Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Kesepakatan


__ADS_3

Kendra berbaring di kamarnya, ingatannya kembali pada sore tadi. Calon mertuanya itu cukup posesive sepertinya, Kendra mendapatkan banyak pertanyaan yang menurutnya sendiri tidak penting, seperti bagaimana dia akan menghidupi Vivian? dan membuat hidupnya bahagia.


Hei, itu tentu pertanyaan bodoh, Apakah mertuanya itu sudah lupa dari mana dia berasal, dia adalah Leonard, siapa yang tidak kenal bisnis keluarga mereka? itu sungguh terlalu, Kendra tentu saja bisa memanjakan Vivian.


Kendra tanpa sadar tertidur nyenyak hingga pagi menjelang, seperti malam-malam sebelumnya, Kendra bermimpi membangun rumah tangga dengan Vivian, Paginya menjadi lebih menyenangkan.


Kendra bersiap seperti biasa untuk berangkat ke sekolah, pada saat tiba di lantai bawah, seperti biasa meja makan hanya diisi oleh Tuan tua, senyumnya seketika hilang, Ayahnya itu meksipun sibuk setidaknya harus ingat pulang dong.


Sudah hampir empat tahun Ayahnya memilih untuk pindah ke negeri lain dan tidak pernah pulang, dia mengurus semuanya melalui virtual untuk urusan perusahaan.


“Ayo makan, setelah itu ada yang mau kakek bahas denganmu.”


“Kendra dengan patuh melakukannya, setelah makan pembicaraan mereka berlanjut; “,Apakah ini tentang perusahaan?”


“Tidak, aku masih bisa mengurusnya. Bagaimana kemarin? apa kau di persulit?”


Tuan tua bertanya, Kendra mengernyit dan berpikir sebentar lalu menggeleng.


“Tidak semuanya baik-baik saja, Kakek jangan lupa istirahat, perhatikan kesehatan jantungmu.”


“Aku tahu, perhatikan saja belajarmu. lagi pula aku mengikuti semua panduan hidup sehat.”


“Baiklah kalau begitu,” Setelah itu Kendra pamit untuk berangkat ke sekolah. Tuan tua memperhatikan punggung Kendra yang semakin menjauh.


Sejak kepergian ibunya, Ayahnya memutuskan untuk pindah karena tidak ingin mengingat kenangan manis yang ada di kota ini. Ayah Kendra adalah sosok yang romantis, sangat sering berkencan dengan Ibu Kendra, meksipun mereka sudah menjadi orang tua.


Kendra saat itu masih usia 15 tahun, masih duduk di bangku sekolah menengah tingkat pertama. Sementara asik perempuannya berumur 11 tahun, mereka memiliki perbedaan usia yang cukup dekat


Adik perempuan Kendra adalah Omega yang manja, dia sangat dekat dengan Ayahnya sehingga merengek untuk ikut bersama ke luar negeri, sementara Kendra tinggal di kota silver bersama Tuan tua.


Pada saat Kendra tiba di sekolah, dia langsung menuju ke ruang kelasnya. Vivian sudah ada di mejanya, dan sedang sibuk dengan pena dan kertas, Kendra duduk di kursinya lalu menatap Vivian.


Gadis ini tampak sedang benar-benar fokus, ada lipatan kecil di dahinya. Kendra bertanya; “Apa yang sedang menyulitkan mu?”


Vivian tersentak sedikit kaget, dia langsung menghentikan pekerjaannya dan menatap Kendra dengan mata anak anjing yang pasrah, karena tidak memiliki jalan keluar atas masalahnya.


“Hei, ada apa? wajahmu jelek kalau seperti itu...” Sebenarnya itu imut tapi Kendra tidak ingin mengatakannya dengan langsung, mata bunga persik Vivian berubah menjadi mata anak anjing yang memohon meminta bantuan.


“Hei, ada apa? Ayo katakan, apa kau butuh bantuan?”

__ADS_1


“Hua... Ken, kau harus membantu aku lulus ujian sejarah, guru mengatakan jika kau tidak lulus, aku tidak akan bisa naik tingkat.”


Kendra terdiam sejenak, ini kali pertama dia mendengar Vivian memanggilnya dengan nama panggilan yang lebih akrab. Kendra kemudian tersenyum dan menepuk-nepuk kepala Vivian.


“Tenang, apa yang menyulitkan mu di dalam pelajaran sejarah?"


“Itu, menulis dan membaca tulisan di prasasti kuno, Aku...aku..."


