aku suka kamu, aku ingin selalu bersamamu. Maaf, aku menjadi seorang pecundang.”
“Ini... Apa yang baru saja kau katakan? Kau selalu bilang akan mencari omega yang mau bersamamu, kenapa sekarang kau mengatakan omong kosong?”
“Apa yang aku katakan sekarang bukan omong kosong, memangnya kau tidak pikir kenapa aku selalu menolak bantuan mu untuk mengganti feromon?”
“...”
__ADS_1
“Itu karena aku lebih baik memilih untuk tidak pernah bisa mencium feromon dari pada bisa mencium feromon tapi tidak bisa bersamamu.”
“Kau...”
“Maaf aku baru menyadarinya beberapa Minggu ini...”
“..." Nila membeku, tidak tahu ingin berkata apa lagi, matanya memerah dan berkaca-kaca, sehingga membuat Mario langsung panik, tidak berbicara Mario berdiri dan mendekat kearah Nila untuk memeluknya.
“Ada apa? Kenapa kau menangis? Hei, Lala...katakan padaku, apakah aku salah bicara?”
Nila tersedu-sedu, Delimanya bergetar dan kedua tangannya langsung membalas pelukan Mario. Momen keduanya sejak tadi di perhatikan oleh Vivian dan Kendra, Vivian sangat senang sehingga dia terus tersenyum, sementara itu Chihuahua guling-guling karena bahagia.
Dean masih berasa disana duduk diantara kedua pasangan, kepalanya linglung dan dia agak kesal pada Kendra karena mengganggu tidur indahnya, Dean berkata; “Apa aku sudah bisa pergi sekarang? Jangan menelpon aku Jika tidak penting.”
“Pergilah, siapa yang memintamu masih disini?” Kendra bertanya balik dengan tidak tahu diri.
Dean mendengus lalu pulang, aktivitas restoran kemudian berjalan seperti biasa. Hingga sampai pada pukul enam sore, dimana untuk hari ini Restoran tutup lebih cepat dari biasanya, karena seperti pada rencana awal yang sudah terundur beberapa jam, mereka pulang ke rumah utama.
Vivian sudah menghubungi orang rumah untuk menyiapkan makan malam karena Vivian akan mengatakannya pada Paman, ayah dan kakeknya tentang segala hal yang terjadi. Vivian sangat tidak percaya diri tentang hal ini, dia tidak pernah mengatakan apapun sebelumnya.
Vivian memikirkan bagaimana reaksi mereka ketika tahu Dia dan Kendra sudah bersama dan akan memasuki Minggu ke dua hubungan mereka. Vivian juga sudah mengabari mereka bahwa ada hal penting yang akan dia katakan malam ini.
“Aku tahu, aku pasti akan katakan semuanya nanti.”
Mobil mereka melaju di jalanan, Di rumah utama Tuan tua sudah menunggu di ruang keluarga, Hari ini cucunya akan datang setelah sekian lama, karena kesibukan kerja dan ujian akhir kemarin.
Tuan tua hanya berdua dengan Stella yang kembali untuk berlibur, setelah ujian akhir semester mereka. Akademi tempat Stella sekarang karena aturan yang ketat pelajarnya hanya dapat pulang satu kali dalam setahun, itu pun harus dengan syarat perolehan nilai yang baik.
Stella kebetulan nilainya untuk ujian akhir pas menempati syarat perolehan sehingga bisa mengambil kesempatan untuk pulang, lagi pula dia tidak bisa melakukan apapun jika masih tetap berada di dalam asrama.
Stella harus mulai bergerak untuk menemukan lokasi ibunya, dan memberikan pelajaran padanya. Stella bukannya tidak menghormati Tania sebagai Ibu kandungnya, tetapi matanya sekarang sudah terbuka.
Bunyi klakson mobil terdengar dari luar, Vivian dan yang lainnya sudah tiba. Mereka duduk di ruang keluarga, sambil menunggu kepulangan Excelo dan Alexis, ayahnya. Stella melirik mereka berempat secara bergantian, lalu mengangguk.
Sepertinya Kendra berhasil, pikir Stella, saat dia merasakan aura sangat berbeda dari sebelumnya, wajahnya juga tampak lebih bahagia dan tentu saja dia terus menempel pada Vivian. Stella melirik Tuan tua dan melihat bahwa kakeknya menjadi tidak dingin.
__ADS_1
“Kakek, mengapa tidak masuk ke kamar dulu untuk istirahat, nanti aku akan memanggil kakek saat ayah dan paman kembali,” Stella membuka percakapan.
“Apa kau pikir, kakakmu setua itu?” Tuan Tua balik bertanya, saat ini dia sedang tidak mood, dia berpikir teman-teman Vivian yang akan datang hanya Nila dan Mario, tidak di sangka Cucu rivalnya juga ada disini.
Tidak lama paman dan ayah Vivian kembali, Makan malam mereka dilalui dengan keheningan, Setelah selesai Vivian mulai berdehem dan Kendra yang duduk di sampingnya menggenggam tangan Vivian.
Perhatian keluarga mulai tertuju pada vivian, Alexis bertanya; “Ada apa? Ayah dengar Vivi mau menyampaikan sesuatu.”
Vivian menghirup napas panjang lalu berkata dengan satu kali tarikan napas, “Itu benar Ayah, apa yang ingin aku sampaikan adalah tentang aku dan Kendra, kami berdua sudah bersama...”
Bersama?
“Apa! sejak kapan? Katakan pada ayah orang ini tidak memaksamu kan? tidak mengancam juga kan?”
“...Tidak ayah, maaf aku tidak bisa seperti ayah yang menemukan omega sebagai pasangan...”
“Tidak-tidak, ayah tidak masalah jika kau bersama Alpha, hanya saja kenapa dia tidak menghadap padaku lebih dulu untuk menanyakan apakah aku setuju atau menentang...”
“Sudah, kau jangan bicara lagi. Biarkan saja mereka menemukannya, mereka berdua sudah dewasa.”
“Kak, kalau kau lupa, Putriku baru berusia 17 tahun, seharusnya tidak secepat ini terikat dengan seseorang.”
“Apa aku perlu mengingatkan mu bahwa usianya Vivan sama dengan Kania saat kau dengan sepihak menggigitnya.”
Alexis; “!!!”
Tuan tua mendengus tidak terima, bukan tentang Vivan yang sudah bersama dengan Kendra tapi karena dia sendiri belum berurusan dengan Kendra secara langsung, tapi sekarang cucunya sudah memiliki hubungan dengannya.
Tuan tua hanya menghela napas,lalu berkata; “Baiklah, tidak masalah. Yang penting jangan melakukan hal yang berlebihan, sebelum menikah. Apakah masih ada hal yang lain?”
“Ada, Mario dan Nila juga sudah bersama.”
Mario dan Nila; “!!!”
...°°°...
__ADS_1
...Mohon maaf apa bila menemukan Typo...
...Terima kasih sudah mendukung dan membaca karya saya...