Kendra berpikir sebentar; “Hm, apa imbalan yang akan aku dapat?”


“Kau... tidak bisakah kau melakukannya dengan gratis?”


“Sayang tidak ada yang gratis di dunia ini saat meminta bantuan.”


Dasar pamrih! Vivian mengabaikan panggilan sayang Kendra, dan mendengus. Delimanya mengerucut ke depan, Vivian begitu kesal hari ini, mereka terlalu pagi hari ini, dan kebetulan bertemu pengajar sejarah di Koridor sekolah. Pengajar itu memintanya untuk ikut ke ruang guru, dan di sanalah Vivian mendengarkan celoteh pagi, mengenai Nilainya.


Di dunianya yang asli, Vivian adalah anak yang pintar dan berprestasi. Tidak disangka di dunia ini Vivian anak yang bodoh dalam mata pelajaran sejarah. Tidak bodoh juga sih, hanya saja ketentuan lulus mata pelajaran yang membuatnya jadi bodoh.


Untuk ujian akhir mereka harus menulis apa yang tertulis di prasasti kuno dan menghafalkannya di depan kelas saat ujian akhir. Dan Vivian begitu lemah untuk memahami bahasa alien.


Cup!


“Bukan salahku, itu semua karena ulah mu yang memancing pertahanan ku.”


“Kau...kau...”


“Anggap saja itu sebagai bayaran muka atas pekerjaanku nanti, Aku belum meminta gaji ku loh.”


“Kau...apa yang kau mau?”


Kendra tersenyum sumringah yang menurut Vivian hal itu pasti akan buruk, Kendra mendekat lalu berbisik pada Vivian; “,Kau harus mengikuti aturan ku, jika kau lulus ujian, katakan pada keluargamu kalau kita bersama.”


“Hah?” Apa tadi?


“Katakan perasaanmu tentang ku di depan keluargamu.”


“Kau...Ini...”


“Tidak mau yasudah, silahkan tinggal kelas, bagaimana ayo pikirkan, itu hanya mengaku loh.”

__ADS_1


Orang ini licik! Vivian mengatai Kendra di hatinya, dia tahu pasti belum sampai disitu saja, Kendra pasti masih memiliki rencana lain lagi yang akan membuat perasaan Vivian tersiksa, dan jantungnya akan maraton lagi, paling parahnya dia pasti tidak akan bisa tidur nyenyak lagi.


Vivian kemudian dengan ragu berkata; “Baiklah, lalu apa aturan yang harus aku patuhi?”


Hehehe, Kendra tertawa di dalam taman hatinya yang baru saja bermekaran dan kupu-kupu cantik bertebaran disana, Kendra berkata; “Belajar dilakukan di rumahku, tidak boleh ada pihak lain yang ikut, jam belajar selama tiga jam, satu jam pertama untuk materi, satu jam berikutnya latihan, satu jam terakhir pembahasan...”


“Apakah hanya itu saja? Kalau begitu kau setuju. kita bisa mulai setelah kelas berakhir.”


“Masih ada lagi, jika kau tidak bisa mengerjakannya maka akan diberikan hukuman...”


“Hukuman...kau!” Vivian berteriak lagi, benar dugaannya, Kendra pasti memiliki rencana licik di otaknya yang akan memberikan pengaruh buruk untuk kesehatan jantungnya.


“Tenang, tidak akan menyakitimu kok. Hukumannya juga ringan, dan kau juga akan terbiasa.”


”Katakan cepat! jangan membuat kalimat mu menggantung lagi. Pengajar akan segera masuk kelas."


“Lima kata yang salah penulisan, beri aku delima merah mu, sebanyak satu kali..."


Gluk!


“Pemberian delima mu akan terus bertambah jika semakin banyak salah."


“Gluk!


“Jika kau tidak dapat membacanya dengan benar, maka biarkan aku mengendus feromon mu.”


Gluk!


Gluk!


Dengan delima yang bergetar Vivian bertanya dengan ragu; “Bagaimana jika aku tidak bisa melakukan keduanya dengan benar?”


Kendra berucap dengan wajah berseri-seri, penuh semangat hidup; “Kalau begitu kau harus membiarkan aku memanen Delima mu selama lima belas menit,"


Jujur saja, kalau kau sudah tidak mau membiarkan aku bernapas dengan baik!


...°°°...


...Terima kasih sudah membaca, terima kasih pula untuk dukungan teman-teman, Maaf bila ada typo yang bertebaran...

__ADS_1


__ADS_2